
"Bang, kenapa Dede harus ikut juga?" ucap Ivanna kesal, karna Fajri memaksanya untuk ikut ke acara pertunangan Boy.
"Terus, apa Dede mau tinggal sendiri?" tanya Fajri.
Ivanna terdiam, Ayah dan bundanya memang sudah pergi sore tadi, dan dipastikan mereka akan pulang besok. Pada akhirnya Ivanna pasrah untuk menemani Abang kesayangannya malam ini.
Fajri sudah menyiapkan gaun untuk, Ivanna yang senada dengan jas yang akan ia kenakan. Setelah hampir setengah jam ia menunggu, akhirnya Ivanna keluar dari kamarnya dengan balutan Dress selutut berwarna biru senada dengan kalung yang di pakainya membuat gadis itu terlihat seperti wanita dewasa. Bahkan tidak ada yang percaya jika Ivanna baru berusia 16 tahun.
"Wah, cantiknya adek, Abang ini!" ucap Fajri berbinar.
"iyalah. Bunda aja cantik, masa iya Dede jelek!" ucap Ivanna dengan wajah merona sambil mengibaskan rambut gelombangnya.
"yuk, kita pergi!" ucap Fajri menggandeng tangan Ivanna.
Malan ini mereka akan pergi menggunakan mobil baru yang akan menjadi hadiah untuk pertunangan Boy nantinya. Mobil mewah itu sudah di hiasi dengan pita khusus agar terlihat lebih indah.
Fajri membantu Ivanna untuk menaiki mobil dan barulah ia menyusul. Ivanna mengernyit, ketika melihat model bangku mobil yang sangat aneh.
"Bang, kok bangkunya seperti ini?" tanya Ivanna.
"hehehe, ini Abang rancang khusus untuk, kak Boy, sayang!" ucap Fajri terkekeh.
"ihh, emang dia mau ngapain dengan kursi seperti ini? apa?..." mata Ivanna tiba-tiba membola ketika memikirkan hal yang mungkin terjadi nanti.
"jangan berfikiran macam-macam, sayang. Ya walaupun itu benar juga! Hahah," ucap Fajri semakin tergelak.
Ivanna hanya bisa mendengus kesal. Entah kenapa, laki-laki yang ada keluarga Avicenna selalu membuatnya kesal. Hari ini, ia berharap tidak ada kejadian yang membuatnya semakin kesal dengan keluarga Avicenna.
"Abang kapan pergi ke desa selimut itu?" tanya Ivanna.
"Besok sayang. Setelah Ayah dan Bunda pulang, Abang langsung pergi!" ucap Fajri.
"apa secepat itu? berapa lama?" ucap Ivanna sedih.
Baru saja ia ditinggal ke Jerman, besok ia juga kan di tinggal lagi.
"Ia, Abang di sana dua bulan, sayang!" ucap Fajri lirih.
Deg,...
"du-dua bulan? Abang jangan bercanda!" ucap Ivanna terkejut.
"Harus bagaimana lagi, sayang. Ini memang harus Abang lakukan secepatnya. Setelah ini Abang pastikan waktu Abang cuma untuk Dede, hmm?" ucap Fajri tersenyum.
Ia merasakan betapa kesepiannya Ivanna ketika ia melakukan perjalanan ke luar negeri. Namun bagaimana lagi, pekerjaan ini memang harus ia lakukan dengan segera.
"Apa di sana ada sinyal?" tanya Ivanna lirih.
"Abang belum tau, sayang. kalau Abang lihat, di google maps gak ketemu desanya! Tapi Dede jangan risau, Setiap minggu Abang akan kirim pesan untuk memastikan jika Abang, baik-baik saja di sana!" ucap Fajri mengelus lembut kelapa Ivanna.
Gadis itu tidak menjawab, ia hanya memaksakan senyumnya kepada Fajri. Walaupun di dalam hatinya sangat tidak rela jika ia harus ditinggal lagi dan lagi.
Mobil terus melaju beriringan dengan Pak Sakti yang berada di depan dan bodyguard berada di belakang mereka. Hingga beberapa saat, Fajri dan Ivanna tiba di loby hotel dimana acara pertunangan Boy di laksanakan.
__ADS_1
Semua mata tertuju kepada mobil sport berwarna abu-abu yang sudah di hiasi oleh pita itu. Fajri keluar terlebih dahulu dari mobil dan langsung di sambut oleh begitu banyaknya kilatan cahaya yang berasal dari kamera.
Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu berjalan kesisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Ivanna. Semua mata tertuju kepada pasangan adik kakak yang terlihat sangat serasi dalam kondisi apapun.
Para wartawan sibuk untuk mengambil gambar mereka dan sesekali mengajukan pertanyaan yang sangat mendesak untuk di pertanyaan.
"Tuan Fajri, apakah mobil itu hadiah pertunangan untuk, Tuan Boy?" ucap wartawan.
Fajri berhenti dan tersenyum, ia memilih untuk menjawab pertanyaan itu sebentar saja.
"iya, mobil itu khusus saya rancang untuk Sahabat saya, Boy,"
"sepertinya itu belum keluar di pasaran, Tuan!"
"iya. mobil itu hanya ada 2, Satu milik Boy dan satunya lagi milik, Ivanna adik saya, mari!" ucap Fajri kembali melangkah. Namun pertanyaan salah satu wartawan membuatnya kembali berhenti.
"Tuan Fajri, bagaimana tanggapan anda mengenai berita tadi sore, yang mengabarkan jika anda ditilang oleh, polisi?" tanya wartawan.
"wah, apa saya viral lagi? nanti kita bahas ya, saya mau masuk dulu, kasihan Ivanna berdiri terlalu lama!" ucap Fajri sedikit tergelak.
Sementara Ivanna hanya setia memasang wajah datarnya sambil menarik-narik jas yang di kenakan oleh Fajri.
Mereka kembali masuk kedalam gedung, Fajri dengan siaga berjaga dan memastikan tidak ada yang akan membuat Ivanna bahaya. Mereka segera berjalan menuju panggung dimana pasangan yang tengah berbahagia itu berada.
"Selamat, Boy. Akhirnya kamu lebih dulu bertunangan!" ucap Fajri menjabat tangan sahabatnya itu.
"iya, terima kasih, Fajri!" ucap Boy memeluk Fajri kemudian ia berbisik.
"Apa kamu sudah membawa hadiah untukku?"
"Selamat ya, Natasya. Aku membawakan hadiah istimewa untuk dirimu dan juga Boy!" ucap Fajri sungkan.
"iya, Fajri. terima kasih!" ucap Natasya tersenyum.
Ivanna hanya mendelik kearah Boy tanpa bersuara. Sementara ia mengulurkan tangan kepada Natasya dan cipika-cipiki.
Dasar beruang betina!. Bathin Boy membalas pelukan Ivanna.
Setelah itu, Fajri mengajak Ivanna untuk mencari tempat duduk khusus yang sudah di sediakan oleh Boy untuk sahabatnya.
Di sana sudah terlihat Rion, Dion, Kenji dan Rana duduk sambil bercerita. Mereka saling menyapa satu sama lain.
"Dede mau makan apa, sayang? biar Abang ambilkan!" tanya Fajri sambil memperbaiki rambut Ivanna yang terlihat sedikit berantakan.
"kue aja bang, atau cemilan,"
"gak mau makan?"
"apa, Abang makan?"
"iya, Sayang,"
"ya sudah, satu berdua saja!"
__ADS_1
"Tunggu disini sebentar ya! Guys, titip adek ku sebentar," ucap Fajri.
Ivanna hanya terdiam sambil menatap layar ponselnya. Keempat pria usil itu menatap Ivanna dengan ragu, ingin mereka mendekati Ivanna yang terlihat sangat cantik malam ini, namun mereka berfikir dua kali jika ingin mengganggu gadis itu.
"Ivanna, dede kok cantik banget malam ini!" Ucap Kenji sang buaya darat.
Ivanna hanya menatap pria yang masih jauh di bawah ketampanan Fajri.
"Dede, Dingin banget sih!" sambung Kenji yang tidak mendapatkan jawaban dari Ivanna.
Duh ngapain sih ni buaya darat? mana Abang lama banget lagi!. Bathin Ivanna.
"Dek,..." panggil Kenji lagi.
"sudah!" ucap Ivanna dingin.
Ia benar-benar jengah mendengar ucapan sahabat Abangnya ini. Kenapa Abang memilih untuk berteman dengan mereka sih? Aku jadi gila sendiri meladeni manusia yang satu ini. Bathin Ivanna.
"Galak banget sih, Na! Hmm, kamu mau gak jalan sama kakak, atau pacaran gitu,..." ucap Rana terpotong.
"Kakak mau dikirim ke antartika oleh Abang, seperti Angga?" ucap Ivanna tersenyum smirk.
Mereka melotot mendengarkan ancaman Ivanna, sungguh gadis ini memiliki sifat yang sangat mirip dengan Irfan. Mereka terdiam dan berfikir untuk mencari topik lain, sementara Ivanna memilih pergi dari sana untuk menyusul Fajri.
Namun siapa disangka, ia malah menabrak laki-laki yang seumuran dengannya. Hal itu kembali membuat Ivanna semakin kesal.
"lo!" teriak Ivanna dan Nathan bersamaan.
"lo lagi! Ngapain sih lo nabrak gua terus!" ucap Ivanna kesal.
"Lo yang selalu menabrak gua!" ucap Nathan tak kalah kesal. Ia adalah adik kangdung, Boy.
"aarrgghhh,..." geram mereka berdua.
Beruntung Fajri segera datang dan melerai mereka berdua.
"sudah, sayang!" ucap Fajri memeluk Ivanna dan menenangkan adik kecilnya.
"Dede mau pulang saja, bang!" ucap Ivanna lirih, moodnya benar-benar berantakan saat ini.
Fajri hanya menghela nafas yang terasa berat, Ia bingung bagaimana cara Ivanna agar bisa sedikit lebih manusiawi ketika berada di luar. Bukan Ivanna tidak memiliki hati untuk menolong orang lain, namun ia hanya bersikap dingin terhadap orang lain.
Ia segera mengajak Ivanna pulang setelah berpamitan dengan sahabatnya.
"Maafin, Dede, bang!" ucap Ivanna di atas mobil.
"Gak papa, sayang. Tapi Abang mohon sama kamu, tolong jangan bersikap terlalu dingin sama orang lain, itu gak bagus, sayang!" ucap Fajri membelai kepala Ivanna.
"Nanti Dede coba, bang!" Ucap Ivanna menunduk.
Mobil terus melaju menuju kediaman Dirgantara. Mereka segera beristirahat karna besok Fajri akan pergi ke desa selimut bersama dengan para sahabatnya.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE