Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
163. Aku Tidak Peduli


__ADS_3

Setibanya di rumah, mereka segera membersihkan diri sebelum makan siang. Fajira masih bungkam, padahal Irfan sudah merengek bak bayi kecil tengah membujuk ibunya.


"Sudah, Mas!" ucap Fajira menghentikan Irfan.


"Maafin aku, sayang!" lirih Irfan memohon.


"iya, aku sudah memaafkanmu dengan semua kesalahan kamu di masa lalu! tolong beri aku waktu untuk menenangkan diri dulu, Mas! setelah makan siang akan kita bahas lagi!" ucap Fajira lirih dan melangkah menuju kamar mandi.


Irfan hanya bisa menjambak rambutnya kasar, ia melupakan hal yang satu ini dan memilih untuk tidak menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Fajira, karna wanita cantik itu tidak bertanya kepadanya sedikitpun.


Ia segera turun dan menuju ke ruang makan, terlihat di sana Fajri dan Ivanna sudah menunggu sambil tertawa.


"seru banget nih!" ucap Irfan.


"hehe, Ayah tau kalau Dede tadi lucu banget!" ucap Fajri tertawa.


"ih, abang jangan bilang sama ayah! Dede malu!" rengek Ivanna dengan wajah yang merona.


"wah, sepertinya menarik nih! Sini dong bagi tau sama ayah!" ucap Irfan menggoda Putrinya.


"Itu yah, Dede punya teman baru, katanya dia hhmmppp..." Ivanna membekap mulut Fajri karna sudah kepalang malu.


"Dede kok gitu sih? mau main rahasiaan sama ayah?" ucap Irfan serius sambil menahan tawanya.


"bukan gitu, ayah!, Dede malu!" rengek Ivanna yang sangat terlihat mengemaskan.


"Ada apa ini? ketawanya sampai terdengar ke kamar Bunda!" ucap Fajira datang sambil tersenyum.


"itu bunda, Dede lucu banget!" ucap Fajri sengaja menggoda adik kecilnya itu.


"Dede kenapa, sayang?" tanya Fajira mengambilkan nasi untuk anak dan suaminya.


"dede dapat teman baru, Buna. Tapi dia laki-laki, namanya Bryan. Sama juga sih seperti Dede. Dingin dan ketus, tapi dia gak terlalu pintar, buna!" ucap Ivanna menceritakannya.


"tapi dia gak jahat 'kan sayang?"


"dia baik, Buna. Cuma tatapannya tajam seperti Ayah kalau lagi marah. Habis itu ya bla... bla... bla..." Ivanna bercerita banyak hal tentang hari pertama ia pergi ke sekolah dengan sedikit godaan dari Fajri suasana siang hari itu terasa sangat hangat dan membahagiakan.


Fajira dan Irfan juga ikut tertawa mendengarkan cerita Ivanna. Tidak lucu sebenarnya, namun melihat tingkah Ivanna dan Fajri yang mengemaskan membuat mereka ikut tertawa melihat mereka bercerita.

__ADS_1


Hingga semua makanan tandas, Fajira segera memberi kode kepada Irfan untuk mengikutinya. Ia tidak ingin masalah yang terjadi dibiarkan begitu saja tanpa penyelesaian.


"Abang sama Dede mau ngapain lagi, sayang?" tanya Fajira.


"Dede mau nonton aja, Buna.Capek seharian belajar, otak Dede terasa berasap!" keluh Ivanna sambil tertawa.


"abang temani Dede dulu ya, bunda mau ke atas sama ayah!" ucap Fajira.


"Iya, Bunda. apa Bunda mau ngasih Abang, adik lagi? Aji gak mau ya kalau Bunda hamil lagi!" ucap Fajri memperingati.


"iih, iya sayang. Bunda cuma mengobrol saja sama ayah!" Fajira tersenyum sambil mengusap kepala Fajri lembut.


Fajri menatap ayah dan bundanya berjalan samobil bergandeng mesra. Dalam hati kecilnya, ia sangat menginginkan adik yang imut seperti Ivanna lagi. Namun satu sisi ia tidak ingin melihat bundanya selalu merasa kesakitan ketika mengandung apalagi melahirkan.


Ia segera berjalan dan menyusul Ivanna menuju ruang keluarga sambil tersenyum. Sementara Fajira menyiapkan hatinya mendengarkan penjelasan dari Irfan. Walaupun sebenarnya ia tidak perduli dengan apa yang terjadi di masa lalu, namun ia harus mengetahuinya untuk berjaga-jaga dan menguatkan statemen jika kejadian tadi terjadi lagi.


