
Setelah Kejadian haru tadi, Irfan dan Fajri hanya menatap Fajira dengan tatapan sendu. Mereka bisa merasakan apa yang tengah di tutupi oleh ibu hamil itu.
"sudah ih! Bunda gak papa. Namanya juga ibu hamil, hormon dan emosinya gak stabil!" ucap Fajira berusaha untuk menutupi kesedihannya.
"Bunda?" panggil Fajri lembut.
"iya, sayang?"
"Apa Bunda bohong sama, Aji? Aji pernah lo ngerasain gimana rasanya gak punya Ayah! Gak mungkin Bunda kuat seperti ini!" ucap Fajri tanpa sengaja menyindir Irfan.
"Ya, kurang lebih seperti itu lah yang Bunda rasakan, sayang!" ucap Fajira kembali berkaca-kaca.
"hiks... ternyata kehadiran Aji gak merubah apapun!" ucap Fajri sesegukan namun membuat irfan dan Fajira terkejut.
"Sayang, kenapa Aji ngomong gitu?" tanya Fajira tegas.
Pria kecil itu menatap Fajira yang terlihat marah, namun ia kembali menunduk, karna menyadari jika ia salah dalam berbicara.
"Maafin Aji, bunda! Maafin, Aji" pria kecil itu semakin terisak di dalam dekapan Fajira.
Perempuan cantik itu terdiam, ia mengerti maksud Fajri yang berharap kehadirannya bisa membuat kesedihan Fajira hilang. Namun bagaimanapun juga, pasti akan terasa berbeda walaupun ia memiliki seribu anak seperti Fajri.
"Mas, bantu aku angkat Fajri ke kasur!" ucap Fajira.
"Yuk, sayang!" ucap Irfan menggendong Fajri.
Sementara Fajira berusaha untuk berdiri dari duduknya. Ia segera menyusul dua pria tampan itu menuju ranjang mereka.
Hanya pelukan hangat yang bisa ia berikan untuk Fajri. Sampai sekarang Fajira bahkan bertanya-tanya, kenapa pria kecil ini selalu terisak jika menyangkut tentangnya.
Namun sejauh fikirannya berkelana, Fajira hanya mengambil kesimpulan, ia harus bersyukur memiliki anak hebat, cerdas dan penyayang seperti Fajri.
...🌺🌺...
Terdengar teriakan suara irfan di depan ruang persalinan, karna Fajira sedang kesakitan saat ini. Ternyata kontraksi yang di rasakan tadi sore, adalah tanda-tanda ia akan melahirkan.
"Maas! shhh... enghh... sakit!" erang Fajira ketika merasakan kontraksi pada perutnya.
"Apa kalian tidak bisa membantu istriku? dasar tidak berguna!" teriak Irfan bengis karna panik melihat istrinya kesakitan.
"sayang, mana yang sakit? Dek, kamu yang tenang di dalam sayang! kasihan bunda!" Ucap Irfan panik sambil mengelus lembut perut Fajira.
"Mas! huh... huh... huh... aku gak papa!" ucap Fajira setelah rasa sakit itu kembali mereda.
__ADS_1
"Gak papa bagaimana? kamu kesakitan seperti ini, Fajira!" ucap Irfan kesal karna istrinya selalu mengatakan tidak apa-apa, padahal rasa sakit itu nyata adanya.
"Mas!, ini memang lumrah di rasakan oleh setiap ibu hamil yang akan melahirkan!" ucap Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Irfan.
Ia jengah sekaligus bahagia karna Irfan ada di sampingnya. Menemani saat-saat yang paling berat sekaligus membahagiakan seperti ini.
"operasi saja ya, sayang?" bujuk Irfan.
"Mas! operasi itu panyembuhannya lama, Sayang! Aku gak mau!" sergah Fajira cepat.
"Tapi aku gak kuat melihat kamu kesakitan seperti ini terus, sayang!"
"Apa kamu mau bermain solo sampai jahitan bekas operasiku kering dan sembuh? itu membutuhkan waktu yang lama lo!"
deg...
so-solo?. Irfan melotot.
Ia menggeleng pelan karna tidak akan sanggup jika harus bermain solo dalam waktu yang lama, apalagi melihat Fajira yang sangat se'ksi. membuatnya tidak akan tahan barang sedetikpun.
"Makanya, Temani aku disini. Cukupan usap perutku. Jangan teriak-teriak gak jelas lagi, ya!" ucap Fajira lembut.
"Sayang!" ucap Irfan protes.
"Sudah Mas, Aku haus!"
"Fajri mana, Mas?" tanya Fajira.
