Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
117. Keadaan Fajri.


__ADS_3

"Ba-bapak? selamat datang" ucap salah satu guru yang ada di sana.


"Fajri?" pekik Irfan ketika melihat pangeran kecilnya tengah terbaring lemas dengan kepala yang sudah di perban.


"siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini?" teriak Irfan bengis.


Tiga orang guru yang tengah mengantar Fajri menjadi semakin pucat ketika mendengarkan teriakan Irfan.


"JAWAB!" bentak Irfan kembali.


Beruntung Fajri masih berada dalam pengaruh obat bius sehingga ia tidak menyadari jika Irfan tengah berteriak dengan sangat kerasnya.


"Ray. segera urus kamar Fajri, letakkan anakku di kamar VVIP. Pastikan ruangan itu steril dan tertutup" ucap Irfan dingin dan kembali menatap Fajri dengan lembut.


"Sayang. bangun nak! Abang? ayah disini, nak! Fajri!" panggil Irfan sambil memeluk Fajri, berharap agar anaknya bisa bangun dengan cepat.


"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa anda semua diam, hah?" Tanya irfan dengan sorot mata tajam.


"jadi, begini pak..."


Setelah Fajri menyelesaikan pekerjaannya memperbaiki bell itu, ia hendak turun dengan cara melompat. Namun siapa sangka kaki kecilnya tidak pas untuk menobang tubuh itu, sehingga membuat kaki Fajri terkilir dan membuatnya terhuyung. Lebih parahnya kepala Fajri terbentur ke salah satu kaki meja dan menumpakan cairan merah itu dari kepalanya.


Ziyyad dan Bagas terdiam beberapa datik melihat kejadian itu, hingga mereka terpekik kaget ketika Fajri sudah di gotong oleh bapak yang memperbaiki bell tadi menuju ke ruang UKS.


"Fajri!" pekik mereka dan berlari mengejar Fajri.


"Kalian lebih baik kembali ke kelas, biar Fajri bapak yang menangani" ucap bapak itu dengan sedikit membentak karna takut.


"ta-tapi pak!"


"sudah! sana kembali ke kelas kalian!"


Ia mengingat pekerjaannya sebagai penjaga sekolah akan di pertaruhkan karna ia tahu siapa orang tua Fajri. Ia berdoa dalam hati untuk keselamatan anak genius ini dan untuk pekerjaannya.


"Dokter tolong bantu anak ini" pekiknya ketika sampai di ruang UKS.


"Baringkan saja langsung, pak!. Kenapa bisa seperti ini?" pekik dokter perempuan yang sedang berjaga di sana.


Fajri sudah pingsan karna kepalanya terbentur cukup keras. Dokter itu segera memberikan pertolongan pertama pada kepala bagian kanan Fajri yang masih mengeluarkan darah.


Rambut indah itu harus sedikit di potong agar tidak menyulitkan dokter untuk menjahit kulit kepala Fajri.


Pria kecil itu mendapatkankan 3 jahitan di kepalanya. Cairan merah itu juga mengenai seragam sekolahnya dan kemeja bapak tadi.


Dokter memeriksa keadaan Fajri yang lain, ia melihat ada memar pada bagian engsel kaki Fajri. Sehingga ia menyarankan agar pria kecil itu langsung di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan lebih lanjut.

__ADS_1


Mendengar perkataan dokter itu, Bapak paruh baya tadi langsung berlari menuju ruang kepala sekolah dan guru untuk memberitahukan apa yang sedang terjadi. Sehingga mrreka segera mrmabawa Fajri rumah sakit dan menghubungi orang tua pria kecil itu.


"lebih baik kita menghubungi kantor Ayahnya Fajri, karna mengingat bundanya tengah mengandung saat ini" ucap bu Rully yang sudah sangat cemas dengan keadaan Fajri.


Mereka masih berada di sana hingga Irfan datang. Wajah guru-guru itu semakin pucat pasi karna melihat tatapan Irfan yang menyalang bak elang yang siap menerkam mangsanya.


"Mana di penjaga sekolah itu?" tanya Irfan.


"beliau masih di sekolah, Pak. Kami sedang mengurusnya" ucap bu Rully menunduk sopan.


Selain Irfan adalah orang yang hebat dan ditakuti. Hot Daddy itu juga merupakan donatur terbesar di sekolahnya Fajri.


"tuan, Kamarnya sudah siap!" ucap Ray datang setelah memesankan kamar untuk Fajri.


Beberapa orang perawat datang dan mendorong brankar Fajri menuju kamar inap VVIP yang ada di rumah sakit itu.


"katakan pada dokternya suruh menemuiku di ruang rawat Fajri" ucap Irfan dingin mendorong brankar Fajri.


"Baik tuan!"


Ibu Rully dan dua orang guru lainnya hanya terdiam memikirkan seberapa besar kekuasaan laki-laki itu. Mereka mengikuti langkah kaki irfan yang tengah membawa Fajri.


Ketika hendak menaiki lift, mereka di hadang dengan alasan tidak sembarangan orang yang bisa masuk berkunjung dibawa VVIP. Mereka hanya pasrah dan menunggu bagaimana keadaan Anak kebanggaan mereka itu.


Irfan masih mendorong brankar putra mahkotanya menuju kamar rawat inap VVIP. Sekarang ia bingung bagaimana cara memberitahukan masalah ini kepada Fajira nanti. Ia takut akan berdampak pada kandungan istrinya.


Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Fajri, ini pertama kalinya ia melihat keadaan putra kecilnya terbaring di ranjang kesakitan itu.


"Sayang, bangun yuk, nak!" ulang Irfan.


ceklek....


Pintu terbuka menghadirkan Ray dan seorang dokter yang menangani keadaan Fajri tadi.


"Tuan ini dokter yang menangani Tuan Muda barusan" ucap Ray.


"Selamat siang, Tuan" ucap dokter itu dengan sedikit takut ketika menyadari anak siapa yang tengah ia tangani tadi.


"jelaskan!" ucap Irfan dingin dengan masih menatap Fajri.


"baik. untuk kondisi tuan muda itu sudah stabil. Hanya saja terdapat 3 jahitan pada kepala bagian kanannya, dan kaki kanan Tuan muda juga terkilir tuan. Beruntung Tuan Muda mendapatkan pertolongan pertama saat di sekolah tadi, sehingga pendarahan bisa teratasi dengan cepat" ucap dokter itu berusaha tenang sambil menarik nafasnya pelan


"Untuk kaki tuan muda sudah kami pasang perban elastis untuk memapahnya agar tidak banyak bergerak, Tuan. Nanti kami juga akan melakukan rontgen untuk memastikan jika tidak ada luka dalam yang berakibat fatal nantinya, tuan" terang dokter itu hati-hati dengan keringat yang membasahi tubuhnya.


"Kapan?"

__ADS_1


"setelah Tuan Muda sadar, kami akan melakukannya tuan!"


"apa harus di rawat?"


"tidak, tuan muda tidak harus di rawat, Tapi harus mengontrol keadaan kakinya dua hari setelah ini, Tuan!"


"hmm" Irfan masih menatap Fajri dengan lamat.


Ray, sedikit berbicara dengan dokter itu dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Setelah di rasa cukup, dokter itu segera keluar dan menuju ruangannya dengan baju yang sudah basah oleh keringat dingin.


"Bagaimana saya akan mengatakan ini kepada Fajira, Ray. Saya takut kandungannya kenapa-napa" ucap Irfan sendu.


Ray hanya terdiam sambil menelan ludahnya kasar, sungguh ia juga bingung dengan keadaan saat ini. Ia merasa sangat tidak berguna ketika Irfan meminta saran karna dirinnya juga panik dan cemas dengan keadaan Fajri yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


"Ray!" panggil Irfan ketika tidak mendapatkan jawaban.


"maaf tuan, saya juga sedang berfikir bagaimana cara mengatakannya kepada nyonya!"


"Huft..." hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Irfan.


"sayang. bangun nak! Kenapa Abang bisa seperti ini" ucap Irfan dengan air mata yang tidak mampu untuk ia tahan lagi.


"bangun nak!"


Ray hanya menatap Irfan yang begitu rapuh semenjak Fajira dan Fajri hadir dalam hidupnya. Ketika melihat dua orang yang paling ia cintai itu terbaring, Ray melihat sisi yang berbeda dari seorang Irfan yang tidak pernah ia lihat selama bekerja dengan laki-laki itu.


Apa yang harus aku lakukan?. Bathin Ray berfikir keras.


"tuan, Apa sebaiknya kita memberitahukan hal ini kepada Nyonya setelah tuan muda di perbolehkan pulang oleh dokter?" ucap Ray. Hanya itu solusi yang bisa ia dapatkan.


"apa itu sebuah solusi Ray?" ucap Irfan dingin.


"maaf tuan!"


Mereka masih terdiam dan tenggelam dalam fikiran masing-masing. Hingga Erangan Fajri terdengar lirih dan menyayat hati.


"engh... sakit... hiks... Bunda kepala Aji sakit... hiks..." ucap Fajri lirih.


"Sayang. Ayah disini, mak!"


"Ayah sakit! kepala Aji sakit hiks... huaa" tangis Fajri semakin keras karna tidak adanya Fajira di sana.


Ray segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Fajri lebih lanjut


πŸŒΊπŸ’–πŸŒΊ

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2