Irfan membawanya menuju kamar dan segera mendudukkan Fajira di atas kasur. Ia menatap istrinya lembut sambil tersenyum. Tangannya terulur mengelus lembut wajah yang semakin terlihat cantik itu.


"Sayang, Aku minta maaf karna gak pernah menceritakan hal ini kepada kamu! Aku takut kamu berfikiran buruk tentangku!" ucap Irfan lirih menatap Fajira.


"ceritakanlah!, aku siap mendengarkannya. Aku gak peduli bagaimana masa lalu kamu, tapi aku juga membutuhkannya jika hal ini kembali terjadi, Mas!" lirih Fajira menunduk.


"apa hubungan kamu sudah selesai dengan dia?"


"sudah, sayang! Setelah aku menyadari cintaku kepadamu, aku menemuinya dan segera memutuskan hubunganku dengannya!"


"Jaga kepercayaanku, Mas! Walaupun hubungan kita di awali dengan sebuah kesalahan, tapi aku bersyukur bisa memiliki kamu dan anak-anak kita!" ucap fajira berkaca-kaca.


"Jangan takutkan apapun, sayang! selagi aku masih hidup. apapun akan aku lakukan untuk kamu dan anak-anak kita!"


"Mas! Ibu-ibu tadi..."


"aku hanya menghukum mereka karna sudah berbuat kurang aja kepada istriku!"


"tapi bukankah itu..."


ucap Fajira terpotong karna Irfan membungkam bibirnya dengan lembut, menyalurkan semua rasa yang ada di dalam dirinya. Sebentar mereka berpagut mesra, hingga dering ponsel Irfan berhasil mengejutkan suami istri yang tengah bermesraan itu.


"Maaf, sayang! aku lupa matikan deringnya!" ucap Irfan kikuk.

__ADS_1


Ia tersenyum masam ketika melihat Pandu tengah menghubunginya.


"sepertinya aku harus segera kembali ke kantor, sayang. Nanti kita sambung ya!" ucap irfan kembali mengecup singkat bibir Fajira.


"Hati-hati, sayang! aku percaya padamu!" Fajira tersenyum sambil memperbaiki penampilan suaminya.


Ia tersenyum legah karna ia bukan menjadi penyebab hancurmya hubungan Irfan dan mantannya. Ia mengikuti Irfan berjalan ke bawah untuk menemui anak-anak yang tengah cekikikan menonton kartun di televisi.


Irfan segera pergi setelah mendapatkan kecupan manis dari Fajri dan Ivanna. Sementara Fajira hanya menggeleng, ia duduk di sana menjadi sandaran anak-anaknya. Membelai kepala mereka lembut sambil menciumnya sesekali.


"Bunda, Lusa abang ada pengecekan, di pabrik, Abang mau izin sekolah. Apa boleh, Bunda?" tanya Fajri sambil memainkan tangan lembut Fajira.


"Iya, sayang. Nanti Bunda kirimkan surat izinnya ya!"


"apa Dede boleh ikut, Buna?" ucap Ivanna.


"Dede 'kan sekolah sayang!" ucap Fajira tersenyum.


"terus kok abang boleh bolos, Buna?" protesnya.


"Abang besok kerja, sayang!"


"apa Dede harus punya kerja dulu baru boleh bolos?" Ivanna bangun dan menatap Fajira serius.


"Hahaha, bukan gitu konsepnya, sayang! Duh Dede bikin Bunda gemas banget! muach... muach..." Fajira mengecup kedua pipi Ivanna.


"Abang juga mau dicium, Buna!" ucap Fajri memonyongkan bibirnya lima senti.


Muach... muach...


Perasaan Fajira terasa lega setelah mendengarkan penjelasan Irfan. Ia hanya takut jika anak-anaknya menjadi korban dari oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mengangkat berita ini ke media.


Ia percaya jika Irfan akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga kecilnya. Dengan saling menjaga satu sama lain, kebahagiaan pasti akan datang dengan sendirinya tanpa di minta. Hanya tuhan yang tau, seberapa besar cintanya kepada mereka.


Tak lama, Fajira segera mengajak anak-anaknya untuk belajar dan mengerjakan tugas sekolah mereka masing-masing. Ia ingin pendidikan anak-anaknya bisa terjamin hingga ke perguruan tinggi. Dengan bekal ilmu dan kepandaian yang banyak, ia tidak akan risau di kemudian hari, ketika Fajri dan Ivanna besar nanti.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2