Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
196. Uji Coba Mobil Baru


__ADS_3

Satu minggu berlalu, hari ini mobil milik Ivanna dan Boy akan datang dari Jerman. Fajri sudah sangat tidak sabar melihat bagaimana reaksi boy nanti. Karna malam ini acara pertunangannya juga akan di laksanakan.


Fajri masih menunggu di ruang keluarga sambil menemani Ivanna yang tengah terlelap di sampingnya. Hingga penjaga rumah memberitahukan kepada Fajri jika mobilnya sudah datang.


Dengan tersenyum, Fajri meninggalkan Ivanna dengan hati-hati dan segera melangkah keluar untuk melihat keadaan mobil. Senyumnya semakin terbit tatkala satu persatu mobil mewah itu turun dari truk.


"Letakkan di sana saja, pak!" ucap Fajri mengarahkan drivernya.


"terima kasih!" ucap Fajri mengeluarkan beberapa lembar uang seratus dan menyerahkannya kepada kurir itu.


"terima kasih, tuan!" ucap mereka berbinar senang.


"sama-sama, silahkan!"


Fajri melihat mobil itu satu persatu, Ia memotretnya dengan epik agar bisa ia post di akun pribadinya. Ia masih meneliti mobil itu, hingga ia dikejutkan dengan suara Fajira yang baru saja turun dari mobil.


"Itu mobil siapa, sayang?" tanya Fajira mengernyit.


"Eh, Bunda sudah pulang?" ucap Fajri tersenyum dan mencium tangan Fajira.


"Sudah, nak!. Ini mobil siapa?"


"ini, mobil untuk Boy satu, untuk Dede satu, Bunda!" ucap Fajri tersenyum.


"Apa kamu membuat mobil baru lagi?" tanya Fajira mengernyit.


"iya, Bunda. Waktu, Abang pergi ke Jerman, Boy sempat meminta untuk membuatkannya mobil. Ya, Abang pikir bisa jadi trobosan baru, dan juga untuk Stok nantinya," ucap Fajri memeluk Fajira dari samping.


"Berarti hanya Boy dan Dede saja yang memiliki mobil ini?" tanya Fajira.


"iya, Bunda. Apa Bunda juga mau? nanti bisa Abang pesan lagi!" ucap Fajri berbinar.


"Gak, sayang. Mobil di bagasi sudah banyak, gak kepakai tiap hari juga!" ucap Fajira menolak.


"hehehe, ah iya Bunda. Nanti malam Boy akan bertunangan, Apa Ayah dan Bunda ikut?" tanya Fajri.


"kemungkinan tidak, Sayang. Sebab Ayah sore ini akan berangkat ke kota sebelah dan akan pulang besok!" ucap Fajira.


"Apa Bunda juga ikut sama, Ayah?"


"iya, Bunda juga ikut, sayang. Nanti kamu bawa saja adek, biar dia gak sendirian tinggal di rumah!" ucap Fajira terkekeh.


"iya, Bunda. Abang juga gak akan biarin Dede sendiri di rumah! Ya sudah, Bunda istirahat saja. Nanti mau pergi jauh kan?" ucap Fajri tersenyum.


"iya, sayang! Bunda masuk dulu ya!"


"Iya, Bunda!"


Fajri mencoba untuk masuk ke dalam mobil dan memperhatikan desain interiornya yang terlihat sangat mewah dan menawan. Ia mencoba untuk menghidupkan speaker aktifnya untuk memperingati Boy dan Ivanna jika seandainya mereka berbuat hal yang lebih. Fajri segera mencoba untuk menghidupkan kedua mobil itu.


Brum,... Brum,... Brum,....

__ADS_1


Suara sangar mobil sport terdengar menggema. Sehingga membuat Ivanna terbangun dari tidurnya.


"Wah, Abang. Ini mobil siapa?" ucap Ivanna berbinar ketika melihat mobil itu.


Fajri tersenyum di dalam mobil, Ia segera keluar dan menghampiri adiknya.


"Itu untuk teman, Abang. Apa Dede suka?" tanya Fajri.


"suka bang, ini bagus banget!" ucap Ivanna mengangguk.


"Ya sudah, ambillah untuk Dede satu!" ucap Fajri tersenyum.


Deg,...


"Abang jangan bercanda!" ucap Ivanna berkaca-kaca.


"Abang serius, sayang. Ini hadiah ulang tahun, dede dari, Abang!" ucap Fajri tersenyum manis.


"Hiks, terima kasih. Akhirnya Dede punya mobil sendiri," ucap Ivanna menangis dan memeluk Fajri.


Gadis manis itu memang belum diperbolehkan untuk memiliki mobil sendiri karna usianya yang masih 16 tahun. Namun beberapa hari lagi, Ivanna sudah berusia 17 tahun, sehingga ia bisa mendapatkan surat izin untuk mengemudi di jalanan.


"sudah, sayang! Yuk,kita coba!" ajak Fajri membukakan pintu mobil untuk Ivanna.


Gadis manis itu duduk di belakang kemudi dan mencoba untuk menjalankannya. Ia memang sudah pandai mengendarai mobil sejak satu tahun yang lalu, karna poster tubuhnya yang tinggi dan tegap. Sehingga ia dengan mudah mengendarai mobil dengan mudah. Ivanna segera mengeluarkan mobil itu dari halaman dan mencoba untuk mengemudikannya di jalan kompleks yang terbilang sunyi.


"Bang, Ini nyaman banget! beda sama mobil Abang!" ucap Ivanna berbinar


"Gak aneh sih, bang. namanya juga keturunan Avicenna. Pasti aneh semua," ucap Ivanna yang memang kurang menyukai sifat keluarga avicenna yang terbilang sangat aneh.


Ivanna mencoba berkeliling menggunakan mobil itu itu keluar kompleks. Namun ketika berada di jalan berada di jalan raya, mata mereka tak sengaja menangkap beberapa orang polisi yang tengah melakukan razia. Gadis itu panik dan hampir saja berhenti mendadak di tengah jalan.


"Bang, ada polisi!" ucap Ivanna panik.


"Hidupkan kemudi otomatisnya dulu dek, terus Abang pindah ke sana!" ucap Fajri santai.


Dengan cepat Ivanna menekan tombol kemudi otomatisnya dan bertukar tempat dengan Fajri. Beruntung ia membawa semua surat-surat mobil. Namun sudah dipastikan jika mobil ini akan di razia karna belum memiliki plat nomor.


Fajri segera menepikan mobil, ketika polisi mencegat dan mengarahkannya ke tepi jalan. Ivanna menelan ludahnya kasar, ia merasa bersalah jika mobil baru ini di tulang oleh polisi.


tok,... tok,... tok,...


"Dede, jangan keluar ya, sayang!" ucap Fajri tersenyum.


Ia segera keluar dari mobil, dan menemui polisi itu dengan sopan.


"selamat siang, eh Tuan Fajri!" ucap Polisi itu terkejut.


"Iya, Pak. Maaf, mobil saya baru datang, terus plat nomornya baru keluar besok," ucap Fajri kikuk sambil menggaruk tengkuknya.


Banyak masyarakat yang melihat kejadian ini, dan memilih untuk berhenti. Fajri bingung, satu sisi ia bisa saja terlepas dari razia polisi, namun itu akan membuat citranya rusak, karma bisa lolos begitu saja.

__ADS_1


"Aduh, Maaf Tuan, saya tidak tau!" ucap polisi itu canggung.


"Aduh, jangan gitu pak! Saya juga warga negara, kalau salah saya siap di hukum!" ucap Fajri tersenyum.


Semua masyarakat terbelalak mendengarkan ucapan Fajri, karna saat ini jarang sekali ada orang kalangan atas yang mau di tilang dan selalu mencari alasan agar bisa lolos dari hukuman polisi.


"Apa surat-suratnya lengkap, Tuan?" tanya bapak itu.


"Lengkap, hanya saja mobil ini baru sampai, makanya langsung saya coba, mana tau ada kerusakan atau hal lainnya. Untuk plat nomornya barus bisa di ambil besok, Pak!" ucap Fajri menyerahkan surat-surat lengkap mobilnya.


"SIM nya tolong, Tuan!" ucap Polisi itu dengan sopan.


Fajri segera mengeluarkan dompetnya dan mengambil SIM.


"Semuanya lengkap ya, Tuan!. Jika belum mendapatkan plat nomor, lebih baik uji cobanya di jalan kompleks saja, agar tidak di tilang lagi, Tuan! Maaf!" ucap polisi itu sungkan.


"Apa saya tidak ditilang?" tanya Fajri memastikan.


"tidak, Pak!, silahkan!" ucap polisi itu.


"ah, terima kasih banyak, Pak! kalau begitu saya pamit dulu!" ucap Fajri tersenyum dan menjabat tangan Polisi itu.


"Bo-boleh minta fotonya, Tuan?" tanya Polisi itu hati-hati.


"boleh!"


Bapak Polisi segera berfoto dengan Fajri dan menjabat tangan pria tampan itu. Fajri seketika langsung di berondong oleh masa untuk meminta foto. Beruntung ia segera mesuk ke dalam mobil dan terhindar dari masyarakat yang begitu banyak.


Polisi membantu Fajri untuk keluar dari kerumunan, karna kehadirannya telah membuat kemacetan yang cukup panjang. Mereka hanya bisa kecewa karena tidak bisa berfoto ataupun bersalaman.


Fajri dan Ivanna mendeesah lega karna lolos dari mereka. Ivanna sudah terlihat pucat dan takut, ketika masa menyerbu Abang kesayangannya itu.


"Ah, kapok aku bawa mobil baru bang!" keluh Ivanna.


"hehe, jangan gitu, sayang! Habis ini kita kemana?"


"pulang aja deh!" ucap Ivanna yang sudah kehilangan moodnya.


"Gak mau jalan lagi?"


"gak usah, bang!"


Fajri segera memutar arah dan menuju pulang ke rumah. Ia hanya terkekeh melihat Ivanna yang mengkhawatirkan kondisi mobil barunya.


"Tenang saja, bahan untuk cat mobilnya itu kualitas terbaik sayang, Gak akan mudah tergores!"


Mereka mengendarai mobil menggunakan kemudi otomatis agar bisa menikmati pandangan siang menjelang sore ini. Tanpa mereka sadari banyak masyarakat yang mengikutinya hingga pulang ke rumah.


Fajri terpaksa mengumpulkan mereka menjadi satu dan melakukan sesi foto bersama, dengan syarat harus tertib dan tidak rusuh.


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2