Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
98. Bertemu Kembali 2


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju arah jalan pulang ke kediaman Dirgantara. Fajira mengernyit karna Irfan hanya diam sedari tadi.


"Mas?" Panggil Fajira lembut.


"iya, Sayang"


"Kamu kenapa? Maaf ya, Aku gak tau kalau ada dia disana"


"gak papa sayang. Namanya juga bertemu Rival, Aku masih sangat tidak suka dengan cara dia menatap kamu. Aku cemburu! eh?" ucap Irfan terkejut dengan ucapannya sendiri


Fajira hanya menahan senyumnya mendengarkan ucapan Irfan. Sebenarnya ia sudah tau sedari tadi jika Irfan tengah cemburu, namun ia memilih untuk memancing laki-laki itu agar ia mau berbicara dan mengakui jika ia tengah cemburu saat ini.


Irfan jangan di tanya lagi, wajah putihnya sudah memerah bak kepiting rebus. Keluarga kecil itu memang tidak bisa menyembunyikan rona di pipi mereka.


"Aku lapar, Mas. Di depan ada resto kalau gak salah ya. Aku mau makan steak, boleh?" ucap Fajira tersenyum dan mengalihkan topik pembicaraan.


"Boleh, sayang. Pak kita mampir ya!"


"baik, tuan"


Tidak berapa lama mobil berhenti di parkiran restoran mewah itu. Fajira juga mengajak pak Sakti untuk makan bersama mereka.


"eh jangan, Nya! saya duduk di meja yang lain saja" tolaknya sungkan.


"ya sudah, senyamannya bapak saja" Fajira tersenyum kepada Pak Saktu dan membuat Irfan terpana.


"terima kasih banyak, Nyonya, Tuan"


"sama-sama, silahkan" Ucap Irfan lebih dulu mempersilahkan Pak Sakti mencari tempat untuknya.


Fajira tersenyum melihat perubahan sikap suaminya. Irfan bukan pria yang kejam namun sangat memperhatikan batasan bagaimana seharusnya bertindak dan berperilaku. Namun kehadiran Fajira perlahan mengubah sifat itu. Ia sering mengajak supir atau siapapun makan satu meja dengannya, sehingga membuat Laki-laki tampan itu juga mengikuti kebiasaan Fajira.


"Silahkan duduk tuan Putri" ucap Irfan menarik Salah satu kursi untuk Fajira dan memastikan jika istri cantiknya itu duduk dengan aman dan nyaman, baru lah ia menarik kursi untuk dirinya sendiri.


"terima kasih, sayang"


"Sama-sama, Cinta. Jadi pengen di panggil sayang terus setiap hari sama istri" ucapan Irfan senang dengan rona yang tidak dapat ia sembunyikan lagi sedari tadi.


"Hehehe, boleh juga sayang. Tapi kalau kita berdua saja ya" gelak Fajira ketika menyadari jika wajah suaminya tidak berhenti merona sedari tadi.


"kenapa?" tanya Irfan mengernyit.


"Kalau ada Fajri jadi gak enak, Mas. Nanti dia malah bertanya seperti ini 'Kenapa Bunda manggil Ayah sayang juga? Bunda udah gak sayang Aji lagi?' terus sambil melototi aku, nanti Aku mau jawab apa coba?"


"hehehe" Irfan hanya terkekeh.


Ia sedikit menyesal karna sering mengerjai Fajri dan berkata akan merebut Fajira. Pria kecil itu memang sangat cemburu jika Irfan mendapatkan perhatian Fajira sedikit lebih banyak di bandingkan dirinya.

__ADS_1


Irfan memesan beberapa makanan untuk Fajira, sesuai dengan keinginan ibu hamil itu.


"Kenapa Putra kecil kita seperti itu sayang? pencemburu banget!" tanya Irfan setelah selesai memesan makanan.


"Bibitnya dari mana coba? hehe," gelak Fajira yang sangat terlihat Manis di mata Irfan.


"kenapa kamu selalu cantik sayang?"


"apa kamu baru sadar?"


"Justru karna aku sadar, makanya aku cari kamu sampai ketemu"


"iya deh" mereka masulih saling tersenyum satu sama lain. Hingga makan terhidang di atas meja.


Irfan dengan telaten memotongkan daging menjadi lebih kecil, agar Fajira bisa makan dengan nyaman.


"sayang?" panggil Irfan.


"iya, Mas?"


"Kita seperti orang pacaran ya"


"hehe, bukannya setelah menikah itu memang waktu berpacaran yang baik, Sayang. Anggap saja kamu mencicil hutang"


"iya, ya. Aku akan mencicil hutangku setiap hari"


Mereka menghabiskan makanan sambil sesekali bercerita dan saling menggoda satu sama lain. Irfan duduk membelakangi pengunjung yang lain, agar kehadirannya di sana tidak terlalu mencolok dan mengganggu ketenangan pengunjung resto.


