Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
146. Tanda-tanda


__ADS_3

Mobil tetap membawa Fajri menuju kantor Irfan. Pria kecil itu masih terlelap dengat ekspresi yang sangat imut di samping pak Sakti. Hingga mobil berhenti di loby perusahaan.


Pak Sakti segera menggendong Fajri menuju ruangan Irfan. Pria kecil itu tidak terganggu sedikitpun dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


Ting....


Pintu lift terbuka, Pria paruh baya itu segera mengayunkan kakinya melangkah menuju ruangan Irfan yang tepat ada di hadapannya.


Tok.. tok.. tok..


"Tuan?" panggil pak sakti mengetuk pintu.


Terdengar suara Irfan dari dalam untuk menyuruhnya untuk masuk.


"Selama siang, Tuan! Tuan muda tertidur sejak dari sekolah tadi Tuan!" ucap Pak Sakti.


Tanpa berbicara, Irfan segera mengambil putra mahkotanya dari gendongan Pria paruh baya itu.


"Terima kasih pak!" ucap Irfan membelai kepala Fajri yang berada di dalam dekapanya.


"sama-sama Tuan!, Kalau begitu saya turun ke bawah dulu. Tuan bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu!" ucap Pak sakti membungkuk lalu pergi.


Irfan membawa Fajri menuju sofa, Ia hanya memangku pria kecil itu tanpa membaringkannya. Ia mengambil ponsel dan meminta Ray agar datang ke ruangannya.


Tak lama Ray datang seperti biasa, tanpa mengetuk dan langsung masuk begitu saja.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


"Jam berapa nanti pertemuan itu akan di adakan?" tanya Irfan.


"Sekitar 1 jam lagi Tuan!"


"Anakku masih tidur, Ray. Apa kita undur saja pertemuannya?" tanya Irfan yang masih memainkan rambut Fajri.


"saya rasa lebih baik di undur saja Tuan! Karna mengingat jika Tuan muda tertidur akan membutuhkan waktu paling tidak 2 jam lebih. Atau mungkin bisa kita undur besok saja?" ucap Ray memberikan usul.


"Engh... Bunda, peluk!" erang Fajri bergerak di atas pangkuan Irfan.


"bukankah dia terlihat sangat mengemaskan Ray? Dari sisi manapun dia terlihat sangat imut dan memesona" ucap Irfan merona senang.


"Iya Tuan, Tuan muda memang terlihat sangat mengemaskan. Saya tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk wajah nona muda nanti!" ucap Ray juga tersenyum.

__ADS_1


"Iya, hanya beberapa hari lagi dia kan lahir. Bagaimana denganmu apa Riska sudah ada tanda-tanda?"


"Belum Tuan, do'akan saya semoga bisa memiliki momongan dengan segera!" ucap Ray.


Mereka memang sudah menikah hampir satu bulan yang lalu. Kini Riska tinggal di apartemen mewah milik Ray.


Sesaat mereka terdiam dengan fikiran masing-masing.


"Undur aja pertemuannya dalam 2 jam lagi, Ray!" ucap Irfan.


"baik Tuan!"


"di atas meja semua berkas sudah saya tanda-tangani, namun ada beberapa yang perlu di revisi dan di data ulang. Semuanya sudah saya tulis di sana, apa saja yang harus dikerjakan!"


"Baik tuan!"


🌺🌺


"Aji gak mau kerja sama dengan kakek itu, Ayah!" bantah Fajri ketika bertemu dengan orang yang ingin bekerja sama dengannya.


"kenapa, nak? perusahaannya bagus dan besar lo!" ucap Irfan segan dengan laki-laki paruh baya yang bernama Anderson.


"Pokoknya Aji gak suka, Ayah! kakek ini pernah menawarkan Aji untuk memproduksi mesin cuci waktu lomba cipta karya beberapa tahun lalu. Dan dari cara kakek ini berbicara itu sudah terlihat ada niat yang terselubung, ayah!" ucap Fajri menerangkan.


"Nak Fajri, itu hanya kamu saja yang merasa takut kalau tertipu! saya memang benar-benar ingin bekerja sama dengan perusahaan kamu!" ucap Anderson menahan kekesalan.


"Aji gak mau! pokoknya Aji gak mau!" bantah Fajri.


Apa benar yang dikatakan oleh Fajri? tidak biasanya Fajri bersikap seperti ini terhadap investor atau apapun itu. Bathin Irfan bertanya-tanya.


"begini saja Tuan Irfan. Perusahaan ini milik anda, bukankah semua keputusan berada di tangan anda? Fajri hanya membuat Design namun anda lah yang memproduksi, bukankah itu sama saja saya bekerjasama dengan anda?" ucap Anderson.


Irfan dan Fajri mengernyit, mereka bertatapan seolah menolak kerja sama yang akan mereka jalani nanti.


Fajri benar, laki-laki ini tidak baik untuk di ajak kerja sama!. bathin Irfan


"Sepertinya, kerja sama ini tidak bisa di lanjutkan, Karna perusahaan ini milik Fajri, putra saya! kalaupun bukan dengan anda saya menjalin kerja sama, itu juga berdasarkan keputusan dari Fajri. Jadi sepertinya kita tidak bisa melanjutkan kerja sama ini!" ucap Irfan.


Fajri menghela nafasnya, sungguh ia sangat tidak menyukai laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya ini.


"Baiklah! kalau saya tau dari awal seperti ini, saya tidak akan datang untuk melanjutkan kerja sama ini! saya harap anda tidak menyesal nanti!" ucap Anderson beranjak dari ruang Irfan.

__ADS_1


Sementara ayah dan anak itu hanya mengernyit.


"bukankah dia yang mengajukan kerja sama dengan Ayah?" tanya Fajri mengernyit.


"iya, sayang!"


"kok seolah-olah kita yang mengajukan kerja samanya?"


"kamu benar, dia tidak bisa kita ajak untuk kerja sama!"


"Yuk, ayah! Kita pulang saja! Aji sudah merindukan bunda" ucap Fajri turun dari sofa dan mengambil tasnya.


"iya, sayang!"


Irfan menggandeng Fajri berjalan menuju lift dan segera pulang. Karna mereka sangat merindukan bidadari cantiknya. Perasaan bahagia menyelimuti ayah dan anak itu ketika membahas tentang putri mahkota yang sebentar lagi akan lahir ke dunia.


Bahkan Irfan dan Fajri juga sudah merancang apa saja yang akan di berikan kepada adik kecilnya. Pembagian saham 'pun tak luput dari perbincangan mereka. Hingga tanpa sadar, mobil sudah tiba di halaman rumah mewah mereka.


...🌺🌺...


"sshhh.... Huh... huh... huh..." erang Fajira yang merasakan sakit pada perutnya. Ia memegang perut bagian bawah sambil mencengkam meja nakas.


Erangannya masih terdengar lirih di dalam kamar mewah itu. Peluh dingin juga sudah membasahi tubuh Fajira karna menahan rasa sakit. Hingga beberapa saat, rasa sakit yang datang dengan tiba-tiba itu perlahan mereda.


"apa aku akan melahirkan sebelum hari perkiraan? Atau ini hanya kontraksi palsu?" tanya Fajira sambil mengusap peluhnya.


"aku harus mempersiapkan diri mulai dari sekarang!" ucap Fajira.


Ia berjalan menuju lemari dan melihat kembali isi tas yang akan ia bawa ke rumah sakit nanti. Ia melihat satu per satu perlengkapan untuk melahirkan nanti. Termasuk beberapa helai baju Fajri dan baju Irfan juga ia sediakan di dalam tas yang berbeda.


Fajira meraih satu buah bingkai foto yang berisikan foto keluarganya. Ia memandang foto itu lama bahkan tanpa sadar air mata Fajira sudah menetes di atas kaca rame itu.


"Ayah, Bunda. Beberapa hari lagi aku sudah akan melahirkan untuk yang ke dua kalinya. Temani kakak nanti di ruang persalinan, ya! Do'akan agar kami sehat semuanya di sini. Beruntung aku menemukan Ibu saat pulang ke kampung kemaren. Ayah, Bunda, Datanglah ke dalam mimpiku walaupun hanya sebentar saja. Sungguh aku sangat merindukan kalian, Adek juga!" ucap Fajira lirih dan terdengar sangat menyayat hati.


Perlahan ia terisak sambil mendekap foto berukuran 10r itu, tanpa ia sadar Fajri dan irfan sudah berdiri di depan pintu kamar yang terbuka dan mendengarkan apa yang di katakan oleh Fajira tadi.


Perlahan mereka mendekat dan menyentuh pundak ibu hamil itu dengan lembut. Fajri sudah menangis tersedu, ia segera mendekap Fajira erat tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Sementara Irfan hanya bisa menahan tangisnya. Ia harus selalu kuat di hadapan keluarga, walaupun terkadang air matanya jatuh tanpa di minta, namun sebisa mungkin ia harus menjadi penopang ketika anak dan istrinya dalam keadaan lemah.


Mereka berpelukan dalam suasana haru. beruntung Irfan dan Fajri tidak mengetahui jika Fajira tiba-tiba saja mengalami kontraksi sebelum mereka datang tadi.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2