
Acara pernikahan Fajri digelar begitu meriah. Awak media bebas meliput apapun dengan catatan tidak boleh rusuh dan melanggar serangkaian protokol acara yang sudah di tetapkan sebelumnya.
Berbagai ucapan dan do'a datang silih berganti. Senyum manis Fajri selalu terukir dan menjadi pemandangan yang indah bagi semua undangan.
Ivanna, gadis cantik itu tak henti menatap Fajri dan Safira yang masih berada di atas pelaminan. Tangis haru berusaha untuk ia tahan sekuat tenaga agar tidak pecah begitu saja. Ia masih tidak menyangka, jika Abang kesayangannya sudah menikah dan memiliki tanggung jawab yang baru.
Semoga Abang bahagia selalu, Dede yakin kalau kakak adalah perempuan yang tepat untuk Abang!. Batin Ivanna.
"Hai?" sapa seseorang dan duduk di samping Ivanna.
Gadis itu hanya menatap Bryan dengan dingin. Entah kemana perginya laki-laki ini, setelah mengucapkan niat jika ia akan datang ke rumah. Bahkan hampir satu bulan Ivanna tidak pernah melihatnya lagi.
"Hmm, apa kabar princes?" tanya Bryan dengan senyum manisnya.
"Baik!"
"Kamu cantik, banget hari ini!" puji Bryan.
"thanks!" ucap Ivanna biasa saja.
"Semoga kita juga cepat bersanding, ya! Ah aku sudah tidak sabar untuk mempersuntingmu!" ucap Bryan menatap Ivanna lekat.
"Ada perlu apa?" tanya Ivanna tidak menghiraukan Bryan.
"Maaf, karna malam itu aku tidak jadi datang ke rumahmu! Aku harus terbang ke Singapura untuk mengurus bisnisku!" ucap Bryan menerangkan.
"Hmm,..." Ivanna hanya berdeham.
Ia meraih ponsel dan memosting beberapa foto yang ia ambil bersama dengan keluarganya. Senyum tipis berhasil menghiasi wajah cantik itu dan sukses membuat Bryan terpana.
Ia sengaja mengambil foto Ivanna dari samping yang terlihat sangat cantik. Ia berusaha agar tidak ketahuan oleh empunya. Tepat ketika Bryan mengangkat wajahnya dan menatap Fajri, tanpa sengaja mata mereka beradu pandang.
Glek!,
Bryan kesulitan untuk menelan air liurnya ketika melihat tatapan mata tajam Fajri yang terasa menusuk hingga ke jantungnya. Fajri semakin membelalakkan mata menatap Bryan seolah mengatakan, mati kau jika tidak kau hapus foto adikku!. Kerena takut, Bryan langsung menghapus foto Ivanna yang sempat ia ambil tadi.
"Na, Aku punya sesuatu untuk kamu!" ucap Bryan menyerahkan sebuah kotak perhiasan.
"Maaf, Saya tidak suka dengan perhiasan! tolong berhenti memberi saya barang seperti itu!" ucap Ivanna tegas.
Deg!
"Baiklah!" ucap Bryan lirih.
Dengan raut wajah kecewa, ia memasukkan kembali kotak itu ke dalam sakunya. Ia hanya terdiam. ternyata waktu bisa mengubah sifat Ivanna
Sekarang kamu semakin dingin, Na. Sepertinya aku memang harus berjuang keras untuk menaklukan hati kamu lagi. Semangat Bryan!. Batin Bryan menyemangati dirinya.
Ia memilih untuk mengambil beberapa cemilan dengan rasa coklat dan membawanya menuju meja tadi. Ia menyerahkan makanan itu kepada Ivanna, sebagai langkah awal untuk memulai proyek memikat hati gadis cantik itu.
Semoga berhasil!.
__ADS_1
Ivanna yang memang lapar, mengambil kue yang ada di dalam piring itu.
"Terima kasih!" ucap Ivanna.
"Sama-sama cantik!" ucap Bryan tersenyum manis dan menampakkan dua lesung pipinya.
Ivanna sedikit merona mendengarkan pujian dari mukut manis Bryan. Namun ia hanya mengalihkan pandangannya, agar Bryan tidak menyadari raut wajah yang tengah merona itu.
"Yes!" desis Bryan tanpa bersuara dengan tangan yang mengepal.
Sementara di atas pelaminan, Safira mengernyit ketika melihat ekspresi Fajri yang tiba-tiba saja berubah.
"kenapa, kak?" tanya Safira.
Ia mengikuti pandangan mata suaminya dan melihat jika Ivanna tengah di ganggu oleh seorang laki-laki.
"Apa Dede akan baik-baik saja, kak?" tanya Safira.
"Semoga saja, sayang. Aku seperti pernah melihat laki-laki itu, tapi dimananya aku lupa!" ucap Fajri lirih.
Ia segera memanggil beberapa orang yang ada di dekatnya untuk mengawasi Ivanna dan laki-laki itu.
