Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
74. Rencana Baru Fajri


__ADS_3

Selepas makan siang, Fajri mengajak mereka menuju ruang keluarga untuk membahas sesuatu yang akan menentukan masa depannya nanti.


"Apa yang mau Aji biarkan, sayang?" Tanya Fajira yang sudah sangat penasaran sambil memangku pria kecil itu.


"hmm, Begini Bunda, Pesawat Aji beberapa hari lagi sudah bisa di produksi setelah surat izinnya keluar. Jadi Aji mau buat perusahaan sendiri. Apa boleh Ayah? Bunda?" ucap Fajri menatap lekat kedua orang tuanya.


"perusahaan sendiri?" tanya Irfan mengernyit.


"terus nanti perusahaan Ayah siapa yang meneruskannya sayang?" sambungnya.


"kan kata ayah mau ngasih Aji adek, ya dia yang akan meneruskannya nanti"


"Opa setuju" Ucap Papa yang baru bergabung, dan sukses membuat Fajri senang.


"Tapi Pah, Aku belum setuju jika Fajri membangun perusahaannya dari sekarang" sergah Irfan.


"kenapa? bukankah kita harus mempersiapkan masa depan Fajri dari sekarang?"


"Jira juga tidak setuju Pah" Ucap Fajira dan membuat Fajri murung.


"kenapa Bunda?"irih Fajri menatap Fajira dengan tatapan kecewanya.


"Aji masih kecil sayang. Bunda gak mau kalau masa kecil Aji hanya di penuhi dengan proyek baru atau hal baru yang seharusnya belum Aji kerjakan, Bunda ingin Aji sekolah, bermain dan bermanja sama Bunda dan Ayah" ucap Fajira lembut sambil membelai kepala Fajri.


"iya sayang, betul kata Bunda. Mendirikan perusahaan butuh waktu yang lama dan sangat menguras tenaga dan pikiran. Pastinya Aji hanya akan sibuk di sana. Bagaimana sama Bunda dan Ayah nanti?" ucap Irfan.


"Ayah bukan tidak setuju jika Aji mendirikan perusahaan sendiri. Malah Ayah sangat setuju, Ayah ingin Aji bisa mengalahkan perusahaan Ayah sekarang dengan kemampuan yang Aji punya. Tapi belum waktunya sayang." sambungnya.


Fajri semakin murung, ia terlihat berfikir bagaimana cara membicarakan ini dan keinginannya bisa terpenuhi.


"Bunda" Ucapnya dengan berkaca-kaca berharap Fajira akan luluh.


"sayang, coba dengarkan Bunda dulu. Apa ada Bunda melarang Aji untuk berbuat atau melakukan sesuatu, nak?"

__ADS_1


"gak ada bunda"


"Bunda gak akan melarang Aji untuk membuat perusahaan sendiri. Bahkan jika Aji mau membuat 100 perusahaan pun Bunda akan mendukungnya sayang. Tapi bukan sekarang. Apa nanti Aji gak kasihan melihat Bunda tinggal sendiri di rumah, terus kesepian kalau Aji lagi sibuk bekerja? sementara Ayah juga sibuk bekerja," Tanya Fajira lembut, Fajri hanya terdiam sambil menunduk.


"sabar ya, tunggu barang 10 tahun lagi" ucap Irfan.


"lama banget, Ayah" protesnya


"memang Aji mau buat perusahaan apa?"


"Aji mau membuat pesawat sungguhan, Ayah. Nanti Aji juga akan memproduksi helikopter, terus Aji juga akan merancang Pesawat yang di kombinasikan dengan helikopter. terus bla... bla... bla... " Pria kecil itu menjelaskan apa yang akan ia buat dengan antusias beserta rancangan yang sudah ia buat sendiri.


Papa melihat cucu sematawayangnya dengan tatapan penuh ke kaguman begitu juga dengan Mama. Mereka sungguh tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki oleh Fajri di usianya yang masih balita.


Aku memang harus mempersiapkan semuanya mulai dari sekarang. Karna Fajri akan menjadi laki-laki yang hebat melebihi Irfan di kemudian hari. Bathin Papa.


"begini, Opa setuju dengan pendapat Ayah dan Bunda, karna usia Aji yang masih kecil nak. Namun juga sangat di sayangkan jika keinginan Fajri tidak segera di tindak lanjuti. Karna begini nak, untuk membuat pesawat itu pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Apalagi baru akan merambat. Tapi tidak ada salahnya juga jika kita memulai membuat suatu hal yang baru.


