Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
198. Keberangkatan


__ADS_3

Di tempat lain, Irfan dan Fajira sedang mengadakan meeting di salah satu restoran mewah di kota sebelah. Mereka membahas bisnis, namun entah kenapa Alfi Hartanto sang rekan bisnis, malah meminta untuk mengajak istri mmasing-masing dalam rapat kali ini.


"Jadi, bagaimana kerja sama kita kali ini, Tuan Irfan?" ucap Alfi tersenyum.


"Iya, sepertinya kita bisa menjalin kerja sama ini. Saya akan menanamkan saham sekitar 35 persen di perusahaan anda!" ucap yang masih membaca proposal itu.


"Syukurlah, Hmm sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan kepada anda, Tuan Irfan dan Nyonya Fajira," ucap Alfi.


Irfan mengernyit dan menatap Alfi seolah memberi isyarat untuk melanjutkan perkataannya.


"Saya sudah mendengar bagaimana kehebatan anak-anak, Tuan dan Nyonya. Saya bermaksud untuk menjodohkan Putri saya dengan Tuan muda Fajri. Putri saya seorang model papan atas, Tuan!" ucap Alfi membanggakan anaknya.


"Tidak!" sergah Fajira cepat dan sukses membuat semua orang terkejut.


"Saya tidak akan menjodohkan anak saya dengan siapapun! apalagi pernikahan bisnis seperti ini! Dan saya tidak akan merestui anak saya menikah dengan artis, model atau yang berhubungan dengan entertaiment!" sarkas Fajira menatap suami istri itu dengan tatapan tidak suka.


"tenang dulu, sayang!" ucap Irfan menggenggam tangan Fajira.


"Jadi ini maksud anda, tuan Alfi? sekarang saya paham, kenapa anda meminta untuk membawa istri saya ke sini!" ucap Irfan dingin.


Aura kegelapan langsung memenuhi ruangan itu ketika mendengar suara Irfan. Bahkan Fajira untuk ikut merinding mendengarkannya.


"Pernikahan bisnis? anda fikir saya orang yang akan mengorbankan kebahagiaan anak-anak saya demi harta? maaf, kerja sama kita batal!" ucap Irfan tegas.


Ia segera bangkit dari tempat duduknya bersama Fajira dan meninggalkan suami istri itu. Wajah Irfan memerah karna menahan amarahnya, begitu juga dengan Fajira.


"tu-tunggu, Tuan Irfan! Tunggu, Nyonya!" cegat mereka.


"jangan pernah menampakkan wajah kalian di hadapanku dan anak-anakku!" ucap Irfan sebelum keluar dari ruang privat itu.


"sial!" umpan mereka ketika tidak berhasil membuku Irfan.


"kamu sih. sudah dibilangin ajak ngobrol dulu baru ngomongin ini! ah gagal kan jadinya!" bentak istri Alfi.


...🌺🌺...


"Aku pikir kamu akan menyetujuinya, Mas!" lirih Fajira sambil bersandar di dada bidang Irfan.


"gak akan, sayang. Anak-anak kita bukan orang sembarangan, biarkan mereka mencari pendamping hidupnya sendiri!" ucap Irfan memeluk Fajira lebih erat.


"apa sebaiknya kita pulang saja?, ini masih banyak waktu untuk untuk sampai di rumah sebelum anak-anak tidur," ucap Fajira.


"iya, lebih baik kita pulang saja!"


Driver Irfan segera melajukan mobilnya menuju apartemen mereka dan memilih pulang menggunakan helikopter dan langsung turun di halaman rumah mewah mereka.

__ADS_1


...🌺🌺...


"kenapa, Ayah dan Bunda sudah pulang?" ucap Fajri yang baru saja pulang dari pesta bersama Ivanna.


"semuanya sudah selesai, nak! mereka menjalin kerja sama dengan maksud lain!" ucap Fajira


"maksud lain bagaimana, Bunda?" tanya Fajri.


Sementara Ivanna sudah sangat mengantuk karna merasakan lembutnya belaian tangan Fajira di kepalanya.


"Mereka menawarkan perjodohan, antara kamu dan anaknya!" ucap Fajira.


"Apa, Bunda terima?" tanya Fajri dengan mata yang melotot.


"gak sayang! Bunda gak akan setuju jika kamu mendapatkan pendamping hidup yang berkecimpung di dunia entertaimen!" ucap Fajira mengeluarkan ultimatum.


"Iya, Bunda. Abang juga gak mau!" ucap Fajri yang ikut merebahkan kepalanya di atas paha Fajira.


Irfan yang melihat anak-anaknya tengah bermanja dengan Fajira pun tidak mau kalah. Ia juga berbaring di kaki Fajira yang masih menganggur.


