
Hingga Fajri sampai di Panti, Joe belum bisa mengatasi permasalahan ini, karna orang yang menuntut lahan tersebut membawa beberapa pengacara yang masih bersikeras untuk mendapatkan tanah itu.
"Pokoknya saya tidak mau tau, kemasi barang-barang kalian dan angkat kaki dari sini sekarang juga!" bentak mereka.
"Saya dari tadi meminta anda menunjukkan surat-surat kepemilikan, mana dia? saya tidak butuh anda membawa pengacara 100 orang, yang jelas, mana surat-surat yang menyatakan ini adalah milik anda!" bentak Joe yang sudah lelah bernegosiasi dari tadi.
"Ada apa ini?" suara bariton Fajri menggema di ruangan itu.
"tu-tuan Fajri?" ucap mereka terkejut.
Wajah yang tadinya garang berubah menjadi pucat dan takut. Fajri berjalan mendekat sambil menggandeng tangan Safira.
"Apa permasalahan ini belum selesai, Joe?" tanya Fajri.
"belum Tuan, Maaf! mereka tidak mau menunjukkan berkas-berkas sebagai bukti jika lahan ini milik mereka!" ucap Joe menunduk.
Fajri menatap empat orang yang menggunakan pakaian rapi dan dua orang yang mengaku sebagai pemilik lahan.
"Mana buktinya?" tanya Fajri.
"I-ini Tuan!" barulah mereka mengeluarkan semua bukti-bukti yang ada.
Fajri melihat dengan seksama semua berkas dan dokumen yang mereka bawa.
Bukankah lahan ini sudah di pindahkan oleh Ayah? perumahan yang di belakang itu proyek ayahkan? Huh, dasar tukang tipu!. Batin Fajri geram.
"Joe, berapa orang yang kamu bawa?" tanya Fajri.
"saya membawa sepuluh orang tuan! sebagian ada di luar dan sebagian ada yang mengamankan anak-anak!" ucap Joe.
"sayang, kamu bisa membawa Ibu ke belakang dulu, atau ikut bergabung bersama anak-anak yang lain?" ucap Fajri lembut kepada Safira.
"ta-tapi, kak!" ucap Safira menyanggah.
"sayang!" sergah Fajri.
"baiklah! Ayo Bu!" ucap Safira mengajak ibu panti keluar dari ruangan itu.
"Tapi, nak!" sergah ibu.
"sudah, Bu. Serahkan saja semuanya kepada, kak Fajri!" ucap Safira segera berlalu dari sana.
"suruh mereka berkumpul, Joe!" ucap Fajri memasang wajah dinginnya.
"Baik, Tuan," Joe segera memanggil anak buahnya agar bisa berkumpul di ruangan itu.
"Sebelum saya bertindak lebih jauh, saya ingin kalian jujur! dimana kalian mendapatkan surat-surat ini?" tanya Fajri dingin.
"I-itu milik saya Tuan!" ucap salah satu orang yang mengaku-ngaku.
"yakin anda tidak berbohong? saya bisa menghukum siapa saja yang berani berbuat kurang ajar!" ucap Fajri.
Mereka terdiam dengan raut wajah ketakutan. Tidak ada yang berani untuk menjawab pertanyaan Fajri. Mereka sangat tidak menyangka jika panti ini mendapatkan dukungan dari keluarga Dirgantara
"sa-saya yakin, tuan! karna lahan ini memang milik keluarga saya. Dari awal jual beli tanah ini tidak jelas, dan pembeli hanya pihak ke tiga. Makanya kami menuntut tanah ini, tuan!" ucap mereka.
Apa benar yang di katakan oleh mereka? gak mungkin ayah membeli tanah yang tidak jelas. Batin Fajri mengernyit.
"Joe, saya bosan meladeni kebohongan mereka. Bawa ke kantor polis dan laporkan atas tindakan penipuan!" ucap Fajri beranjak dari sana.
__ADS_1
"Tuan, anda tidak bisa melaporkan kami begitu saja!" ucap salah satu dari mereka dengan memegang tangan Fajri.
Brak!!
Bugh!!
Prang!!
Fajri melepaskan cengkeraman itu dengan amarah, Ia juga menghempaskannya ke meja kaca dan membuat meja itu pecah.
Mata Fajri berubah menjadi merah dan tajam. Mereka yang hendak melawannya menjadi ciut dan takut. Sementara laki-laki tadi sudah pingsan, beruntung wajahnya tidak kenapa-napa.
Mereka segera di gotong menuju kantor polisi terdekat agar bisa di proses secepatnya.
Fajri berjalan menuju asrama anak-anak, mereka terlihat sudah menangis karna ketakutan. Hati Fajri terenyuh melihat wajah mereka dengan Air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"tindakan, Abang memang benar!" ucap Ivanna yang baru saja datang dan langsung memeluk Fajri dari belakang.
"Sayang?" ucap Fajri terkejut dan langsung mengusap matanya.
"Dede pikir, abang akan memberikan mereka uang untuk menebus panti ini!" ucap Ivanna bersandar di punggung Fajri.
"Abang baru sadar kalau lahan ini sudah di hibahkan, dan ayah yang membantu untuk mengurusnya. Untung Abang mengenali perumahan yang di sana. Kalau tidak, mungkin uang 500 juta akan melayang!" ucap Fajri.
"kita samperin mereka yuk! Makanan yang Abang pesan juga sudah datang!" ucap Ivanna menunjuk beberapa mobil box yang datang mengantarkan makanan.
"Ah, syukurlah. Abang sudah lapar banget, ngantuk juga!" ucap Fajri menguap.
