
Pagi menjelang, Irfan lebih dulu mengerjapkan mata terbangun dari tidur lelap yang sudah lama tidak ia rasakan. Bibir seksi itu tidak henti melengkung sejak semalam, karna mengingat pergulatan panas yang sudah lama ia inginkan bisa terlaksana dengan lancar tanpa hambatan. Walaupun harus dengan perlahan dan menjadi motivator untuk Fajira agar istrinya bisa mengatur tekanan trauma yang juga ikut mendesak keluar.
Tangan kekar itu kini sudah beralih fungsi sebagai bantal untuk anak dan istrinya. Walaupun terasa keram, namun terhalau dengan kebahagiaan besar yang tangah menyelimutinya saat ini. Perlahan tangan Irfan mengelus kepala Fajira lembut, Ia melotot sambil tersenyum ketika melihat bekas stempel miliknya tercetak di leher mulus itu.
Hehe ganas banget ya aku. Semoga Fajri tidak bertanya-tanya nanti.
Deg...
Mata Irfan membola ketika merasakan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dengan firasat buruk yang kembali menghantui. Irfan memegang sebelah dadanya sembari berfikir.
Apa sebenarnya yang akan terjadi? kenapa dari kemarin perasaanku selalu tidak enak? Apa akan terjadi sesuatu kepada keluargaku?. Tuhan tolong lindungi kami.
"sayang,,, Sayang, bangun yuk!" Irfan mengelus kepala Fajira lembut.
"engh.. Mas, Jam berapa sekarang?"
"baru jam lima, sayang,"
"hmm... Aku mau mandi dulu" lirih Fajira dengan wajah yang merona ketika ia kembali mengingat malam panas mereka.
"Iya sayang, apa perlu aku bantu?"
"gak perlu Mas, aku bisa sendiri"
Fajira bangkit dari tidurnya dan perlahan berjalan menuju kamar mandi. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganjal pada bagian bawahnya. Namun Ia masih saja tersenyum karna malam pana syang telah mereka lalui bersama.
Sementara Irfan, jangan tanyakan lagi bagaimana keadaannya. Ia sudah mengantisipasi Fajri agar nyaman dalam tidurnya. Sebentar ia meredakan tangan yang kesemutan, setelah itu Irfan berjalan perlahan menuju kamar mandi, berharap Fajira hanya menutup pintu saja tanpa menguncinya.
Ceklek...
Ah rezeki di pagi hari ini. Sayang I'm coming. bathin irfan menyeringai mendapati pintu yang terbuka dengan mudah.
Irfan masuk perlahan dan mengunci pintu, lalu memeluk Fajira dari belakang, sehingga membuat ibu muda itu terjingkrak kaget.
"Mas!" teriak Fajira.
"sstt... nanti anak kita bangun sayang. aku bantu ya?"
"a-aku bisa sendiri Mas, kamu jangan macam-macam ya" ancam Fajira berusaha lepas dari pelukan Irfan.
"sstt... dosa lo menolak keinginan suami" fiuuhh...
Irfan meniup telinga Fajira dan sukses membuat perempuan itu meremang. Ia terdiam dengan wajah merona di sertai dengan debaran jantung yang bergemuruh.
Irfan dengan nakal membantu untuk membersihkan badan Fajira, lebih tepatnyanya ia menggerayangi tubuh sintal itu.
"Mas...," panggil Fajira dan menghentikan tangan nakal Irfan.
"Aku bisa sendiri, Kamu tunggu di luar saja!" lirih Fajira dengan wajah yang merona.
"sebentar saja ya. Mas lagi pengen banget," ucap Irfan dengan mengedipkan matanya.
"Kamu kenapa mesum banget sih" kesal Fajira melihat wajah tengil Irfan.
"Karna kamu sangat menggoda, sayang," Irfan menyerang Fajira dengan lembut dan melakukan hal itu di dalam kamar mandi.
Setelah hampir satu jam, Irfan menggendong Fajira yang sudah gemetaran dingin. Sementara laki-laki dingin itu tersenyum senang karna bisa mendapatkan jatah paginya dengan lancar.
"Kamu!, Aku gak mau kalau di kamar mandi lagi, dingin Mas!" delik Fajira kedinginan.
"Hahaha tapi kamu juga menikmatinya, sayang," Ucap Irfan.
__ADS_1
"iihh..."
Mereka saling membantu satu sama lain untuk berpakaian, hingga melupakan pria kecil yang sudah terbangun dari tidurnya. Mata Fajri yang mulai berkaca-kaca itu berusaha untuk turun dari ranjang dan mencari keberadaan Fajira.
"Bunda..." lirih Fajri.
"Bunda... hiks..." isaknya.
"iya sayang, Bunda lagi di pake baju, Langsung mandi ya nak" ucap Fajira yang beru saja keluar dari kamar ganti.
"hiks... Iya Bunda"
Fajira memandikan Fajri dengan air yang sempat ia siapkan pasca pergulatan tadi. Setelah selesai ia segera mengenakan seragam sekolah pria kecil itu dengan rapi.
"Bunda gak sempat membuatkan Aji bekal sayang, nanti beli makanan yang sehat ya nak" ucap Fajri kepada Fajri
"iya Bunda"
"Yuk kita turun" Ajak Irfan dan menggendong Fajri.
Fajira menatap Irfan dengan dahi yang mengernyit. Tidak biasanya laki-laki itu memasang wajah dingin cenderung cemas.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Fajira lembut.
"hmm? Aku gak papa sayang"
Fajira lebih dulu membuatkan Irfan kopi, beserta susu untuk dirinya dan Fajri. Beruntung Bik Yuri memasak sarapan pagi ini karna Fajira tidak kunjung keluar dari kamarnya.
Mereka sarapan dengan tenang tanpa suara. Setelah itu Irfan mengajak Fajri untuk segera berangkat ke sekolah mengingat hari sudah semakin siang. Namun sebelumnya ia menghampiri Fajira dan memeluknya erat.
"perasaanku gak enak sayang," lirihnya.
"aku gak tau, yang pasti aku takut kalau kamu kenapa-napa sayang,"
"mas, kamu yang tenang ya. Aku bisa jaga diri,"
"hmm... Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku,"
"iya mas, hati-hati ya"
"hmm..."
"Bunda Aji pergi dulu ya. Huh kenapa Aji gak mau pisah dari Bunda ya hari ini" ucapnya cemberut dan memeluk Fajira.
"Do'akan Bunda baik-baik saja ya nak,"
"iya Bunda, Love You muach..."
"Love You to sayang. muach...."
Fajira menunggu Irfan dan Fajri menghilang dari pandangannya, barulah ia berangkat bersama driver menuju ke kampus.
Kenapa Mas Irfan dan Fajri bisa berfikiran sama seperti itu? apa akan terjadi sesuatu?. Semoga saja tidak ada hal serius yang terjadi nanti.
Mobil perlahan berhenti di lobi Fakultas Kedokteran, Fajira segera turun dari sana dan melangkah menuju kelasnya. Seperti hari kemarin, ia masih menjadi pusat perhatian dari mahasiswa yang ada di sana. Bisik-bisik tetangga mulai terdengar duuh telinganya, namun selagi belum berbuat jahat ia tidak akan mengambil langkah lain.
Apa Mas Irfan tidak mengirim bodyguard yang kemarin ya?. Semoga saja tidak terjadi apa-apa nanti. Bathin Fajira juga ikut terfikir tentang omongan Irfan dan Fajri tadi pagi. Ia terus melangkah menuju ruangan dan mulai belajar seperti biasanya.
Sementara di sekolah Fajri, mereka baru saja sampai dan Irfan mengantarkan pria kecil itu sambil menggendongnya.
"Ayah," panggil Fajri.
__ADS_1
"Apa sayang?"
"Aji kok tiba-tiba kangen sama Bunda ya?"
"Ayah juga sayang, Besok weekend kita jalan-jalan ya nak,"
"iya ayah,"
"belajar yang rajin ya, Nanti ayah jemput lagi,"
"iya ayah, Ayah nanti hati-hati di jalan ya,"
"Iya sayang,"
Fajri mencium tangan Irfan dan melangkah masuk ke dalam kelasnya. Setelah memastikan Fajri aman ia langsung pergi ke kantor karna pagi ini akan ada meeting bersama dengan rekan bisnis barunya.
"kita ke kantor pak"
"baik tuan"
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang menuju Kantor Dirgantara CORP. Setelah beberapa menit, Irfan tiba di kantornya dan segera menuju ke ruang meeting untuk membahas kelanjutan dari proyek besar yang sedang mereka rencanakan.
"Selamat pagi Pak Bayu" sapa Irfan didalam ruangan sambil menjabat tangan laki-laki paruh baya itu.
"Selamat pagi Tuan Irfan, Selamat atas pernikahan anda"
"iya pak terima kasih banyak. silahkan duduk"
"iya terima kasih. Saya tidak menyangka jika anda sudah lama menikah dan baru mengangkatnya ke publik setelah sekian tahun, bahkan anda juga sudah memiliki seorang putra"
"iya pak, semua saya lakukan untuk istri saya yang hanya ingin menikmati masa mudahnya tanpa iming-iming nama keluarga saya. Bisa kita mulai?"
"bisa Tuan"
Pak Bayu tersenyum masam kearah Irfan yang sudah sukses dan memilik istri cantik di usia yang sangat muda ini. Ia masih menatap Irfan remeh hingga meeting pagi itu selesai.
drrttt... ddrrtt...
"halo pak, ada apa?" tanya Irfan mengangkat panggilan dari Pak Sakti driver Fajira.
"i-itu tuan, Nyonya menghilang" ucap Pak sakti panik
"APAAAAA?!! bagaimana bisa?!!" teriak Irfan kaget.
"..."
πππ
TO BE CONTINUE
huft... huft...
Belum lagi nulis kelanjutannya udah tegang gais, udah deg-degan π©
Yuk koment di bawah kira-kira Fajira kenapa ya π€π€
Terima kasih banyak author ucapkan kepada para readers yang sudah mau membaca karya ku, mendukung dengan cara terbaik dari teman-tan semua. Alhamdulillah Fajri sudah masuk 20 besar. yeeei ππ
"terima kasih banyak kaka, om, tante semangaaaat!!" ucap Fajri
__ADS_1