
Irfan segera pulang dengan tergesa-gesa. Ia membawa mobilnya sendiri dan terpisah dengan Papa Horison yang tergelak puas karna berhasil mengerjai anaknya.
"haha kamu lucu juga kalau kalang kabut seperti itu bang. Huh semoga kalian berjodoh dan kamu gak boleh seperti Papa" ucap Papa tergelak dan sendu kemudian.
Mobil itu terus melaju menuju rumah Irfan. Sementara pemilik rumah sudah memasuki gerbang utama dengan kencang, bahkan Irfan membunyikan klaksonnya dengan keras.
TIIIN...TIIIN...TIIIN...
"CEPAT BUKA PINTUNYAA" bentak Irfan.
Setelah pintu terbuka ia langsung meletakkan mobilnya sembarangan arah dan melihat Fajri yang tengah menengadah ke atas.
"Aji" panggil Irfan menggendong Fajri.
"ayah? Ayah Sudah pulang"
Irfan menggendong Fajri dan berjalan masuk ke dalam rumah
"Ayah tunggu dulu Aji lagi menerbang... kan nyangkut. Ayah pesawat Aji tersangkut" rengek Fajri ketika melihat pesawatnya tersangkut di batang pohon.
"eh Aji lagi main sayang?, nanti ayah ambilkan, sekarang kita masuk dulu ya"
"Ayah, Aji gak mau masuk. itu pesawat terakhir Aji" rengek Fajri menolak untuk di bawa oleh Irfan.
Dua pesawatnya yang lain sudah hancur karna keseringan menabrak tembok, pohon dan hal yang lainnya. Fajri mencatat semua kekurangan itu dengan baik, agar bisa menyempurnakan produksi pesawatnya nanti.
"nanti ya sayang, kita ke tempat Bunda dulu"
"huh. tapi nanti ayah ganti ya"
"iya sayang"
Irfan membawa Fajri berjalan ke dalam menemui Fajira. Namun yang di cari tidak terlihat dimana batang hidungnya.
"sayang. Fajira" panggil Irfan panik dan berlajan menuju kamar mereka
"Bunda mana sayang?"
"tadi di dalam sana Oma, ayah"
"siapa yang datang lagi?"
"Opa, tapi pergi lagi"
"perempuan gak ada yang datang nak?"
"gak ada Ayah. Ayah kenapa sih? Aji mau keluar dulu, mau lihat pesawat Aji"
"temani Ayah dulu, nanti kita beli yang baru"
"itu gak di beli ayah, Tapi Aji yang buat sendiri. Ayah gimana sih" ucapnya kesal.
"eh sudah jadi sayang? berhasil kan? apa bisa kita produksi?" ucap Irfan antusias
"belum ayah, masih harus di sempurnakan lagi" Ucap nya semakin cemberut.
"sebentar ya sayang, ayah mau cari Bunda dulu" Irfan masih berkeliling rumah, tanpa sadar jika Fajira tengah memperhatikannya.
"sayang, kamu di mana?" Panggil Irfan lagi.
"sayangkuh, cintaku. istriku"
"aku disini mas" ucap Fajira di belakang Irfan.
"huft kamu gak papa sayang?, Gak ada yang sakit? atau bagaimana?" ucap Irfan panik dan memeluk Fajira.
"aku gak papa, lepaskan dulu, kamu belum mandi" ucap Fajira mendorong Irfan.
"syukurlah. Mama mana sayang?"
__ADS_1
"ada di dapur. Aku lagi masak sama Mama, Kamu ngapain teriak-terik begitu" omel Fajira sambil mengambil Fajri dari gendongan Irfan.
"aku panik sayang, Papa meminta aku untuk membahagiakan seorang gadis yang ia cari selama ini. Dan dia sudah ada di rumah, Makanya kau pulang cepat. Aku takut nanti kamu pergi lagi" ucap Irfan sendu.
