Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
127. Janji Fajri


__ADS_3

Di kediaman Dirgantara, Fajira masih tersenyum mengingat bagaimana reaksi Riska dan Ray ketika makan malam tadi. Hal itu menjadi perhatian bagi Irfan dan Fajri.


"kenapa Bunda senyum-senyum sendiri?" tanya Fajri polos sambil mengusap lembut perut Fajira.


Muach...


Beberapa kecupan mendarat di perut buncit itu.


"Hmm? Bunda lagi bahagia, sayang! Abang tau kalau Onty Riska sedang dekat dengan om Ray. Semoga saja mereka berjodoh dan bisa menikah seperti Ayah dan Bunda," terang Fajira.


"Iya, Biar Abang bisa punya banyak adik" ucap Fajri berbinar.


"Abang suka punya Adik banyak?"


"Suka, Bunda!" Mata Fajri berbinar.


"coba tanya ayah dulu,"


"Ayah, Apa Abang boleh punya adik yang banyak?" tanya Fajri menatap Irfan lekat.


"Hmm,,, Berapa di kasih aja ya, nak. Yang penting Abang udah punya dede yang ini" ucap Irfan mengusap kepafa Fajri dan perut Fajira bergantian.


"iya, Ayah" Fajri tersenyum,


Ia pernah melihat beberapa video orang melahirkan, ada perasaan takut yang menyelimutinya. Bahkan ia sempat menangis hingga tersedu tanpa ada yang mengetahui satu orang 'pun. Kejadian ini tepat sebelum ia mendapatkan kecelakaan.


"Bunda, Abang cukup punya Dede satu aja. Pasti melahirkan itu sakit ya?" tanya Fajri berkaca-kaca.


"iya, sayang. Melahirkan itu memang Sakit, Tapi semuanya terbayarkan ketika untuk pertama kalinya melihat wajah bayi kecil yang sudah bunda kandung selama sembilan bulan.


Dulu Bunda melahirkan abang, itu rasanya sakit banget, rasanya Bunda udah gak kuat. Tapi setelah abang lahir, terus mendengar tangisan abang yang terdengar sangat merdu, Bunda merasa semua sakit yang sudah Bunda tanggung selama mengandung dan rasa sakit sebelum melahirkan itu hilang.


Hanya ada sebuah kebahagiaan yang tidak akan pernah Bunda dapatkan dua kali. Karna Aji hanya satu, dan pasti rasanya akan berbeda ketika Bunda melahirkan Dede nanti!" ucap Fajira sambil tersenyum dan menerawang bagaimana ia melahirkan dulu


Irfan dan Fajri berkaca-kaca, bahkan Irfan terisak sambil membenamkan wajahnya di punggung Fajira, sementara Fajri hanya bisa memeluk lembut perut buncit bundanya.


"Eh kok pada nangis sih?" tanya Fajira bingung.


"Hiks... maafkan aku, sayang! Maafkan aku!" isak Irfan semakin terdengar.


"Ayah! semuanya sudah berlalu! sekarang lebih baik ayah mempersiapkan diri untuk menyambut anggota keluarga baru kita" ucap Fajira mengusap paha Irfan.


Fajri jangan di tanya, pria kecil itu sungguh sangat mellow jika berhubungan dengan Fajira, bidadari cantik yang sangat ia sayangi.


"Bunda, maafin Aji ya. Aji janji gak akan nakal lagi, Aji janji akan jadi anak yang baik dan membahagiakan, bunda. terima kasih banyak karna sudah mau melahirkan Aji. Aji serasa sangat beruntung karna memiliki bunda dan ayah sebagai orang tua Aji" pria kecil itu serius dan terisak dengan air mata yang menetes deras.

__ADS_1


Bahkan Fajira pun juga ikut menangis mendengarkan ucapan tulus dari mulut putra kebanggaannya. Ia memeluk Fajri dengan lembut sambil mengecup kepala mungil itu dengan penuh kasih sayang.


Irfan hanya mampu memeluk anak dan istrinya, sungguh ia begitu sangat sensitif jika menyangkut masa lalu. Rasa bersalah itu masih tersimpan utuh di dalam lubuk hatinya dan akan ia ingat sampai kapanpun.


"sudah ih. kok malah nangis gini!" ucap Fajira mengurai pelukan mereka.


Ia menyeka air matanya, kemudia menatap Fajri dan mengecup kening pria kecil itu dengan lembut lalu mengusap air mata Fajri.


"Coba senyum dulu. Sayang!" Ucap Fajira sambil menarik sudut bibir pria kecilnya. Fajri berusaha untuk tersenyum dalam Isaknya.


"sekarang tidur lagi ya sayang!" ucap Fajira menggeser tubuh Fajri dan mengelus lembut kepalanya.


Ia melupakan sesuatu, suaminya yang tampan itu masih terisak. Ia meraih kepala Irfan dan mendekap lembut sambil sesekali mengecupnya.


"Sudah sayang, Jangan nangis lagi! Aku gak papa!" lirih Fajira di telinga Irfan.


"maafkan Aku, sayang!"


"sstt... sudah ya. Gak malu apa di lihat Fajri. Sudah ya, apa nanti mau main?"


"mau sayang!" Irfan tersenyum sambil mengusap air matanya.


"Yuk kita tidur lagi" Ajak Irfan dan berbaring di samping Fajri dan memeluk putra kecilnya.


Begitu juga dengan Fajira, ia juga ikut berbaring an menunggu hingga Fajri terlelap.


🌺🌺


Fajira tak henti tertawa sambil memegang perut buncitnya. Selepas makan malam nanti Ia sengaja meminta kepada Fajri untuk meretas cctv yang ada di dekat kontrakan Riska.


Pria kecil itu hanya menurut, ia bahkan juga penasaran dengan hubungan onty dan om nya itu.


Mata Fajira membola ketika melihat apa yang tengah terjadi di dalam mobil. Begitu juga dengan Irfan, betapa terkejutnya ia melihat asisten yang sangat ia kenali bisa berbuat jauh seperti itu.


"gila! mereka langsung seperti itu sayang! aku gak nyangka Ray bisa melakukan hal itu, padahal dia dingin banget, sayang!" celetuk Irfan terkejut dan tidak percaya.


"ish... bahkan kamu bisa berbuat lebih lo, sayang. Apa kamu lupa?" delik Fajira.


"gak akan lupa sayang. soalnya itu nikmat banget!" fiuuhh....


Irfan menghembus telinga Fajira lembut dan membuat bulu kuduk ibu hamil itu meremang.


"Mas! Tunggu sebentar ya! aku mau melihat kelanjutan mereka," ucap Fajira memohon.


Beruntung Fajri sudah terlelap dengan cepat setelah mendapatkan pelukan dan usapan dari orang tuanya.

__ADS_1


Fajira segera mengambil foto Riska dan Ray, agar bisa menggoda dua orang yang tengah di mabuk asmara itu.


"ini akan menjadi senjata yang bagus untuk ku, sayang. Besok mereka akan aku godaan sampai puas! eh, gak malam ini" ucap Fajira tergelak.


"Mas, Mereka lama banget berciuman!, Aduh pasti ciuman mereka panas dan menggairahkan!" ucap Fajira sedikit mende'sah.


"huss! dasar bumil nakal! suaminya ada disini malah membayangkan laki-laki lain!" ucap Irfan cemburu.


"hehe aku hanya menerka, Mas! soalnya kamu yang gak terlalu dingin aja sudah menggairahkan, Apalagi kak Ray yang sangat dingin itu" kilah Fajira.


"Aah sudahlah! kamu selalu banyak alasan sayang!" ucap Irfan dengan seringainya.


Ia segera mengerayangi Fajira dengan panas. Ibu hamil itu langsung terbakar gairah ketika tangan nakal Irfan menyentuh beberapa titik sensitifnya.


"Mas, sebentar! Aku mau mengirimi Riska pesan dulu" ucap Fajira dengan nafas yang mulai tersenggal.


"sayang ayo lah! Aku sudah gak tahan!" rengek Irfan


Ia sedikit kesal karna sudah tidak mampu untuk menggendong Fajira lagi.


"sebentar!," Ia memencet tombol kirim dan kembali mengetik beberapa pesan untuk menggoda gadis perawan itu.


"Sudah, Sayang! Yuk kita mulai! Mau main di mana?" tanya Fajira tersenyum manis menghampiri Irfan yang sudah terduduk di atas sofa.


"main di sini saja sayang! Aku gak mau kalau masih ada yang mengganggu!" ucap Irfan cemberut.


"iya, sayang"


Fajira lebih dulu menyerang Irfan dengan panas, laki-laki itu tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Ia menyesap, melu'mat dan mereguk manisnya tubuh Fajira yang sangat ia dambakan setiap hari, bahkan setiap detik.


Ia mulai berpacu dengan masih membisikkan kata-lata romantis untuk perempuan yang terlihat sangat cantik dengan perut besarnya.


"I Love You sayang! I Love You!" ucap Irfan setelah benih itu keluar dan memupuk anak yang ada di dalam kandungan Fajira.


"Love You to, sayang. hemmhh....Aku mau istirahat!" ucap Fajira dengan nafas yang tersenggal sambil menghentikan Irfan yang masih menggerayangi tubuhnya.


"baiklah, yuk kita istirahat. Hati-hati sayang" ucap Irfan membantu Fajira pindah ke atas kasur dan memperbaiki penampilannya.


"G'nite sayangkuh!" ucap Irfan melayangkan kecupan sana sini di wajah Fajira.


"night to cintaa!"


Mata cantik itu perlahan terpejam dengan senyuman yang masih setia mengembang di bibir tipis milik Fajira. Irfan yang juga sudah mengantuk, ikut memejamkan mata sambil memeluk istrinya dari belakang.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2