Hingga malam menjelang, acara pernikahan Fajri sudah selesai. Besok, acara akan di langsungkan setengah hari sebelum mereka berangkat ke Jerman.
πΊπΊ
Fajri dan Safira sudah berada di dalam kamar pengantin yang di tata dengan indah dan cantik, di penuhi dengan kelopak mawar yang berbentuk hati di di atas kasur yang sebentar lagi akan berguncang.
Wajah Fajri sudah merona ketika ia mengingat pelajaran yang di dapat dari Irfan sebelum hari pernikahan.
Tahan Fajri, istrimu masih lelah, jangan biarkan dia semakin tersiksa dan tidak bisa bangun tepat waktu, besok pagi. Batin Fajri yang masih mengamati Safira yang tengah membuka pakaiannya satu persatu.
"Butuh bantuan, sayang?" tanya Fajri mendekat.
"Iya, kak. Aku kesulitan untuk membuka sanggul ini!" ucap Safira.
Fajri membantu Safira setelah melepaskan jas dan dasinya.
"Capek banget, ya?"
"iya, kak. Betisku terasa keram karna kelamaan berdiri," keluh Safira.
"Nanti, aku pijit ya!"
"kakak, pasti juga capek, lebih baik setelah mandi kita langsung istirahat!" ucap Safira dengan wajah yang mulai bersemu.
"baiklah!"
Mereka masih sama-sama gugup, padahal mereka sering berada berdua di dalam apartemen dan berciuman. Namun malam ini terasa sangat berbeda, segudang rasa canggung dan gugup pun melanda.
"kakak, mau mandi dulu?" tanya Safira.
__ADS_1
"kamu saja dulu, sayang! biar bisa langsung istirahat!" ucap Fajri tersenyum.
"baiklah!"
Safira masuk ke dalam kamar mandi dengan jantung yang berdetak kencang. Ia segera membersihkan diri dan tak lupa memakai baju tidurnya. Beruntung Safira sudah menyembunyikan satu baju yang tidak terlalu terbuka. Karna Ivanna sudah membawa kabur kopernya dan menyisakan satu lingeri merah menyala di dalam lemari.
Huh dasar adik ipar gak ada akhlak! gak tau apa, hari besok masih panjang, huaa!. Ringis Safira.
Setelah selesai ia segera keluar dari kamar mandi dan melihat Fajri tengah membuka celana dan hanya menyisakan boxer ketat yang mencetak bagian bawahnya.
Deg!
Safira tidak berteriak, namun membeku dengan mata yang tak lepas dari tubuh Fajri. Justru pria tampan itu terkejut hingga terlonjak dan mengambil celananya kembali.
"sa-sayang? sejak kapan kamu disitu?" ucap Fajri terbatas.
"Apa kakak malu?" tanya Safira dengan wajah yang merona.
"Sa-sayang?" ucap Fajri tidak percaya dengan sikap Safira yang terlihat tenang.
"Hehe, besar juga!" ucap Safira terkekeh.
Astaga, sayang! apakah kamu benar istriku yang polos?. Batin Fajri tidak percaya sambil menatap Safira yang berjalan menuju ranjang.
Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dengan wajah yang sudah sangat merah karna malu. Sementara Safira hanya terkekeh geli dengan wajah yang juga merona.
Astaga, fikiranku! Hehe, kamu memang terlihat mengemaskan dari segala sisi, kak!. Batin Safira.
Ia membereskan kasur yang dipenuhi dengan kelopak mawar itu. Setelah selesai, ia segera berbaring sambil menunggu Fajri yang tengah membersihkan badannya.
Tanpa di sadari, ia sudah terlelap begitu saja, tanpa menunggu sang suami. Beruntung ia sempat menyiapkan pakaian yang akan di gunakan oleh Fajri nanti.
Ceklek!
Wajah segar Fajri terlihat tampan dengan keadaan basah. Rambut lurus yang jatuh di keningnya membuat tingkat ketampanan Fajri naik berkali-kaki lipat. Namun sayang, sang istri sudah lebih dulu masuk kedalam alam mimpi.
Sambil tersenyum dan menatap wajah lelah Safira, Fajri mengenakan pakaian dan berbaring menyusul sang istri menuju ke alam mimpi sambil berpelukan.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Lunas!π
Sebenarnya, aku mau menerima tantangan ini besok, karna tanggalnya cantik dan istimewa. Namun Karna besok takut tidak sempat, makanya hari ini aku coba untuk menantang diri aku sendiri. Apakah sanggup atau tidak.
Finally I got It!
Terima kasih supportnya gais. Terima kasih sudah mau bedonasi untuk karya ku ini. Semoga makin menghibur dan selalu di nanti.
Semoga tuhan membalas semua kebaikan teman-teman dan di lipatgandakan. Aamiin.
__ADS_1
Jangan lupa, ikuti terus Anak sultan karna di final episode aku akan mengadakan give away kecil-kecilan untuk pembaca yang beruntung.
Stay tune π€π€