
Tok... tok... tok...
"tuan makan siangnya sudah siap" panggil bibi gugup.
"tuan"
"engh... iya bi" sahut Irfan dari dalam kamar.
Sungguh semua pekerja yang berada di rumah itu penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Mulai dari kedatangan Fajira dan kemunculan pria kecil yang mirip dengan Irfan. Bibi Yuri begitu panggilannya, ia sudah bekerja dengan keluarga Dirgantara semenjak Irfan masih kecil. Tentu saja ketika melihat Fajri, mengingatkan Bi Yuri kepada Irfan waktu kecil dulu. Sehingga ia berspekulasi ada yang terjadi antara irfan dan perempuan tadi.
"ya tuhan semoga ini bukan suatu bencana" Ucap bibi melangkah dari depan pintu.
Sementara di dalam kamar, Irfan masih setia memeluk dua malaikat yang paling ia sayang. Mengelus lembut dua kepala yang tengah bersandar di dadanya membuat laki-laki itu menghangat. Irfan mendekap Fajira di sampingnya dengan Fajri yang berada di tengah-tengah mereka.
Aku harus segera menikahimu sayang.
Laki-laki itu tidak hentinya tersenyum dan bersyukur atas apa yang ia dapatkan hari ini. Harta yang berlimpah, seorang anak dan wanita yang paling ia cintai sudah di temukan, walaupun harus mengalami perdebatan yang sengit. Tetapi ia bersyukur karna semua ini bisa di lalui dengan sangat baik.
"engh... Bunda peluk" rengek Fajri dalam tidurnya karna tidak merasakan pelukan hangat dan lembut dari Fajira.
"bundaa" rengeknya lagi.
"iya sayang sini" lirih Fajira setengah sadar.
Fajri merangkak dengan mata yang tertutup masuk ke dalam dekapan ternyaman dan kembali terlelap. Irfan hanya terkekeh dengan mata yang berkaca-kaca melihat pemandangan itu.
Betapa ruginya aku pernah menolak kehadiran malaikat kecil ini. Maafkan Ayah karna pernah menolak kehadiran Aji sayang.
Irfan kembali mengusap kepala Fajri dan mengecup kepala Fajira. Ia tidak ingin momen seperti ini berakhir begitu saja, karna sangat tidak mungkin Fajira masih mau jika ia peluk seperti ini lagi. Namun rasa lapar mengalahkan semuanya, hingga Irfan terpaksa membangunkan dua insan yang tengah berpelukan dengan nyaman itu.
"sayang, bangun yuk" Ucap Irfan membelai kepala Fajira dengan lembut.
"sayang, Fajira"
"hmm iya" lenguh Fajira. Ia mengerjab merasakan pelukan hangat dengan dada bidang yang sedang mendekapnya. Mata bulat nan indah itu melotot ketika mengingat siapa yang tengah mendekapnya saat ini.
"kenapa sayang?" tanya Irfan genit sambil mengerlingkan matanya.
"ka-kamu, dasar tidak tau malu! berani-beraninya anda mencari kesempatan dalam kesempitan" ketus Fajira namun tidak memindahkan posisinya karna Fajri masih terlelap.
"bukan sayang, tapi memang tadi kamu gak menolak uluran tanganku kan"
"ih" Fajira mendelik dan mengubah posisi Fajri agar ia bisa bangun dari pelukan yang nyaman itu.
Fajira memang merasakan kenyamanan di dalam pelukan Irfan, sehingga membuatnya tanpa sadar sedikit menginginkan lebih lama berada dalam pelukan itu, namun ego dan gengsi yang cukup tinggi membuatnya terpaksa harus mengakhiri kenyamanan yang di tawarkan oleh Irfan.
"Fajri sayang, bangun yuk nak. sudah siang" seperti biasa usapan lembut dan suara yang merdu membelai tubuh kecil imut dan lucu milik Fajri.
"peluk" ucap Fajri manja. membuat Irfan kembali berkaca-kaca melihat ibu dan anak yang saling menyayangi itu.
"iya tapi habis ini bangun ya"
__ADS_1
"iya bunda. Aji masih ngantuk" Ia kembali menutup mata dalam pangkuan Fajira yang sudah duduk di atas ranjang.
"makan dulu yuk nanti bobok lagi"
"iya bunda" dengan malas Fajri bangun dan duduk di atas pangkuan Fajira, matanya membola melihat Irfan yang masih bersandar dan tersenyum menatapnya.
"sudah bangun anak ayah?"
"sudah Ayah" cicitnya pelan dengan wajah yang merona.
"kenapa jadi blushing gitu sayang? sini peluk Ayah dulu" tanya Irfan terkekeh.
"Aji malu Ayah" cicitnya pelan namun masih merangkak masuk ke dalam pelukan Irfan.
"huh ayah pasti rugi banget ya, karna tidak menyaksikan tumbuh kembang Aji. Tapi hari ini Ayah janji akan selalu ada untuk Fajri. Selalu memeluk Aji seperti ini. Aji mau nak?"
"mau Ayah, tapi sama Bunda juga ya" ucapnya berbinar dan tersenyum.
"iya, kita akan seperti ini setiap hari. Itupun kalau Bunda mau" Ucap Irfan sendu dan melihat ke arah Fajira begitu juga dengan Fajri ia menatap bundanya dengan penuh harap.
"apa? kenapa?" ucap Fajira pura-pura tidak mendengar.
"gak kenapa-napa kok" jawab Irfan santai.
"Aji, Bunda mau pulang, Aji mau disini dulu?"
"kenapa pulang sayang?" tanya Irfan membuat Fajira mendelik karna mendengar panggilan sayang itu meluncur dari mulutnya.
"Gimana sayang? Aji mau ikut bunda?"
"hah... Ya sudah. Tapi kita makan dulu ya" ucap Fajira mengalah.
"boleh Bunda?"
"iya boleh, yuk kita turun"
"iya, yuk Ayah kita turun"
"iya sayang" Irfan menggendong Fajri dengan berjalan keluar kamar dan meninggalkan Fajira sendiri, sementara perempuan itu hanya mendelik kesal melihat laki-laki bajing*an yang tengah menggendong anaknya.
"Ayah, Bunda masih di dalam" ucap Fajri melihat Fajira yang masih berdiri di dalam kamar
"eh iya ayah lupa. sini Bunda, Ayah gandeng biar gak jatuh" ucap Irfan terkekeh.
"gak perlu" ketus Fajira dan berjalan lebih dulu.
Ayah dan Anak itu terkekeh melihat Fajira yang seolah terlupakan.
"sayang jangan ngambek dong" goda Fajri.
"iya kalau ngambek nanti gak cantik lagi" tambah Irfan. Hal itu sukses membuat Fajira berhenti dan berbalik menghadap mereka.
__ADS_1
"hehe Bunda cantik, bidadari Aji dan Ayah. Jangan marah ya muach" ucap Fajri sedikit takut melihat Fajira namun masih menggodanya dengan melayangkan kiss bye ke arah wanita itu.
"huh" delik Fajira dan kembali berjalan turun.
"hahaha" gelak Irfan dan Fajri yang sukses membuat Fajira kesal.
Mereka segera berjalan menuju ruang tamu. Fajira cukup canggung melihat tatapan semua orang yang berada di rumah itu, ia hanya tersenyum kikuk kepada mereka. Irfan yang melihat itu langsung mengambil kebijakan untuk mengumpulkan semua pekerja yang ada di dalam rumahnya.
"semuanya tolong berkumpul sebentar" ucap Irfan tegas dan lantang.
"Ayah mau ngapain?" tanya Fajri.
"Ayah mau mengenalkan Aji dan bunda nak"
"Perhatian semuanya, Mungkin sebagian dari ibu dan bapak semua bertanya-tanya siapa wanita yang berada di samping saya dan anak kecil yang sedang saya gendong.
Perkenalkan ini Fajira dan dia akan menjadi nyonya di rumah ini. Dan ini anak saya Fajri, Anak biologis saya. Jadi tolong perlakukan mereka sebagai nyonya dan tuan muda yang sah di rumah ini. Paham?" ucap Irfan tegas dan berhasil membuat Fajira merona dan sedikit tersentuh dengan perlakuan laki-laki itu, tak lupa Irfan juga menggenggam tangan Fajira lembut.
"paham tuan" ucap semua pekerja di rumah itu.
"silahkan kembali bekerja"
"baik tuan, nyonya kami permisi dulu"
"yuk sayang, kita makan" ajak Irfan sambil menggandeng tangan Fajira yang masih melongo karna mendengar ucapan Irfan tadi.
"Sayang duduk sini" laki-laki itu bersikap manis dengan menyiapkan kursi untuk Fajira dan melayani mereka dengan baik.
"Sayangnya ayah mau makan pake apa nak?"
"hmm Biar Bunda aja yang ambil ayah" cicit Aji malu.
"apa Aji malu sayang? Ini rumah Aji lo rumah ayah, rumah Bunda juga. Jadi jangan malu ya nak haha" Irfan tergelak melihat anaknya yang mengemaskan.
"Gak papa biar aku aja yang mengambilkan Fajri makan. Aji mau bunda suapi?"
"Mau bunda... Tapi apa boleh Aji di suapi oleh Ayah?" ucapnya penuh harap.
"boleh sayang boleh banget. Justru ayah sangat menantikan itu" ucap Irfan langsung dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
Irfan perlahan menyuapi Fajri dengan hati-hati, memastikan anaknya tidak tersedak tulang atau hal semacamnya. Sesekali ia juga menawarkan Fajira untuk di suapi namun perempuan itu menolak sambil mendelik kesal.
Kehangatan dan kelembutan yang Irfan berikan, perlahan membuat Fajira mengenal laki-laki bajing*an itu.
Dia pria yang berhati hangat, aku bersyukur dia bisa menerima Fajri, satu hal yang harus aku pastikan jika Irfan tidak akan menguasai Fajri dan merebutnya dariku.
Makan siang itu menjadi makan siang yang sangat berkesan bagi Irfan, karna untuk pertama kalinya ia merasakan bagaimana rasanya makan bersama dengan anak dan calon istrinya.
Perlahan Air mata irfan menetes karna merasakan kehangatan yang ia rindukan. Namun tidak ingin mengganggu suasana, Irfan segera menghapus air matanya agar tidak menjadi bahan pertanyaan oleh Fajri nanti. Dan hal itu tidak lepas dari pandangan Fajira yang perlahan mulai membuka hati untuk Irfan.
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Mereka sudah bersama gais, yuk simak terus bagaimana proyek Irfan mengambil hati Fajira.