"Di luar sayang, sama Ibu dan Mama, kamu mau bertemu dengan Fajri?" tanya Irfan.
"Aku mau bertemu, tapi aku gak yakin melihat reaksinya nanti. Bisa jadi lebih parah dari pada kamu, Mas!" ucap Fajira sedikit tergelak.
Irfan hanya menggaruk tengkuknya ketika membenarkan apa yang di katakan oleh Fajira.
Tak lama Dokter di iringi oleh dua orang perawat masuk untuk memeriksa keadaan Fajira, terutama memeriksa pintu keluar untuk bayi mungil itu nanti.
"Permisi, kita ceck dulu ya, bunda!" ucap dokter.
Irfan segera membantu Fajira untuk berbaring, dengan perasaan cemas. Irfan melihat dokter itu sedang memeriksa sumber kenikmatannya. Entah apa yang di lihat, namun ia mengamati ekspresi dokter perempuan itu. Irfan tidak nyaman ketika milik Fajira di lihat dengan intens, walaupun tidak terjadi apa-apa.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" tanya Irfan cepat.
"kita periksa dulu ya, tuan! mohon bersabar sebentar!" ucap dokter itu.
__ADS_1
Ia mengarahan sebuah alat menuju perut Fajira dan mengoleskan gel di atas perut buncit itu. Terdengar suara berisik dan di sertai detak jantung yang stabil di dalam sana. Setelah di rasa cukup, Dokter itu kembali membersihkan perut Fajira dan menutupnya lagi.
"Keadaan anak dan istri Tuan baik-baik saja! Kontraksinya sudah semakin sering. Tadi saya lihat baru pembukaan 5. Mohon bersabar ya, Tuan! karna seperti ini lah proses persalinan secara normal!" terang dokter itu.
"Apa tidak ada cara yang lebih cepat dokter?" tanya Irfan.
"Ada, Tuan! hanya saja itu akan terasa dua kali lebih sakit dari pada saat ini. Hmm saya ada satu saran lagi, jika Tuan memang ingin persalinan Nyonya bisa lebih cepat!" ucap dokter itu.
Fajira merona, ia paham apa yang di maksud oleh dokter perempuan itu.
"Apa itu dokter?" tanya Irfan antusias.
"Berhubungan badan, dan menumpahkan bibitnya di dalam, itu akan mempercepat proses melahirkan. Jika anda bersedia, Kami akan menyediakan tempat yang privasi untuk melakukannya," ucap dokter itu santai.
"kalau begitu saya permisi terlebih dahulu nyonya, tuan!" dokter dan dua orang perawat itu pamit dari ruangan Fajira.
Irfan memandang Fajira lekat. Ia melihat ada satu harapan untuk mendapatkan jatahnya.
"sayang?" tanya Irfan.
🌺🌺
Sementara di luar ruangan, Fajri terlihat sangat cemas, bahkan sedari tadi, ia tidak mau minum dan makan karna memikirkan keselamatan Bunda dan Adiknya.
Bahkan Mama dan Ibu juga sudah membujuk pria kecil itu untuk memakan sesuatu agar ia memiliki sedikit tenaga dan tidak sakit nanti.
"Sayang! Ayo lah nak. nanti Bunda tambah kepikiran jika Abang gak makan!" bujuk Mama.
"Tapi Aku takut, Oma! Aji mau masuk ke dalam, tapi gak boleh!" lirih Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sabar ya, nak! Nanti kalau Aji masuk dan Bunda melihat Aji belum makan bagaimana? Nanti Bunda malah tambah sakit!" ucap Ibu.
"tapi Aku mau bertemu dengan Bunda, Nek! Aji mau lihat Bunda! hiks..." pecah sudah tangis Fajri.
Mereka memang sengaja tidak mengizinkan Fajri untuk masuk ke dalam ruangan Fajira. Takutnya pria kecil itu akan histeris, ketika melihat Fajira yang tengah kesakitan.
Namun hal lain terjadi, pria kecil itu malah termenung. Ia sudah pernah melihat bagaimana proses melahirkan melalui Aplikasi yutub. Ia juga yakin jika ini hanya akal-akalan para orang tua agar ia tidak melihat keadaan Fajira secara langsung.
"Kita berdo'a saja, sayang! Semoga Bunda dan Dede baik-baik saja di dalam?" ucap Ibu mengelus kepala Fajri lembut.
"Iya, Nek!"
Pada akhirnya Fajri hanya bisa pasrah dengan keputusan orang dewasa yang tidak mengizinkannya masuk untuk bertemu dengan ibundanya.
__ADS_1
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE