
Fajri terpaksa pergi meninggalkan adik kecilnya yang tengah sakit saat ini. Ia harus pergi ke pabrik dan perusahaan untuk meninjau pembuatan pesawat yang sedang di kerjakan.
Wajah sendunya tergambar jelas, Ia seolah kehilangan mood pagi ini. Namun ia berusaha untuk belajar profesional dalam bekerja, karna keputusannya akan berpengaruh terhadap banyak hal di perusahaan itu.
Perlahan mobil masuk ke dalam pekarangan pabrik besar pembuatan pesawat miliknya. Ia segera keluar bersama dengan Ray dan berjalan masuk menuju pabrik.
Gedung yang sangat besar itu berdiri di atas Tanah seluas 3 hektar yang di berikan oleh Papa Horison sebagai hadiah ulang tahun Fajri empat tahun selam. Ia membangun pabrik dan perusahaan secara berdampingan agar tidak menyulitkannya untuk melakukan pengecekkan, tak lupa landasar terbang untuk uji coba beberapa pesawatnya nanti.
"bagaimana perkembangannya om?" ucap Fajri.
Mereka menaiki lift untuk memantau keadaan pabrik dari atas.
"Untuk saat ini, dua pesawat sudah dalam tahap finishing, dalam akhir bulan nanti akan dilakukan uji coba penerbangannya, Tuan muda! Setelah itu ada 10 buah permintaan pesawat pribadi, 4 buah pesawat komersil dan 3 buah helikopter. Semua kita jadwalkan selesai dalam dua tahun ini. Dalam list pengajuan ada sekitar 20 perusahaan yang sudah mengambil nomor antrean!" ucap Ray menerangkan.
"Apa waktu dua tahun cukup untuk memproduksi semua pesanan om?" tanya Fajri sedikit tidak yakin.
"bukankah lebih baik kita bergerak perlahan namun di pastikan jika barang yang kita buat itu sesuai dengan standar keamanan?" tanya Fajri.
"semuanya sudah saya perkirakan, Tuan muda! Dalam dua tahun, sebanyak 17 pesanan sudah selesai dan sesuai dengan standar keamanan internasional!"
"semoga proyek kita minim kecelakaan dan minim kerugian ya, Om!" ucap Fajri tersenyum.
"Aamiin." Ray juga ikut bangga bisa berdiri di samping anak genius ini.
Mereka berkeliling pabrik untuk melakukan pemeriksaan yang dilakukan secara berkala oleh Fajri setiap bulannya. Ia juga melihat bagaimana proses pembuatan pesawat itu dengan seksama.
Beruntung ia sudah mulai untuk membuat pesawat itu dari kecil, mulai dari rancangan dan hal yang lainnya, sehingga ia hanya membuat dan menghitung ulang angka dan kapasitas pesawat sesuai dengan ukuran yang sebenarnya.
Fajri dan Ray, memang mewanti-manti para pegawai agar tidak ada yang melakukan kecurangan sekecil apapun baik di pabrik maupun di perusahaan. Karna itu mereka berani membayar pegawai dengan gaji yang tinggi namun di barengi sanksi yang cukup berat.
Setelah di rasa cukup, mereka segera pergi menuju perusahaan untuk memeriksa berkas-berkas penting yang di rasa perlu untuk dilakukan pengecekkan secara berkala.
"Om, bagaimana rencana peluncuran sistem pengaman data milik kita?" tanya Fajri.
"kita tinggal mendapatkan surat lisensi dalam beberapa hari ini, tuan Muda! Jika sudah kita dapatkan, awal bulan depan sudah bisa di luncurkan dengan mengirim berbagai demo dan video promosi agar bisa terjual di pasaran. Siap-siap rekening anda berubah gendut Tuan muda! hehe," ucap Ray tergelak.
"baguslah kalau begitu, om! Aji sudah tidak sabar membawa Bunda keliling dunia dengan hasil kerja Aji!" ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, tidak lama lagi! Semoga keinginan Aji bisa terwujudkan ya, nak!" ucap Ray mengelus kepala Fajri dan mengacak rambutnya.
Kaki jenjang mereka melangkah masuk ke loby utama perusahaan. Semua karyawan menyapa ramah Fajri dan Ray, mereka merasa sangat beruntung karna bekerja dengan perusahaan Fajri, walaupun dengan peraturan yang lebih ketat di bandingkan perusahaan Irfan, namun mereka mendapatkan gaji dan tunjangan yang tidak main-main di sini.
__ADS_1
🌺🌺
Ivanna tidak terlepas dari Irfan semenjak ia terbangun. Suhu tubuh gadis manis itu masih berada di angka 38° C. Ia menangis tersedu setelah melihat ayahnya dalam keadaan baik-baik saja.
Kini mereka tengah berada di dalam kamar, untuk beristirahat sesuai dengan perintah ibu dokter yang. cantik itu. Irfan tak hentinya memandang wajah cantik Ivanna yang begitu mirip dengan Fajira waktu kecil, yang membedakan hanya matanya saja. Gadis cantik itu memiliki mata tajam seperti milik Irfan yang membuat orang takut untuk menatapnya.
Fajira sudah menceritakan diagnosanya terhadap gangguan kecemasan yang di alami oleh Ivanna. Nanti siang psikolog akan datang untuk memastikan itu semua.
"sayang, minum obat dulu yuk!" ucap Fajira sambil membawa nan yang berisi bubur, obat dan air minum.
"Iya, sayang!" ucap Irfan, Namun ia tak kunjung bangun karna Ivanna masih memeluknya erat.
"dek? bangun dulu sayang! minum obat yuk, biar cepat sembuh!" ucap Irfan lembut sambil membelai kepala Ivanna lembut.
"dek?"
"Iya, ayah!" Ivanna mengerjabkan matanya.
Suasana temaram di dalam kamar membuatnya enggan untuk bangun. Fajira memang sengaja tidak menyingkap tirai jendela, namun masih membuka pintu balkon agar udara di dalam kamar itu bisa berganti.
Irfan memangku Ivanna yang terlihat masih mengantuk sembari memegang kepalanya.
"Pusing, sayang?" tanya Irfan.
"makan dulu ya! Bunda udah buatin bubur untuk Dede, biar cepat sembuh. Habis itu minum obat ya, sayang!" ucap Fajira mengelus kepala Ivanna.
Ia menyuapi Putri kecilnya dengan perlahan. Karna ketika sarapan tadi, gadis kecil itu hanya memeluk Irfan erat sambil menangis. Hingga ia terlelap dalam pangkuan ayahnya.
"udah, buna" ucap Ivanna.
"baru tiga suap, sayang. lagi ya!" ucap Fajira membujuk Ivanna.
Hup...
hup...
Bubur tadi tandas tanpa bersisa, Fajira segera memberikan obat pereda panas kepada Ivanna dan mengganti plaster kompres yang melekat di dahi gadis kecil itu.
"Ayah, juga minum obat ya!" ucap Fajira memberikan Irfan obat yang biasa ia konsumsi ketika penyakitnya kambuh.
Irfan kembali mengajak Ivanna berbaring. Gadis kecil itu seolah takut jika Irfan jauh dari jangkauannya. Dengan mata yang terpejam, Ivanna mengucapkan sesuatu kepada Irfan.
__ADS_1
"Ayah?"
"iya, sayang?"
"apa ayah melupakan sesuatu?"
deg...
Apa yang aku lupakan?. bathin Irfan terkejut, ia segera memutar otaknya mencari jawaban.
"Apa ayah, lupa?" ulang Ivanna menatap Irfan dengan raut wajah kecewanya.
Fajira memberi kode kepada Irfan untuk mengucapkan kata bangga. Irfan paham, ia tersenyum menatap Putri kecilnya yang terlihat kecewa.
"mana mungkin ayah lupa, sayang! bukankah kepintaran dan kepandaian Dede harus ayah akui? ayah gak nyangka Dede bisa meretas data yang sangat-sangat sulit untuk di tembus. Terserah apa yang terjadi, yang jelas ayah bangga dengan apa yang Dede bisa! hal baik yang sudah Dede lakukan, ayah bangga dan senang karna Dede bisa menemukan apa yang Dede sukai dari kecil. Ayah akan mendukung apapun itu!" ucap Irfan panjang lebar.
Ivanna tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tapi keberhasilan Dede membuat ayah sakit!" ucap Ivanna lirih.
"Ayah hanya kaget, sayang. Kondisi ayah juga lagi capek habis kerja, bukan karna Dede ayah sakit. Jadi jangan merasa bersalah ya, sayang?" ucap Irfan lembut.
"jangan sakit-sakit lagi, ayah!" ucap Ivanna terisak.
"Ayah akan selalu sehat untuk Dede, Bunda, dan abang!"
"Love You, ayah. Love You, Buna!" ucap Ivanna sebelum memejamkan matanya.
"Love You to, sayang!" ucap Irfan dan Fajira bersamaan.
"kamu juga istirahat ya, Mas!" ucap Fajira.
"iya, sayang! apa kamu gak istirahat?" tanya Irfan.
"Aku mau mandi dulu, biar lebih segar!"
"ya, sudah, nanti hati-hati ya!"
"iya, sayang!
🌺🌺🌺
__ADS_1
TO BE CONTINUE