"Sayang mau nambah?" tanya Irfan ketika melihat piring ke 3 Fajira susah hampir habis.


"sudah, Mas. Aku udah kenyang" Fajira tersenyum malu menatap Irfan.


Semenjak hamil porsi makannya memang bertambah dua sampai tiga kali lipat dari biasanya, dan Irfan sangat senang jika istri cantiknya itu makan dengan banyak.


"Yakin udah kenyang sayang? Apa mau di bungkus?" goda Irfan.


"Udah, kalau nanti gak mau lagi,"


"ya sudah, habisan dulu makannya, sayang. Aku mau ke toilet dulu" Irfan beranjak dari sana dan menuju ke toilet.


Fajira tetap melanjutkan makannya sambil bermain ponsel, dan tanpa ia sadari seorang wanita sudah berdiri di hadapannya.


Byuurr...


Perempuan itu mengambil air dan menyerahkannya ke tubuh Fajira, sehingga membuat ibu hamil itu terlonjak kaget. Betapa terkejutnya Fajira melihat siapa orang yang tengah mencari masalah dengannya. Mereka menjadi pusat perhatian dari semua pengunjung resto.


"Ka-kau"

__ADS_1


Braak!!


Fajira menggebrak meja dengan sangat keras dan membuat perempuan itu kaget.


"Apa lagi masalah Anda Nona yang terhormat?" ucap Fajira sarkas namun berusaha untuk menahan emosi.


"Masalah nya disini adalah lo itu pelakor!" teriak Sherly tidak terima.


"Saya? pelakor? suami siapa yang saya rebut? Tunjukkan sini orangnya, siapa yang saya rebut?" sinis Fajira.


"lo merebut calon suami gue!"


"haha eh, siapa coba sebutkan siapa calon suami anda! Anda kan tau kalau saya sudah menikah!" ucap Fajira dengan senyum mengejek.


"Mas Irfan. Irfan Dirgantara. Dia calon suami saya"


"Kapan kalian menjalin hubungan?. IRFAN DIRGANTARA ADALAH SUAMI SAYA, KAMI SUDAH LAMA MENIKAH DAN MEMILIKI 1 ANAK LAKI-LAKI. KINI SAYA SEDANG HAMIL ANAK KE DUA KAMI!.


Anda baru kenal dengan suami saya selama 1 minggu ini, itu pun karna orang tua anda menjalin kerja sama dengan perusahaan suami saya! Kenapa seenaknya anda mengatakan jika suami saya adalah calon suami anda?" ucap Fajira menekan kata-katanya dengan tegas.


Para pengunjung yang awalnya menatap Fajira sinis malah terkejut. Ternyata Sherly perempuan yang tidak tau malu itu malah menuduh istri sah seorang Irfan Dirgantara dan dengan berani menyiram air ke tubuh suci nan tengah berbadan dua itu.


"Dasar perempuan tidak tau malu! Apa tidak ada laki-laki yang ingin dengan anda? hingga suami orangpun jadi anda rebut!" sergah Fajira ketika melihat Sherly hendak kembali berbicara. lidah tajam itu sangat berfungsi dengan baik.


"kau!" Sherly menunjuk Fajira dekat dengan wajah perempuan cantik itu.


"Apa? Apa? Anda ingin berbuat apa? merebut suami saya? silahkan!" ucap Fajira sinis.


"tapi pertanyaannya cuma satu! Anda mampu tidak? haha" sambung Fajira tertawa jahat lalu merubah ekspresinya kembali datar.


Ia sudah sangat jengah melihat kelakuan perempuan ini. Sehingga Fajira memilih untuk membuat malu Sherly di depan umum tanpa ampun. Perempuan itu bungkam, karna sudah merasa terpojokkan oleh Fajira.


"Mau ngomong apa lagi? Apa anda anda merasa tidak malu dengan perilaku anda yang rendah ini?" sarkas Fajira yang semakin menjadi memojokkan perempuan itu.


Semua pengunjung terdengar berbisik, ketika mengetahui siapa Sherly.


"bukannya dia Sherly Hamish? anak dari pengusaha kaya Bayu Hamish kan?" bisik-bisik pengunjung yang dekat dengar mereka.


"iya, betul. Sangat tidak tau malu banget ngaku-ngaku suami orang. dasar pelakor teriak pelakor!"


Malu sudah Sherly saat ini. Ia segera melangkah mendekat ke arah Fajira dengan kawah yang penuh dengan amarah.


"Sialan lo jala*ng!" teriak Sherly sambil mengangkat tangannya.


"..."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2