
Fajri, Safira dan Ivanna baru saja mendarat di kota asal Safira bersama dengan Hersy dan Andika.
Mereka segera pergi menuju rumah mewah keluarga Safira agar bisa beristirahat sejenak sebelum pergi ke rumah sakit untuk menemui Kakek yang tengah sekarat di sana.
"Ini kamar Fira dan Fajri. Kamar Ivanna ada di sana, ya sayang!" ucap Mama Hersy tersenyum.
"iya, Ma. Terima kasih!" ucap mereka bersamaan.
"Jangan sungkan! istirahat dulu, sekitar 30 menit lagi kita akan berangkat!"
"iya, Ma!"
Mama berlalu, Ivanna segera membawa koper kecilnya menuju kamar yang tepat berada di sebelah kamar Safira dan segera beristirahat. Senyumnya tidak lepas, begitu Fajri mengizinkannya untuk ikut.
Di dalam kamar pengantin, Safira terlihat begitu kelelahan karna melayani Fajri sebelum mereka berangkat.
"istirahatlah, dulu. Apa mau aku pijit?" tanya Fajri mengikuti Safira yang sudah duduk di atas kasur.
"Iya, tapi hanya pijit, gak boleh yang lain!" ucap Safira cemberut.
"Baiklah!" Fajri tersenyum nakal melihat istrinya.
Safira berbaring setelah melepas sendalnya. Fajri sudah menyiapkan handuk hangat untuk mengusap kaki Safira dan memijatnya dengan perlahan.
"ternyata, kamu bisa mijit juga, Mas! enak banget!" ucap Safira lirih dengan mata yang perlahan terpejam.
Fajri memijit seluruh tubuh Safira yang masih terbalut baju itu. Sambil bernyanyi, ia menyelesaikan pekerjaanya dan berbaring di samping Safira.
Ia tersenyum, melihat wajah cantik itu semakin bersinar, seolah memancarkan aura seorang ratu.
Entah apa alasanku bisa memilihmu sebagai istriku. Yang jelas, aku mencintaimu Safira Putri. Batin Fajri.
Tak lama, Mama Hersy mengetuk pintu dan memanggil mereka untuk segera bersiap. Fajri terpaksa membangunkan istri cantiknya yang baru saja terlelap. Begitu juga dengan Ivanna.
🌺🌺
"kakek?" panggil Safira dengan mata yang berkaca-kaca melihat sang kakek sudah berbaring dengan begitu banyak alat yang menempel pada tubuhnya.
"Sa-fi-ra? cu-cu-ku?" ucap kakek lirih dengan nafas yang tersenggal.
Ia tersenyum menatap cucu yang baru saja ia temukan. Perlahan tangan keriput itu berusaha memegang pipi Safira. Gadis itu paham, ia mendekap tangan kakeknya di pipi dengan air mata yang menetes.
"Kakek, harus sembuh ya! Fira ingin bercerita banyak hal sama kakek!" ucap Safira menahan tangis.
Kakek hanya tersenyum menatap Safira. Dengan air mata yang menetes, ia berusaha untuk menyampaikan sesuatu, namun ia semakin sulit untuk berbicara.
"Kakek menyayangimu!" bisik kakek terbata.
"Fira juga sayang, Kakek! pokoknya Kakek harus sembuh!" ucap Safira terisak memeluk laki-laki yang begitu bisa membuatnya nyaman pada pertemuan pertama mereka.
Ia melirik ke arah Fajri yang ada di samping Safira. seolah daham, Fajri mendekat dan mendengarkan apa yang berusaha untuk di ucapkan oleh kakek mertuanya.
"To-long, ja-ga, cucuku!" ucap kakek semakin tersendat.
"Iya, kek. Aku akan menjaga Safira sampai tuhan memanggil!" ucap Fajri ikut berkaca-kaca.
tiiiiiit,....
Monitor berbunyi nyaring, menandakan pasien sudah tidak bernyawa lagi. Safira semakin memekik memanggil nama kakeknya.
Namun siapa sangka, Ivanna yang ada di dalam ruangan itu sudah lebih dulu pingsan, mendengar bunyi monitor itu. Fajri segera menggendong Ivanna menuju IGD agar bisa mendapatkan pertolongan pertama dan menitipkannya kepada sepupu perempuan Safira.
Setelah itu ia langsung berlari menuju ruang ICU yang berada tak jauh dari sana untuk menenangkan istrinya.
"Sayang?" panggil Fajri.
Safira langsung memeluk suaminya dengan erat, sungguh walaupun hanya sekali bertemu, namun ia sudah begitu menyayangi pria tua nan humoris itu.
__ADS_1
"Kakek, Mas! kakek udah gak ada!" ucap Safira menangis tersedu.
"Kamu harus kuat, ya!" Fajri hanya bisa menenangkan Safira tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tiba-tiba, Safira pun ikut pingsan, dan Fajri segera menggendongnya lalu membaringkan Safira di brankar yang berada di sebelah Ivanna.
"Ya tuhan!"
Tubuh Fajri terasa sangat lemas, karna melihat adik dan istrinya terbaring tidak sadarkan diri di ruang IGD.
"Hiks, Abang, Ayah, Buna?" panggil Ivanna sambil terisak ketika ia sadar dari pingsannya.
"Abang di sini, sayang! Abang di sini!" ucap Fajri memeluk Ivanna dengan erat.
"hiks, jangan tinggalin, Dede!" ucap Ivanna terisak di dalam pelukan Fajri.
"Abang di sini, sayang!" ucap Fajri berusaha untuk menenangkan Ivanna.
"hiks, dede takut, bang!" ucap Ivanna masih terisak.
Bayangan waktu mereka kecil kembali terlintas dalam fikiran Ivanna ketika melihat kakek Safira tidak sadarkan diri. Bayang Fajri yang pura-pura mati dan Irfan yang tiba-tiba sesak nafas kembali membuat Ivanna merasa takut jika harus kehilangan mereka.
Fajri bingung, ia tidak tau harus berbuat apa, melihat Safira yang sudah bangun dan menangis sambil memeluk sepupunya.
Ivanna yang tidak mau lepas, membuat Fajri harus memanggil Papa Andika untuk membantu Safira untuk pulang.
Di dalam mobil, ia duduk di tengah antara Safira dan Ivanna. Mereka berdua masih berusaha untuk menahan tangis. Bahkan keluarga Safira menjadi bingung, kenapa Ivanna juga ikut menangis, padahal mereka tidak sedekat itu di tangis. Namun gadis itu seolah tidak peduli, ia hanya memeluk Fajri sambil dari samping.
"Dede, gak kuat kalau harus pulang ke rumah kakak, bang!" ucap Ivanna lirih.
"kalau Dede di apartemen siapa yang jagain Dede, sayang?"
"Dede pulang, aja!"
"Beneran kamu mau pulang?"
"Ya sudah, nanti setelah mengantarkan kakak, Abang antar ke bandara ya!" ucap Fajri.
"Mas, kamu yakin membiarkan Ivanna pulang sendiri? temanilah Dede pulang!" ucap Safira yang sudah lebih tegar dibandingkan yang tadi.
"Gak papa, kak. Aku pulang sendiri saja! lagian ada pengawal Abang yang menemani!" ucap Ivanna menolak.
Ia paham jika Safira lebih membutuhkan Fajri di bandingkan dirinya.
"Jangan seperti itu, kamu masih gadis kecil, dek. Gak baik, malam-malam seperti ini kamu pergi sendiri!" ucap Safira mengelus tangan Ivanna.
Pada akhirnya, Fajri memutuskan untuk mengantarkan Ivanna pulang terlebih dahulu, baru ia akan kembali lagi kesini menggunakan jet pribadinya.
🌺🌺
"Buna? hiks,... kakek itu meninggal buna, Dede takut!" ucap Ivanna menangis di dalam pelukan Fajira.
Mereka baru saja mendarat di bandara setelah menempuh perjalanan udara selama 2 jam.
"sstt, gak papa, bunda di sini, sayang! Kita langsung pulang, ya!" ucap Fajira menggandeng tangan Ivanna keluar dari ruang tunggu.
"Bunda, Abang langsung berangkat lagi! Kasihan Safira pasti merasa asing di rumah itu sendiri!" ucap Fajri menghela nafasnya.
"Apa kamu gak capek, bang?"
"Abang, istirahat di sana saja nanti, Bunda! Abang pergi dulu!" ucap Fajri pamit.
