
Jam istirahat kedua pun masuk, Fajri bergegas menuju kelas Ivanna agar bisa menemani adiknya untuk menunggu jemputan, karna Ivanna lebih cepat pulang dari pada Fajri.
"abang!" Panggil Ivanna memeluk Fajri dengan manja.
"bagaimana hari ini, sayang?"
"biasa aja, bang. ternyata sekolah gak seseru yang Dede fikirkan!" keluh Ivanna
"Itu karna Dede belum mendapatkan sesuatu yang menantang. Pak Sakti belum datang, sayang?" tanya Fajri mengelus kepala adiknya.
"belum, Dede haus, bang. Air minum Dede habis!" ucap Ivanna cemberut.
"yuk, kita ke kantin dulu!" Fajri mengajak Ivanna untuk pergi ke kantin dan membeli air minum.
Mereka berhenti di salah satu stand minuman yang ada di sana. Mata Ivanna berbinar karna ingin mencoba semua minuman yang tidak pernah ia coba karna larangan ibundanya.
"bang, Dede mau miumum yang merah itu, boleh?" ucap Ivanna.
"gak boleh, sayang! Dede lupa pesan, Bunda?" ucap Fajri yang mengambil air mineral kemana.
"Yah, coba sedikit saja, ya!" bujuk Ivanna.
"gak boleh, sayang!" Ucap Fajri membuka tutup air itu dan menyerahkannya kepada Ivanna.
Sambil cemberut, gadis manis itu meminum air mineral yang terasa hambar hingga habis setengahnya. Mata cantik itu menelisik melihat salah satu perempuan yang tengah memperhatikan mereka.
"bang, ada yang ngelihatin kita terus!" ucap Ivanna berbisik.
"siapa?" Fajri mengedarkan pandangannya, ia melihat kehadiran Mera di sana.
"itu teman abang, sayang. kita ke sana yuk!" ajak Fajri menggandeng tangan Ivanna.
Mata gadis kecil itu menangkap sesuatu yang sangat menarik dan menggugah seleranya. Ia melepaskan pegangan tangannya dari Fajri dan berjalan ke arah stand kue.
Terlihat kue muffin yang begitu menggugah seleranya. Fajri hanya membiarkan Ivanna, selagi itu masih jajanan yang sehat dan mengenyangkan.
"buk, saya mau ini 2!" ucap Ivanna menunjuk kue muffin coklat yang bertabur chocochips di atasnya.
"ada yang lain, nak?" ucap ibu itu ramah.
"sudah, Bu!" ucap Ivanna.
Ibu itu segera menyerahkan dua buah kue muffin ke pada Ivanna. Gadis kecil itu bingung sebab ia tidak membawa uang dan juga lupa memintanya kepada Irfan.
"Ah iya, buk apa bisa bayar pake gelang saja? ayah bilang nanti kalau Dede beli sesuatu di tinggal di scan saja!" ucap Ivanna berbinar.
"bisa, mana gelangnya?" ibu itu segera menscan gelang Ivanna.
"wah, terima kasih, bu!" ucap Ivanna sedikit membungkukkan badannya.
__ADS_1
"eh, sama-sama, nak!" ucap ibu itu tersenyum. Sopan sekali gadis itu, fikirnya tanpa mengetahui siapa yang tengah ia layani.
Ivanna berbinar menatap kue dan jam tangannya. Ia mencari keberadaan Fajri yang tengah mengobrol dengan perempuan yang yang melihatnya tadi.
"Abang?" panggil Ivanna dingin.
"eh, sayang. Dede beli apa?" tanya Fajri.
"beli kue!" Ivanna menelisik siapa yang ada di hadapannya saat ini.
kakak ini cantik, apa abang suka sama dia?. bathin Ivanna.
"Kak. kenalin ini adek Aji. Namanya Ivanna," ucap Fajri dalam bahasa Inggris.
"hai adik kecil, aku Esmeralda, panggil aja Mera!" ucap Esmeralda dalam Bahasa Inggris sambil mengusap kepala Ivanna.
"oke, Mera!" ucap gadis kecil itu malas.
"eh, panggil kakak, sayang!" sentak Fajri.
"Abang, kan tadi dia bilangnya panggil Mera saja!" protes Ivanna tidak terima di koreksi.
"Panggil kakak, sayang!"
"gak mau!"
"ya sudah, kalau gitu panggil Fajri aja, ya!" ucap Fajri kepada Ivanna.
"pintar!"
Siapapun yang melihat tingkah lucu gadis manis itu akan terpesona. Kecantikan yang terpancar dengan indah membuat siapa saja akan jatuh hati. Begitu juga dengan Esmeralda, ia sangat menyukai Ivanna yang terlihat sangat mengemaskan.
Fajri dan Mera mengobrol untjm saling mengenal satu sama lain. Tanpa sadar Ivanna sudah membeli banyak cemilan untuk membuktikan kehebatan gelang yang di berikan oleh ayahnya.
Berbagai macam kue dan minuman ia coba selagi Fajri tidak memperhatikannya, termasuk minuman merah yang ia inginkan tadi. Beruntung tidak banyak siswa yang ada di kantin, sehingga gadis kecil itu tidak perlu menjaga imagenya.
"abang, bantu Dede yuk ke sana!" ucap Ivanna menarik tangan Fajri.
Pria kecil itu menurut, betapa terkejutnya ia ketika melihat begitu banyak makanan yang di beli oleh Ivanna. Wajahnya pucat ketika bayangan kemarahan ibunda ratu terlintas di dalam fikirannya.
"astaga dek! kenapa Dede belanja sebanyak ini dan siapa yang akan menghabiskannya?" ucap Fajri lemas.
"abang, kenapa?" pekik Ivanna melihat Fajri terduduk di atas kursi yang ada di sana.
"aduh, abang pusing!" ucap Fajri memang kepalanya.
Ia menghitung kantong plastik yang sudah terkumpul di salah satu meja. Satu, dua, empat, dua belas kantong dengan berbagai macam makanan yang ada di dalamnya.
"dek, 'kan abang udah bilang, jangan jajan sembarangan! nanti kalau Bunda marah gimanan?" ucap Fajri mengsap kepalanya.
__ADS_1
"maafin ddde, bang! Dede cuma penasaran," ucap Ivanna menunduk.
"Besok jangan seperti ini lagi ya!" ucap Fajri lembut dan memeluk Ivanna yang masih berdiri.
"maafin Dede, bang!" ucap Ivanna berkaca-kaca.
"gak papa, sayang. Tapi besok jangan seperti ini lagi ya!" ucap Fajri mengusap kepala Ivanna lembut.
"iya, bang!"
Fajri mengangkat semua jajanan Ivanna menuju meja dimana ia duduk bersama Mera tadi. Gadis blasteran itu tersenyum melihat bagaimana Fajri memperlakukan adiknya. Walaupun ia tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia, tetapi ia paham jika Fajri tengah menasehati adiknya.
Ivanna kehilangan mood untuk memakan makanan itu. Ia juga sudah membayangkan bagaimana kemarahan ibundanya nanti. Matanya kembali berkaca-kaca, sambil menatap Fajri.
"apa kamu baik-baik saja?" tanya Mera.
"Dede kenapa, sayang? ha abang tau, pasti Dede lagi bayangan Bunda marah 'kan?" tebak Fajri.
Ivanna mengangguk dan menangis. Walaupun Fajira belum pernah marah, namun Ia sangat takut jika perempuan cantik itu mendiamkannya atau apapun.
"gak papa, nanti ngomong aja sama Bunda yang sebenarnya terjadi, gak boleh bohong. Nanti kalau bunda marah diam saja, jagan melawan!" ucap Fajri menahan senyumnya.
"gimana kalau Bunda diamin Dede?"
"menangis saja sambil memasang wajah imut kamu!" ajar Fajri sambil tertawa.
"ihh Abang Dede serius!" rengek Ivanna.
Bugh!
Bugh!
Tangan kecil itu aktif memukul Fajri yang semakin tergelak. Pria kecil itu segera memeluk Ivanna dengan gemas.
"sudah, sayang! tuh pak sakti sudah datang. Nanti makanan yang masih utuh kasih saja sama orang saja!" ucap Fajri.
Pak sakti datang untuk menjemput Ivanna dan membantu membawakan bungkusan itu. Ia terkekeh ketika melihat wajah murung Ivanna, ia yakin jika Fajri sudah mengerjai adik cantiknya itu.
"pak, nanti di cek dulu makanan yang masih utuh, terus kasih saja sama orang yang membutuhkan!" ucap Fajri membantu Ivanna masuk ke dalam mobil.
"baik, Tuan Muda!"
"hati-hati pulangnya, sayang! hehe siap-siap di marahi sama Bunda ya!" ucap Fajri jahil.
"abang!" teriak Ivanna.
Mobil bergerak meninggalkan sekolah, Fajri yang masih terkekeh segera pergi menuju kelasnya bersama dengan Esmeralda karna kebetulan bel juga sudah berbunyi.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE