Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
75. Kabar Bahagia


__ADS_3

Sudah sebulan semenjak kejadian penculikan Fajira berlalu. Semuanya sudah kembali normal seperti biasa. Namun ada yang berbeda saat ini, bucinnya Irfan semakin terlihat kepada Fajira. Ia tidak lagi menjadi laki-laki dingin yang arogan, namun sifat dingin itu mencair seiring bertambah cintanya kepada Fajira dan Fajri.


Ada sesuatu yang berbeda hari ini. laki-laki tampan itu terlihat lesu dan selalu menempel kepada Fajira.


"Mas, kamu kenapa sih? sesak lo" Keluh Fajira karna Irfan masih memeluk nya dengan erat.


"sebentar saja sayang, Aku pusing" lirih Irfan.


Sementara Fajri menatap ayahnya penuh cemburu, ia melipat ke dua tangannya di dada sambil mendelik.


"ih ayah manja. Gantian dong ayah, Aji juga mau di peluk sama bunda" ucapnya kesal.


Plak...


Fajri memukul kaki Irfan dan mencabut bulu kaki yang terbilang lebat dan keriting itu.


"Aduh! sakit nak!. Ayah beneran pusing ini"


"Aji jangan ganggu Ayah dulu sayang. Mas, Aku hubungi dokter ya. Biar kamu bisa di periksa" ucap Fajira membelai lembut kepala Irfan.


"Gak mau, Aku mau di peluk saja, sayang. Sebentar ya" Lirih Irfan memejamkan matanya.


"Ayah!" panggil Fajri tidak terima, ia meluk Fajira dari belakang dan menggeser tangan Ayahnya.


"Sebentar saja sayang, sampai Ayah tidur" ucap Irfan lirih.


Ia merasa tidak bertenaga pagi ini, dengan perut mual serasa di aduk-aduk dan kepala pusing yang teramat. Namun ia jika memeluk Fajira, rasa mual itu bisa sedikit berkurang.


"Bunda Aji mau mandi, Nanti telat sekolahnya" Ucap pria kecil itu masih cemberut.


"iya sayang, sebentar ya, Aji bisa mandi sendiri kan, nak?"


"Aji mau mandi sama Bunda"


"sayang!"


"iih Ayah curang" Ucap Fajri kesal dan segera menuju kamar mandi.


"Mas!" panggil Fajira lembut.


"Hmm, Pusing sayang"


"Tidur ya"


"iya"


Fajira masih mengelus kepala Irfan dengan lembut, berharap suaminya akan tertidur dan ia bisa membantu Fajri untuk berkemas.


Tak butuh waktu lama Irfan sudah tertidur dan pelukannya juga terasa merenggang. Fajira bangun tadi tempat tidur dengan perlahan dan segera menyusul Fajri lalu membantunya untuk bersiap pergi ke sekolah.


"Bunda" Ucap Fajri membentangkan tangannya.


"apa sayang?" Fajira segera menggendong Fajri yang masih cemberut.


"Apa ayah akan merebut Bunda lagi dari Aji?"


"hei siapa yang bilang, nak?"


"seperti waktu itu bunda" lirih Fajri.


"sayang, gak boleh ngomong seperti itu, Bunda milik Aji dan milik Ayah juga. Jadi Aji harus berbagi juga sama Ayah, Sekarang Ayah kan lagi sakit. Coba lihat dulu, itu Ayah pucat kan?" ucap Fajira menunjuk irfan yang terlelap dan membuat Fajri merasa bersalah.


"Maafin Aji bunda"


"Gak papa sayang, Sekarang Bunda temani untuk sarapan ya. Nanti perginya di antar pak Sakti saja ya sayang"


"Bunda?"

__ADS_1


"Bunda harus menemani Ayah dulu, Nanti kalau tiba-tiba ayah sakit bagaimana?"


"Hhm? ya sudah"


Fajira menggendong Fajri keluar menuju ruang makan. Namun ketika hendak keluar, Irfan terbangun dan langsung berlari ke kamar mandi, karna perutnya sangat terasa mual.


"Ayah" pekik Fajri.


Fajira segerakan menurunkan Fajri dan mengejar Irfan ke kamar mandi. Ia segera memijit tengkuk suaminya agar bisa membantu mengeluarkan angin yang ada di dalam tubuh pria tampan itu.


"sudah sayang?" tanya Fajira lembut.


"lemas" lirih Irfan terkulai di lantai kamar mandi.


"Mas!" pekik Fajira.


"Aji panggil pak Sakti nak"


"iya bunda" Fajri berlari keluar untuk memanggil pak Sakti agar bisa membantu mengangkat Ayahnya.


"Mas, Sayang kamu gak papa?"


"hmm... lemas. Peluk" Lirih irfan bersandar di dinding.


Tanpa menunggu lama Fajira segera memeluk Irfan dan mengusap kepalanya.


"kamu kenapa bisa seperti ini? Apa kamu salah makan sayang? Atau kamu masuk angin?" Irfan hanya menggeleng sebagai jawaban.


"nyonya" panggil pak Sakti.


"Iya pak, tolong bantu angkat Mas Irfan"


"baik nyonya. Maaf sebelumnya Tuan"


Pak sakti mengangkat Irfan dan memapahnya menuju ranjang. Fajira dengan sigap membalurkan tubuh Irfan dengan minyak angin milik Fajri, agar Irfan bisa merasa lebih nyaman.


"ayah" lirih Fajri merasa bersalah karna tidak mau mengalah tadi.


