
Setelah pembelajaran selesai, Fajira memilih untuk pulang terlebih dahulu karna bathinnya sangat lelah menghadapi hari ini. Mobil bergerak meninggalkan kampus itu dengan perlahan. Fajira tak lupa memberi pesan kepada pria tampannya karna ia dalam perjalan pulang ke rumah utama.
tuut... tuut...
"halo sayang"
"Halo mas. Kamu sudah siap rapatnya?"
"sudah sayang. Kamu sudah pulang?"
"sudah mas, aku mau langsung pulang ya"
"Iya sayang. Hati-hati. Tapi kamu gak papa kan?"
"gak papa mas, Aku baik. Fajri mana?"
"lagi ngobrol sama kepala pabrik untuk menyusun proyek berikutnya sayang"
"hmm, sudah makan?"
"bentar lagi aku makan"
Irfan menatap Fajira sambil tersenyum. Ia masih tidak menyangka jika wanita cantik yang terpampang di layar ponsel ini, sudah menjadi miliknya sentuhnya. Sementara Fajira juga tersenyum manis sambil menatap Irfan.
"kenapa mas?"
"gak papa sayang"
"Aku tutup ya, aku mau istirahat juga"
"iya hati-hati ya"
tut...
Mobil perlahan memasuki gerbang utama kediaman Irfan. Fajira segera turun dan melangkah menuju kamar dan membersihkan diri, lalu beristirahat.
Hingga sore menjelang,fajira masih terlelap, bahkan ia tidak sadar jika Irfan dan Fajri sudah pulang dari kantor.
"sayang" panggil irfan membangunkan Fajira yang tengah terlelap.
Ia mendekap Fajira ke dalam pelukannya dan mengelus kepala wanita itu dengan lembut.
"sayang" ulangnya.
"engh... Mas" Fajira mengeratkan pelukan mereka dan membuat Irfan tersenyum.
"mas sudah pulang? Jam berapa sekarang?"
"sudah sayang, sekarang jam setengah 5"
"hmm... Pria kecilku mana?"
"di bawah tadi sayang"
"Ngapain?"
"lagi memperbaiki pesawatnya. Barang-barang Fajri juga sudah mas bawa ke sini semua"
"apa Aji setuju mas?"
"setuju sayang"
"tadi kamu ninggalin Aji sama siapa?"
"sama pak Sakti"
"Aku mau lihat anakku dulu mas" Fajira berusaha untuk mengurai pelukan itu. Namun Irfan masih memeluknya erat.
__ADS_1
"mas aku mau ke tempat Aji dulu"
"sebentar lagi sayang"
Fajira mengalah membiarkan Irfan memeluknya, terasa nyaman dan aroma tubuh itu begitu memabukkan untuknya.
"Ayah! Bunda!" teriak Fajri membuat dua orang yang tengah berpelukan itu terjingkrak kaget.
"eh sayang" ucap Fajira segera duduk.
"kenapa ayah jahat? ayah ninggalin Aji sendiri di bawah, sementara ayah enak-enakan memeluk Bunda disini" ucapnya kesal
"eh Ayah memang lagi bangunin Bunda sayang"
"bohong, Aji sudah lihat apa yang ayah dan Bunda lakukan tadi" ucapnya melotot.
"sayang bukan gitu nak" sergah irfan cepat.
"ayah bohong sama Aji. Ayah jahat! Aji selalu mengajak ayah kalau mau apa-apa sama Bunda. Tapi ayah gak mengajak Aji. Ayah jahaaat!!!" teriaknya lagi.
"Aji sayang" panggil Fajira.
"Bunda juga bohong sama Aji, Bunda bilang kalau Bunda takut jika ayah membawa Aji pergi jauh, tapi ini Ayah yang merebut Bunda dari Aji" ucapnya bengis dengan sorot mata yang menyimpan kekecewaan.
"sayang bukan seperti itu nak"
"Aji mau pergi saja. Gak ada lagi yang sayang sama Aji" ucapnya terisak lalu berbalik badan dan melangkah pergi.
"Aji gak sayang lagi sama Bunda?" ucap Fajira
"Bunda lebih sayang sama Ayah" lirih Fajri
"siapa bilang sayang?"
"Aji lihat dengan mata Aji sendiri, kalau Bunda lebih sayang Ayah dari pada Aji"
"gak mau, Aji mau pergi aja. Aji mau pulang ke rumah. Kalau Bunda mau di sini sama ayah juga gak papa" Fajri berjalan keluar.
Fajira segera memberi kode kepada Irfan untuk membawa anaknya kembali. Irfan segera mengerjar Fajri dan menggendongnya ke dalam kamar. Pria kecil itu memberontak sambil meraung-raung di dalam gendongan Ayahnya.
"gak mau, ayah turunin Aji, Ayah jahaaaat. Ayaaah!!" teriak Fajri.
