
Malam menjelang. Selepas makan malam, Ivanna menggendong Nayla yang masih terbangun. Ia mengajak gadis kecil itu mengobrol, walaupun tidak mendapatkan jawaban sedikitpun. Sementara Safira hanya menggeleng melihat kelakuan adik iparnya.
"Anak cantik, aunty. Cepat besar ya, sayang. Biar kita bisa main sama-sama!" ucap Ivanna sambil mengecup wajah mungil nan cantik itu.
"Udah, dek. Jangan di cium terus pipi Nayla, nanti iritasi!" ucap Safira jahil.
"Ah, iya. Maaf ya, sayang. Aunty lupa!" ucap Ivanna terkekeh, namun ia kembali mengecup pipi Nayla.
Tak lama, penjaga pintu gerbang masuk ke dalam rumah dan menginfokan, jika ada yang mencari Ivanna di luar.
"Siapa namanya, Pak?" tanya Ivanna mengernyit tidak percaya.
"Namanya Bryan, Nona!"
"Ah, suruh masuk aja, pak!" ucap Ivanna.
"Baik, Nona. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu!" ucap satpam itu dan bergegas untuk pergi keluar.
"Siapa, dek?" tanya Safira.
"Temanku, kak. Dia ingin ke sini udah semenjak kakak dan abang baru saja menikah!" ucap Ivanna menyerahkan Nayla kepada Safira.
"Aku keluar dulu, kak!" pamit Ivanna.
"Iya, sayang!" ucap Safira tersenyum.
Ivanna segera keluar untuk menyambut kedatangan Bryan, setelah lebih dari tahun semenjak ia berniat akan datang ke rumahnya.
Dengan mengernyit, Ivanna menatap Bryan yang terlihat begitu formal dengan stelan jas hitam dan memegang buket bunga di tangannya.
"Malam, tuan Putri!" Sapa Bryan tersenyum manis dan menyerahkan buket Bunga itu kepada Ivanna.
"Malam, mari masuk!" ucap Ivanna kengajak Bryan masuk ke dalam rumah mewahnya.
Bryan tersenyum, walaupun Ivanna masih bersikap biasa saja, namun setidaknya ia masih di beri kesempatan untuk masuk ke dalam rumah itu dan bertemu dengan keluarganya.
"Duduklah, dulu! akan aku panggilkan, Abang dan Ayah!" ucap Ivanna tersenyum tipis
Deg,....
"I-iya!" ucap Bryan gugup.
Siap-siap lo di terkam sama singa dan harimau!. Batin Ivanna terkekeh geli.
Jantung Bryan langsung berdegub dengan cepat, mendengar Ivanna akan memanggil Ayah dan abangnya. Padahal ia sudah mempersiapkan diri dari tadi siang. Keringat dingin pun mulai menyeruak keluar dari pori-porinya, menunggu kedatangan dua laki-laki yang begitu di takuti itu.
Tak,... tak,... tak,...
Suara langkah kaki yang mendekat, membuat jantung Bryan semakin berdetak sangat kencang dan keras. Tangannya gemetaran, padahal ia sering bertemu dengan pengusaha-pengusaha besar dan memenangkan banyak proyek.
Namun, ia belum pernah bertemu dengan orang sebesar Irfan dan Fajri. Tercekat, ia tergagu ketika melihat mereka sudah sampai di ruang tamu dan melihatnya. Sementara Ivanna kembali menuju ruang tamu, dan meninggalkan Bryan di sana.
__ADS_1
Na, jangan pergi! temang aku disini!. Kalau seperti ini, sama saja dengan aku masuk ke kandang singa!. Batin Bryan takut.
"Se-selamat malam, tuan!" ucap Bryan berdiri.
"Malam!" ucap Fajri.
Sementara Irfan tidak menjawab sapaan Bryan. Ia hanya menatap tajam laki-laki yang ada di depannya karena berani datang ke rumah, pada saat jam istirahat.
