Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
225. Tamu Tak Di Undang


__ADS_3

Morning gais! πŸ€—


Beberapa hari yang lalu ada yang memberikan author challenge untuk Update 5 bab dan memberikan sejumlah poin yang dimiliki.


Apa ada yang mau berdonasi poin lagi untuk author?, jika mencapai 7k poin, aku akan Update 6 bab hari ini, sudah termasuk hari pernikahannya Fajri dan Safira.


Koment di bawah, ya! 😁😁


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Pagi menjelang, Fajri sudah bersiap dengan setelan Jas kerjanya pagi ini. Dengan senyum yang mengembang, ia menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya.


"hekm,... Beda ya aura calon pengantin!" Ucap Ivanna menggoda.


"Ah, tentu beda, sayang. Kamu akan merasakannya jika berada di posisi Abang nanti!" ucap Fajri dengan wajah yang merona.


"Iya lah tu. Terus sekarang Abang mau ke kantor? atau belok ke panti dulu?" tanya Ivanna jengah.


"Ke kantor sayang! Abang ada meeting pagi ini," ucap Fajri menggandeng adiknya menuju ruang makan.


"Jangan senyum terus, Tuan muda! Nanti giginya kering lo!" ucap bibi yang ikut menggoda Fajri.


"Ah, bibi seperti gak pernah muda saja!" ucap Fajri semakin merona.


"Hahaha, Itu, Non Safira jangan di unboxing dulu den! ntar berabe urusannya!" ucap bibi lagi.


"hehehe, semoga saja gak kebablasan, Bi!" ucap Fajri tertawa.


Tanpa ia sadari, Fajira dan Irfan sudah berdiri di belakangnya. Wajah Fajira sudah memerah menahan geram melihat tingkah Fajri yang sudah semakin mesum seperti Irfan.


"Apa kamu bilang, bang?" ucap Fajira menjewer telinga Fajri.


"aaaa aduh sakit, Bunda!" ringis Fajri berusaha untuk melepaskan tangan Fajira.


Tidak sakit memang, namun ia terkejut karna Fajira tiba-tiba ada di belakangnya.


"Aih, kamu gak boleh ngomong seperti itu bang! gak malu apa, ada Dede di sini! walaupun dia paham, tapi secara tidak langsung kamu membuat otak Ivanna traveling!" ucap Fajira menahan senyumnya melihat wajah Ivanna yang mulai merona.


"iya kan, dek?" tembak Fajira dan membuat wajah Ivanna semakin merona.


"Ih, Bunaa!" rengek Ivanna.


"Hahaha"


Setelah puas tertawa mereka segera sarapan dan pergi ke kantor masing-masing.


Fajri dengan wajah yang berseri membuat karyawan wanita di perusahaan itu terpesona dan semakin mencintai atasan mereka.


"Tuan Fajri, kenapa terlihat semakin tampan?"


"Semenjak, Nona Safira ada. Tuan tampan itu semakin bersinar. Bahkan jika hatinya sedang senang, bonus kita bisa naik berkali-kaki lipat!"


"Aku ingin menjadi istrinya, walaupun hanya sebagai partner ranjang!"


Begitulah ucapan para karyawan Fajri, setelah pria tampan itu berlalu. Ia segera menuju ke ruangannya yang berada di lantai 9, sebelum memulai rapat pagi ini.


Ketika sudah berada di dalam ruangan, Fajri segera mengambil ponselnya dan menghubungi Safira, karna ia sudah merasa begitu rindu kepada calon istrinya itu.

__ADS_1


"Ah kamu kemana sayang? kenapa gak mengangkat telefonku?" ucap Fajri frustrasi ketika panggilan belum juga tersambung.


"Halo?" lirih Safira di balik telefon.


"Sayang? kamu belum bangun? apa aku mengganggu?" tanya Fajri yang sudah sangat tidak sabar.


"Iya, aku kelelahan, kak. Aku mau istirahat dulu, nanti siang aku telefon lagi ya, Love You!" ucap Safira memutuskan panggilan video itu.


deg!...


"Sayang?" panggil Fajri tidak percaya.


Namun, setelah itu senyumnya kembali terbit, karna untuk pertama kalinya ia melihat wajah safira ketika bangun tidur, dan itu terlihat sangat cantik.


"Ah, tapi aku belum mendapatkan asupan tambahan pagi ini!" ucap Fajri sedikit kesal.


"Permisi, Tuan! rapat akan dimulai 15 menit lagi!" ucap Indah sang sekretaris.


"Ah, iya. Apa Aksa sudah kembali, mbak?" tanya Fajri.


"Tuan Aksa, akan pulang siang nanti, Tuan!"


"Baiklah!. Apa ada jadwal yang bisa di skip?" tanya Fajri penuh harap.


"Untuk hari ini dan besok, tidak ada, Tuan! lusa baru ada jadwal yang bisa di skip atau di pindahkan!"


Huft,...


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Fajri.


"Sudah, Tuan!"


"Pagi ini, kita akan mengadakan rapat dengan perwakilan dari Jerman untuk membahas mobil keluaran terbaru, Tuan!" ucap Indah menerangkan.


"Kenapa tidak melalui meeting room saja? Apa pekerjaan mereka begitu senggang hingga bisa tebang kesini?" ucap Fajri marah.


"Kita pergi sekarang!"


Fajri segera melangkah menuju ruang meeting untuk menemui beberapa keryawannya. Ia menatap tiga orang itu dengan tatapan tajam, ketika memasuki ruangan.


