Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
68. Kondisi Fajira


__ADS_3

Di sebuah jet pribadi, Fajira sudah terbangun dari pingsannya. Ia menatap tajam orang-orang yang berpakaian serba hitam yang ada di sekelilingnya. Fajira teringat jika tadi sebelum pingsan, ia sedang berada di gedung belakang dan tiba-tiba ada yang menyekap mulutnya hingga pingsan.


Apa aku di culik? ini di atas pesawat pribadikan?. Kemana aku akan mereka bawa? siapa yang berani menculikku?. bathin Fajira


Ia mendengar jika seseorang tengah menelfon Irfan.


πŸ“ž"..."


πŸ“ž"tuan Irfan Dirgantara. Apa anda sedang mencari perempuan yang paling anda cintai?"


deg...


Jantung Fajira berdetak kencang mendengar nama Irfan di sebut.


πŸ“ž"..."


πŸ“ž"Ada, dia aman bersama saya"


πŸ“ž"mas tolong aku maaas!. haphh... hmm... hmm..." teriak Fajira dan terputus karna mulutnya di bekap.


πŸ“ž"Lepaskan dia untuk bos kami, atau anda akan mendengar Istri anda hanya tinggal nama saja"


tut....


Laki-laki itu segera berjalan menuju teman Fajira. Ia menjambak rambut perempuan itu dengan kasar.


"dengarkan saya nyonya yang terhormat. Kami tidak akan melukai anda jika anda tidak memberontak. Paham!," Bentaknya.


Fajira hanya terdiam sambil menatap laki-laki itu tajam. Dengan tangan dan kaki yang terikat, ia berusaha untuk memberontak dan berharap ikatan itu bisa terbuka. Namun nihil, sepanjang ia mencoba untuk membuka ikatan itu, ia hanya mendapatkan lelah dan penat saja dari Usahanya. Sehingga Fajira memilih untuk diam dan pasrah, berharap Irfan akan segera menyelamatkannya.


Aji, bantu Bunda nak, Bunda takut. Semoga kamu bisa menemukan aku mas. Apa yang harus aku lakukan agar bisa kabur dari mereka?. Bathin Fajira berfikir sambil menutup matanya.


Ah iya GPS, Untung aku selalu menggunakannya. Semoga Aji ingat nak dan bisa melacak Bunda. Semoga saja mereka tidak menyadari jika aku membawa GPS. Bathin Fajira sedikit lebih tenang karna memiliki satu jalan untuk pulang.


Perlahan air mata itu menetes dan mengalir deras membasahi pipi Fajira. Hingga pesawat mendarat di salah satu pulau milik pribadi yang tidak berpenghuni.


Fajira di gendong untuk turun dari pesawat. Mereka membawanya masuk kedalam sebuah Villa mewah nan megah yang ada di pulau itu. Fajira berusaha untuk memberontak namun nihil, ia tidak bisa bergerak dalam gendongan laki-laki berbadan kekar itu.


"lepaskan! lepaskan aku bajingan! turunkan aku!!," teriak Fajira.


"DIAM!!" Bentak pria itu menghempaskan Fajira di atas ranjang dan meninggalkannya.


"hiks... mas tolong aku," Isak Fajira dengan tangan dan kaki yang masih terikat. Lama Fajira menangis hingga tanpa sadar ia sudah terlelap.


Ceklek...


Seorang pria masuk kedalam kamar itu dan mengelus kepala Fajira lembut. Perlahan ia membuka ikatan yang melingkar di tangan dan kaki Fajira. Dengan lembut, ia mengoleskan salep di kulit yang terlihat kemerahan bekas ikatan tadi.


"apa ini sakit?" lirihnya bertanya kepada Fajira yang masih terlelap.

__ADS_1


"maaf"


Ia beranjak dari sana dan segera pergi menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Fajira.


Cukup lama perempuan itu terlelap, Hingga ketukan pintu berhasil membuatnya terbangun dari mimpi indah. Berharap apa yang terjadi hari ini hanya sekedar mimpi saja.


tok... tok... tok...


"Nyonya makan siang sudah siap, Tuan memanggil Anda untuk segera keluar menuju meja makan" ucap salah satu pelayan di sana.


"engh..."


Fajira menggeliat dan mengerjab menyesuaikan matanya dengan cahaya. Ia merasa tangan dan kakinya sudah bebas dari ikatan.


"ah ternyata ini semua nyata" ucapnya santai.


"apa aku di culik atau ini hanya kerjaan mas Irfan saja? Di culik kok malah di beri fasilitas mewah" ucapnya kesal, namun sejurus kemudian ia terisak.


Perkataan tadi hanya untuk membuat dirinya merasa baik-baik saja dan tetap berfikir positif. Perlahan Fajira mengusap tangannya yang terasa perih, namun ketika menyentuh kulitnya itu terasa sedikit licin dan sedikit dingin.


"salep? apa ada yang memberi tanganku salep tadi?" ucapnya mengernyit.


tok... tok... tok...


"nyonya, Apa anda sudah bangun?, tuan sudah menunggu anda di meja makan"


Fajira berjalan menuju pintu dan mengernyit bertanya-tanya.


ceklek...


Eh terbuka.


"apa?" ketus Fajira.


"tuan sudah menunggu nyonya di meja makan"


"tolong katakan kepada tuan anda. Saya tidak mau makan"


BRAAK!!


Fajira menghempaskan pintu dan menguncinya dari dalam. Ia kembali menuju tempat tidur dan terisak.


"apa ini sebenarnya? aku di culik dan di bawa ke sebuah pulau terpencil lalu di perlakukan layaknya seorang Nyonya. Mas jemput aku, Aku takut"


Otaknya berfikir mencari cara bagaimana ia bisa lepas dari penjara mewah ini. Sambil menekuk kedua kakinya, Fajira menenggelamkan wajahnya di sana. Hingga ketukan pintu terdengar kembali.


tok... tok... tok...


"Fajira! apa kamu tidak ingin makan? tolong buka pintunya" ucap laki-laki itu lembut. Namun Fajira hanya diam saja dan bahkan tidak berbicara sedikitpun.

__ADS_1


tok... tok...


"Fajira! tolong buka pintunya jangan sampai kesabaran saya habis"


"saya hitung sampai tiga jika kamu tidak membuka pintu ini, saya akan membunuh kamu Fajira" teriaknya dari luar.


"satu... dua... tiga!" Laki-laki itu memanggil beberapa orang untuk mendobrak pintu.


Sementara Fajira berpura-pura berada di dalam kamar mandi dan menghidupkan air keran yang cukup ampuh meredam suara yang ada di luar.


Braak!!!


Pintu terbuka, mereka terperangah melihat ruangan itu kosong. Tepat ketika laki-laki itu hendak berjalan ke arah kamar mandi, Fajira lebih dulu keluar dengan handuk yang ia lilitkan di leher sambil mengeringkan wajahnya. Dengan rasa takut yang membuncah, Fajira mengangkat kepalanya dengan berani.


deg...


Matanya membola melihat siapa laki-laki yang tengah berada di depannya saat ini.


"ka-kau?" Ucap Fajira dengan emosi


"hai Ji, apa masih ingat denganku?" ucap laki-laki itu tersenyum masam.


"ke-kenapa kakak menculik aku?" teriak Fajira


"Karna aku masih menunggu jawaban dari kamu Fajira. Sudah lama aku mencari di mana keberadaanmu. Namun semua terasa sulit jika hanya sekadar menemukan seorang perempuan.


Namun ternyata ada orang yang sangat besar dan berpengaruh yang melindungi kamu. Apa ini alasan kamu tidak mau menerima ku Fajira?. Ternyata pandanganku selama ini salah, Kamu tak lebih buruk dari perempuan di luar sana" sarkas laki-laki itu.


"apa maksud kaka berbicara seperti itu? Jika aku memang lebih buruk dari wanita yang ada di luar sana kenapa kakak masih mencari ku? bahkan kakak menculik ku" teriak Fajira.


"karna aku mencintaimu Fajira, tidak kah kamu paham akan hal itu?" balasnya tak kalah tinggi.


"Aku sudah memilik suami, dan semua orang juga sudah tau itu"


"makanya aku dengan mudah mencari dirimu. Ternyata tuan Irfan tidak se kuat yang aku fikirkan. Dia hanya laki-laki lemah yang tidak bisa menjaga keluarganya dengan baik. Dan kau bisa melihat saat ini Fajira, Dia lengah terhadapmu"


"jangan menghina suamiku!" tegas Fajira dengan emosi yang membuncah.


"heh suami kamu memang pantas untuk di hina. Laki-laki yang sok berkuasa namun tidak pandai menjaga miliknya. Sore ini kita akan menikah," Laki-laki itu melangkah pergi keluar dari kamar Fajira sambil membanting pintu.


Braak!!


"hei!! kakak gak bisa memaksakan kehendak kaka seperti itu! aku wanita bersuami. Kak! kakak!" teriak Fajira sambil mencoba untuk membuka pintu.


Namun sayang, para penjaga sudah memberi penyangga pada pintu kamar yang rusak itu agar Fajira tidak bisa kemana-mana.


"Mas, jemput Aku. Tuhan tolong bantu aku."


Tubuh indah itu luruh kenlantai setelah mengetahui siapa yang menculiknya. Ia tidak menyangka akan terjadi seperti seperti ini.

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


__ADS_2