Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
129. Semoga Berjodoh


__ADS_3

Di kantor Dirgantara Corp, Irfan mengernyit bingung ketika Fajira tidak membalas ungkapannya dan malah mematikan panggilan itu sepihak.


"kenapa kamu marah sih?, kan semuanya juga untuk kamu dan anak kita!" ucap Irfan kesal.


ceklek...


"tuan, meeting akan di mulai 15 menit lagi. Semuanya sudah saya persiapkan!" ucap Ray yang masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Iya, sebentar lagi saya akan ke sana!" ucap Irfan masih memperhatikan ponselnya.


"baik tuan, kalau begitu saya permisi terlebih dahulu," ucap Ray berbalik dan hendak keluar dari ruangan mewah itu.


"tunggu, Ray!" cegah Irfan dengan cepat sebelum laki-laki itu melangkah keluar.


"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"


"apa kamu mengantarkan Riska pulang ke kontrakannya dengan selamat kemarin?" tanya Irfan menatap Ray intens.


"Iya, tuan. Saya mengantarkan nona Riska dengan selamat kemarin,"


"lalu apa jawabannya?"


"hmm,,, dia meminta waktu satu minggu, tuan!" Ucap Ray.


Sebelumnya ia memang sudah membicarakan hal ini kepada Irfan, karna bagaimanapun ia tidak memiliki pengalaman bagaimana cara melamar seorang perempuan, maka dari itu ia meminta saran dari Irfan dan Fajira.


Namun Ray, tetaplah Ray. Laki-laki dingin yang hanya bisa memperlakukan ibu dan adik-adiknya seperti manusia biasa.


"bagus lah kalau begitu. Semoga kalian berhasil. Dia gadis yang baik, Ray! jangan kamu sia-sia 'kan dia setelah kamu mencobanya kemaren" ucap Irfan santai.


deg...


Sial! aku melupakan keberadaan cctv itu. Pasti anda akan puas meledek saya, tuan!. Jerit Ray di dalam hati.


"mak-maksud tuan?" ucap Ray gugup.


"Kamu tidak usah mengelak Ray! bukankah kamu tau jika di sana ada cctv? saya tidak menyangka jika kamu seberani itu! padahal selama kita kenal, saya tidak pernah melihat kamu dekat dengan wanita manapun!" ucap Irfan sambil berdiri.


"Jika kamu berani mencoba. berarti kamu siap untuk merasakan kecanduan yang sangat susah untuk kamu hentikan!" sambung Irfan.


Ia berjalan lebih mendekat ke arah Ray. Irfan menatap laki-laki yang lebih tua dari pada dirinya dengan lekat.


"Jaga dia, jangan sampai kamu mengecewakannya,... kak! Dia wanita yang baik untukmu!" Ucap Irfan tersenyum sambil menepuk bahu Ray.


Sementara laki-laki itu terkejut dengan panggilan yang keluar dari mulut Irfan. Matanya membola dan kembali mengingat, apakah benar Irfan memanggilnya dengan sebutan kakak, atau hanya halusinasi saja.


Apa aku tidak salah dengar? tu-tuan Irfan memanggilku dengan sebutan kakak? tuhan sadarkan aku segera dari hayalan ini!. Bathin Ray terkejut dan sangat tidak percaya.


"sampai kapan kamu akan berdiri di sana Ray? bukankah sebentar lagi kita akan mengadakan rapat?" ucap Irfan sambil menahan tawanya.

__ADS_1


Tanpa menjawab ucapan Irfan, Ray segera beranjak dari sana dan menyusul Irfan menuju ruang meeting.


Mereka memulai meeting untuk membahas kelanjutan pembangunan Rumah Sakit pertama Dirgantara, yang di bangun atas nama Fajira.


Irfan tersenyum puas melihat kinerja semua orang yang terlibat. Ia berencana akan meresmikan rumah sakit tepat di hari ulang tahun Fajira pada akhir tahun ini.


Sebelum pembukaan, ia harus memastikan kembali jika rumah sakit itu layak untuk beroperasi pada awal tahun depan.


Semoga kamu suka dengan hadiah dari aku sayang. Sekarang aku tinggal memikirkan hadiah untuk ulang tahun putra kebanggaanku pada pertengahan tahun depan. Bathin Irfan.


Ia tersenyum dengan kebahagiaan yang selalu menyelimutinya. Ia terus memberikan beberapa perencanaan yang akan mereka lakukan setelah ini. Hingga rapat berakhir, Irfan dan Ray masih berada di dalam ruangan itu karna akan mengikuti rapat selanjutnya.


🌺🌺


Sementara di sekolah, Fajira tengah menyuapi Fajri bekal yang ia bawa dari rumah tadi. Pria kecil itu baru saja memasuki jam istirahatnya. Dengan bantuan dari Pak sakti, Fajri bisa berpindah dari kelas menuju tepat duduk yang ada di bawah pohon dimana Fajira tengah bersantai.


"Ini untuk kakak!" Ucap Fajri menyerahkan satu kotak bekal yang sengaja di bungkus untuk gadis itu dari rumah.


"wah, terima kasih Aji, terima kasih Bunda," Hanna tersenyum manis karna ia memang menyukai masakan Fajira yang sangat enak menurutnya.


"Habiskan ya, Na!. Jangan bersisa" ucap Fajira mengelus kepala gadis manis itu dengan lembut.


"iya bunda"


Mereka makan dengan lahap, sambil berbincang ringan di bawah rindangnya pohon itu. Hingga mereka di kejutan dengan kedatangan Ziyyad dan Bagas yang saling mendorong satu sama lain agar bisa mendekat ke arah Fajri.


"hemm... Fajri" panggil Ziyyad dengan sedikit takut karna ada Fajira di sana.


"itu, hmm... kami mau minta maaf karna sudah memaksa kamu waktu itu," ucap Bagas meminta maaf sambil menunduk. Bagaimanapun juga mereka bersalah dalam hal ini.


"gak papa, Bang. namanya juga musibah. Justru Aji sedih kenapa abang gak datang untuk menjenguk Aji. Padahal orang tua abang datang waktu itu ke rumah" ucap Fajri sendu.


"apa kamu gak marah, Ji? kita sudah bikin kamu celaka lo!" ucap Ziyyad tidak percaya.


"Aji gak marah lo, bang! sini yuk makan sama Aji. Kata Bunda kita harus saling memaafkan, karna kita itu berteman. Iya 'kan, Bunda?" ucpa Fajri tersenyum.


"iya, sayang. Sini Bagas, Ziyyad. Kita makan bareng!" Ajak Fajira.


"apa Bunda gak marah sama kami?" Dua pasang mata bulan itu mentapa Fajira lekat dan tidak percaya.


"gak, nak! justru Bunda marah kalau kalian gak segera duduk di sini dan mencoba masakan bunda!" ucap Fajira tersenyum.


"terima kasih!" ucap Ziyyad dan Bagas bersamaan.


Mereka memeluk Fajri bergantian dan mencium tangan Fajira sebagai bentuk permintaan maaf mereka.


Ahh, putra kecilku di usia yang baru beranjak 5 tahun, ia memiliki pemikiran yang sangat dewasa! Sekarang Dia sudah bisa memaafkan orang lain dengan kesalahan yang sulit untuk di maafkan. Sepertinya aku butuh anak dengan IQ yang normal saja agar bisa mencerna apapun yang terjadi debgan anakku. bathin Fajira senang dengan sikap Fajri terhadap teman-temannya.


Mereka masih memakan bekal masing-masing dan saling bertukar menu, Hanya ada kebahagiaan yang terpancar jelas dari mereka pada pagi menjelang siang itu.

__ADS_1


Hingga ponsel Fajira berdering, terlihat di sana Riska tengah memanggilnya.


"halo Ris. Ada apa?" yaya Fajira mengernyit


"Kakak sibuk gak?"


"Aku lagi di sekolah Fajri, Ris. Ada apa?"


"Kak, gimana ya. aku bingung mau mulai dari mana, bingung mau jawab apa!" ucap Riska erdengar sendu.


"Ya kamu tinggal tanya hati kamu seperti apa, Cinta gak sama dia. sayang gak sama dia?. Jangan hanya karna dia tampan terus langsung saja menerima! Walaupun waktu nya singkat, tapi aku rasa itu tidak terlalu cepat untuk mendapatkan jawaban atas lamaran kamu kali ini" ucap Fajira lembut


"aku masih ragu kak, aku bingung sekarang!"ucap Riska sendu.


"orang tua kamu sudah tau?"


"belum kak, aku takut bilang sama mereka, gak ada angin gak ada hujan aku pulang membawa seorang laki-laki. Ya pasti mereka bilangnya aku sudah hamil juga! aku jdi bingung!"


"kamu mau gak sama dia?" pertanyaan Fajira membuat Riska terdiam.


"mau kak!" jawabnya pelan setelah cukup lama berfikir


"ya sudah, kalau mau tinggal bilang sama orang tua kamu!. Ma, Pa ada laki-laki yang ingin berniat serius kepada ku. Dia akan datang minggu depan! Terus kalau mereka nanya ya tinggal di jawab apa adanya!"


"Huft... aku takut kak!. Apa kak Ray laki-laki yang baik?"


"Aku jamin. dia laki-laki yang baik Ris. hanya saja dia workaholic. Selebihnya dia laki-laki yang sempurna. Gak jauh beda dari mas Irfan!"


"Aku takut kak! Kakak 'kan tau aku gak bisa ngapa-ngapain!"


"eh gak usah mikir yang macam-macam. Sekarang ART banyak Ris. kamu hanya perlu menjawab pertanyaan kak Ray dengan tegas dan lantang! Jangan terlalu lama! kalau kamu sudah yakin langsung bungkus!"


"huh, semoga saja dia laki-laki yang tepat untukku"


"aamiin. semangat ya Ris, nanti kasih tau aku bagaimana hasilnya!"


"iya kak. terima kasih banyak ya!"


"iya. aku tutup ya"


"iya kak"


tut..


Ibu hamil itu tersenyum senang karna Riska sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.


Semoga kalian berjodoh!.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2