
"sebelumnya, saya mohon maaf kepada tuan, dan nyonya Irfan. terutama kepada Fajri. Sungguh saya merasa bersalah karna anak kami menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan ini.
Saya selaku orang tua Bagas, Meminta maaf karna anak kami yang meminta Fajri untuk membuktikan kepandaiannya. Mungkin anak kami yang memaksa Fajri, dan secara tidak langsung menjadi penyebab kejadian ini. Saya berharap, tuan, nyonya dan Fajri memaafkan anak kami." ucap Papa Bagas yang memang menyadari kesalahan anaknya yang memaksa Fajri.
Semua orang terdiam mendengarkan permintaan maaf yang tulus dari orang tua Bagas.
"iya, Bunda Fajri, Tuan Irfan, benar apa yang di katakan oleh orang tua Bagas, Secara tidak langsung anak kami juga menjadi penyebab kejadian ini. Saya meminta maaf atas pemaksaan yang di lakukan oleh Ziyyad. Semoga tuan dan Bunda Fajri bisa memberikan maaf yang sebesar-besarnya kepada kami" Ucap Papa Ziyyad.
Fajira menatap Irfan lamat, ia berharap suaminya bisa menjawab perkataan dari orang tua Bagas dan Ziyyad.
Kenapa harus aku yang berbicara sayang? kamu tau 'kan kalau aku gak bisa mengontrol emosiku. Bathin Irfan menatap istrinya pasrah.
"hekm... Iya terima kasih saya ucapkan kepada bapak dan ibu sekalian. Jujur saya sangat emosi melihat keadaan putra saya saat ini. Ingin rasanya saya menghancurkan orang-orang yang telah mencelakai kami. Beruntung, Fajira yang menjadi istri saya, mungin jika bukan dia, bapak dan ibu semua sudah menjadi pengangguran atau bahlan tidak mampu untuk menghirup udara segar lagi" ucap Irfan dengan sorot mata tajam.
"Mas!" seru Fajira yang tidak senang mendengarkan ucapan suaminya. Sementara Irfan hanya mengedikkan bahunya
"Maaf ya, Pak, Bu. Kami tidak ingin memperpanjang masalah ini, karna disini Fajri yang memang melompat dari atas meja. Semoga kejadian seperti ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua," ucap Fajira tersenyum sambil menatap semua orang sagu-persatu.
Sungguh mulia sekali hari Bunda Fajri, Padahal ia bisa melakukan apapun untuk membalas kejahatan semua orang yang menyakitinya. Namun ia hanya bisa membiarkan dan mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa anaknya. Bathin penjaga sekolah.
"ma-maaf" sergah penjaga sekolah itu dengan wajah yang mulai dipenuhi keringat dingin dan pucat pasi.
Semua pandangan tertuju ke arah laki-laki paruh baya itu. Ia terlihat semakin gugup dengan pandangan yang perlahan menunduk.
"Ji-jika ada yang ingin di salahkan, saya lah orangnya. Saya yang memberi izin kepada nak Fajri untuk memperbaiki bell sekolah. Sungguh saya siap bertanggung jawab, namun tolong jangan pecat saya dari sekolah, tuan!" ucap Penjaga sekolah itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Irfan meradang mendengarkan perkataan dari laki-laki paruh baya yang baru saja mengakui letak kesalahannya.
Mata Irfan melotot dengan wajah yang garang, membuat atsmofir di dalam ruangan itu terasa mencekam. Wajah Irfan semakin memerah ketika ia kembali mengingat runtihan Fajri di hari pertama ia mengalami cidera
Aku sedikit menyesal ikut pergi menjenguk Fajri, jangankan untuk bersuara, bernafas saja aku merasa sulit dan cenderung merasa sesak. Ya tuhan kapan ini akan berakhir. bathin salah satu guru yang takut melihat ekspresi dingin Irfan.
Fajira yang menyadari ekspresi pria tampan itu langsung mengelus punggung suaminya lembut, berharap emosi itu akan reda seiring lembutnya usapan lembut tangan Fajira.
"Sudah, sayang. Kamu sudah janji 'kan sama aku" lirih Fajira lembut yang namun masih terselip sedikit rasa takut untuk menatap irfan.
__ADS_1
Huft...
Irfan hanya bisa mengontrol emosi yang tiba-tiba saja naik, ketika melihat wajah penjaga sekolah yang rasanya ingin ia telan bulat-bulat pria paruh baya itu.
"Saya sebenarnya sangat emosi karna keteledoran anda pak! Sepintar apapun anak kecil, dia tetap anak-anak, fikirannya masih belum tertata dengan baik berbeda dengan kita orang dewasa yang sudah bisa berfikir jernih. Tolong kedepannya anda bisa bersikap dan bertindak dengan lebih baik lagi, agar tidak ada terjadi hal yang membahayakan lainnya. Bukan hanya untuk anda saja, tapi untuk semua orang termasuk saya sendiri!" tegas Irfan membuat semua orang merunduk takut.
Ternyata memang benar rumor yang beredar. Tuan Irfan memang menakutkan kalau sudah emosi. semoga ini cepat berakhir. Jerit para guru di dalam hati mereka masing-masing.
...🌺🌺...
"Wah pantesan Aji bisa pinter banget. Bunda juga pinter sih" ucap Hanna berbinar senang ketika Fajira menceritakan bagaimana cara ia belajar waktu sekolah dulu.
Semua orang sudah kembali ke sekolah, namun Hanna merengek untuk tetap tinggal karna merasa tertarik dengan profesi Fajira saat ini. Dengan dukungan Irfan, para guru hanya bisa pasrah dan menghubungi orang tua Hanna lalu memberitahu mereka jika anaknya berada di rumah Fajri.
"iya, sayang. Kata Aji, cita-cita Hanna mau jadi dokter ya, nak?" tanya Fajira membuat Fajri tersedak.
"uhuk... Bunda kok bilang-bilang sih!" cemberut Fajri.
"hehe maaf, sayang" gelak Fajira menatap putranya yang tengah merona.
"Iya, bunda. Apa itu susah?" cicit Hanna pelan.
"gak susah, sayang! yang penting Hanna harus rajin belajar dan banyak membaca ya, Nak!" Fajira tersenyum dan mengusap kepala gadis kecil itu dengan lembut.
"iya, Bunda. Aku suka membaca buku tentang Ilmu Pengetahuan Alam. Mau sains, mau biologi. Aku suka, Bunda!" ucap Hanna semangat.
"bagus itu, asal jangan seperti Aji ya, Semua pelajaran suka tapi gak suka matematika, dan ilmu hitung lainnya!"
"hehe itu Aji nya aja yang kurang pinter, bunda" Hanna terkekeh melihat wajah malu Fajri.
Begitu juga dengan Fajira, ia tertawa paling besar melihat anaknya pasrah ketika Hanna berhasil menistakan kepintarannya.
Mereka masih berbincang, hingga dikejutkan oleh suara cempreng yang melengkung.
"Fajriiii!! Astaga keponakan onty, kenapa bisa seperti ini nak? maaf ya onty baru bisa melihat Aji sekarang, hiks... rambut tampan anakku!" teriak Riska histeris melihat ke adaan Fajri.
__ADS_1
Ia memeluk bocah itu sambil memperhatikan per inci tubuh berharga sang putra mahkota.
"Aji gak papa, onty. Ini udah mau sembuh kok" ucap Fajri mendelik melihat Riska yang terlalu heboh.
"Syukurlah, ini onty bawa buah-buahan kesukaan Aji, sayang. Mau onty kupasin?" tanya Fajira sambil membawa satu keranjang buah kesukaan pria kecil itu.
"terima kasih, onty. Nanti aja ya Aji makan. soalnya masih kenyang tadi di suapin sama kak hanna" ucap Fajri tersenyum sambil menunjuk gadis kecil yang ada di samping Fajira.
"eh, anak siapa ini? cantik banget!" tanya Riska berbinar ketika menyadari ada seorang gadis kecil yang ada di dekatnya.
"Aku Hanna on... ty! hehe" ucap gadis kecil itu tersenyum kikuk.
"Apa kamu pacarnya Fajri?"
Plaak!!
Fajira mengeplak bahu Riska karna mengajukan pertanyaan yang sangat tidak masuk akal baginya. Ia seakan lupa jika beberapa hari lalu, bahkan ingin mencomblangkan anaknya juga.
"huus... ngawur aja kamu kalau ngomong. Ris" ucap Fajira menggeleng.
"sakit, kak! Eh tapi onty serius, sayang!"
"kak Hanna itu teman Aji, onty. Gimana sihh kan masih kecil gak boleh pacaran-pacaran dulu. Onty aja udah gede masih aja jomblo! wleek!" ucap Fajri mengejek Riska.
jleb...
Bak senjata makan tuan, kata-kata Fajri menusuk tepat di jantungnya. Ingin rasanya ia menjerit mendengarkan mulut manis itu berkata satu hal yang sangat benar.
"jahat banget sih, Aji" cemberut Riska dan sukses membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah memperhatikan tindak tanduk gadis dewasa yang ada di sana. Ia berjalan mendekat ke arah mereka dan mengeluarkan suara bariton khas miliknya yang sangat familia di telinga Riska.
"..."
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE