
Selesai makan, Fajira mengajak ke dua pria tampan itu untuk pulang, karna ia merasa sangat ingin berbaring. Pinggang yang terasa sakit dengan betis yang terasa naik, membuat ibu muda itu mengeluh, bahkan ia lebih sering berhenti ketika berjalan menuju loby.
"Apa Ayah masih kuat untuk menggendong Bunda?" Tanya Fajri menatap bundanya iba. Ia juga mengusap pelan pinggang bidadarinya dengan lembut.
"Bunda sudah berat, sayang" ucap Fajira terkekeh sambil membelai kepala Fajri.
Irfan meraih ponselnya dan menelfon Ray dan meminta agar bisa membawakan kursi roda untuk istrinya.
"apa gak terlalu berlebihan Mas? kita Merepotkan Ray hanya untuk membawakanku kursi roda?"
"Gak ada yang berlebihan sayang. Apa kakinya masih pegal?" Irfan berjongkok dan meraih sebelah kaki Fajira.
"Jangan, Mas! bangunlah! gak enak di lihat sama orang," ucap Fajira memegang bahu Irfan.
"Gak papa sayang, Mending aku urut dari pada kamu menahan pegal terus," Irfan tersenyum manis menatap istrinya.
"Mas!" lirih Fajira ketika menyadari jika pengunjung Mall tersebut melihat ke arah mereka.
"Jangan hiraukan mereka sayang" ucap Irfan masih tetap tersenyum.
Fajri melihat bagaimana perlakuan lembut sang Ayah dalam memperlakukan bundanya. Ia tersenyum karna bidadari cantiknya di perlakukan dengan baik oleh laki-laki yang sempat ia benci.
Terima kasih ayah, Karna sudah mau menerima kami lagi. Walaupun Aji masih mencari alasan kenapa ayah dan Bunda dulu berpisah. Jika Aji melihat perlakuan lembut Ayah kepada Bunda, tidak mungkin Bunda tiba-tiba saja menghilang dan pergi dari hidup ayah. Apapun nanti alasannya, Aji menyayangi ayah dengan segenap jiwa dan raga Aji. Sama seperti Bunda, ayah menempati posisi dan kasih sayang yang sama. Semoga keluarga kita selalu utuh dan tidak ada lagi pengganggu yang akan membuat kita terpisah kembali. Bathin Fajri dengan mata yang berkaca-kaca.
"abang kenapa, sayang?" tanya Fajira yang tidak sengaja melihat Fajri mengusap matanya.
Pria kecil itu hanya menggeleng lalu memeluk Fajira. Ibu muda itu mengernyit dan menatap Irfan bingung.
"Abang kenapa, sayang? apa abang capek atau ada yang sakit?" tanya Irfan mengelus lembut kepala Fajri.
"Abang gak papa Ayah. Abang cuma terharu melihat perlakuan Ayah kepada, Bunda" ucap Fajri menatap Irfan dengan masih berkaca-kaca.
"Aduh, pria kecil Ayah. sini nak peluk Ayah dulu" Irfan merentangkan tangannya menyambut Fajri yang juga beralih memeluknya.
Irfan dan Fajira saling bertatapan dan tersenyum manis. Pemandangan itu tak luput dari perhatian pengunjung Mall bahkan ada yang mengabadikannya, jarang-jarang ada orang penting yang berkelana seperti itu di tempat umum.
Mereka masih bercengkerama hingga Ray tiba dengan membawa kursi roda dan beberapa orang untuk membawa barang-barang Irfan. Fajri juga sudah terlelap di dalam gendongan Irfan karna kelelahan seharian berbelanja keperluan adik kecilnya tadi.
"Silahkan Nyonya" ucap Ray mengunci kursi roda itu agar tidak bergerak ketika Fajira naik nanti.
"Terima kasih sekretaris Ray" Fajira tersenyum.
"sama-sama nyonya"
__ADS_1
"Ray. tolong kamu gendong Fajri ya. Biar saya yang mendorong kursi roda Fajira"
"baik tuan" Ray mengambil Fajri dari gendongan Irfan.
Mereka segera melangkah menuju lift dan turun menuju lantai satu. Terlihat mobil sudah menunggu mereka di loby Mall. Irfan segera membantu Fajira untuk menaiki mobil mewah itu. sementara Fajri masih terlelap dalam pangkuan Ray.
"Nanti kalau sudah sampai di rumah langsung istirahat ya, sayang. Atau mau aku panggilkan tukang pijat khusus ibu hamil?" tanya Irfan.
"gak perlu Mas, Aku mau langsung istirahat saja. Pengen berbaring, punggungku sudah pegal banget" keluh Fajira.
Irfan langsung mengusap punggung istrinya lembut sambil menyandarkan Fajira di dadanya.
Mobil melaju dengan perlahan menuju kediaman Dirgantara. Irfan masih saja menunjukkan kebucinannya kepada Fajira tanpa malu sedikitpun di hadapan Ray dan pak Sakti.
Hingga mobil mendarat dengan selamat di halaman rumah mewah itu. Ray segera mengangkat Fajri ke dalam menuju kamar milik Irfan. Sementara laki-laki itu masih membantu Fajira turun dari mobil dan kembali menaiki kursi roda.
Ia mendorong pelan kursi itu masuk ke dalam rumah, tepat ketika mereka tiba di tepi tangga, Irfan menggaruk tengkuknya.
"Kamu terpaksa jalan lagi sayang. Maaf ya, aku gak kepikiran untuk membuat lift di rumah kita dari awal. Kamu bisa berdiri kan?" ucap Irfan.
"gak papa sayang. Aku masih bisa berdiri kok. Tapi bantu pegang ya" Fajira tersenyum lembut menatap Irfan.
"iya sayang"
"Ray, tunggu saya di ruang kerja" ucap Irfan sebelum masuk ke kamar.
"Baik, tuan. Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu, tuan, nyonya"
"terima kasih Ray" ucap Fajira.
"jangan sungkan nyonya. Jika nyonya membutuhkan sesuatu silahkan hubungi saya"
"iya, sekali lagi terima kasih"
"sama-sama, nyonya"
Pintu tertutup, dan Ray segera menuju ruang kerja yang berada tepat di samping kamar Irfan.
Di dalam kamar, pria tampan itu mengambilkan baju ganti untuk Fajira dan membantu ibu hamil itu mengganti bajunya. Tak lupa ia juga membersihkan kaki Fajira dengan air hangat agar bisa beristirahat dengan nyaman.
Ia memijat lembut kaki yang terlihat bengkak itu karna terlalu lama berdiri atau memang karna pengaruh hormon.
"Sayang?" panggil Fajira sambil merasakan nyamanya berbaring dan pijatan lembut dari tangan suaminya.
__ADS_1
"iya sayang, Istirahat ya. Apa sudah lebih baik?"
"sudah, Mas. Terima kasih ya, sayang"
"sama-sama cinta"
Perlahan mata Fajira semakin sayu dan ia terlelap dengan wajah yang sangat terlihat kelelahan. Irfan menatap wajah itu dengan perasaan bersalah, jika mengandung susahnya sudah seperti ini, kenapa dia dengan mudahnya mengatakan ingin memiliki banyak anak dari istrinya.
"Tidurlah, sayang. Aku mencintaimu dengan seluruh jiwa dan ragaku" ucap Irfan mengecup kening Fajira lembut.
Setelah itu ia beralih kepada Fajri. Irfan membersihkan tangan dan kaki pria kecil itu dan tak lupa ia juga menggantikan baju Fajri, agar ia bisa tidur dengan nyaman
Setelah memastikan anak dan istrinya nyaman dalam tidur mereka, Irfan segera beranjak menuju ruang kerjanya untuk membahas beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Walaupun sekarang adalah hari weekend, namun ini hal yang sangat penting untuk di bahas karna menyangkut anak dan istrinya.
ceklek...
Irfan masuk ke dalam ruang kerja dan duduk di atas sofa yang ada di sana.
"Maaf saya harus mengganggu waktu libur kamu Ray" ucap Irfan sungkan namun sukses membuat Ray terkejut.
"i-iya tuan, tidak masalah"
"Bagaimana pembangunan rumah sakit pertama kita?" ucap Irfan serius.
"rumah sakit yang sedang kita bangun sudah rampung hampir 90% tuan, semuanya sudah saya pastikan sesuai dengan standar pembangunan kita. Besok perlengkapan rumah sakit juga sudah datang. Beberapa dokter juga sudah mendaftarkan diri di rumah sakit kita"
"bagus, Usahakan sebelum istriku menjalani koasnya rumah sakit itu sudah rampung dan sudah bisa beroperasi"
"baik tuan, saya akan mengawasinya secara langsung. Mungkin. Beberapa karyawan juga akan saya pindahkan untuk membantu nyonya Fajira dalam mengelola rumah sakit itu nanti. Besok akan saya berikan berkas-berkasnya tuan"
"kerja bagus. Bulan ini bonus kamu akan saya tambahkan"
"terima kasih, tuan"
Tuan Irfan memang sangat jauh berbeda setelah menikah dengan nyonya Fajira. Semoga kebahagiaan selalu menyelimuti keluarga anda tuan. bathin Ray
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Udah senin lagi nih gais, yuk merapat, silahkan tinggalkan kesan dan pesan teman-teman semua agar cerita ini bisa menjadi lebih baik lagi.
Dukung author terus dengan cara terbaik dari readers semua, janganlupa tinggalkan jejak ya. Vote dan hadiah juga boleh wkwk
__ADS_1
Terima kasih, salam sayang dari Fajri dan keluarga π€π€