Kalau menurut Opa begini, kita coba terlebih dahulu membuat perusahaan atas nama Fajri, namun kita carikan orang yang bisa mengelolanya. Fajri yang memiliki rancangan, nanti bisa kita rembukakan, Nah untuk penherjaannya kita akan mencari orang yang bisa mengawasinya secara langsung. Jadi Fajri hanya menerima laporan perkembangan dari proyeknya. Bagaimana?"


"Papa benar sayang. Membuat satu buah pesawat itu membutuhkan waktu yang lama, apalagi mengurus perizinannya. Belum lagi untuk melakukan uji coba. Aku setuju dengan pendapat papa"


Ucapan Irfan dan Opa membuat Fajri berkaca-kaca karna mendapatkan dukungan. Namun baginya keputusan Fajira ada hal yang terpenting. Jika bidadarinya itu tetap tidak setuju, berarti ia akan menunggu sampai 10 tahun kedepan untuk membangun perusahaan sendiri. Fajri hanya menatap Fajira dengan tatapan penuh harap. Mereka saling bertatapan satu sama lain, mencoba untuk memahami keinginan masing-masing.


"Aji beneran mau membangun perusahaan sendiri?"


"iya Bunda, apa boleh?"


"huft... Bunda memang gak bisa menolak ke inginkan Aji. Ya sudah, Bunda mengizinkan Aji untuk membangun perusahaan sendiri dengan syarat, Aji harus tamat sekolah dasar terlebih dahulu tanpa ada drama loncat kelas lagi" ucap Fajira mengusap kepala Fajri dan tersenyum.


"Bunda serius? Gak harus menunggu 10 tahun lagi kan?" Tanya Fajri yang masih belum percaya.


"Gak sayang. Tapi dengan catatan, Bunda gak mau Aji bolos sekolah hanya karna bekerja"

__ADS_1


"terima kasih Bunda" Ucap Fajri sambil menangis dan memeluk Fajira.


"Nanti bicarakan lagi dengan Papa dan Opa ya sayang" Fajira mengelus lembut kepala Fajri.


"Terima kasih Bunda. Nanti Aji mau membeli peralatan untuk membuat helikopter Bunda"


"Kita belum bisa keluar sekarang sayang, Nanti Ayah minta tolong saja sama yang lain untuk membeli perlengkapan yang Aji butuh kan ya, nak" ucap Irfan.


"iya Ayah, terima kasih. Tapi ayah yang belikan bahannya ya"


"iya sayang. Nanti buat di kertas, apa saja yang Aji butuhkan ya"


"iya ayah"


Siang itu mereka menceritakan banyak hal, terutama tentang kepandaian Fajri yang merambat hampir ke seluruh bidang. Papa, Mama dan Anaya hanya melongo tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh Fajri.


Mulai dari ia bisa membuat mesin, memperbaikinya, mengotak atik komputer, bahkan ia sedang belajar meretas apapun itu. Dan yang membuat mereka terperangah ia belajar sendiri tanpa di bantu oleh siapapun.


"Jira, kamu Ngidam apa sih waktu hamil Fajri, nak?" tanya Mama tidak percaya.


"Ya biasa aja sih Ma, cuma Jira kalau ada waktu, lebih sering membaca buku tentang kedokteran, tentang anak dan lainnya"


"Apa semuanya Aji serap waktu Bunda hamil Aji, nak?" Tanya mama kepada Fajri.


"hehehe gak tau Oma, Aji pintar karna ayah dan Bunda juga pintar. Aji tampan karna Bunda cantik Oma, Kalau Bunda jelek pasti Aji juga jelek kayak Ayah hehe" Gelak Fajri meledek Irfan.


"heei, Ayah tampan ya. Bunda yang jelek itu" delik Irfan tidak terima.


"hahah" mereka semua tertawa melihat tingkah Irfan dan Fajri yang saling meledek satu sama lain.


Fajira tersenyum senang melihat kebahagiaan Fajri saat ini. Di kelilingi oleh keluarga yang sangat menyayanginya.


Semoga Aji selalu mendapatkan kebahagiaan dalam hidup Aji sayang. Bunda akan melakukan apapun untuk Aji. Tumbuh dan besarlah menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan penyayang kepada keluarga. Semoga perempuan yang menjadi pendamping hidup Aji nanti adalah perempuan yang memang menerima Aji dengan tulus. Bunda Sayang Aku sampai kapan pun.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2