Siapa maksud Papa? gak mungkin ada yang ia cari lagi selain aku kan? ah aku kerjain saja kamu mas. hahaha.
"ah iya, tadi dia datang kesini. Tapi sudah pulang, Katanya nanti dia datang lagi jam makan malam"
"sayang" panggil Irfan dengan mata yang membola.
"kamu serius?" sambungnya.
"iya mas, Sudah mandi dulu sana, nanti kita ngobrol lagi. Aji juga mandi sama Ayah ya"
"Pesawat Aji tersangkut Bunda, itu yang terakhir" rengek Fajri.
"nanti Bunda minta tolong ambilkan sama om yang di luar nak. Sudah sana dulu sama Ayah"
"Baju Aji Bunda?"
"ada di atas nak. sudah Bunda taroh di lemari Ayah"
"sayang" panggil Irfan cemas.
"apa? mandi dulu sana, Atau jangan dekat-dekat" ancam Fajira.
"sayang"
"mandi gak?" geram Fajira
"tapi jangan kemana-mana"
"iya"
Irfan menggendong Fajri yang masih cemberut sambil sesekali melihat ke arah Fajira. Sementara perempuan itu terkekeh geli melihat Irfan sudah seperti anak kecil yang takut di tinggal oleh ibunya. Lalu ia kembali ke dapur dan menyelesaikan masakannya untuk makan malam nanti.
"kenapa nak?" ucap mama
"di kerjai?"
"iya, Papa bilang kalau mas Irfan harus menikahi wanita yang sedang di cari oleh Papa dan Mama"
"itu kan kamu nak"
"hahaha iya ma"
"oalah Hahah... pasti irfan panik banget" Mereka melanjutkan acara masak memasak itu dengan saling bercerita untuk menambah kedekatan satu sama lain.
Orang tua Irfan adalah sahabat dari mendiang orang tua Fajira. Waktu itu, mereka mengalami kecelakaan ketika kembali dari rumah orang tua irfan. Namun sebelum kecelakaan orang tua Fajira berpesan kepada Papa Horison untuk menjemput Fajira.
"Son kalau seandainya nanti terjadi apa-apa, saya minta tolong untuk menjemput Fajira ke kampung, Setidaknya bantu saya sampai dia memiliki kehidupan sendiri"
"iya Sandi, Kamu tenang saja, bagaimanapun juga Fajira sudah aku anggap sebaga anakku sendiri. Lagian kenapa kamu ngomong seperti itu?"
"gak papa Son, Umur kita gak ada yang tau" ucap Ayah Sandi.
"kalau begitu kami pamit dulu ya" sambungnya.
"iya hati-hati di jalan San" Ayah Sandi, Bunda dan adik Fajira berlalu dari sana.
Tak lama kemudian Papa Horison mendapatkan telefon jika ia harus berangkat ke Jerman saat itu juga. Sehingga ketika musibah kecelakaan itu terjadi ia tidak sempat pulang dan menjemput Fajira. Hingga akhirnya mereka kehilangan gadis manis itu dan juga turut mendapatkan musibah yaitu kondisi perusahaan yang tidak stabil.
Awalnya Papa Horison juga mengerahkan beberapa orang untuk mencari Fajira, namun itu semua terhenti karna sudah tidak memiliki biaya lagi, sehingga laki-laki paruh baya itu hanya memanfaatkan waktu ketika ia sedang berada di luar kota. Dan tanpa di sangka mereka bertemu dengan takdir yang sangat tidak pernah terduga.
Mama yang mengingat pesan itu selalu merasa sedih karna merasa bersalah kepada Fajira. Namun mulai saat ini ia bisa tersenyum legah karna sudah menemukan gadis manis ini dan mendapatkan bonus seorang pria kecil miniatur Irfan.
"Jira"
"iya Ma"
__ADS_1
"kenapa kamu bisa menerima Irfan secepat ini?" tanya Mama dan sukses membuat Fajira terdiam.
