
Fajira tergesa-gesa untuk berangkat ke sekolah Fajri karna mendapatkan telefon dari ibu Rully dan mengatakan bahwa ia harus segera menuju ke sekolah saat ini.
Semoga Aji gak kenapa-napa nak, tuhan lindungi anakku.
Dengan tergesa-gesa Fajira melajukan motornya dengan cepat menuju sekolah Fajri. Dengan irama detak jantung yang semakin kencang ia hanya berserah diri atas apa yang terjadi.
Brak ...
"selamat siang, maaf ibu" ucap Fajira membuka pinta dan masuk ke dalam ruangan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Matanya membola ketika Irfan juga ada disana.
*Flashback*
Saat jam keluar main, Fajri tengah memakan bekal yang sudah di siapkan oleh Fajira di dalam kelas. Ketika hendak menyuapkan nasi ia di panggil oleh teman sebangkunya untuk keluar dan melihat mading yang berada tak jauh dari kelas itu.
"Fajri yuk ikut aku, di mading ada lomba cerdas cermat, nanti yang menang bisa mewakili sekolah ke tingkat provinsi" ucap Ziyyad antusias.
"eh tapi Aji lagi makan, nanti saja Aji lihat bang" ucap Aji menolak.
"eh nanti aja makannya lihat dulu, nanti telat loh mendaftarnya"
"ya sudah, Aji tutup dulu bekalnya" Fajri menutup kembali bekal itu dan segera pergi menuju papan mading.
"itu lihat, lomba cerdas cermat yang menang bisa ikut sampai tingkat provinsi" ucap Ziyyad.
Fajri membaca poster itu dengan seksama, dahinya mengernyit ketika melihat persyaratan untuk mengikuti lomba itu.
"Aji gak bisa ikut bang, itu untuk kelas 4, 5 dan 6. Aji kan baru kelas tiga"
"mana coba lihat" Riyad kembali membaca poster itu dan mengernyit.
"iya ya, untuk kelas 4 paling kecil. hmm gimana kalau kamu tanya sama ibu Rully boleh ikut gak? atau naik kelas lagi biar bisa ikut lomba" ucap Ziyyad memberi Fajri saran yang membuat Fajri membenarkan perkataannya.
"iya juga ya, yaudah deh bang, Aji ke tempat ibu Rully dulu"
Fajri berjalan sedikit kencang menuju ruangan ibu Rully
tok... tok.. tok...
"permisi ibu Rully ini Fajri"
"iya silahkan masuk nak"
"selamat pagi ibu" ucap Fajri sopan dan sedikit menunduk.
"selamat pagi Fajri. ada yang bisa ibu bantu?"
"iya bu, hmm Aji tadi baca pengumuman di mading, jadi ada lomba cerdas cermat bu, apa Aji boleh ikut?"
"cerdas cermat ya? Itu kan untuk kelas tinggi nak. Aji kan masih kelas tiga"
"hmm apa boleh Aji naik kelas lagi bu?, Aji sudah paham semua pelajaran di kelas tiga sampai habis" Fajri menatap ibu Rully penuh harap, Sementara ibu Rully tersenyum manis menatap anak genius yang ada di hadapannya.
"Aji betul mau ikut lomba?"
"iya bu, Aji mau ikut lomba. Boleh ya Aji naik ke kelas 4" ucapnya penuh harap.
"gak boleh sayang, Bulan depan kan sudah kenaikan kelas"
"tapi Aji mau ikut lomba bu" kekeh Aji tidak mau di bantah. Namun ia masih berbicara pelan dan lembut.
"gak bisa nak. Hmm awal semester besok juga ada lomba cerdas cermat. jadi Aji semester depan saja ikut ya nak. Walaupun ibu yakin Aji pasti menang. Tapi kita tetap harus mengikuti aturan yang berlaku kan?"
"iya bu, tapi Aji mau ikut bu" Fajri bersandar di kursi yang ia tempati.
"Nanti kita bicarakan lagi ya, sebentar lagi bel masuk nak" ibu Rully sudah gemas-gemas manja melihat Fajri
"tapi Aji mau ikut bu" keluhnya lembut.
Ini yang membuat ibu Rully tidak bisa marah dengan anak emas Fajira ini. Bagaimanapun Fajri kesal ia tetap berbicara lembut dengan orang yang lebih besar darinya.
"Gak bisa sayang, percuma Aji ikut nanti malah di suruh pulang sama panitianya karna masih kelas tiga"
__ADS_1
"itu makanya Aji mau naik kelas lagi ibu cantik"
"hehe, kamu kenapa pemaksa sekali nak. Kalau ibu memaksakan Fajri ikut lomba atau naik kelas, nanti ibu yang kena marah sama kepala sekolah dan guru yang lain nak"
"tolong lah bu, Aji mau ikut"
"gak bisa sayang"
"bu" Fajri sudah berkaca-kaca
Apa Aji minta bantuan sama ayah saja ya?.
"apa Aji mau bundanya ibu panggil?"
"jangan bu Aji panggil Ayah saja" Ucap Fajri mengeluarkan ponselnya dan menelfon Irfan.
Sementara Ibu Rully mengernyit, dari pada berabe mending ia segera menelfon Fajira untuk datang ke sekolah agar bisa membujuk Fajri yang keras kepala seperti Ayahnya.
*flashback off*
Disini lah mereka duduk berempat, Ibu Rully, Irfan, Fajira dan Fajri.
"Bunda kenapa kesini? kan Bunda lagi sakit" ucap Fajri lembut dan memeluk Fajira.