"hei, ini kenapa jadi tidur di paha, Bunda semua?" ucap Fajira sambil menggoyang-goyangkan kepalanya.


"engh,... ngantuk Buna!" rengek Ivanna yang baru saja terlelap.


"Ayah juga!" ucap Irfan yang tidak mau kalah.


Fajira pasrah merelakan kakinya menjadi batal untuk anak dan suaminya. Ia tersenyum sambil membelai kepala mereka bergantian. Suasana seperti ini masih sama seperti dulu, mereka masih suka rebutan agar bisa tidur di pahanya. Apalagi ketika pekerjaan dan tugas yang begitu banyak menumpuk, belaian tangan Fajira seolah bisa membuat beban mereka sedikit menghilang.


"Abang jadi berangkatnya besok, nak?" tanya Fajira sendu.


"iya, Bunda. Do-akan Abang biar sehat dan selamat selama di sana!" ucap Fajri memeluk pinggang Fajira.


"Iya, sayang. Hati-hati di kampung orang, jaga ucapan, sikap dan perbuatan. Jangan sampai abang menyakiti hati orang di sana!" ucap Fajira memberikan wejangan.


"Iya, Bunda. Abang akan mengingat emua pesan, Bunda!" ucap Fajri lirih.


"Barang-barang, Abang sudah siap nak?"


"sudah, Bunda. Abang juga membawa setik sabun, sampo, pasta gigi, face wash, abang juga bawa satu koper cemilan untuk mengganjal perut nanti. Abang juga sudah menyediakan beberapa panci, teflon, kompor dan bahan masakan," ucap Fajri menyebutkan peralatan yang sudah ia sediakan sambil terkekeh.


"Jaket, Abang bawa berapa, sayang?"


"hmm, ada 4, selimut 2 Abang juga bawa bantal! haha kek Mo pindahan aja!" ucap Fajri terkekeh.


"Bunda juga sudah masak sambal untuk kalian di sana nanti, tinggal panaskan saja. Setiap minggu, minta orang-orang kamu singgah ke sini untuk mengambil sambal sebelum mengirim barang!"

__ADS_1


"iya, Bunda. Di sana Abang akan baik-baik saja, Bunda jangan risau ya!"


"iya, sayang!" ucap Fajira.


Hati ibu mana yang tidak resah jika berjauhan dengan anak-anaknya, apalagi dalam kurun waktu yang lama. Fajira juga sudah menyiapkan banyak makanan untuk anaknya nanti, seharian kemarin sebelum pergi ke kota sebelah, ia memasak berbagai masakan yang bisa tahan lama dan memasukkannya ke dalam tas khusus untuk membekukan makanan.


🌺🌺


"hati-hati, sayang!" ucap Fajira memeluk Fajri sambil menahan tangisnya.


"iya, bunda," ucap Fajri tercekat.


Ia tidak sanggup jika harus berpisah begitu lama dengan keluarganya, bahkan berkemungkinan mereka tidak akan bisa berkomunikasi nanti.


Ivanna jangan di tanya. Ia sudah sesegukan sambil mendekap Irfan dan tidak mau melihat ke arah Fajri sedikitpun.


"Dek? Abang mau berangkat lagi, Apa Dede gak mau peluk, Abang?" ucap Fajri lembut.


Ivanna hanya menggeleng sambil menahan tangisnya. Ia semakin menekankan wajah ke dada Irfan agar tangisnya tidak terdengar.


"ya sudah, kalau begitu Abang pergi dulu, ya sayang! jagain Ayah dan Bunda ya!" ucap Fajri berkaca-kaca sambil mengelus kepala Ivanna.


Ia berbalik ketika tidak mendapatkan respons dari Ivanna, Namun ketika hendak berjalan, Ivanna memeluknya dengan erat dari belakang.


"jangan pergi lagi!" ucap Ivanna tercekat.


Tes,...


Fajri tak mampu lagi menahan air matanya. Ia berputar dan mendekap Ivanna dengan erat dan semakin erat.


"Kirimkan Abang surat setiap minggu ya, nanti Abang juga akan menitipkan surat untuk Dede dari sana!" ucap Fajri berusaha untuk menguasai emosinya.


"sudah, ya! jangan nangis lagi!" ucap Fajri mengusap air mata Ivanna dan mengecup kening adik kecilnya.


"cepat pulang!" ucap Ivanna berusaha untuk tidak menangis lagi.


"iya, dua bulan, hanya dua bulan, Abang di sana. Jangan lupa pesan Abang ya sayang!" ucap Fajri.


Ia berpamitan dengan keluarganya dan segera melangkah menuju jet pribadi yang sudah siap untuk berangkat.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


kuatkan hati Mu Fajri dan Ivanna 😩😩

__ADS_1


__ADS_2