"Kenapa kalian bisa sampai ke sini?" tanya Fajri dingin dan bahasa Jerman.


"Ma-maaf, Tuan. Proyek terbaru kita mendapatkan masalah, perusahaan rival kita, mengklaim jika rancangan mobil sport terbaru itu, milik mereka, Tuan!"


"Kami sudah melakukan banyak hal, namun mereka menuntut pihak kita membayar pinalti dan mengembalikan dua mobil yang sudah di produksi, lusa akan di adakan sidang pertama untuk memperebutkannya!"


"Memperebutkan?" tanya Fajri semakin emosi.


"Apa yang mereka rebutkan? Design itu milik saya, milik perusahaan! Apa saja kerja kalian ha?" bentak Fajri.


"Ma-maaf, Tuan. Kami sudah memberika penjelasan, jika blue print itu sudah lebih dulu kita buat di bandingkan mereka. Kami berusaha mempertahankan semunya, namun mereka memilih untuk menempuh jalur hukum, Dan kami menerimanya, Tuan!"


"bodoh! jelas-jelas, rancangan itu hanya perusahaan ini yang bisa membuatnya!" bentak Fajri.


Mereka gemetaran takut, melihat Fajri yang begitu marah karna masalah ini. Dengan nafas yang tidak beraturan, Fajri duduk di kursi kebesarannya


Siapa yang tengah bermain denganku! Apa Angga tidak menyadarinya? sialan!. batin Fajri yang di penuhi oleh amarah.

__ADS_1


Mereka membahas apa saja yang terjadi dan apa yang akan mereka lakukan untuk memberikan bukti, jika mobil sport milik Ivanna adalah murni hasil rancangannya dan tim.


Fajri secara diam-diam, juga mengirim orang-orangnya untuk pergi ke Jerman dan melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana.


Jika aku tau, ada yang berkhianat di antara kalian, akan aku habisi dengan tanganku sendiri!. Batin Fajri geram.


Hingga siang menjelang, semua keputusan dan tindakan sudah di dapat. Tiga orang itu, disuruh kembali oleh Fajri hari ini juga dan menyelesaikan permasalahan yang ada.


Setelah selesai, Fajri segera pergi ke ruangannya untuk menenangkan diri. Ia tidak akan bisa diam, jika miliknya di ganggu oleh orang lain, apalagi mengaku-ngaku dan menuduhnya menjiplak.


"Tuan!" panggil Indah ketika Fajri hendak memasuki ruangannya.


"Di ruang tunggu ada sepasang suami istri yang ingin bertemu dengan anda. Mereka sudah memohon agar jadwal pertemuan dengan anda tidak di skip lagi. Mereka sudah bolak-balik ke kantor selama satu minggu ini," terang Indah.


"Siapa?" taya Fajri tidak tertarik.


"saya, kurang tau, Tuan. mereka terlihat sangat ingin bertemu dengan Anda! bahkan kemarin, istrinya berlutut agar hari ini mereka bisa mendapatkan jadwal untuk bertemu dengan anda, Tuan!"


"baiklah, bawa mereka ke ruanganku!" titah Fajri dan masuk kedalam ruangannya.


Setibanya di dalam, ponsel Fajri berdering. Ia melihat, Ivanna tengah menghibunginya dan mengatakan jika ia akan pergi ke kantor untuk membahas sesuatu yang begitu penting.


tok,... tok,... tok,...


"Masuk!" ucap Fajri dingin.


Masuklah sepasang suami istri yang terlihat masih gagah. Wajah cantik nan renta itu menatap Fajri dengan mata yang berkaca-kaca, seolah mendapatkan secercah harapan.


"Silahkan duduk!" ucap Fajri berdiri dari kursi kebesarannya menuju sofa.


"Maaf, ada perlu apa ibu dan bapak datang menemui saya?" tanya Fajri langsung.


"Begini, Tuan Fajri. Sebelumnya saya meminta maaf karna sudah mengganggu waktu, Tuan! Saya, Andika Hasibuan dan ini istri saya Hersy Kusuma," ucap Andika memperkenalkan diri.


Fajri hanya menyimak apa yang akan di bicarakan oleh orang tua ini. Apa tujuan mereka untuk datang ke perusahaannya, bahkan rela menunggu dan berlutut untuk bertemu dengannya.


"Kami, kami orang tua Safira. Calon istri anda!" ucap Andika.


Deg!


Fajri terkejut mendengarkan ucapan pria paruh baya itu.


"Apa maksud anda? kenapa anda tiba-tiba mengaku sebagai orang tua dari tunangan saya?" ucap Fajri sinis.


"Kami, sudah lama mencari keberadaan Safira, Tuan! beruntung adik, Tuan memosting foto Safira sehingga kami bisa menemukannya!"


"Berapa yang anda butuhkan?" ucap Fajri yang malas meladeni orang seperti mereka.


"Tuan, kami tidak ingin meminta uang. Kami hanya meminta tolong kepada anda, untuk mempertemukan saya dengan Safira!" ucap Ibu Hersy yang sudah berkaca-kaca.


"Apa buktinya jika anda adalah orang tua, Safira? Saya membenci orang yang mengambil kesempatan dan memanfaatkan Safira hanya untuk harta!"


"Izinkan kami bercerita terlebih dahulu, Tuan!" ucap Andika memohon.


"baiklah!" ucap Fajri setelah berfikir lama.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2