
Saat ini Irfan sudah berada di rumahnya, ia menatap Fajri lamat dan sedih. Bagaimana ekspresi pria kecilnya ketika mengetahui kebenaran yang akan ia sampaikan nanti.
"Ayah mau ngomong apa?" tanya Fajri yang sudah tidak tahan.
"Maafkan Ayah sayang. Bunda... Bunda di culik,"
deg...
Mata Fajri membola dengan air mata yang menetes di pipinya. Ia menatap Irfan tidak percaya dengan raut wajah kecewa.
"Ayah gak bohong sama Aji kan?," ucapnya lirih.
"gak sayang, Ayah serius. Tapi Aji tenang saja ya, Ayah sedang berusaha untuk mencari Bunda dengan mengerahkan semua orang-orang ayah,"
"Bunda hilang dimana ayah?,"
"di kampus nak,"
Fajri terisak sambil memeluk Irfan erat. Otaknya berfikir apa yang akan di lakukan setelah ini.
"apa sudah ada kabar dari Bunda, ayah?,"
"Belum sayang, Ayah juga sedang mencari bunda,"
"Apa Aji boleh bantu?"
"Boleh nak. Apa yang bisa Aji bantu?"
Fajri berfikir sambil menyeka air matanya. Mata liar nan tajam itu berusaha untuk menarik ingatan yang terekam jelas dalam otaknya.
deg...
"Aji ingat sesuatu Ayah,"
"apa sayang?"
"Di dalam liontin bunda, Aji selipkan semacam GPS. Sama seperti Liontin Aji. kita bisa melacak itu" ucap Fajri berlari menuju ruang perpustakaan.
Mata Irfan membola mendengarkan penuturan Fajri. Bagaimana anak sekecil itu bisa terfikirkan untuk memasang GPS untuk dirinya sendiri dan Fajira. Ia segera menyusul Anaknya, melihat bagaimana cara kerja Fajri untuk melacak Fajira.
"Dimana terakhir kali Bunda terlihat Ayah?," ucap Fajri sambil menghidupkan komputer canggih miliknya.
"di gedung belakang kampus nak"
Fajri segera mengotak atok komputernya dan membuka beberapa aplikasi yang bisa ia gunakan. Entah apa yang ia perbuat, bahkan Irfan pun tidak paham dengan apa yang di kerjakan oleh Fajri.
Perlahan namun pasti pria kecil itu mencari dengan serius di mana keberadaan Fajira, perempuan yang paling ia sayangi. Setelah hampir setengah jam ia berkutat dengan mesin itu hingga akhirnya ia menemukan titik temu dimana Fajira berada
tiit... Suara komputer ketika berhasil menemukan keberadaan Fajira.
"Ayah, Aji menemukan Bunda. Ini di... Di bandara Ayah" Pekik Fajri melihat titik hijau itu berada di bandara dan terus berjalan menuju pesawat.
"kemana tujuannya sayang?"
__ADS_1
"Ini ke Pulau seribu Ayah. Sepertinya ini Jet pribadi"
deg...
"Ayah, Bunda bagaimana Ayah, Bunda mau di bawa pergi. Ayo susul Bunda. Aji gak mau bunda pergi Ayah!," Ucap Fajri meraung.
"Iya nak Ayah akan menyusul Bunda. Kamu terus awasi Pergerakan Bunda sayang" wajah Irfan memerah menegang menahan emosi.
Baji*ngan siapa yang berani bermain dengan ku. Akan ku bunuh kalian!.
Ia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Ray untuk memberi tahukan keberadaan Fajira saat ini.
π"Ray mereka berangkat menuju pulau seribu, Siapkan orang-orang kita untuk menangkap mereka dan membawa istriku kembali" Ucap Irfan meradang.
π"baik tuan. laksanakan!,"
Dua pria tampan Fajira itu sama-smaa terlihat menakutkan dengan wajah bengisnya. Namun Fajri terlihat bengis cenderung mengemaskan, berbeda dengan Irfan yang mampu membuat orang di sekitarnya mati ketakutan.
"terima kasih nak. Aji sudah membantu ayah," ucap Irfan membelai lembut kepala Fajri.
"Ayah jangan ngomong seperti itu, bagaimanapun juga Bunda adalah tanggung jawab Aji, Apa yang terjadi dengan Bunda juga karna kesalahan Aji yang lalai menjaga Bunda. Sekarang lebih baik kita mencari cara agar Bunda bisa kembali pulang. Aji gak mau Bunda kenapa-napa ayah" ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Maafkan Ayah yang lalai menjaga Bunda sayang,"
"gak papa Ayah. kita sama-sama lalai untuk menjaga Bunda. Tapi Aji rasa Bunda di sana akan baik-baik saja"
"bagaimana Aji bisa berfikir seperti itu sayang" tanya irfan mengernyit.
