Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
39. Restu Mama


__ADS_3

Irfan melangkah keluar rumah dan menaiki mobilnya. Ia segera keluar dari gerbang dan mengendarai mobil itu dengan cepat, entah kemana arah tujuannya saat ini yang jelas irfan hanya ingin melepaskan emosi yang ada dalam dirinya. Marah, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.


"AAARRGGHHH....... FAJIRAAAA hiks..." perlahan cairan hangat itu meluap dari mata tajam milik Irfan.


"maafkan aku hiks..."


"Apa aku harus menerima itu semua? menikahi perempuan yang paling aku cintai namun tidak bisa menyentuhnya sedikitpun. Kenapa kamu begitu kejam Fajira?.


Aku sudah menawarkan pengobatan, namun apa? apa yang kamu pilih? kamu menyiksaku lebih dalam Fajira" Racau Irfan dalam tangisnya


Irfan terus melajukan mobil hingga ia sampai ke kota asalnya. Selama 1 jam Ia baru tersadar ketika mobil itu berjalan ke arah rumah Utama keluarga Dirgantara.


Kenapa aku sampai disini?.


Irfan perlahan membawa mobilnya masuk ke pekarangan rumah itu. Dengan mata sembab ia berusaha untuk menetralkan emosi yang ada di dalam dirinya. Hingga tanpa sengaja Mama Irfan melihat mobil anak sulungnya terparkir di halaman rumah, tanpa menunggu lama Ia segera menghampiri Irfan di sana.


tok.. tok... tok..


"mama" panggil Irfan setelah keluar dari dalam mobil.


Hal pertama yang melakukan adalah mencium tangan wanita paruh baya itu dan memeluknya. Sementara Mama yang mendapatkan perlakuan hangat dari anaknya menjadi terkejut, namun ia memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk Irfan erat. Sungguh sudah lama sekali ia tidak merasakan dekapan putra sulungnya itu.


"aku kangen Mama" ucap Irfan serak.


"Mama juga kangen sama kamu. Masuk yuk nak, kita ngobrol di dalam" ucap Mama terpaksa merenggangkan pelukan itu.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah dengan saling merangkul dan langsung menuju ruang keluarga untuk mengobrol, dan pastinya mama akan melayangkan banyak pertanyaan untuk Irfan nanti.


"abang bagaimana di sana nak?"


"abang sehat Ma, hmm abang mau cerita sama Mama" ucap Irfan sambil berbaring di pangkuan Ibundanya.


"cerita apa nak?" Mama mengelus kepala Irfan lembut.


"tapi mama jangan kaget"


"emangnya abang mau cerita apa sayang?"


"eumm... Mama sudah punya cucu" cicit Irfan pelan


deg...


"IRFAAN!..." hardik Mama.


Tuhan jangan sampai Irfan mendapatkan anak dari jala*ng yang ia sewa. Bathin Mama meringis


"Mama dengar dulu. Mama tenang saja dia bukan anak dari wanita malam yang aku sewa"


"terus kenapa bisa berbuah seperti itu bang" tanya Mama frustrasi


"Dia perempuan baik-baik ma"


"bagaimana kamu bisa mengatakan jika dia perempuan baik-baik sementara kalian, kalian arrghhh.. tuhaaan hiks...." Mama tersedu, sungguh ia tidak ingin keturunannya menjadi rusak karna perilaku buruk Irfan yang tidak terkendali ini.


"mama jangan nangis, dengarkan Irfan dulu" Ia bangkit dan memeluk Mama dengan erat.

__ADS_1


"bagaimana mama bisa tenang kamu punya anak dari wanita yang tidak tau asal usulnya dari mana"


"aku sudah menelusuri latar belalangnya Ma, dan aku pastikan dia perempuan yang tepat untuk menjadi menantu Mama"


"dimana dia sekarang?"


"dia ada di rumah ku ma"


"ka-kamu serius?"


"iya Ma. Mama ingat Fajri? Anak kecil yang bisa membuat Mesin Cuci waktu itu?"


deg ....


"apa dia anak kamu?" ucap Mama terkejut.


"iya Ma, Fajri anak Abang"


"ba-bagaimana bisa? kamu jangan bercanda Irfan" hardik mama tidak percaya


Irfan menceritakan kejadian malam yang panas bersama Fajira dan bagaimana keadaan perempuan itu saat ini. Irfan juga mengatakan jika Fajira tengah menempuh pendidikan kedokteran saat ini. Mama hanya terdiam mendengarkan cerita Irfan, ia bisa merasakan bagaimana menjadi Fajira yang berjuang sendiri membesarkan anaknya.


"terus apa langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan?"


"abang mau menikahinya Ma, Aku harap Mama merestuiku"


"Mama gak tau mau ngomong apa lagi. Apa kamu sudah mengatakan ini kepada dia?"


"sudah Ma, tapi ada hal yang membuatku merasa berat"


"apa nak?"


"kamu serius?"