Ia mencium tangan Fajira dan keningnya, tak lupa ia juga mengecup kening Ivanna, dan mengatakan semua akan baik-baik saja.
🌺🌺
"Mas, Kamu kembali?" tanya Safira lirih ketika melihat Fajri datang dan berbaring di sampingnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Fajri terlihat sangat kelelahan, Safira segera memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
"istirahatlah, Mas!" ucap Safira lirih.
Benar saja, Fajri langsung terlelap tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia begitu cemas memikirkan Safira dan Ivanna yang tumbang secara bersamaan.
🌺🌺
Pemakaman sudah di lakukan, rumah besar itu terlihat cukup ramai dengan kedatangan para pelayat. Apalagi kalau bukan untuk melihat dan menjilat kepada Fajri.
Namun pria tampan itu bahkan tidak menunjukkan batang hidungnya ketika kembali dari pemakaman. Ia hanya sibuk memeluk Safira di dalam kamar, sambil menelfon Ivanna.
tok,... tok,... tok,...
"Nona, tuan?" panggil ART dari luar.
"Ada apa, bik?" tanya Safira setelah membuka pintu.
"Nyonya Hersy memanggil, Nona dan Tuan untuk menuju ke ruang kerja tuang besar!" ucap ART itu.
"Baiklah!"
Merek segera pergi ke ruang yang di maksud. Di sana sudah berkumpul semua keluarga dari Hasibuan. Ada Papa dan dua saudara nya, Mama dan sepupu Safira sebanyak 4 orang.
"duduklah, nak! Ada yang akan di sampaikan oleh, Bapak Mina selaku pengacara, kakek!" ucap Papa.
"Mas, duduklah! Biar aku yang berdiri!" ucap Safira yang melihat kursi kosong hanya sedia untuk satu orang.
Fajri duduk dan segera menarik Safira ke atas pangkuannya dan memeluk gadis cantik itu dengan santai.
"Sudah, Pa!" ucap Fajri tidak merasa malu sedikitpun.
Mereka mengernyit melihat adegan itu, tapi tidak ada satupun orang yang berani menyanggah perbuatan Fajri dan Safira.
"Baik, saya selaku pengacara Tuan besar, ingin menyampaikan bebedapa wasiat yang sudah beliau buat beberapa waktu lalu sebelum beliau masuk ruangan ICU," ucap Pak Mina.
Satu persatu pesan dan amanah di sampaikan olehnya. Hingga Safira dan Fajri mengernyit ketika pengacara itu membahas tentang warisan.
"Tunggu! Kenapa anda langsung membahas tentang warisan, sementara kuburan kakekpun belum kering!" tanya Fajri mengernyit.
"Sepertinya kamu tidak ada hak untuk menyanggahnya, Tuan Fajri!" ucap kakak pertama Andika.
"Baiklah!" ucap Fajri membisikkan beberapa kata yang membuat Safira membenarkan kata-kata suaminya.
"Apa keluarga ini hanya mementingkan harta saja? kenapa kalian tidak menunggu barang beberapa hari untuk membahas hal ini!" ucap Safira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf, Nona! ini adalah wasiat langsung dari Tuan Hasibuan!" ucap Pak Mina.
"Lanjutkan saja, sayang!" bisik Fajri.
"Baiklah, lanjutkan!" ucap Safira dengan emosi.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
berhubung di sini lagi hujan, jadi aku bisa ngetiknya gais. mau satu bab lagi? yuk komentar di bawah!
Harap bijak membaca, novel ini hanya karya fiktif belaka.
Eitss!! tunggu dulu aku punya referensi bacaan ini sambil menunggu anak sultan Update. Yuk simak!
Beeve adalah wanita berparas cantik yang baru saja lulus SMA, ia yang ingin melanjutkan studi harus terhalang karena mendapati dirinya tengah mengandung anak dari hubungan terlarang dengan sang kekasih yang berbeda keyakinan.
Alih-alih di nikahi oleh yang ia cintai, Beeve yang malang justru di campakkan bagai sampah.
Keluarganya yang tahu akan kondisi Beeve langsung sigap menikahkannya pada sepupunya Andri, pria tampan mapan dan dermawan, tentunya dengan menyembunyikan kenyataan yang ada.
Akankah pernikahan Beeve dan Andri berjalan dengan lancar? Atau putus di tengah jalan?
__ADS_1