Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
115. Mak Comblang


__ADS_3

Di kantor Irfan, pria tampan itu kembali berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang membuat ia harus berjauhan dari anak dan istrinya.


Namun ada satu hal yang menarik, ia memilih untuk memanggil Ray agar bisa membahas kejadian kemarin yang membuatnya cukup terkejut dan tergelak.


tuut...


"Ray, tolong ke ruangan saya sebentar" ucap Irfan memalui sambungan interkom.


"baik tuan"


Ia tersenyum sambil menyusun kata dan rencana yang akan ia lakukan setelah ini.


tok... tok... tok...


"masuk Ray"


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" ucap sekretaris andalan Irfan itu.


"iya, duduklah!" ucap Irfan.


Ray dengan patuh mengikuti perintah dari atasannya. Ia duduk berhadapan dengan Irfan yang dipisahkan oleh sebuah meja besar.


" kemaren kamu kemana, Ray?"


"saya hanya di kantor dan pulang ketika jam pulang kantor, tuan"


"Kemarin Riska mengatakan jika ia diikuti oleh sebuah mobil waktu pulang dari kampus." ucap Irfan santai sambil melihat ekspresi Ray.


deg...


Ap-apa tuan tau kalau itu aku?. Bathin Ray terkejut mendengar ucapan Irfan.


Kena kamu Ray. Seringai Irfan muncul menghias di bibirnya ketika mendapati ekspresi terkejut Ray.


"ia juga meminta Fajri untuk melacak siapa yang tengah mengikutinya," Tambah Irfan membuat Ray semakin tersudut.


"Mobil yang mengikuti Riska kemarin, mobil yang sangat saya kenali siapa pemiliknya. Karna mobil itu hadiah dari saya" ucap Irfan menahan tawanya.


Ray semakin tersudut. Ia semakin tidak bisa membantah nanti jika Irfan bertanya lebih lanjut mengenai hal ini.


"Ray?" panggil Irfan meminta jawaban dari pria yang lebih tua darinya itu.


"i-itu saya tuan!. Sa-saya hanya memastikan jika Nona Riska pulang dengan keadaan selamat" ucap Ray Gugup.


"kamu tidak usah berbohong Ray, apa kamu menyukainya?. Jika ia saya dan Fajira akan membantu" tawar Irfan sambil mengamati wajah Ray yang sudah merona.


"ti-tidak tuan. Saya tidak menyukainya" ucap Ray menyelipkan keraguan didalam ucapannya.


"kenapa kamu terlihat ragu seperti itu? ini bukan Ray yang saya kenal" sindir Irfan.


"lagian, tidak ada salahnya juga jika kamu mengatakan iya. Bukankah saya sudah meminta kamu untuk menikah?. Bahkan saya akan menawarkan bantuan untuk mendekatkan kalian" sambung Irfan cukup serius.


Ray terdiam, ia memang sedikit memiliki ketertarikan kepada Riska. Namun ia takut jika pekerjaan akan membuatnya menyakiti gadis manis itu dan juga mengabaikannya.


"Saya merasa belum mampu tuan! saya takut, bukannya membahagiakan Riska, nanti saya malah menyakitinya," terang Ray yang mulai mengakui perasaannya.

__ADS_1


"kenapa? Apa karna kamu asisten saya?" tanya Irfan dan membuat Ray terdiam.


"memang pekerjaan yang kita geluti sangat banyak dan berskala internasional. Tapi saya tidak terlalu membebankan kamu untuk masalah pekerjaan jika itu tidak terdesak.


Saya juga tidak membebankan kamu untuk menyediakan segala sesuatu yang saya bisa melakukannya sendiri. Mungkin semua akan terasa berat jika kamu saya minta untuk keluar kota atau ke luar negeri. Cobalah fikirkan lagi!" ucap Irfan serius.


Apa yang harus aku lakukan? Bahkan tuan irfan pun menyetujui jika aku melangkah untuk mendekati Riska. Tapi apa perempuan itu mau dengan ku? secara aku dengan dia terpaut jarak usia yang cukup jauh. tuhan tolong aku. bathin Ray.


"saya hanya mengatakan itu Ray. Jangan membuat anak orang takut karna profesi kamu sebagai penguntit. ups" Irfan tergeletak dan srdikit menyindir Ray tentang apa yang di lakukannya kemaren.


"silahkan!" sambung Irfan ketika melihat Ray hanya terdiam dengan wajah yang sedikit merona.


"permisi, tuan!" Ucap Ray dan bergegas keluar dari ruangan Irfan.


Pria tampan milik Fajira itu tertawa terbahak-bahak ambil melirik ponselnya yang tengah tersambung dengan Fajira. Ibu muda itu memang sengaja meminta Irfan untuk memanggil Ray dan menanyakan bagaimana perasaannya kepada Riska.


"Bagaimana, sayang?" tanya Irfan dengan sisa tawanya.


"hehe,,, sepertinya kita bisa mencomblangkan mereka, sayang! Dari ekspresi Ray, dia seperti tertarik dengan Riska. Semoga mereka berjodoh" ucap Fajira tersenyum.


"iya sayang. Aku juga berfikir seperti itu, terkadang aku juga merasa bersalah karna memberikanya pekerjaan terlalu banyak, sampai untuk pergi berlibur saja dia tidak memiliki waktu"


"jangan gitu, sayang! kalau untuk urusan kerja kamu bisa mengandalkan Ray, kalau untuk kebutuhan kamu sudah ada aku. Nanti untuk yang lain, kamu kan punya banyak bawahan, nanti minta tolong sama mereka saja"


"iya, sayang. Nanti aku bicarakan lagi dengan Ray. Kamu istirahat ya aku mau lanjut kerja dulu dikit lagi, biar bisa pulang cepat. Aku sudah kangen ini" ucap Irfan genit sambil mengerlingkan matanya.


"aihh... Ya sudah, semangat kerjanya Ayah, Dede juga kangen mau di jenguk sama ayah" ucap Fajira tak kalah genit dengan wajah yang sudah merona.


"Jangan buat aku gemas sayang" teriak Irfan sudah tidak tahan ingin segera pulang.


tut...


laki-laki itu tersenyum lebar melihat tingkah laku istrinya yang sangat mengemaskan. Ia segera melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai dan ia bisa segera pulang ke rumah.


🌺🌺


Sementara di balik dinding ruangan Irfan, Ray memekik frustrasi karna kecerobohannya. Ia teledor kemarin dan melupakan si genius Fajri.


Kenapa Fajri bisa tau jika aku mengikutinya? aargghh... Pasti tuan dan Nyonya sudah merencanakan banyak hal untuk mendekatkan aku dengan Riska. bathin Ray.


Ia berfikir apa yang akan di lakukannya setelah ini. Karna satu sisi ia belum yakin dengan perasaannya, dan satu sisi ia juga belum terfikir untuk menjalin hubungan dengan siapapun.


Ia memilih untuk kembali berkutat dengan setumpuk pekerjaan, berharap ia bisa mengalihkan fikirannya dari Riska dan ucapan Irfan tadi.


Lima belas menit berlalu, namun ia masih tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.


"apa yang harusnya lakukan? Apa aku ikuti saja rencana yang Irfan? Tapi apa gadis itu juga menginginkanku?"


"dia kuliah kedokteran dengan biaya sendiri, pasti ia berasal dari keluarga terpandang. Apa keluarga bisa menerima keadaanku saat ini?"


Ia hanya bisa menjambak rambutnya frustrasi, sungguh perkataan Irfan sangat mengganggu konsentrasinya.


Hampir 10 tahun bekerja dengan Irfan, tentu saja ia sudah memiliki banyak aset yang terbilang mewah. bahkan ia juga memiliki 2% saham di perusahaan besar itu.


Namun ia sudah terlahir dari keluarga yang sederhana, membuat Ray lebih sering merasa jika dirinya masih biasa saja, terlepas dari jabatannya di perusahaan besar itu.

__ADS_1


"semoga saja memang aku berjodoh dengan Riska. Lebih baik aku meminta cuti barang satu atau dua minggu ini kepada tuan Ray. Aku harus menceritakan ini kepada ibuk dulu di kampung" ucap Ray tersenyum.


Ia segera mengetik surat izin agar bisa di serahkan sekarang dan bisa di proses lebih cepat.


🌺🌺


Ddrttt... ddrrtt... telefon kamar Fajira berbunyi, ia mengernyit sambil menebak siapa yang tengah memeluknya.


"hallo"


"halo. nyonya. Maaf saya mengganggu. Di luar ada Nona Riska" ucap penjaga gerbang.


"kenapa kamu harus bertanya? dia itu adik saya. Suruh masuk ke dalam. Kalau dia datang kesini sendiri biarkan saja masuk. kenapa harus dipersulit!" sewot Fajira.


"Maafkan saya Nyonya"


"lanjutkan pekerjaanmu"


"baik nyonya, sekali lagi saya minta maaf"


"hmm" dehem Fajira dan menutup telepon.


Fajira menjadi kesal karna adiknya kembali di sulitkan ketika hendak masuk ke dalam rumah ini. Ia segera turun menuju ruang tamu untuk menyambut Riska, gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Ris" sapa Fajira ketika sudah sampai di ruang tamu.


"kita ngobrol di dapur saja ya, aku lapar soalnya hehe" kekeh fajira.


"iya kak. Yuk"


"Kamu gak kuliah?"


"udah pulang kak. Fajri mana kak?"


"dia sekolah, Ris"


"kak. Aku mau nanya tentang yang kemarin. Beneran aku gak di ikuti sama orang? dan itu hanya kebetulan saja" tanya Riska memastikan.


"iya Ris. gak usah risau, nanti kalau ada apa-apa kamu kan bisa menghubungi kakak atau Fajri. atau asisten Ray juga bisa. Mas Irfan sudah mengatakannya kemarin" ucap Fajira sambil duduk di meja makan mewah itu.


"apa nanti gak merepotkan kak?"


"gak lah!, Atau kamu mau tinggal di rumah Fajri yang di simpang tiga dekat asrama?"


"disana sepi kak, cuma tinggal sendiri. Tambah takut lah aku!"


"ya sudah, Hati-hati saja. Motor itu sudah ada kamera tersembunyi, jadi kalau ada apa-apa nanti, sudah terekam."


Mereka berbincang mengenai banyak hal. Fajira sedikit membahas mengenai Ray untuk sekedar melihat ekspresi Riska.


Ibu hamil itu berbicara senang ketika mendapati Riska yang selalu salah tingkah ketika ia membahas tentang Ray.


Sepertinya aku memang harus berperan di sini. Semoga kalian berhasil. Aku yakin Riska akan bahagia jika bersama dengan Ray. dia laki-laki yang baik dan terasa lebih manusiawi di bandingkan suami tampanku yang arrogant itu.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2