Tadi ia juga melihat beberapa paper bag dan satu buket Bunga yang di bawa oleh Ivanna saat memanggilnya.
Siapa laki-laki ini?. Batin Irfan dan Fajri bertanya-tanya.
"Siapa kamu?" tanya Irfan dingin.
"Sa-saya temannya Ivanna, tuan!" ucap Bryan sangat gugup.
"Ada perlu apa datang ke sini?" tanya Fajri mengernyit.
"Sa-saya, hanya ingin mengobrol. Ka-karena Ivanna sangat sulit untuk di ajak keluar!" ucap Bryan terbata.
"Punya nyali apa kau menghadapi kami?" tanya Fajri terkejut.
"Ma-maaf. Sa-saya hanya berniat u-untuk mendekati Ivanna, tuan!" ucap Bryan semakin terintimidasi karna pertanyaan Fajri.
"Mendekati, Ivanna? Untuk apa?" tanya Fajri lagi.
"Sa-saya memang sudah menyukai Ivanna dari kecil, Tuan! saya teman satu bangku Ivanna waktu sekolah dasar!" ucap Bryan tegang.
"I-iya, Tuan!" ucap Bryan sedikit lega karena Fajri mengingatnya.
"Owh. Kemana kamu menghilang selama ini?" tanya Fajri dengan nada biasa dan lebih lunak dari pada tadi.
"Sa-saya belajar dengan rajin, dan mendirikan sebuah perusahaan agar pantas berada di samping Ivanna nanti, Tuan!" ucap Bryan serius.
"Apa kamu yakin Ivanna akan mau dan setuju untuk bersama denganmu?" tanya Fajri mengernyit.
"Saya belum mendapat kepastian tentang itu, Tuan! Tapi saat ini saya tengah berusaha untuk mendapatkan hati Ivanna kembali. Mohon restunya, Tuan!" ucap Bryan yakin.
"Adikku masih 17 tahun! kami tidak mengizinkannya untuk berpacaran atau yang sejenisnya!" ucap Fajri tegas.
Glek,...
Na, bantu aku dong! Kenapa abangmu begitu menyeramkan! apalagi ayahmu yang hanya diam, namun matanya menyorot begitu tajam!. Batin Bryan takut.
"Saya tidak melarang. jika kamu ingin berteman dengan Ivanna. Namun tolong jaga batas, karena saya bisa melakukan apa saja jika Ivanna kenapa-napa!" ucap Fajri santai dan tersenyum.
Senyum apa itu? jika bukan karena cinta, mungkin aku akan memilih untuk tidak mendekati Ivanna. Namun semuanya sudah terlanjur, aku begitu mencintainya.
"Sa-saya akan menjaga Ivanna,..."
"Tidak perlu, dia sudah memiliki kepandaian dalam bela diri dan saya sudah menyiapkan banyak body guard untuknya!" ucap Fajri memotong ucap Bryan.
__ADS_1
Kita lihat seberapa besar nyali kamu, anak muda. Masih bocil juga mau mengajak princes ku berpacaran. Gak ada! aku gak akan pernah mengizinkan Ivanna berpacaran sebelum usianya menginjak 20 tahun!. batin Fajri.
krik,... krik,... krik,....
Hening, Bryan tidak tau harus berkata apa lagi. Sementara Irfan dan Fajri menatapnya seperti hendak menerkam, bergerak sedikit langsung tewas. Begitulah yang di lihat oleh Bryan.
"Nak, Bryan. Saya tau niat kamu kesini untuk meminta izin ataupun berkenalan dengan kami. Tidak masalah jika kamu ingin berteman dengan Ivanna. Namun kami tidak mentoleransi jika kamu berbuat lebih kepada Putri saya!" ucap Irfan tenang.
"Jangan repot-repot dan menghabiskan waktu untuk mengejar Ivanna, karena dia bukan perempuan yang mudah untuk bergaul dengan lawan jenis. Lebih baik, kamu fokus kepada tujuan awal, yaitu terlihat pantas untuk Ivanna. Kembangkan perusahaanmu hingga ke dunia. Kalau kamu ingin merasa pantas sesuai dengan ucapanmu tadi. Karena Dirgantara CORP akan saya wariskan kepadanya!" sambung Irfan memiliki pesan yang tersirat.
"Baik, Tuan. Akan saya usahakan! Semoga kami berjodoh di kemudian hari!" ucap Bryan tersenyum lega.
Ia seolah mendapatkan tantangan baru dan juga celah untuk memiliki Ivanna. Karena ia tau, jika Ivanna akan patuh kepada Ayah dan abangnya.
Mereka mengobrol ringan, dengan santai karena Fajri bisa mengubah suasana dengan cepat. Membahas banyak hal, baik seputar bisnis, kegiatan sehari-hari dan hal yang lain.
Setelah cukup lama, Bryan memilih untuk pamit pulang. Dengan senyum yang merekah. ia melangkah keluar rumah setelah berpamitan dengan Irfan dan Fajri.
"Ah, aku fikir semuanya bakalan sulit. Menghadapi dua raja bisnis dengan segala keposessifan mereka terhadap Ivanna. Ya walaupun aku harus menunggu lagi agar bisa menjadikan Ivanna sebagai milikku!" ucap Bryan di dalam mobil.
Sementara di dalam rumah Dirgantara. Ivanna hanya pura-pura tertidur di ruang keluarga. Dengan hati-hati, Fajri menggendong Ivanna menuju ke kamar gadis itu.
"Selamat tidur sayangnya, abang!" ucap Fajri tersenyum sambil mengecup kening Ivanna lembut.
Setelah Fajri keluar dari kamar, Ivanna segera membuka matanya dan tersenyum senang.
"Ah, Abang pasti berusaha keras agar bisa membagi waktu untuk aku dan kakak," ucap Ivanna lega.
Ia kembali teringat dengan perbincangan ayah dan Abangnya bersama Bryan tadi.
Apa benar dia begitu menyukaiku? Sampai harus bekerja keras untuk membangun perusahaan, agar bisa bersanding denganku? Bukankah ini terlalu berlebihan? Bagaimana kalau kami tidak berjodoh? Huft, sepertinya aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi jika sewaktu-waktu. Ayah mewariskan perusahaan kepadaku!. Batin Ivanna.
Ia kembali memejamkan matanya dan terlelap dengan damai, di temani cahaya remang-remang, hingga pagi menjelang.
πΊπΊπΊ
Kalau sempat, aku akan kasih 1 bonus chapter lagi ππ
Aku ada referensi baca nih, sambil menunggu launching cerita Ivanna di bulan depan.
Berawal dari pemerkosaan, Riki terpaksa menikahi Tiara yang sudah bertunangan dengan Arie.
Meski menikah tanpa cinta, Tiara mencoba untuk bertahan,meski sang suami tak pernah mencintainya.
Ketika mereka berada di ujung perceraian, Tiara mencoba untuk kembali pada Arie, namun ternyata Arie telah di jodohkan dengan Aisyah, sahabat kecilnya yang menderita kanker otak.
Semakin hari Riki semakin menunjukan perangai buruknya, seolah tak peduli ia menjalin hubungan dengan beberapa wanita.
Tiara memilih melampiaskan rasa kekecewaannya, pada Ryan sang manager namun Tiara tak pernah jujur terhadap Ryan jika ia sudah menikah, mengetahui Tiara menjalin hubungan dengan pria lain, perasaan cemburu mulai menghampiri Riki, meski saat itu mereka sudah memisahkan untuk berpisah, ujian tak hanya datang menerpa rumah tanga Tiara dari wanita masa lalu Riki, namun juga dari penghianatan sahabatnya sendiri, lalu akankah Tiara bertahan dan siapakah cinta sejati Tiara, saksikan di :KETIKA TAKDIR MENYATUKAN AKU DAN MEREKA
__ADS_1
Yuk, kunjungi, mana tau suka ππ