"gimana Bunda gak kesini tiba-tiba saja ibu Rully menelfon bunda" Fajri menatap ibu Rully tidak percaya.
"Ibu kan Aji sudah bilang biar Aji menelfon ayah saja"
"ibu kan belum pernah bertemu dengan Ayah Fajri, jadi ibu takut nanti orang jahat yang datang nak, makanya ibu langsung menelfon Bunda Fajri"
"sekarang coba cerita sini sama Bunda. Aji kenapa sampai Bunda harus di telefon sama ibu Rully" ucap Fajri lembut sambil memangku Fajira.
Irfan yang tidak ingin ketinggalan duduk di samping Fajira dan memanfaatkan keadaan.
"Aji mau ikut lomba cerdas cermat Bunda"
"terus"
"terus, kenapa ayah bisa sampai kesini?"
"tadi Aji yang menelfon ayah karna Bunda masih sakit"
"terus apa kata ibu Rully sayang?, Apa Aji boleh naik kelas?" tanya Fajira, sementara Fajri hanya menggeleng sebagai jawaban.
"ha terus masalahnya apa sayang? kenapa ayah dan Bunda bisa ada disini?" ucap Fajira lembut.
"Aji mau ikut lomba bunda" cicitnya semakin pelan.
"kan gak boleh sayang"
Fajri memeluk Fajira karna ia tidak akan pernah bisa menentang perkataan wanita yang paling ia cintai ini. sementara Fajira hanya menghela nafas sambil mengelus punggung Fajri.
"sini sama Ayah nak" ucap Irfan meraih Fajri dan mendudukan pria kecil itu di atas pangkuannya.
"satu bulan lagi kenaikan kelas kan sayang?" tanya Irfan lembut.
"iya ayah"
"bu Rully, apa tahun besok masih ada lombanya?"
"ada pak, Tahun besok banyak lomba yang akan di adakan"
"ha Aji dengarkan sayang tahun depan masih ada lombanya"
"tapi Aji mau ikut Ayah" kekehnya
"kapan lombanya?"
"hari minggu ini Ayah, sekarang pendaftaran terakhirnya"
"apa Aji lupa kalau kita akan pergi ke perpustakaan nasional?. Ayah sudah memesan tiket untuk kesana"
__ADS_1
"Ayah serius?" ucap Fajri terkejut
"dua rius malah"
"ya sudah Aji gak jadi ikut lombanya, Aji ikut ayah saja ke perpustakaan nasional" ucapnya tersenyum manis.
"ha begitu dong jagoan ayah, gak boleh melawan sama guru ya nak. minta maaf dulu sama ibu Rully" irfan menurunkan Fajri dari pangkuannya dan menatap Fajira yang berada di sampingnya.
"ibu, Aji minta maaf ya karna sudah keras kepala" ucapnya menunduk dan mencium tangan ibu guru itu dengan lembut.
"iya, tahun besok tanpa Aji minta pasti ibu akan mendaftarkan nama Aji paling pertama"
"iya bu terima kasih banyak"
"ya sudah sekarang yuk balik ke kelas" ucap ibu Rully.
"iya bu, Aji pamit dulu"
"Bunda Ayah, Aji ke kelas dulu ya" Fajri mencium tangan kedua orang tuanya, tak lupa ia juga mendapatkan kecupan dari mereka.
"iya nak hati-hati"
Fajri berlalu dari sana. Fajira dan Irfan juga segera pamit setelah meminta maaf dan berterima kasih kepada ibu Rully.
Mereka berjalan beriringan, membuat suasana kala itu menjadi canggung. Sebenarnya Fajira sedikit mengapresiasi cara irfan menenangkan Fajri yang jeras kepala itu.
"hekm... tadi kata kamu mau ngajak Fajri ke perpustakaan nasional?"
"iya, tadi pagi Fajri bilang dia mau pergi jalan-jalan"
"kenapa gak ngomong?"
deg...
"Ma-maaf sayang aku lupa soalnya sehabis mengantarkan Fajri, aku langsung meeting. Maaf sayang jangan marah ya"
"lain kali kalau mau pergi kemana-mana bilang dulu, termasuk jika kalian ingin pergi berdua saja. Bukan apa-apa nanti aku khawatir mencari Fajri. kalau jelas kemana perginya kan aku gak perlu risau" omel Fajira.
"iya maaf sayang. hmm Aku antar pulang ya"
"Aku bawa motor"
"biar motornya di bawa supirnya saja"
"gak mau, aku..."
"pliis, ada yang ingin aku katakan sebentar saja"
"Aku masih belum terbiasa untuk dekat dengan kamu. tolong jangan di paksa. Jika memang mendesak kamu bisa menghubungiku"
"aku gak punya nomor ponsel kamu sayang"
"+628*******. Aku pulang dulu ya"
"iya sayang," Irfan tersenyum dengan sedikit sendu karna Fajira belum mau berdekatan dengannya.
Akhirnya!. Bathin Irfan senang setelah mendapatkan nomor ponsel Fajira.
Ibu muda itu perlahan meninggalkan Irfan yang masih berdiri di samping mobilnya. Setelah Fajira pergi, ia meninggalkan tempat itu dan mengikutinya dari belakang.
πππ
TO BE CONTINUE
Hai readers akuu mau ngasih referensi baca nih untuk mengisi waktu sembari menunggu anak sultan milik CEO Update. yuk kunjungi mana tau suka. Ceritanya keren banget, gak boong, Aku sudah baca ππ
Terima kasih ππ
__ADS_1