Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
37. Ayo Cium Ayah Bunda


__ADS_3

Selepas makan siang, mereka kembali berjalan ke kamar Irfan. Fajira sedikit ragu untuk masuk ke dalam karna merasa canggung jika harus satu kamar lagi dengan laki-laki itu.


"Bunda sini ngapain jauh-jauh" ucap Fajri polos.


"iya sayang, Bunda di sini aja ya. Aji butuh sesuatu nak?" ucap Fajira yang tengah duduk di sofa sambil menonton televisi.


"iya Bunda, Aji mau di peluk sini" panggil Fajri yang berada di atas kasur bersama dengan Irfan.


"Bunda disini saja sayang. nanti Bunda ketiduran lagi"


"gak papa, Bunda kan belum sembuh" ucap Fajri lembut membujuk Fajira agar bisa berbaring di kasur besar itu.


"huh ya sudah" pasrah Fajira yang sangat sulit untuk menolak keinginan putra sematawayangnya.


Sementara Irfan menahan senyum, karna merasa bahagia ketika melihat Fajira naik ke atas tempat tidur dan duduk sambil bersandar.


"geser kesini Bunda, nanti jatuh kalau duduk terlalu di tepi" ujar Irfan semakin menjadi.


"iya Bunda, sini Aji mau dekat-dekat sama Bunda sama Ayah juga" ucapnya tersenyum manis penuh harap.


Fajira hanya pasrah dengan jantung yang berdetak lebih cepat, seiring menipisnya jarak mereka. Irfan semakin susah untuk menahan senyumnya karna merasa menang mendapatkan bantuan dari Fajri.


Anak Ayah memang pintar banget. Nanti bantu ayah ya sayang, untuk mendekati Bunda biar kita bisa hidup bersama setelah ini. Bathin Irfan sangat senang sambil menatap Fajira yang sengaja menghindari tatapannya.


"bunda istirahat ya. Nanti sore saja kita pulang" ucap Fajri mengusap pipi Fajira lembut.


"kok pulang nak. Ayah masih kangen sama Aji sama Bunda juga" ucap irfan sedih.


"eh Ayah jangan sedih, nanti kalau Bunda pulang tentu Aji juga ikut. kalau tidak siapa yang menjaga Bunda Ayah"


"ah iya, pria kecil ayah ini sudah besar ya, sudah bisa menjaga Bunda. Muach... Ayah sayang banget sama Aji" Irfan tidak henti mencium fajri apapun yang bisa ia jangkau.


"muach... Aji juga sayang banget sama Ayah"


Mereka saling berpandangan dengan hangat lalu terdiam dan menatap Fajira bersamaan membuat wanita cantik itu salah tingkah.


"Bunda gak cium ayah juga" tanya Fajri polos dan sukses membuat Fajira tersedak air liurnya sendiri.


"iya ya, Bunda gak mau tuh cium ayah dari tadi" ucap Irfan pura-pura sedih.


"Bunda Ayo cium ayah" ucap Fajri semangat.


"eh Bunda nitip cium aja sama Aji untuk ayah ya"


"mana boleh, Ayo bunda cium Ayah" desak Fajri.


"Lihat kan Sayang, Bunda masih marah sama Ayah. Kan ayah sudah minta maaf" ucap Irfan mendrama sedih.


"kok Bunda gitu" tanya Aji dengan serius.

__ADS_1


"eh kok Aji gitu sayang, bunda gak mau cium Ayah. Ayah kan belum mandi" kilah Fajira gelagapan.


"Ayah belum mandi?"


"mandi pagi udah dong. Itu alasan Bunda Aja sayang, Bunda memang gak mau cium ayah... Aaaaakh..." pekik Irfan ketika Fajira mencubit pinggangnya.


"ayah kenapa?" tanya Fajri kaget.


"ayah di cubit sama Bunda sayang, sakit"


"bunda" ucap Aji melipat kedua tangannya di dada.


"iya Bunda akan cium ayah. Tapi Aji gak boleh lihat ya"


"kok gitu?" ucapnya tidak terima.


"Ayah mau ngasih Bunda ciuman yang romantis sayang, jadi Aji gak boleh lihat, nanti Bundanya malu" ucap Irfan.


"apa Aji gak boleh lihat?" ucap Fajri masih protes


"gak boleh" ucap Irfan dan Fajira berbarengan. Mereka saling berpandangan satu sama lain, namun Fajira hanya mendelik ke arah Irfan dengan wajah yang sudah merona.


"ya sudah Aji tutup mata deh"


Fajri menutup mata dengan kedua tangannya. Ia tersenyum jahil dan berniat mengintip nanti, melihat apa alasan yang sebenarnya kenapa ia tidak boleh melihat ayah dan bundanya saling mengecup. Kan hanya mencium saja apa yang harus di tutup-tutupi begitu fikirnya.


Irfan yang melihat Fajri menutup mata langsung mengambil kesempatan ini untuk mencium Fajira. Tanpa aba-aba ia menarik tengkuk Fajira dan mempertemukan bibir mereka. Hal ini sukses membuat ibu muda itu terbelalak kaget dengan irama jantung yang semakin berdatak lebih kencang.


