
Siang menjelang, Irfan sudah terlihat lebih baik dari tadi pagi. Saat ini pria tampan itu tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, karna ada meeting penting yang harus ia hadiri dan tidak bisa di wakilkan oleh Ray.
"Mas," Panggil Fajira ketika masuk ke dalam ruang ganti dan melihat Irfan masih belum selesai berpakaian.
"Bantu Aku sayang" ucap Irfan menyerahkan dasi yang akan ia kenakan.
"apa sudah lebih baik?" tanya Fajira lembut.
"sudah sayang. Tapi gak tau bagaimana nanti kalau kita berjauhan," Irfan memeluk pinggang Fajira dan mengecup keningnya lembut.
"Nanti jangan banyak gerak ya sayang. Aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-napa" ucap Irfan mulai possesif.
"ihh, apa kamu lupa waktu aku hamil Fajri? Aku keliling 2 kampung untuk berjualan, Mas"
"Itu karna aku gak ada di samping kamu, sekarang aku mau kamu jadi istri yang baik selama aku pergi ya"
"ih" delik Fajira jengah melihat tingkah possesif Irfan.
"Aku nanti sore ada mata kuliah, Mas"
"Apa gak bisa izin dulu? Atau aku bantu untuk mengurus cuti kamu, sayang?"
"hei!!" hardik Fajira kaget.
"aku gak mau cuti mas, cuma 1 tahun lagi aku selesai kuliahnya" delik perempuan cantik itu dan melangkah keluar.
Namun Irfan tidak akan membiarkan Fajira pergi begitu saja. Ia menahan tangan istrinya dan menggapai penggang yang mulai berisi itu dengan lembut.
"jangan marah sayang, Ini semua aku lakukan..."
"demi kamu dan anak kita" sambung Fajira dengan wajah yang masih belum bersahabat.
"Haha.... Muach" Irfan mengecup bibir ranum itu dengan gemas.
"hmmpphh...." Suara Fajira tertahan karna Irfan sudah melu*mat bibirnya dengan lembut.
Lembutnya perlakuan Irfan membuat Fajira terlena dan ikut membalas luma*tan itu dengan sedikit panas, ia seperti menginginkan lebih.
"Mas" lirih Fajira memeluk Irfan dengan nafas yang menderu.
"yuk kita turun, Aku harus pergi" ucap Irfan mengajak Fajira tanpa melihat ekspresi dari istrinya.
"Mas" rengek Fajira dengan wajah yang merona.
"Apa sayang?, Yuk kita turun"
Ih dasar kamu gak peka!. Aku pengen mas, kamu gimana sih. Bathin Fajira berteriak kesal.
__ADS_1
Perempuan cantik itu masih mengikuti Irfan menuju ruang tamu dengan wajah cemberut. Namun ketika hendak menuruni anak tangga, Ia menarik Irfan dan segera mencium suaminya kembali. Hal itu sontak membuat Irfan terkejut, karna untuk pertama kalinya Fajira berani untuk menciumnya.
Seolah tidak ingin kehilangan kesempatan emas, Irfan membalas Fajira dengan lembut, namun ia baru menyadari jika Fajira tengah memberikannya kode untuk melanjutkan aktivitas mereka.
Tanpa menunggu lama, Irfan segera menggendong Fajira menuju ranjang mereka dan membaringkannya dengan lembut. Ia menatap Fajira dengan lembut dan penuh kebahagiaan.
"Kamu lagi pengen, sayang?" Tanya Irfan jahil.
"i-iya" cicit Fajira dengan mata sayunya.
"apa? aku gak dengar sayang"
"Iihh, aku... aku pengen Mas" rengek Fajira semakin merona.
"Tapi Aku mau kerja sayang"
"apa gak bisa di undur sebentar saja?" Fajira menatap Irfan dengan tatapan memohon.
"Gak bisa cintaku"
"tapi aku pengen" Mata Fajira berkaca-kaca karna penolakan suaminya, mungkin karna hormon kehamilan ia menjadi lebih sensitif jika tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Aku Bantu saja ya? nanti aku akan pulang cepat sayang"
"hmm" Fajira mengangguk.
"Sudah dulu ya sayang. Mas harus pergi, muach..." Ucap Irfan mengecup kening Fajira lama.
"Mas" Tatapan Fajira semakin dalam.
"sayang, Aku perginya gak lama. Palingan 2 jam aku sudah pulang. Kamu tidur saja ya, biar gak kepikiran,"
"iya" Irfan mengelus kepala Fajira lembut hingga perempuan itu terlelap dengan keadaan yang sedikit berantakan.
"cepat pulang, Mas. Aku masih pengen" lirih Fajira dalam tidurnya.
Irfan tersenyum dan segera melangkah keluar dari kamarnya. Ia bergegas pergi ke kantor untuk menghadiri meeting kali ini dengan beberapa investor baru dari Jerman. Ia akan mengembangkan bisnisnya hingga ke seluruh penjuru dunia, beruntung beberapa perusahaan yang menjadi targetnya memberikan respons yang sangat baik untuk menjalin kerja sama.
"Ray, Apa nanti kita masih sempat menjemput Fajri?"
"sepertinya tidak tuan"
"pastikan pria kecilku aman ketika berada di luar Ray"
"saya sudah mengirim beberapa body guard untuk Tuan muda, Tuan"
Mobil melaju dengan cukup kencaang mengingat waktu mereka yang semakin mepet. Hampir 15 menit irfan tiba di kantor dan langaung menuju ke ruang rapat.
__ADS_1
πΊπΊ
Sementara di sekolah, Fajri masih menatap Hanna dengan sedih, kenapa gadis cantik itu tidak mau lagi dengannya. Ia memegang sebungkus coklat yang akan di berikan kepada Hanna, berharap mereka bisa berteman lagi setelah ini.
Fajri berjalan menuju meja Hanna dan menyodorkan coklat itu kepadanya. Hanna terdiam melihat coklat yang sangat ia sukai berada tepat di hadapannya.
"Aji... Aji minta maaf karna gak bilang dari awal. Karna Bunda Aji juga gak cerita masalah ini. Aji masih mau berteman lagi sama kakak. Apa boleh?" cicit Aji pelan sambil menunduk.
"terima kasih sudah memberiku coklat" ucap Hanna mengambilnya dari tangan Fajri.
"aku gak mau berteman dengan orang kaya, karma mereka hanya akan menindasnya. Aku hanya orang miskin yang kebetulan saja mendapatkan beasiswa disini. Jadi aku gak mau kalau kamu nanti berbuat jahat sama aku" ucap Hanna lirih.
"Aji gak akan berbuat jahat kok sama kakak. Janji" ucap pria kecil itu serius sambil mengacungkan 2 jarinya.
"kalau ada yang berbuat jahat denganku bagaimana?"
"Kakak bilang saja sama Aji, nanti biar Aji yang menghadapi mereka" Ucapnya serius.
"hahaha gimana kamu mau mebghadapi mereka? sementara tubuh kamu kecil seperti ini" gelak Hanna yang berhasil membuat Fajri terpana.
Cantik.
"kakak tenang Aja, Aji Udh belajar bela diri kok. Kalau mereka banyak, Aji tinggal menelfon Bodyguard Ayah untuk melawan mereka" ucapnya bangga.
"kan bukan kamu yang menyelamatkan aku jadinya"
"iya tapi kan melalui Aku mereka gak akan bisa menyakiti kakak lagi. Hmm apa Aji minta saja satu bodyguard untuk jagain kakak?"
"eh jangan lah. Aku masih bisa jaga diri sendiri"
"Hmm jadi, apa kita bisa berteman lagi?" tanya Fajri sambil mengulurkan tangannya.
"okeh, tapi tepati janji kamu ya" ucap Hanna membalas uluran tangan Fajri.
Mereka tersenyum karna mengingat drama yang sudah mereka lalui sedari tadi. Begitulah pertemanan Anak-anak yang terkadang bertengkar namun kembali berteman setelah emosi mereka reda dengan sendirinya.
Fajri kembali bersemangat untuk belajar karna sudah berbaikan dengan Hanna. Begitu juga dengan gadis cantik itu, yang merona sambil menahan senyum mengingat ekspresi serius Fajri yang sangat mengemaskan baginya.
πππ
TO BE CONTINUE
Aduhh bocil ada-ada saja tingkahnya.
Terima kasih banyak author ucapkan kepada para readers dan author semua yang sudah mendukung cerita ku yang penuh dengan keharuan tingkat tinggi. Mungkin ada beberapa part yang bisa membuat geleng kepala karna tidak masuk di akal, namun semuanya sudah di perhitungkan dengan nalar. namanya juga novel wkwkwk. canda novel
Fajri dengan IQ 225, tidak ada yang susah baginya. Apalagi dengan memiliki Ayah dan kakek yang notabene adalah seorang pebisnis, akan membuat Fajri dengan sangat mudah untuk membangun perusahaan sendiri.
__ADS_1
Stay safe and healthy gais π€