Fajira meraih telepone rumah untuk menghubungi bibi agar sarapan mereka bisa di antarkan ke dalam kamar. Tak lupa Fajira juga meminta tolong agar bibi menghubungi dokter agar dapat memeriksa keadaan Irfan.


"Apa masih mual, Mas?"


"hmm..."


Fajri ikut membelai kepala Irfan dengan lembut. Matanya berkaca-kaca melihat tubuh Irfan yang terbaring lemah.


"Apa ayah sakit karna seharian menemani Aji bermain"


"Gak sayang. Mungkin Ayah hanya masuk angin saja" ucap Fajira membelai kepala Fajri lembut.


Tok... tok... tok...


"masuk"


"Permisi Nyonya" ucap bibi membawakan beberapa nampan untuk meletakkan sarapan pagi ini.


"Terima kasih bi. Apa bibi sudah menghubungi dokter?" tanya Fajira.


"Sudah Nyonya. Dokter sedang dalam perjalanan"


"syukurlah. Gak tau kenapa, Mas Irfan dari pagi bilang kalau dia mual terus, Bi,"


"mual? Apa tuan juga pusing?"


"iya, Bi"


"hehehe, sepertinya akan ada kabar bahagia, Nya" ucap bibi terkekeh.

__ADS_1


"kabar bahagia apa bi?"


"kita tunggu dokter dulu ya, Nya. Saya takut salah ngomong nanti, Nya"


"Ah iya sudah bi, sekali lagi terima kasih"


"Sama-sama Nya"


Fajira mengernyit mencerna perkataan bibi tadi.


Kabar baik? apa itu?, semoga saja memang kabar baik yang datang.


"Mas, Kita makan dulu yuk. Ini sayang, "ucap Fajira membangunkan Irfan dan memberikan sarapan untuk Fajri.


"engh... bentar lagi, aku masih lemas" Irfan menggenggam tangan Fajira lembut, berharap bisa mengusir rasa mual yang mulai mendera.


"Bunda, Aji sudah selesai. hmm apa boleh Aji menemani Ayah disini Bunda?"


"Aji kan harus sekolah sayang, hari ini cuma sebentar kan sekolahnya. Biar Bunda yang menemani Ayah pagi ini dulu ya"


"iya Bunda, Aji pergi dulu ya. Ayah Aji pergi dulu ya, cepat sembuh" Fajri mencium tangan orang tuanya bergantian dan segera pergi ke sekolah, karna hari ini ia akan mengadakan Ulangan harian.


Tak selang berapa lama, dokter masuk dan memeriksa bagaimana keadaan Irfan. Ia mengernyit karna dia bisa mendiagnosa penyakit aoa yang tengah hinggap di badan pasiennya. Padahal ia sudah mempertanyakan beberapa pertanyaan agar bisa menemukan penyebab sakit yang di derita Irfan saat ini.


"Bagini Ibu, Saya tidak menemukan satupun penyakit yang bersarang di dalam tubuh tuan Irfan selain dari penyakit bawaannya. Hmm dengan beberapa gejala yang ada, ini seperti gejala yang di timbulkan oleh ibu-ibu yang sedang hamil pada trimester pertama.


Hmm... Maaf, apa Ibu sudah datang bulan?"


deg..


"sa-saya sudah telat dokter" ucap Fajira termagu.


"Saya rasa itu memang penyebabnya. Suami ibu mengalami Sindrom cauvade. Untuk lebih pastinya silahkan cek ke dokter kandungan atau dengan tespeck"


"iya terima kasih banyak dokter"


"iya sama-sama nyonya, Ini mungkin bisa membantu" Dokter itu menyerahkan sebuah tespek agar Fajira bisa menggunakannya pagi ini


Fajira masih melongo mendengarkan penjelasan dokter, berbeda dengan Irfan yang tersenyum semringah menatap Fajira lembut.


"Akhirnya, Fajri akan mempunyai adik"


"iya sayang, Sekarang kamu istirahat ya"


"iya sayang. Terima kasih"


Setelah memastikan Irfan terlelap, Fajira segera melangkah menuju kamar mandi dan mencoba alat itu dengan debaran jantung yang bergemuruh.


Perempuan itu menampung sedikit air seninya di dalam wadah kecil dan memasukkan alat itu ke dalam. Karna takut Irfan kembali mual, ia memilih untuk melihat suaminya sebentar.


Semoga saja positif. Tapi aku masih belum siap jika harus hamil lagi. Pasti nanti akan susah bergerak dan mas Irfan kan semakin possesif. Apa kamu masih mengizinkan aku untuk kuliah mas?. Bathin Fajira berdialog sambil mengelus kepala Irfan.


Setelah 10 menit, Fajira kembali melihat tespek itu dengan perlahan. Matanya membola ketika melihat garis 2 tertera disana.


"a-aku hamil lagi?" Bulir bening itu menetes. Perasaannya bercampur aduk saat ini.


"Semoga ini memang awal yang baik. Bagaimanapun kedepannya Aku harus kuat"


Fajira tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dan berbaring di samping Irfan sambil memeluknya.


"tidurlah sayang" ucap Fajira tersenyum sebelum ia terlelap, sambil memeluk Irfan.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Fajira Udh hamil lagi gais, Kita akan melihat, Bagaimana ribetnya Fajira mengurus dua pria tampannya yang saling mencemburui satu sama lain.

__ADS_1


yuk dukung author terus dengan cara terbaik dari readers semua. terima kasih



__ADS_2