Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
89. Semua Tergantung Kamu, Mas!


__ADS_3

Selepas makan malam, Fajri dan Fajira segera menuju kamar, sementara Irfan ingin menyelesaikan sedikit pekerjaan yang ia bawa dari kantor tadi. Fajri selalu menatap ke arah kamar mandi, ia merasa ketagihan untuk bermain gelembung sabun seperti tadi sore. Fajira mengernyit menatap Fajri yang terlihat aneh, ia menyalakan televisi namun matanya entah menatap ke arah mana.


"Aji kenapa, nak?" tanya Fajira dan membuat pria kecil itu terkejut.


"hmm, itu Bunda. Tapi Bunda jangan marah ya" Ucap Fajri lirih.


"apa sayang? Aji mau sesuatu?" Ucap Fajira sambil membelai kepala Fajri lembut.


"eum... Aji mau itu Bunda. Hmm tapi sama ayah. Aji mau main gelembung, apa boleh?" Ucap Fajri lirih dan menekuk wajahnya.


Apa? apa aku tidak salah dengar? Fa-Fajri bermain gelembung sabun? bersama Mas Irfan? syukurlah akhirnya Fajri bisa menikmati masa kecilnya tanpa semua alat-alat yang terlihat menyeramkan itu. Bathin Fajira senang dan sedikit tidak percaya.


Fajri yang melihat keterdiaman bundanya malah menjadi takut jika Fajira akan memarahinya. Ia segera memeluk dan membenamkan wajahnya di pangkuan wanita cantik itu.


"Aji mau bermain gelembung?" Ucap Fajira membuat Fajri terdiam dan tidak percaya.


"Aji? Bunda nanya lo nak! Aji mau bermain gelembung?" Fajira mengulangi pertanyaannya.


Fajri mengangkat wajah yang masih melongo seakan tidak percaya dan menatap manik Fajira. Ia berusaha untuk mencari celah kebohongan di sana, namun nihil ia melihat tatapan Fajira masih lembut seperti biasanya.


"Apa boleh Bunda?"


"Boleh sayang. Besok libur kan?. Nanti Bunda minta tolong sama pak sakti untuk membelikan Aji alatnya ya sayang, biar bisa bermain gelembung yang besar" Ucap Fajira antusias.


"beneran boleh Bunda? Aji boleh main gelembung?" tanya Fajri kembali.


"boleh sayang! Bunda kan gak pernah melarang Aji asal itu bermanfaat dan tidak merugikan"


"terima kasih Bunda. Tapi gak perlu untuk membeli alatnya Bunda. Aji cuma mau main sama ayah di dalam kamar mandi"


"apa sama Bunda gak mau juga nak?" ucap Fajira sedih.


"eh bukan gitu Bunda, Apa nanti Bunda gak kedinginan kalau kita main gelembung?"


"itu makanya Bunda minta tolong untul membelikan alatnga sama pak sakti nanti ya, biar kita bisa bermain di luar bersama"

__ADS_1


"terima kasih Bunda," Ucap Fajri kembali memeluk Fajira.


"hmm Ayah mana bunda?" tanya Fajri kembali.


"Tadi ayah ada sedikit pekerjaan sayang. Mungkin bentar lagi datang. Apa Aji mau bobo lagi Nak?"


"Aji mau menunggu ayah dulu bunda"


Fajri bersandar di lengan Fajira sambil menonton di dalam kamar. Perlahan ia terlelap setelah merasakan usapan lembut yang selalu di suguhkan oleh ibundanya tanpa ia minta.


Fajira tidak hentinya tersenyum sedari tadi karna hal yang sangat ia inginkan terwujud, yaitu melihat Fajri bermain permainan anak seusianya tanpa berbaur dengan alat-alat dan mesin yang sering kali membuatnya cemburu ketika Fajri lebih memikih sibuk bersama mereka di bandikan dirinya.


"tidurlah sayang, besok Bunda akan menunjukkan kepada Aji bagaimana serunya bermain dengan berbagal macam permainan"


Fajira segera menghubungi Pak Sakti dan meminta tolong untuk membelikan beberapa macam mainan yang sekiranya bisa di mainkan oleh Fajri nanti. Ia meminta untuk di belikan alat untuk membuat gelembung yang besar, beberapa robot-robotan, bola plastik yang kecil sebanyak 1000 buah, dan berbagai macam mainan lainnya.


tepat ketika ia selesai memberikan pesan kepada Pak sakti, Irfan masuk dengan wajah lelahnya. Ia segera naik ke tempat tidur dan memeluk Fajira dengan posisi yang sama seperti Fajri, terlelap sambil memeluk kakinya.


"sudah selesai kerajaannya Mas?" tanya Fajira sambil mengusap kepala Irfan lembut.


"ya sudah, yuk kita istirahat"


"Tapi ada yang mau aku ceritakan"


"mau cerita apa, Mas?"


"bentar, aku pindahin Fajri dulu ya" Irfan segera menggendong Fajri dan membaringkannya di atas ranjang single yang ada di sudut kamar itu. Setelahnya Irfan segera berhamburan dan kembali memeluk Fajira erat.


"Mas, engap!"


"maaf sayang. hmm Bagini, tapi kamu jangan marah ya"


"kenapa kalian selalu berkata aku jangan marah? apa aku terlihat seperti orang yang pemarah?" tanya Fajira mengernyit.


"hehe bukan sayang, Tapi ini sedikit serius sayang"

__ADS_1


"kamu mau cerita apa Mas?"


"Sudah setahun ini aku gak menjalin hubungan bisnis jika pemimpinnya perempuan sayang. Namun proyek yang sedang aku tangani saat ini, ternyata di gantikan oleh anaknya. Jadi aku akan sering bertemu dengan perempuan itu sayang" lirih Irfan mencoba untuk bercerita


Tuhan, aku baru mendapatkan kebahagiaan, tolong jangan engkau sudahi ni dengan cepat. Bathin Fajira khawatir.


"terus?"


"Sepertinya dia tertarik denganku sayang. Tapi, tapi aku akan menghindarinya. Aku cuma butuh kamu dan anak-anak kita. Aku tidak butuh perempuan mana pun lagi. Beri aku kepercayaan sayang. Karna aku gak mau kehilangan kamu lagi" Irfan menatap Fajira dengan mata yang berkaca-kaca.


Fajira menatap Irfan nanar, berusaha untuk mencari kebohongan di sana, namun nihil ia hanya melihat ketulusan dan kejujuran di mata Irfan. Ia mengangkat tangannya dan membelai kepala Irfan lembut.


"Dari awal aku memutuskan untuk menikah dengan kamu. Aku menaruh kepercayaan yang begitu besar kepadamu, Mas. Dalam usia pernikahan kita yang masih seumur jagung, aku hanya berharap satu hal. Aku hanya tidak ingin kehilangan senyum anakku karna menyaksikan kehancuran keluarganya karna orang ke tiga.


Semuanya tergantung kepada kamu, sebagai kepala rumah tangga. Kamu adalah nahkoda yang akan membawa aku dan anak-anak kita mengarungi dan menghadapi kejamnya dunia. Aku percaya sama kamu, Dan itu akan mudah tergoyahkan jika aku melihat celah kebohongan dari kamu sedikit saja. Bukan aku yang ingin pergi, tapi Fajri yang akan membawaku pergi" ucap Fajira yang sudah mengeluarkan air matanya sambil memeluk irfan


"Akan aku jaga sayang, Aku gak akan membiarkan kalian pergi lagi dalam hidupku walaupun hanya sedetik saja. Aku akan menjaga kepercayaan kamu. Tapi kamu jangan pernah mendengarkan berita di televisi, sosial media dan lain halnya. Aku akan selalu terbuka menceritakan apa yang aku alami setelah ini"


"Aku percaya kepadamu, jangan pernah menutupi apapun dari dariku Mas, jika pun itu sakit, tolong katakan. Jika masalahnya besar, kita akan mencari solusinya bersama, paling tidak aku bisa menjadi tempatmu berkeluh kesah"


"terima kasih sayang, Terima kasih"


Irfan memeluk Fajira erat sambil mengelus punggung istrinya. Ia sungguh sangat merasa takut jika perempuan itu membuat rumah tangga yang baru saja ia bangun dengan susah payah, malah berantakan.


Aku akan pastikan dia tidak akan macam-macam setelah ini. Aku janji akan menjaga kamu dan anak kita sayang. Tekad Irfan.


Ia memejamkan mata lelahnya, namun sekejap kemudian ia merasakan sebuah tangan tengah menyusup membelai dada bidangnya. Ia melihat Fajira dengan mata yang tertutup menyusupkan kedua belah tangannya ke dalam baju Irfan.


Laki-laki itu tersenyum manis, dan membuka gewang bajunya agar Fajira bisa lebih leluasa untuk menyentuhnya.


"tidurlah sayang. Aku mencintaimu istriku" Irfan menyusul Fajira yang sudah terlelap dalam dekapannya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2