Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
93. Kekhawatiran Yang Berlebihan


__ADS_3

Kepanikan juga terjadi di kediaman utama Dirgantara, pria possesif itu juag menghubungi keluarganya dan mengatakan jika perut Fajira sakit. Saat ini sepasang manusia yang sudah menua itu berada dalam perjalanan menggunakan helikopter agar bisa sampai lebih cepat.


Irfan juga berteriak meminta pertolongan kepada bi Yuri dan pekerja lainnya untuk mengambilkan air hangat atau apapun agar bisa mengurangi sakit yang di alami oleh istrinya.


Aku sedikit menyesal mengatakannya kepada kamu, Mas. Tau begini aku lebih baik diam saja tadi. Bathin Fajira jengah melihat kelakuan Irfan yang terlampau khawatir terhadap kandungannya.


Sementara Fajri terbangun karna mendengarkan suara Irfan yang begitu keras. Ia menatap Fajira yang terbaring dan wajah Irfan yang begitu khawatir, membuatnya segera turun dan bergerak cepat agar bisa memastikan jika bunda dan calon adiknya baik-baik saja.


"Bunda!" teriak Fajri naik ke atas tempat tidur.


Haduh!, aku merasa tidak sanggup mengurus dua pria possesif ini. Bathin Fajira pasrah.


"Bunda kenapa?" tanya Fajri memeriksa Fajira satu persatu. Sedikit banyaknya ia tau bagaimana cara memberikan pertolongan pertama pada orang yang sedang sakit.


"Bunda gak papa sayang,"


"tapi..." Ucapan Fajri terputus karna kedatangan 3 orang dokter kandungan bersama dengan Ray. Irfan segera bangun dan berjalan ke arah mereka.


"tolong istri saya dokter, dia mengatakan kalau perutnya keram, karna tadi istri saya habis berdebat dengan seorang perempuan" lirih Irfan sambil menatap Fajira.


"Hanya itu, tuan? Tidak ada hal yang lai?" tanya salah satu dokter dan membuat Irfan tersulut emosi.


"Apa kau bilang? Hanya itu? bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anak dan istri saya Hah? kau seorang dokter tapi bisa berkata seperti ini hanya sebuah hal yang sepele" Irfan menata horor ke arah dokter itu.


"tuan, sebaiknya Nyonya segera kita periksa. Dari pada harus berdebat seperti ini" ucap Ray memenangkan Irfan.


Laki-laki itu mengalah, dan meminta dokter untuk memeriksa keadaan Fajira. Dokter itu cukup terkejut dengan kondisi janin Perempuan berharga milik irfan itu. Peluh dingin mulai menyebar ke seluruh permukaan kulitnya.


"bagaimana keadaan istri saya dokter?" desak Irfan yang sudah tidak sabar mengetahui keadaan Fajira.


"Iya, dari hasil pemeriksaan saya, Nyonya memang mengalami syok dan terguncang, Tuan. Mungkin karna berdebat dengan perempuan yang Anda maksud tadi. Beruntung janin yang sedang di kandung oleh nyonya cukup kuat" Dokter itu sedikit menghela nafasnya karna janin Fajira yang masih kuat.

__ADS_1


"Saya menyarankan Agar nyonya bisa bedrest selama dua hari dan juga tidak berhubungan badan terlebih dahulu, hingga kondisi nyonya kembali stabil. Ini ada beberapa vitamin untuk Nyonya konsumsi. Semoga lekas sembuh. Mungkin Nyonya akan mengeluarkan sedikit Flek karna janin cukup terganggun, Tuan. Tapi tidak ada masalah yang serius, sejauh ini ko disi ibu dan bayi baik-baik saja. Namun dalam dua hari jika fleknya belum hilang, silahkan datangi dokter untuk pemeriksaan yang lebih intensif," Ucap dokter perempuan itu sedikit sungkan dan tersenyum sambil menatap Fajira.


"Terima kasih banyak dokter, Maaf ya suami saya sudah membuat dokter menjadi panik dan buru-buru untuk datang ke sini" Ucap Fajira sedikit segan dengan perilaku Irfan.


"Gak papa Nyonya, ini sudah kewajiban kami untuk memenuhi keadaan darurat seperti ini. Apa masih ada yang ingin di tanyakan Nyonya? tuan?" tanya dokter itu sambil membereskan peralatannya.