"Jira belum bisa memastikannya Ma, Yang jelas Jira hanya ingin Fajri merasakan keluarga yang utuh. Kalau untuk rasa Jira belum bisa memberikan jawabannya. Karna saat ini semua rasa bercampur, benci, takut, marah dan sayang. Jira belum bisa membedakannya"
"Mama harap kalian menikah sekali sampai maut memisahkan"
"Aku juga berharap seperti itu Ma"
Tanpa mereka sadari Irfan sudah berdiri di belakang Fajira dan mendengar isi hati perempuan itu. entah benar atau bagaimana, yang jelas Irfan mulai paham dengan perasaannya saat ini.
Aku benar-benar mencintai perempuan ini tuhan, bukan hanya sekedar hasrat semata, tapi sungguh aku mencintainya.
Tanpa menunggu lama Irfan segera memeluk Fajira dari belakang dan sukses membuat dua orang yang tengah berbincang itu terkejut.
"sayang" panggil Irfan
"astoge Maas, Kamu ngagetin aku" pekik Fajira
plak...
Tangan lentik itu memukul Irfan dengan cukup keras dan membuat empunya meringis.
"sakit sayang" ringis irfan sambil mengusap tangannya
"untung aku belum jadi motong sayur" geram Fajira mengarahkan pisau kepada Irfan.
"eh jangan sayang, aku minta maaf. Kan kangen makanya aku peluk. Gitu aja kok marah sih"
"iya lihat kondisi juga Mas, gimana kalau tangan aku kepotong?"
"jangan sayang" sergah irfan cepat
"sudah sana. Temani Fajri dulu, dia kesusahan dari tadi untuk menerbangkan pesawatnya. sudah hancur juga"
"peluk dulu"
"gak ada, sana"
"sayang" rengek Irfan.
"gak ada mas, sana hus... hus..." usir Fajira.
Irfan berlalu dengan wajah yang di tekuk, berbeda dengan Mama yang susah untuk menahan gelaknya melihat Irfan yang mati kutu di hadapan Fajira.
"buahahaha" gelak mama lepas setelah Irfan pergi.
"hehehe. maaf ya ma"
"gak papa sayang, lucu juga. orang yang gak pernah takut sama siapapun malah mati kutu di hadapan kamu haha"
"iya Ma, mau di apain lagi, kalau sudah emosi ya gak madang bulu siapapun itu"
"Yuk kita lanjut masak, tinggal dikit lagi nak"
"iya ma"
Mereka sesekali masih tergelak mengingat ekspresi Irfan tadi. Tak berapa lama makanan itu siap dan sudah terhidang di atas meja walaupun jam makan siang belum masuk. Mereka kembali keluar untuk melihat Fajri yang sudah pintar mengendarai pesawat terbangnya.
πππ
TO BE CONTINUE
Rasa trauma pada Aira membuatnya membenci pria, termasuk Ayah dan pamanya, melarikan diri dari ayah yang ingin menjodohkannya dengan pria parohbaya, Aira lari kerumah pamanya, seperti lari dari kandang singga dan masuk kekandang macan, sampai di rumah pamanya Aira malah di jual di tempat pelacuran.
Setelah berkali-kali disiksa, Aira akhirnya bisa lari, namun jeadaanya mengenaskan hingga harus mengalami depresi saat di temukan, phisikiater muda, mereka merawat Aira di rumah sakit jiwa.
Sementara itu, Aldi dan Romeo dua playboy kampus sedang taruhan mobil mewah, barang siapa yg kalah, harus menikahi pasien rumah sakit jiwa, dan Aira di pilih sebagai taruhan mereka, lalu siapa yang akan mendapatkan Aira, bagaimana Aira menerima kenyataan jika dirinya hanyalah gadis yang di pertaruhkan, akan kah cinta sejati hadir di kisah hidup Aira, kocak, sedih dan romantis, semua ada di sini.
__ADS_1
yuk kunjungi, di jamin bagus, aku sudah baca π