"Aji mencurigai dua orang dalang dari penculikan Bunda"
"Teman kuliah Bunda atau rekan bisnis Ayah yang waktu itu bertemu dengan Aji di ruangan Ayah"
"teman kuliah Bunda? Vino?"
"iya ayah"
"rekan bisnis ayah apa pak Bayu?"
"iya ayah, tapi Aji rasa bapak itu hanya suruhan dari seseorang"
"bagaimana Aji bisa berfikiran seperti itu"
"Kalau om vino sudah pasti beralasan Suka sama bunda Ayah. Tapi kalau bapak itu aji belum tau pasti. Coba kita telaah dulu, Ayah bisa dibilang baru merambat kepada bagian usaha industri. Bagaimana bisa bapak itu mempercayakan proyek yang sangat besar menjadi tander pertama ayah? bukan Aji meragukan kemampuan Ayah, tetapi..."
"Ayah paham maksud Aji. Jadi dia bekerja sama dengan perusahaan Ayah karna ada satu dan lain hal"
"iya Ayah, Dan Aji yakin kalau dia juga merupakan suruhan dari seseorang,"
Siapa sebenarnya dalang di balik ini semua. Fajira, sayangkuh semoga kamu bisa menjaga diri di sana, aku akan segera menjemputmu.
"itu sampai kapan GPS nya bisa terdeteksi sayang?"
"hmm Aji kurang tau pasti ayah, tapi Kalau masih dalam lingkup Indonesia, Aji rasa masih terdeteksi" ucapnya menatap layar komputer dengan titik hijau yang masih berjalan.
__ADS_1
"Ayah istirahat ya, biar Aji yang mengawasi Bunda" sambungnya
"Ayah diaini aja menemani Aji nak. Ayah gak akan bisa tenang kalau seperti ini"
"Ayah, Aji cuma punya ayah sekarang. Nanti kalau ayah sakit Aji bagaimana?"
"Ayah pangku Aji saja ya nak, Biar ayah tidur di kursi"
"iya ayah, boleh!."
Irfan duduk di kursi komputer sambil memangku Fajri. ketika hendak memejamkan mata mereka di kejutan dengan panggilan masuk yang berasal dari nomor yang tidak dikenal. Irfan langsung mengangkatnya dan membola ketika mendengar suara yang sangat ia kenal sedang berteriak disana.
π"hallo?" Ucap Irfan.
π"tuan Irfan Dirgantara. Apa anda sedang mencari perempuan yang paling anda cintai?"
π"siapa anda? dimana istriku?" ucap Irfan tenang dengan emosi yang membuncah.
π"Ada, dia aman bersama saya,"
π"mas, Tolong aku maaas!!!. haphh... hmm... hmm...," Ucap Fajira terputus karna mulutnya di bekap.
π"Lepaskan dia untuk bosa kami, atau anda hanya akan mendengar Fajira hanya tinggal nama saja"
tut...
"halo... halo...!" teriak Irfan
"brengs*ek" umpatnya kasar.
"Ayah" lirih Fajri.
"Ayah jangan emosi dulu ya, Kita akan mencari cara untuk menyelamatkan Bunda. Kita gak boleh gegabah atau Bunda dalam bahaya" sambungnya.
"Apa nak, Apa yang harus kita lakukan?"
"mereka masih di dalam pesawat, Yang penting kita tau dimana posisi Bunda saat ini ayah, baru bisa kita tentukan apa langkah selanjutnya yang akan kita ambil,"
Irfan terisak sambil memeluk Fajri, sungguh ia sangat menyesal karna menolak kehadiran pria kecil ini. Bahkan otaknya jauh lebih pintar untuk menganalisis sesuatu, bahkan memprediksi dalang penculikan Fajira.
Mereka hanya saling berpelukan hingga Irfan terlelap dengan sendirinya karna merasakan usapan lembut dari tangan Fajri di pipinya.
"tidurlah Ayah, Aji gak mau ayah sakit. Walaupun tidak di pungkiri jika Aji sangat khawatir sama Bunda. Semoga kita bisa menemukan Bunda dengan cepat"
Ia segera mengirim Ray pesan untuk datang ke rumah dan membicarakan langkah selanjutnya yang bisa di ambil.
πππ
TO BE CONTINUE
Author ada rekomendasi novel lagi nih, ini genrenya survival. Kalau teman-teman suka cerita yang bikin tegang, bisa nih mampir kesini. Novelnya bagus banget kalau gak percaya coba baca aja gais π€
__ADS_1