Irfan memainkan sebentar bibir Fajira yang kenyal itu dengan sedikit panas. Ia terus me.lu.mat seolah tidak ada hari esok baginya. Sementara Fajira hanya terdiam dan perlahan membuka sedikit mulutnya, lambat laun ia juga terbuai dengan manisnya bibir Irfan yang yang seperti ingin memakan bibirnya saat ini, Irfan yang merasa mendapatkan lampu hijau tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjelajahi mulut nan indah itu dengan panas.


Sementara Fajri mengintip dengan mata yang membola melihat cara Irfan mencium Fajira.


Kok ayah mencium Bunda seperti itu sih? cuma di bibir saja kok aku gak boleh lihat? Bunda kan juga sering mencium bibir Aji. Tapi Ayah lama, apa seperti ini caranya? atau bagaimana sih? Aji bingung tapi pengen coba seperti itu juga. Hihi bunda malu-malu di cium sama Ayah. Bathin Fajri bertanya-tanya dengan mata polosnya yang masih menatap ke arah dua insan yang masih meraup manisnya madu.


Fajira yang terbuai dengan permainan Irfan perlahan kembali menemukan kesadarannya, segera ia mendorong tubuh Irfan dan terkejut ketika melihat Fajri tengah tersenyum genit ke arahnya.


Apaa Fajri melihat adegan yang sangat tidak pantas tadi?. Bathin Fajira menjerit.


"kok Bunda sama ayah ciumnya lama sih? kok Aji cuma sebentar. Aji juga mau seperti itu bunda" rengeknya.


"eh gak boleh sayang" sergah Fajira cepat.


"kenapa? Bunda gak sayang lagi sama Aji?" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"bukan seperti itu sayang" Fajira mengusap kepala Fajri yang sudah terlihat sendu


"Jadi begini. Aji kan masih kecil jadi belum boleh seperti Bunda dan Ayah tadi. Itu cuma untuk orang dewasa sayang"


"Aji kan udah besar Bunda"

__ADS_1


"sudah sebesar Ayah belum?"


"belum"


"kalau Aji mau seperti Bunda dan Ayah tadi harus tunggu Aji besar dulu terus menikah, baru boleh seperti ayah dan bunda"


"lama dong Bunda. Apa Aji gak boleh coba sama Bunda aja?"


"gak boleh sayang. Aji cuma boleh kecup seperti ini muach.." ucap Fajira lembut dan mengecup bibir mungil itu.


"Ayah ini apa kok keras?" tanya Fajri polos ketika merasakan sesuatu yang keras tengah ia duduki. Pertanyaan Fajri membuat Irfan kaget dan gelagapan, begitu juga dengan Fajira yang terbelalak melihatnya.


"eh hmm itu sayang, ayah mau pipis dulu ya"


"iya ayah" Fajri hanya menatap ayahnya bingung.


Irfan berlalu dari sana dan segera menuju kamar mandi, untuk mengendalikan hasratnya. Sungguh ia menggila setelah mendapatkan lampu hijau dan balasan dari Fajira tadi. Aku butuh pelepasan!, begitu jeritnya di dalam hati. Ia memilih untuk mandi dan bermain sabun terlebih dahulu agar tidak menambah pertanyaan anak genius itu.


Di luar kamar, Fajri mengernyit karna Irfan sangat lama berada di dalam kamar mandi.


"Bunda, ayah ngapain di kamar mandi? kok pipisnya lama?" Fajri turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi.


"Aji kemana nak? Ayah lagi mandi mungkin" ucap Fajira merona, sudah jelas apa yang akan di lakukan oleh Irfan di dalam kamar mandi.


"mandi? tapi tadi katanya ayah sudah mandi bunda"


"Ayah tadi bau asem sayang makanya ayah mandi. Malu mungkin karna Bunda cium"


"iya Bunda?"


"iya nak, yuk sini temani Bunda istirahat sambil nunggu Ayah selesai"


"iya Bunda"


Fajri kembali merangkak naik ke atas ranjang dan segera memeluk Fajira, ia masih merasa mengantuk karna tidurnya tadi tidak maksimal. Tak menunggu lama, Fajri terlelap setelah Fajira mengusap kepala dan menepuk bopongnya lembut.


Tepat setelah Fajri terlelap Irfan keluar dengan balutan handuk di pinggang dan sialnya Fajira berbaring menghadap ke pintu kamar mandi. Matanya membola melihat tubuh atletis Irfan yang terpampang indah di depan matanya. Sementara Irfan yang sadar jika Fajira menatapnya malah tersenyum jahil dan perlahan mendekat.


"sayang kamu mau pegang perutku? boleh kok, ini milik kamu sentuhnya" ucap Irfan genit dan berjalan semakin mendekat lalu berdiri tepat di belakang Fajira.


"ja-jangan mendekat a-atau aku sshhh..." Fajira meremang ketika merasakan usapan lembut di tengkuknya.


"atau apa sayang. Aku gak tau kenapa kamu bisa membangkitkan gairahku hanya dengan berciu.man, Apa aku boleh memintanya lagi? mumpung Anak kita sudah tertidur" ucap Irfan genit duduk di tepi tempat tidur, tepatnya duduk di belakang Fajira yang tengah berbaring.


"...."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


Mereka lanjut huhah huhah gak gais? koment di bawah yuk wkwkwk


__ADS_2