Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
178. Lomba lagi?


__ADS_3

Di rumah sakit, Fajira tengah menangani banyak pasien yang mengalami sakit jantung. Sebelumnya ia tidak pernah menangani pasien sebanyak ini, dikarenakan dua dokter jantung di rumah sakit itu sedang berada di luar kota karna mendapatkan tugas, sehingga ia terpaksa di panggil untuk membantu menangani pasien yang membludak.


Hari sudah menjelang siang, Bahkan ia belum sempat untuk mengisi Perutnya, karna semenjak bangun tidur, ia belum berhenti untuk menangani pasien. Mereka harus mendapatkan pengecekan secara berkala darinya langsung, sehingga Fajira harus stay di sana hingga dokter yang lain ada di rumah sakit dan menggantikannya.


Huft...


Pasien terakhir sudah selesai diperiksa, ia berjalan menuju ke ruangannya dengan langkah gontai dan terlihat kelelahan.


"Fuji, tolong pesankan saya makan siang!" ucap Fajira kepada asistennya.


"baik, dokter!"


Setibanya di ruangan Fajira segera duduk di atas sofa. Untung hari ini ia tidak memakai hils, sehingga betisnya tidak terlalu pegal, akibat berjalan kesana-kemari.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang. Ia merasa bersalah karna meninggalkan anak dan suaminya di rumah. Ia meraih ponselnya yang sudah terasa dingin karna tidak di sentuh dari tadi. Ada beberapa pesan masuk dari Fajri dan beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya.


πŸ“© from Abang Fajri 😍


"Bunda, jangan lupa makan dan istirahat, ya! semoga kerjaan Bunda cepat selesai dan pulang ke rumah. Abang sudah kangen wkwk"


"buna, Dede sedih karna Buna gak anterin Dede ke sekolah. Tapi gak papa, Dede perginya sama abang aja. Love You, Buna" suara Ivanna terdengar lembut melalui pesan suara itu.


Ia tersenyum, lelahnya terasa hilang ketika mendengarkan suara dari anak-anaknya. Hingga asisten Fajira datang dengan membawakan makan siang agar bisa menambah tenaganya untuk hari ini.


Ia menghubungi Irfan melalui panggilan video sambil menyuap makanannya.


"halo, sayang?" ucap Irfan berbinar di dalam ponsel itu.


"Halo, sayang kamu sedang apa?"


"lagi memeriksa berkas, sudah siap kerjanya?"


"belum, sepertinya aku pulang sore, Mas!"


"apa perlu aku tambah dokter jantung di sana?"


"gak perlu, aku juga gak nyangka kalau pasien bisa sebanyak ini!"


"istirahat dulu! jangan terlalu di forsir. Nanti kamu yang sakit!"


"iya, ini aku lagi istirahat!"


Tiba-tiba saja, Fuji sang asisten datang dengan tergesa-gesa da mengatakan jika ada pasien yang harus di tangani dengan segera. Fajira meninggalkan makan siangnya dan mematikan ponsel sambil berjalan cepat menuju ruangan ICU.


"Nanti aku hubungi lagi, sayang! Love You."


Ia segera menangani pasien dengan keadaan yang sudah kritis. Sekuat tenaga ia berusaha untuk melakukan yang terbaik bersama dengan asistennnya yang lain. Hingga monitor berbunyi nyaring di dalam ruangan itu


Tiiiiit....


Deg!

__ADS_1


"segera siapkan alahlt pacu jantung!" teriak Fajira.


Ia segera meletakkan alat itu di dada pasien berharap jantungnya bisa kembali bekerja. Hingga beberapa kali ia mencoba namun pasien tidak menunjukkan tanda-tanda sama sekali.


Tuhan berkata lain, pasien itu sudah tiada dan jantungnya tidak berdetak lagi. Matanya berkaca-kaca setelah semua cara telah mereka lakukan untuk menyelamatkan pasien, namun semua sia-sia.


Fajira hanya terdiam, lambat laun ia harus mempersiapkan diri ketika Irfan tiba-tiba saja berbaring di hadapannya. Perlahan air mata itu mengalir, namun dengan cepat ia berusaha untuk mengontrol emosi agar tidak terbawa oleh suasana.


Ia berjalan keluar setelah para perawat membersihkan peralatan yang abadi tubuh pasien. Ia tau betul jika laki-laki paruh baya itu adalah orang tua dari Vino Bagaskara.


ceklek...


"Ji, bagaimana?" desak Vino yang tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya khawatirnya


"Kakak, yang sabar tuhan lebih sayang dengan orang tua kakak. Kami sudah melakukan yang terbaik, namun tidak ada yang bisa melawan kehendak tuhan!" ucap Fajira berkaca-kaca.


Tubuh Vino melemah, ia bersimpuh dengan air mata yang mengalir. Isak tangis keluarganya terdengar sangat memilukan.


"Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Kami turut berduka cita atas meninggal bapak Bagaskara, Permisi!" Fajira berlalu dari sana meninggalkan Vino dan keluarganya.


Ia ingin bertemu dengan Irfan saat ini, memeluk tubuh tegap suaminya. Fajira berjalan menuju ke ruangan bersama dengan Fuji sang asisten.


"apa jadwal saya selanjutnya?"


"15 menit lagi ada pemeriksaan pada pasien yang masuk pukul 3 tadi, dokter. Itu jadwal terakhir hari ini!" terang Fuji.


"Apa mereka sudah kembali?"


"ingatkan saya nanti!"


"baik dokter!"


Fajira segera masuk ke dalam ruangannya dan beristirahat sejenak. Sebentar lagi waktu makan siang sudah masuk. Setelah memeriksa pasien ia akan pergi ke kantor Irfan untuk menenangkan diri sejenak sambil memeluk suaminya.


🌺🌺


Di sekolah, Fajri tiba-tiba saja di panggil ke ruangan wakil kepala sekolah. Pria kecil itu mengernyit bingung, karna ia merasa tidak membuat kesalaahn atau apapun itu.


tok,... tok,... tok,...


"permisi, Bu. saya Fajri!"


"masuk, nak!"


Fajri membuka pintu, ia melihat ada tiga orang siswa dan satu orang guru di dalam ruangan itu.


"Maaf sebelumnya, buk. Ada apa ibiu memanggil saya?" tanya Fajri sopan.


"begini, Fajri dan anak-anak ibu sekalian. Tiga minggu lagi kita akan mengikuti lomba sains se Asia. Sekolah kita berhasil mendaftar untuk mengikuti lomba itu dan mendapatkan 10 kuota, 3 untuk sekolah dasar, 3 untuk SMP dan 4 untuk SMA. Jadi untuk tingak SMP, ibu mengutus kalian untuk mengikuti lombanya," ucap wakil kesiswaan itu.


"lomba sains, Bu? Sepertinya saya tidak bisa ikut Bu, karna ibu tau kalau saya tidak menguasai ilmu hitung itu!" ucap Fajri menyanggah.

__ADS_1


"Masih ada waktu tiga minggu lai untuk belajar, nak!" ucap ibu itu enteng.


"tiga minggu untuk menguasai materi yang sudah di pelajari dalam 2 tahun? maaf Bu, saya tidak bisa ikut, kerjaan saya jaga sedang banyak!" ucap Fajri sedikit kesal.


"Apa salahnya ikut? yang bangga kan kamu, yang dapat nama juga kamu, nanti menang pasti juga ada mendaki dan sertifikatnya!" ucap salah satu siswi perempuan yang tidak menyukai Fajri.


"Maaf, Bu. Saya tidak bisa ikut!" tolak Fajri tegas.


"Coba tanya Esmeralda, Bu! dia sangat pintar dalam berhitung!" saran Fajri.


"Esmeralda? siswa baru itu?"


"iya, Bu!"


"baiklah, Kamu yakin tidak ikut?"


"yakin, Bu!"


"Baiklah! tolong kamu panggilan Esmeralda ke sini!"


"baik, Bu. Permisi!" ucap Fajri pamit.


Sebenarnya tidak susah untuk ia mempelajari rumus hitungan itu, namun ia sangat tidak suka memperlajarunya dengan cara menguji berbagai macam soal. Ia lebih suka untuk langsung terjun untuk menghitung sesuatu yang benar-benar kan di kerjakan, seperti pembuatan pesawat dan segala macam jenisnya.


Ia keluar dari sana, ketika berjalan menuju kelas, Fajri melihat Ivanna tengah berjalan dengan ibu gurunya. Fajri segera menghampiri Ivanna dengan sedikit berlari.


"Kemana, sayang?" tanya Fajri.


"Dede habis dari ruang guru, bang,"


"ngapain?"


"Dede di tunjuk sama Bu Rully untuk ikut lomba sains tingkat SD se Asia," ucap Ivanna antusias.


"coba tanya Bunda dulu, sayang! Abang antar ke kelas, ya!"


"iya. bang!"


Mereka segera pergi ke kelas masing-masing dan kembali mengikuti pembelajaran.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Tinggalkan like dan komentar sebagai uang parkirnya gais.


Jangan lupa bunga atau kopinya agar author bisa up lebih banyak lagi.😍😍


Vote? boleh dong di sedekahkan kesini dari pada nangkring dan terbuang sia-sia. wkwkwk


terima kasih πŸ€—.

__ADS_1


__ADS_2