"Apa Aji boleh bobo sambil memeluk Bunda, dokter?" ucap Fajri yang sudah berbaring di samping Fajira sambil mengelus perut yang sudah sedikit menonjol itu.


"Boleh saja, Tapi kalau Tuan muda tidurnya banyak gerak. Nanti di takutkan Dedenya ke tendang sama abang" Ucap dokter itu sedikit takut karna lancang memanggil fahri dengan sebutan Abang.


Namun ia hanya berfikir ini sangat baik untuk membangun kepercayaan diri anak kecil. Ia tersenyum manis menatap Fajri yang sudah sangat mengkhawatirkan Bunda dan adiknya.


"Aji paham dokter, terima kasih" Fajri kembali mengelus perut Fajira dengan lembut, berharap dengan usapan tangannya, adik yang ada di dalam perut itu bisa lebih tenang dan merasa terlindungi olehnya.


"abang sudah pintar ya menjaga adiknya" puji dokter perempuan itu berhasil membuat Fajri merona dan bangga.


"Terima kasih bu dokter" calon abang itu menyembunyikan wajahnya di pinggang Fajira dan membuat semua orang di sana menjadi gemas.


"iya terima kasih dokter. Sekali lagi saya mohon maaf" ucap Fajira sungkan.


"tidak apa-apa nyonya, permisi"


Semua orang pamit dan segera keluar dari ruangan itu. Tinggal keluarga kecil Irfan di dalam kamar. Kedua laki-laki itu terlihat berkaca-kaca, mereka merasa bersalah karna tidak bisa menjaga Fajira sampai hal ini terjadi.


"Ayah sama abang kenapa?" tanya Fajira yang sudah letih melihat sikap berlebihan dari kedua prianya.


"maaf, " ucap Fajri dan Irfan berbarengan.


Fajira hanya berusaha menahan tawa, ketika melihat ekspresi dua pria tampannya yang tengah duduk sambil menekuk wajah mereka.


"Sudah ya, tadi kan kata dokter bunda gak papa. Cuma butuh istirahat saja" ucap Fajira merentangkankan tangannya agar dua pria itu bisa masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"uluh-uluh tayang Bunda ini. Habis ini mandi lagi ya, Bunda mau istirahat dulu sebentar" ucap Fajira dan di angguk oleh Irfan dan Fajri.


"Udah sana mandi dulu" Fajira melepas pelukannya.


"Ayah saja yang mandi dulu" ucap Fajri kembali berbaring di samping Fajira.


"Aji saja dulu nak, biar ayah yang menemani Bunda" ucap Irfan mengelus perut istrinya.


"mandi berdua Ayo, Biar cepat!" sergah Fajira cepat menyudahi perdebatan dua orang laki-laki possesif itu.


"Ayo sayangnya Bunda, Mandi dulu ya, nanti kita tidur lagi sambil peluk-peluk" sambung Fajira kembali.


"iya Bunda" ucap Fajri merentangkan tangannya meminta untuk di gendong oleh Irfan.


"Jangan kemana-mana ya sayang" ucap Irfan lagi sebelum ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Fajira menghela nafasnya yang terasa berat. Ia lelah bukan karna sakit, tapi ia lelah karna mengurus dua pria tampannya yang memang harus benar-benar di jaga, agar tidak di colong oleh orang lain dan meladeni semua sifat possesif mereka. Namun satu sisi ia juga sangat bahagia karna sudah ada yang memperhatikannya selepas kepergian orang tua yang sangat ia sayangi.


Perlahan Fajira menutup mata dan terlelap di atas kasur empuk itu. Ia sangat merasa lelah karna emosi yang tak kunjung reda, di tambah hormon kehamilannya yang semakin bertambah. Namun ia masih bersyukur karna anak yang tengah ia kandung dalam keadaan baik baik saja.


Tak berapa lama dua pria possesif itu keluar dengan handuk yang melilit di tubuh masing-masing. Mereka sedikit bernafas lega melihat Fajira, perempuan yang paling mereka sayangi sudah terlelap.


"Ayah, Bunda sudah tidur. Apa kita saja yang memasak untuk makan malam?" tanya Fajri.


"kita minta tolong sama bi Yuri saja sayang. Ayah gak mau meninggalkan Bunda" Ucap Irfan sambil memakaikan baju Fajri.


"iya ayah"


Mereka segera keluar dari kamar ganti. Irfan memindahkan Fajira ke kampung king size mereka dan memeluk perempuan cantik itu dengan lembut sambil mengelus perut rata Fajira.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2