"iya Ma"


"kamu tau bang. Kenapa Mama tidak pernah berfikir untuk berpisah dengan papa setelah apa yang sudah kita alami?. Satu hal nak, Papa tidak pernah menyakiti Mama, bahkan membentakpun Papa gak pernah, hanya itu yang membuat mama bertahan dengan Papa. Menurut mama Fajira memang harus melakukan itu agar kamu jera, bahkan Mama tidak terbayang bagaimana perempuan itu berjuang hidup, pasti berat banget nak" ucap Mama terisak.


Fajri terpaku, ia membenarkan perkataan Mama yang membuatnya tersadar, jika perkataan Fajira memang benar, hal itu memang pantas di jadikan sebagai hukuman untuknya.


"jika kamu memang serius dengan dia, kamu sudah mencari bagaimana latar belakangnya, Mama merestui. Ikuti saja apa permintaannya nanti kita cari cara bagaimana terapinya masuk secara perlahan" ucap Mama merengkuh tubuh Irfan.


"apa Mama ingin bertemu dengan Fajri?"


"Iya Mama mau nak, tapi nanti tunggu pergi bareng-bareng saja sama Papa dan adek, sekalian kita membicarakan masalah kalian juga"


"iya Ma, terima kasih sudah memberikan abang restu. Do'akan aku terus ma"


"iya nak. Pesan Mama hanya satu, Jika kamu serius, jangan pernah mundur dengan keputusan kamu. Jadikan dia ratu dalam hidup kamu. Banyak hal yang bisa kamu contoh dari Papa, jadikan kesalahannya sebagai pembelajaran. Satu hal lagi. hubungan kamu dengan Vina bagaimana?"


deg....


"aku sudah menganggap semuanya berakhir Ma, aku juga sudah menemui dia tak lama setelah dia pergi"


"Huft, Mama hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk abang, Karna abang sekarang sudah besar gak mungkin Mama ikut mengatur jalan hidup kamu"

__ADS_1


"iya Ma, terima kasih. Aku mau balik dulu, takut nanti mereka pulang begitu saja"


"apa gak capek nak?"


"gak papa Ma, nanti aku istirahat di rumah saja"


"ya sudah hati-hati ya nak"


"iya Ma, aku pergi dulu" Irfan kembali memeluk mama dengan erat dan tak lupa ia kembali mencium tangan yang sudah mulai keriput itu.


Mama menatap kepergian Irfan dengan mata yang berkaca-kaca.


Tuhan lindungi lah anakku, semoga perempuan itu memang yang terbaik untuknya. Permudahkan lah jalan mereka tuhan.


Mama kembali melangkah masuk ke dalam rumah dan beristirahat. Sementara Irfan kembali memacu mobil dengan cepat menuju pulang ke rumahnya yang berada di kota seberang. Ia merasa sangat lega setelah bercerita dengan ibunda tercintanya. Hati Irfan semakin mantap untuk meminang sang pujaan hati, walapun ya terpaksa harus menerima syarat dari Fajira tadi.


πŸ’–πŸ’–


Di rumah mewah milik Irfan, mata Fajira mengerjab menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan itu.


Sudah sore ya? kemana laki-laki itu?.


Badan Fajira sudah terasa lebih baik dari sebelumnya. Ia melihat ada se mangkuk sup yang sudah dingin dan beberapa cemilan yang ada di sana. bibirnya sedikit melengkung mengingat usaha Irfan untuk membujuknya.


Kenapa hatiku melemah dengan perlakuan manisnya. Apa aku harus membuka hati atau mempertahankan hati?.


Fajira menatap Fajri yang masih terlelap, tidak biasanya pria kecil itu tidur seharian seperti ini, Apa mungkin karna lelah atau terlalu bahagia, entahlah yang pasti hari ini begitu emosional bagi mereka.


Perlahan Fajira turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Setelah selesai ia kembali menatap sup yang sudah dingin itu.


"Sepertinya enak kalau di panaskan lagi" ucapnya tersenyum.


Perlahan Fajira mengangkat sup menggunakan nampan dan membawanya menuju dapur. Sepanjang perjalanan ia di panggil dengan sebutan nyonya oleh para ART di rumah itu. Bukannya senang, Fajira malah merasa sungkan dan canggung dengan panggilan barunya.


"permisi" ucap Fajira ketika sampai di dapur.


"eh nyonya, ada yang bisa bibi bantu?"


"hmm ini, saya mau menghangatkan sup ini bi, apa boleh?"


"boleh nya, sini saya panaskan"


"eh gak papa, biar saya saja"


"eh Nya nanti saya kena marah sama tuan"


"Gak papa, bibi kerjakan yang lain saja ya"


"baik Nyonya, nanti panggil saya saja jika butuh sesuatu"


Fajira memanaskan sup itu dan mencobanya. Not bad, begitu ucapnya ketika mencoba rasa dari sup buatan Irfan. Ia menambahkan beberapa bumbu dan sedikit garam agar rasa sup itu lebih baik.


Ketika sedang asik memanaskan sup, Fajira terkejut karna merasakan ada sepasang tangan kekar sedang memeluknya dari belakang. Jantung Fajira berdetak kencang dan segera membalikkan badan, namun tangan itu menahan pergerakannya.


"...."

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2