
Saat ini Fajira sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP rumah sakit itu. Dengan masih terlelap bersama Fajri, mereka di dorong dengan perlahan agar anak dan ibu itu tidak terbangung.
Dan benar saja sudah lebih dari 3 jam baik Fajri maupun Fajira belum ada yang membuka mata. Padahal dalam ruangan itu ada banyak orang dan bahkan cenderung berisik karna berebutan ingin melihat dan menggendong Bayi kecil itu.
"Bang, nama anak kamu siapa?" tanya Mama kepada Irfan.
"Biar nanti Fajri yang memberikan nama untuk Adeknya, Ma!" ucap Irfan tersenyum.
"kamu yakin?" Tanya Mama ragu.
"Yakin, Ma. kami sudah membicarakan ini sebelumnya,"
"baiklah!"
Irfan kini tengah bercermin, di wajah tampannya terlihat garis-garis yang memerah. Bukan hanya wajah, leher dan lengannya juga penuh dengan goresan yang di berikan oleh Fajira saat melahirkan tadi.
Aku gak akan menghapus jejak luka ini, biarkan mereka hilang dengan sendirinya. Ini akan menjadi saksi, bagaimana perjuangan Fajira melahirkan Putri kecilku. bathin Irfan berkaca-kaca, sambil menatap anak dan istrinya yang tengah terlelap.
"Bang, Anak kamu cantik banget!" Ucap Mama berkaca-kaca.
"Iya, cantik banget! Mirip Fajri!" sambung Ibu yang juga ikut berkaca-kaca.
"Iya, Dia akan menjadi perempuan yang paling cantik saat besar nanti!" ucap Irfan merona.
"Akhirnya, kak Jira punya saingan!" celetuk Riska dan membuat semua orang tertawa membenarkan perkataannya.
"Siap-siap melihat sikap possesif Fajri kepada dua bidadarinya! Tambah Riska semakin tergelak.
"Aduh, Mama gak bisa membayangkan betapa sangarnya Fajri ketika melihat adiknya di ganggu oleh orang lain. Begini 'Hei kamu! jangan ganggu adik Aku ya! atau kamu akan mati di tangan Aji' huh!" ucap Mama menirukan gaya Fajri yang sudah hafal olehnya.
"hahaha" semua orang tergelak hingga membuat si kecil nan cantik itu menangis.
"eeh,, kaget ya, nak?" ucap Ibu menimang cucunya.
"engh... Mas?" lenguh Fajira ketika mendengarkan tangisan putrinya.
"Sayang, sudah bangun?" ucap Irfan mengusap kepala Fajira lembut.
"Iya, kapan aku pindah?" yang Fajira serak.
"Sudah dari tadi, sayang"
"sshhh..." lenguh Fajira ketika mulai merasakan sakit pada sekujur tubuhnya.
"Mana yang sakit?" tanya Irfan panik.
"Gak papa, sayang. Itu dedenya bawa kesini dulu. Buar bisa minum Asi!" ucap Fajira lirih.
Ia mengusap kepala Fajri dan membangunkan pria kecil itu.
"Abang, bangun nak. Fajri?"
"engh... peluk Bunda!" lirih Fajri kembali memeluk Fajira.
Bidadari cantik itu segera memeluk Fajri sambil membangunkan pria kecil itu.
__ADS_1
"Abang, Dedenya mau mimi, Abang bangun dulu ya!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.
Pria kecil itu melotot ketika tersadar jika ia sudah resmi memiliki adik perempuan. Ia segera duduk dan mencari keberadaan adik kecilnya.
Deg...
Ia melihat Irfan tengah menggendong seorang bayi. ia melihat Fajira dengan tatapan penuh tanya.
"Abang geser dulu ya, nak!, nanti bobok lagi sama bunda," ucap Fajira tersenyum manis.
"i-iya bunda" Fajri mendadak gugup.
Namun Ia segera menggeser sedikit badannya agar gadis kecil itu bisa berbaring di samping Fajira.
"Waaah!! cantiknya! Apa ini dedenya Aji, Bunda?" ucap Fajri berbinar senang.
Mata bulatnya terkagum ketika melihat gadis kecil itu begitu mirip dengan dirinya.
"iya sayang, cantik 'kan?"
"Iya! Dedenya cantik banget!" ucap Fajri tidak percaya.
"iyaa, sayang, Mirip abang kan?"
"iya, bunda"
Fajri terus menatap bayi cantik itu tanpa berkedip. Ia terus mengamati adiknya, bahkan tanpa sadar semua orang menatap Fajri dengan gemas melihat wajah cengo pria kecil itu.
"Apa Dede sudah ada nama, Bunda?"
"belum, sayang. Tapi abang mau ngasih Dede nama!" ucap Irfan.
"Ivanna? nama yang bagus!"
"iya nama yang bagus. Pinter banget sih Abang memilih nama untuk dedenya!"
Begitulah respons semua orang yang ada di sana. Fajri semakin merona ketika ia mendapati Ivana tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Wah sepertinya Dede suka dengan namanya, Bunda!" ucap Fajri berbinar.
"Tentu dong. kan abang yang memberikan Dede nama!" Fajira mengusap kepala Fajri.
Ivanna, Bayi perempuan itu terlihat sangat haus, ia mereguk nikmatnya Asi Fajira dengan kuat. Sehingga membuat wanita cantik itu sediki meringis.
Fajri melotot melihat Adiknya. Ia mengusap lembut kain yang membedung tubuh kecil itu.
"Dede pelan-pelan, sayang! nanti tersedak!" ucap Fajri lembut.
Semua orang menatap pria kecil itu dengan tersenyum. Mereka bersyukur karna Fajri mau menerima adiknya tanpa ada drama percemburuan seperti yang ia lakukan kepada Irfan. Mungkin ini karna adiknya perempuan, mungkin akan berbeda jika adiknya laki-laki.
...πΊπΊ...
Semua orang sudah pulang saat ini, Tinggal lah keluarga kecil Irfan yang masih di selimuti dengan kebahagiaan. Kabar lahirnya Ivanna sudah tersebar di berbagai media. Namun semua informasi masih di tutup oleh Irfan dan dibantu oleh Ray.
Begitu juga dengan pihak rumah sakit, Irfan meminta mereka untuk bungkam jika di tanya oleh siapapun. Cukup simpan untukmu sendiri informasi yang sudah di berikan, jika sampai ada awak media yang mengetahui informasi ini, maka bersiaplah untuk kehilangan pekerjaan!. Begitulah ancaman yang di sebar oleh Irfan dan Ray.
__ADS_1
Saat ini Fajri dan Ivanna sudah kembali terlelap. Sementara Fajira dan Irfan masih memandang satu sama lain, mengingat perjuangan mereka tadi.
Tangan mulus Fajira terulur mengusap bekas luka yang ia berikan kepada Irfan tanpa sadar.
"Apa ini sakit, Mas?" tanya Fajira.
"ini gak sakit, sayang. Hanya luka kecil!" Irfan menggenggam tangan Fajira lembut dan mengecupnya.
"Terima kasih" ucap Irfan tercekat.
Fajira tidak mampu menjawab, ia hanya menatap Irfan lekat dengan mata yang berkaca-kaca. Menarik tengkuk suaminya dengan lembut dan mempertemukan bibir mereka.
Cup...
Hanya itu yang bisa mereka lakukan untuk menyalurkan perasaan masing-masing. Ciuman lembut yang di balut dengan rasa haru itu, terasa begitu nikmat di bandingkan sebelumnya.
"aku mencintaimu, suamiku! laki-laki bajing'an yang menorehkan luka dan kebahagiaan dalam waktu yang bersamaan!" ucap Fajira tersenyum dan mengelus kepala Irfan.
"Aku juga mencintaimu, istriku! Perempuan yang menjadikanku seorang bajing'an yang hanya menginginkan seorang pegawai reston untuk menjadi satu-satunya istriku, selamanya!" Ucap Irfan.
Mereka tergelak dengan ucapan aneh yang keluar dari mulut masing-masing.
"Apa aku boleh meminta Jatahku?" tanya Irfan berbinar.
"boleh, sayang! tapi kamu harus menunggu selama 40 hari kurang lebih! hehe," Fajira terkekeh geli melihat wajah cengo Irfan yang kaget.
"em-empat puluh hari?"
"sabar ya, sayang!"
Suami istri itu beralih melihat televisi yang tengah membicarakan mereka. Mulai dari kehamilan Fajira, hingga asumsi publik mengenai jenis kelam'in penerus keturunan Dirgantara. Bahkan ada juga yang membahas kepintaran Fajri, apakah adiknya juga akan menandinginya kepintaran abangnya?. Hanya waktu yang bisa menjawab semua.
"istirahatlah, sayangku, istriku! biar tenaganya bisa kembali pulih!" ucap Irfan mengelus kepala Fajira lembut.
"Kamu gimana, Mas? Belum istirahat juga kan?"
"sebentar lagi aku istirahat, sayang! aku mau menunggu Ibu atau mama datang," ucap Irfan tersenyum.
"Apa benar kamu pingsan tadi?"
"iya, aku pingsan tadi. Kamu kan tau kalau jantung aku lemah. Beruntung dia paham dengan situasi, jadi aku bisa menemani kamu sampai anak kita lahir," ucap Irfan tersenyum.
"temani aku sampai tua, sayang!"
"Iya, kita akan sama-sama hingga tua, melihat anak, cucu dan cicit kita tumbuh besar"
Mereka tergelak, dan kembali mengobrol banhak hal mengerani apa yang mereka rasakan mulai dari kontraksi sampai hari ini. Hingga Fajira terlelap dan masih menggenggam tangan Irfan dengan erat.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Mungkin beberapa part lagi akan tamat gais.
Aku masih ragu, antara lanjut S2 atau kasih ekstra part aja.
__ADS_1
koment di bawah ya gais. Aku takut ceritaku ini membosankan, makanya aku masih mikir-mikir dulu. mana tau teman-teman semua bisa ngasih saran.
terima kasih π€