"Dengarkan ayah dulu sayang"
"gak mau, Ayah sudah merebut Bunda dari Aji"
"siapa yang merebut Bunda sayang? kan tadi Bunda lagi sakit"
"Ayah bohong!" teriaknya lagi.
"Aduh, kepala Bunda sakit perut" ucap Fajira tiba-tiba sambil memegang kepalanya. Dan langsung membuat Fajri terdiam lalu berlari ke arah Fajira
"Ayah turunin Aji! bundaa" teriaknya.
"Aduuuh kepala Bunda sakit perut" keluh Fajira mendrama.
"Bunda kenapa? mana yang sakit?, ayah siapin mobil kita ke rumah sakit" ucap Fajri panik.
"mana yang sakit bunda" ucapnya lagi sambil membelai kepala fajira.
"ini" Fajira menunjuk jantungnya.
"jantung Bunda kenapa?, Ayah ayo gendong bundaa" rengek Fajri
"Sakit sayang, karna Aji marah sama bunda"
"Aji gak jadi marah sama bunda, jangan sakit lagi... hiks" Fajri memeluk Fajira erat.
__ADS_1
"Aduuuh... peluk Bunda sayang"
"hiks.. jangan sakit lagi, Aji minta maaf bunda"
"Bunda juga minta maaf sayang"
"Aji sayang sama bunda, jangan sakit lagi ya"
"iya nak. Sini peluk bunda"
Fajri memeluk Fajira dengan erat, tak lupa ia melihat ke arah Irfan dan melotot setelah berkata Bunda milik Aji, awas Aja kalau ayah merebut bidadari Aji!. Irfan hanya mengaruk tengkuknya menghadapi anak genius nan possesif ini.
Fajira Dengan lembut mengusap kepala Anaknya penuh sayang, berharap pria kecilnya bisa tertidur setelah ini. Irfan kembali memeluk Fajira dari belakang sambil terkekeh pelan.
"sstt... jangan berisik anakku baru saja tidur"
"hehehe possesif banget siih anak kamu sayang"
"pissisif bingit sih inik kimi. Ya jelas bibitnya dari kamu, tentu possesifnya juga dari kamu mas" delik Fajira kesal.
Mereka menatap Fajri sambil terkekeh dan sesekali mengecup pipi gembulnya karna gemas.
Hingga malam menjelang, saat ini keluarga kecil itu sudah berada di meja makan. Fajri masih memeluk Fajira possesif dan menatap Irfan tajam.
"kok Aji gitu sih sayang? Ayah minta maaf deeh" ucap Irfan ketika mendapat wajah Fajri belum bersahabat.
"Aji gak mau temenan sama ayah lagi, Aji gak mau ajak ayah lagi kalau main sama bunda" ketusnya
"kok Aku gitu sih nak? Aji Udah gak sayang lagi sama ayah?"
"sayang, tapi Aji lebih sayang sama Bunda. Jadi Ayah jangan rebut Bunda dari Aji, atau ayah gak boleh nikah sama bunda"
"eh jangan sayang, tapi kan ayah sudah menikah dengan bunda. Ayah kan gak merebut bunda dari Aji kok" Irfan terkekeh melihat ekspresi Fajri yang sangat mengemaskan, sementara pria kecil itu hanya menatap Irfan tajam.
"sudah ya, gak boleh marah-marah sama ayah sayang berdosa" Cegah Fajira.
"minta maaf sama Ayah nak"
"hmm" Fajri menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Fajira.
"Fajri"
"tapi Ayah jahat Bunda" lirihnya sedikit tidak rela.
"Ayah gak jahat sayang, ayah memang mau membangunkan Bunda cintaku, pangeranku yang tampan"
Fajri menatap Fajira lamat, ia masih tidak terima jika kasih sayang bundanya terbagi.
Betul juga kata Bunda, kan Ayah juga sayang sama bunda. Tapi Aji gak mau bunda lebih sayang sama Ayah. mulai hari ini, Aji harus lebih sayang sama bunda dari pada Ayah. Bathin Fajri membulatkan tekad.
"Ayah, Aji minta maaf ya, karna Aji sudah marah-marah sama Ayah tadi. Aji gak mau Ayah merebut Bunda dari Aji"
"Gak ada yang merebut Bunda dari Aji nak. Ayah juga sayang sama Aji juga sayang sama Bunda. Jadi gak boleh berfikir seperti itu ya nak" ucap Irfan.
"iya ayah"
"sini peluk Ayah dulu, Ayah kangen sama Aji karna dari tadi gak bisa memeluk anak tampan ayah"
Fajri berpindah masuk ke dalam pelukan Irfan dan memeluk Ayahnya dengan lembut, sembari merebahkan kepalanya di dada bidang sang Ayah.
Makan malam kali ini di penuhi dengan drama kecemburuan Fajri terhadap ayahnya sendiri. Fajira terkekeh dalam hati melihat dua pria tampan beda generasi yang sangat possesif itu.
Hah, like father like sin. Dasar laki-laki possesif.
πππ
To be Continue
__ADS_1