"Abang dapat uang dari mana?" tanya Ivanna menelisik.
"Abang kemarin baru isi saldo di ponsel yang biasa Abang pakai untuk kerja, sayang," ucap Fajri.
"hanya dua, sayang! jangan di ambil yah, itu untuk kerja! Lagian tadi kakakmu mau minjam uang tapi Abang gak bawa ponsel, kertas cek juga Abang bawa pulang!" ucap Fajri memasang wajah memelasnya.
"ya sudah! tapi jangan macam-macam!" ucap Ivanna melotot
"iya, sayang!" Fajri mengecup kening Ivanna lembut.
Adik dan kakak itu segera berjalan menuju anak-anak yang sudah mulai tenang. Mereka Seketika berbinar ketika melihat siapa yang datang.
"Kak Ivanna!" teriak mereka segera bangkit dan mengadu apa yang mereka alami hari ini.
"sudah, orang jahatnya sudah pergi. Jangan nangis lagi, katanya, mau jadi orang hebat!" ucap Ivanna mengelus kepala mereka.
"iya, kak. Om itu siapa?" tanya mereka berbisik.
"itu abangnya, kakak! Abang Fajri," ucap Ivanna.
"Wah, abangnya ganteng banget!" ucap mereka berbinar.
Wajah Fajri memerah mendengarkan pujian itu. Ia hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia dan Ivanna memang sangat menyukai anak-anak.
Panti asuhan itu memang khusus untuk anak perempuan saja, dan tidak bercampur dengan laki-laki. Di sinilah Safira tumbuh dan besar menjadi salah satu anak yang bisa membanggakan ibu panti dan yang lainnya.
"kak, Bagaimana?" tanya Safira cemas.
"sudah, kamu tenang saja ya! Semuanya sudah beres. Mereka hanya penipu yang datang dan memanfaatkan keadaan," ucap Fajri tersenyum dan mengusap kepala Safira lembut.
"terima kasih sudah membantu kami, kak!" ucap Safira dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"jangan berterima kasih, bukankah di sini rumah mertuaku?" ucap Fajri salah tingkah
"Ciee, Ciee, ciee,..." sorak anak panti yang berhasil membuat wajah Fajri dan Safira merona.
"Sudah, yuk kita makan!" ajak Safira dan mengatur anak-anak agar bisa mengambil makanan dengan rapi.
Ivanna sangat antusias bermain dengan anak-anak di sana. Mereka berjumlah 32 orang yang sebagian sudah menempuh sekolah menengah pertama, sekolah dasar, dan selebihnya masih sangat kecil bahkan ada bayi berusia 6 bulan di sana.
Setelah membagikan makanan, Fajri duduk di atas tikar dan di lindungi oleh pohon rindang. Ia baru saja mengobrol dengan ibu panti, hanya bisa basi dan berkenalan.
Matanya sudah sangat mengantuk sekaligus lapar. Ia beberapa kali menguap sambil bersandar di batang kayu itu.
"kak?" panggil Safira sambil membawa dua bungkus makanan.
"eh iya, Apa semuanya sudah kebagian?" tanya Fajri.
"sudah, kak. Ini untuk kakak!"
"terima kasih! Tapi aku sangat mengantuk, di tambah udah sejuk di bawah pohon ini, membuat mataku semakin mengantuk!" ucap Fajri kembali menguap.
"Makan dulu, kak. Nanti saja tidurnya, setelah makan!" ucap Safira mengoyang lengan Fajri.
"Nanti saja, sayang!" ucap Fajri santai dengan mata yang terpejam.
Blush,...
Wajah Safira merona ketika mendengarkan panggilan sayang itu keluar dari mulut Fajri.
"Aku suapi ya!" ucap Safira menahan degub jantungnya.
"Hmm? nanti saja!" Fajri merebahkan kepalanya di pangkuan Safira dan langsung terlelap.
Safira membeku, ia tidak menyangka jika Fajri akan seberani ini kepadanya. Namun ia hanya membiarkan Fajri yang sudah terlelap. Kapan lagi bisa memandang wajah tampan pangeran ini. Begitu fikirnya.
"kak? apa Abang tidur?" ucap Ivanna.
"iya, Na!"
"Apa gak pegal, kak? biar sama aku aja, kepala Abang berat soalnya!" ucap Ivanna hendak mengambil alih kepala Fajri.
"engh,..." lenguh Fajri memeluk kaki jenjang Safira yang sedang selonjoran.
"aih, dasar modus ini!" celetuk Ivanna.
"Abang, belum makan, Na!" ucap Safira tanpa sadar membelai kepala Fajri.
"gak papa, kak. Abang gak ada riwayat sakit magh, jadi telat sedikit gak masalah!" ucap Ivanna membuka kancing jas yang masih melekat pada tubuh Fajri.
"dek, kamu ngapain!" ucap Safira terkejut.
"eh, aku cuma buka kancing Jas aja kak. Gak sampai buka kemeja Abang kok! hehehe," ucap Ivanna terkekeh.
Sementara Safira hanya tersenyum malu karna sudah berpikiran macam-macam. Mereka makan siang sambil menunggu Fajri yang sudah sangat pulas, bahkan mereka tertawa kencang ketika berhasil menggunjingi pria tampan itu.
saking pulasnya, Fajri tidak sadar jika paha Safira sudah berganti dengan bantal empuk.
Fajri tertidur hingga sore menjelang, dengan damai dan di temani oleh Safira, sementara Ivanna sudah sibuk bermain dengan anak-anak yang lainnya.
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE