Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
231. Malam Pertama


__ADS_3

Segala macam Pesta sudah selesai. Pernikahan Fajri masih menjadi perbincangan hangat di media nasional dan internasional.


Sore ini Fajri, Safira, Ivanna dan Raisa akan terbang ke Jerman untuk berlibur sekaligus untuk menyelesaikan masalah di perusahaan Fajri.


"Dek, kamu ngapain ikut, sayang?" tanya Fajira tidak habis fikir dengan anak gadisnya ini.


"Dede mau liburan, Buna. Nanti tolong titipkan surat izin Dede ya, Dede sayang Buna. Love You. Dede juga sayang, Ayah!" pamit Ivanna, melangkah pergi menuju pesawat.


Fajira hanya bisa menghela nafas sambil memijit kening. Kepalanya lebih sering berdenyut ketika menghadapi tingkah Ivanna yang begitu banyak.


"Bunda, Ayah, onty Abang pergi dulu, bawa adek-adek!" ucap Fajri pamit.


"iya, hati-hati ya nak! jaga istri dan adek-adekmu!" ucap Fajira.


"iya, Bunda!"


Mereka berpamitan untuk pegi ke Jerman menggunakan jet pribadi. Safira terlihat gemetaran karna ini pertama kalinya ia menaiki besi terbang itu.


"Apa kamu takut?" tanya Fajri.


"i-iya, kak. Aku belum pernah naik ini sebelumnya!" lirih Safira.


"jangan takut, sayang. Ada aku!" ucap Fajri tersenyum sambil mengecup kepala Safira.


Mereka sudah masuk ke dalam pesawat. Fajri membantu istrinya untuk memakai seatbelt agar lebih aman.


Tak lama pesawat segera take off dan terbang mengudara. Membawa mereka menuju Negara Jerman selama 18 jam kurang lebih.


Ivanna dan Raisa memilih untuk tertidur, badan mereka yang begitu letih karna acara pernikahan Fajri baru saja selesai. Sementara pria tampan itu malah menatap istrinya penuh damba, ingin rasanya ia menerkam gadis itu saat ini juga.


"kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Fajri gemas melihat tingkah Safira.


"hmm? telingaku pengang, kak!"


"itu hal yang biasa karna tekanan udara yang berbeda!" Ucap Fajri tersenyum.


Ia menatap Safira lekat, karna sudah tidak tahan, Fajri menarik kepala Safira dan membungkam bibir cerry istri cantiknya itu.


Safira yang terkejut hanya bisa terdiam sambil berusaha untuk membalas serangan Fajri. Setelah cukup lama, mereka melepaskan pagutan itu dan saling menatap satu sama lain.


"Istriku, aku mencintaimu!" ucap Fajri dengan menyatukan kepala mereka.


"Aku juga mencintaimu, kak! Suami tampanku." ucap Safira lirih dengan wajah yang merona.


Mereka terus berpegangan tangan sambil bercerita. Ketika lelah mendera baik Fajri maupun Safira memilih untuk beristirahat. Menyiapkan tenaga untuk malam bersejarah bagi mereka nanti.


Sudah 18 jam pesawat mengudara, akhirnya pesawat itu mendarat di landasan khusus milik Dirgantara. Safira berdecak kagum melihat keindahan negara orang secara langsung.


Fajri hanya bisa tersenyum melihat sikap istrinya. Sementara dua bocil perempuan itu sudah heboh untuk menyusun jadwal jalan-jalan mereka.


Ivanna memang sering datang kesini bersama Fajri jika gadis itu tidak memiliki halangan lain. Ibarat kata, Ivanna tumbuh besar di bawah keteknya Fajri. Jadi kemanapun pria tampan itu pergi, Ivanna akan selalu mengikutinya.


"Kita kemana, bang?" tanya Ivanna yang sudah sangat tidak sabar untuk merebahkan dirinya.


"Ke apartemen yang dekat kantor saja, dek! biar gak susah nanti!" ucap Fajri.


"Baiklah!"

__ADS_1


Orang suruhan Fajri sudah menunggu di luar bandara untuk menjemput Tuannya. Mereka segera menaiki mobil dan menuju ke apartemen untuk beristirahat.


Mata Safira menatap gedung-gedung bertingkat itu dengan berbinar. Berbagai pemandangan yang indah di kota Jerman ketika malam hari terekam jelas dimatanya.


"Besok pagi. Kemungkinan Abang akan langsung berangkat ke pengadilan. Kalian temani kakak jalan-jalan ya!" ucap Fajri.


"kakak, gak ikut?" tanya Safira dengan raut wajah kecewanya.


"Apa kamu mau ikut ke pengadilan?" tanya Fajri.


"Gak usah, kak. Abang seram kalau sudah di pengadilan! kakak nanti pasti akan ketakutan!" ucap Ivanna serius.


Safira menatap Fajri lekat dengan penuh tanda tanya. Sementara Fajri hanya bisa tersenyum menatap istrinya.


"baiklah, Aku tinggal saja!" ucap Safira lirih.


Tak lama, mobil berhenti di gedung apartemen yang paling mewah di Jerman. Safira menatap kagum apa yang tengah dilihatnya. Fajri segera memboyong mereka menuju kamarnya yang ada di lantai 10.


"Raisa dan Ivanna tidur di kamar tamu, ya!" ucap Fajri.


"Iya, bang!" ucap mereka patuh dan segera pergi ke kamar tamu.


Fajri segera melangkah menuju kamarnya bersama dengan Safira dan tak lupa mengunci pintu. Gadis itu masih terpana dengan kemewahan yang ada di dalam kamar Fajri.


"Sayang!" panggil Fajri sambil memeluk Safira dari belakang.


"Iya, Kak?" ucap Safira tersadar dari lamunannya.


"Apa kamu lelah?" tanya Fajri lirih di dekat telinga Safira.


"Sayang?" Panggil Fajri sambil membalikkan tubuh Safira yang masih menunduk.


"Apa aku boleh memilikimu seutuhnya?" tanya Fajri memegang kedua belah pipi Safira dan menatap mata indah nan teduh itu.


Glek,...


Tak ada sahutan, Safira hanya diam dan mengangguk, sebagai simbol jika Fajri boleh memilikinya. Sambil tersenyum, ia meraup manisnya bibir cerry Safira yang selalu menggoda untuk dikecup.


Cup,...


Bibir itu menyatu dengan lembut, samakin lama, ciuman itu terasa semakin panas dan menggairahkan. Naluri mereka sebagai manusia bangkit dengan cepat.


Safira membalas ciuman Fajri tak kalah panas, dan membuat pria tampan itu semakin bersemangat. Ia merebahkan tubuh Safira di atas ranjang dengan perlahan dan menatap Safira dengan tatapan penuh damba.


"Apa kamu siap, sayang?" tanya Fajri memastikan.


"A-aku siap, kak. Aku milikmu, datanglah dan aku akan menemanimu sampai kapanpun!" ucap Safira tersenyum dengan nafas yang menderu.


Fajri tersenyum dan kembali mengecup bibir Safira dengan panas. Ia harus memiliki gadis cantik itu saat ini juga.


Decapan demi decapan terdengar di kamar yang kedap suara itu. Fajri mulai berani meraba setiap inci tubuh istrinya dengan lembut. Meremaas, apa yang bisa ia remaas, mengusap apa yang bisa ia usap.


Fajri melakukan Foreplay dengan lembut namun menuntut, ia harus menunggu Safira siap terlebih dahulu agar istrinya tidak terlalu kesakitan nanti.


Sambil membuka satu-persatu kain yang melekat di tubuh mereka, Fajri memberikan kesempatan kepada Safira untuk menikmati tubuhnya yang sudah terbungkus selama 20 tahun.


"sshhh,... kak!" desaah Safira ketika ia merasakan sesuatu yang hendak mengalir dan keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Fajri kembali merebahkan Safira, dan membantu istrinya dengan memasukkan dua buah jari kedalam Goa yang masih suci itu.


"aakhhh!" lenguh Safira sambil menggelinjang ketika cairan hangat itu membasahi 'Apelnya'.


Fajri tersenyum melihat wajah frustrasi istrinya. Ia menatap Safira dengan gemas ketika gadia cantik itu menggigit bibirnya dan terlihat sangat sensuaal.


"Apa boleh aku memulainya, sayang?" tanya Fajri.


Ia ingin memastikan jika safira memang benar-benar siap untuk melakukan penyatuan mereka.


"Iya, kak. Aku siap!" ucap Safira lirih.


Fajri kembali menindih Safira dan mmenciumnya dengan lembut sambil berusaha untuk memasukan pisang laras panjang yang sudah berdiri menjulang dan siap mengobrak-abrik gua suci itu.


"Akhh, kak!" desis Safira ketika merasakan sesuatu yang tumpul berusaha untuk memasukinya.


Sempit sekali! apa aku paksa saja ya?. Batin Fajri sedikit kesal, karna ia udah sangat tidak sabar untuk menyatu dengan Safira.


Fajri mengangkat paha Safira agar bisa membuka jalan agar pisangnya bisa masuk ke sarang dengan sempurna.


"tahan sedikit, sayang!" ucap Fajri sediki memaksa.


Jleb!


"sakit!" lirih Safira dengan air mata yang mengalir, ketika mereka telah menyatu.


"Sakit, sayang? Maafin, aku!" ucap Fajri.


Ada rasa bersalah dan bangga datang secara bersamaan. Ia merasa bersalah karna sudah membuat Safira tidak lagi gadis, namun ia bangga karna Safira menjaga dirinya dengan baik dan menyerahkan mahkota itu hanya kepadanya.


"Lanjut, sayang?" tanya Fajri dengan nada sensualnya.


Safira mengangguk pelan dan berusaha untuk menahan rasa sakit, sebelum kenikmatan datang melanda.


Untuk pertama ini, Fajri berusaha agar bisa bermain lembut agar Safira tidak merasa takut dan trauma.


Hampir satu jam mereka bergelut di atas ranjang dengan keringat yang bercucuran. Fajri akhirnya menumpahkan cairan putih dan kental itu, di dalam goa Fajira, bibit unggul calon penerus keluarga Dirgantara.


"Terima kasih, telah menjaganya untukku, hanya untukku!" ucap Fajri tak henti mengecup wajah Safira.


"Sama-sama, kak. Ini sebagai bukti cintaku kepada suami. Kepada, kakak! sshh,..." ucap Safira lirih.


Fajri memeluk Safira sambil mengecup keningnya dengan lembut. Ia merasa sangat bahagia karna sudah memiliki teman hidup.


Semoga kalian bisa tumbuh dengan cepat di dalam perut Bunda ya, sayang! Ayah menunggu kehadiran kalian secepatnya. ucap Fajri tersenyum sambil membelai lembut perut Safira.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


udah lama gak nulis beginian! πŸ™ˆπŸ™ˆ


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, gais.


Sesuai prediksi, aku akan sibuk hari ini! Cuma bisa Update 1😩😒


Stay tune πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2