Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
82. Lomba Cerdas Cermat


__ADS_3

Fajri, Hanna dan 13 orang siswa lainnya belajar dengan sungguh-sungguh agar bisa memenangkan lomba cerdas cermat tingkat kota tahun ini.


Fajri terlihat kelelahan, karna dirinya belajar cukup keras untuk persiapan lomba cerdas cermat. Walaupun Fajri memiliki IQ yang tinggi tapi dia tidak suka dengan pelajaran matematika, sehingga ia harus kembali membuka lembaran buku dan mencoba banyak soal yang di bantu oleh Fajira.


Kini pria kecil itu tengah terlelap di dalam pangkuan ibundanya. Dengkuran halus terdengar di setiap tarikan nafas Fajri. Fajira hanya tersenyum menatap putra kecilnya yang sudah tumbuh menjadi anak yang santun dan penyayang.


Fajira terkikik geli ketika mengingat Fajri yang sering kali mengeluh ketika merasa sudah bosan mengerjakan soal yang ia berikan, Namun pria kecil itu masih tetap mengerjakannya.


Fajira mengelus kepala putra kebanggaannya dengan lembut, hingga Irfan pulang dari kantor dan ikut memeluknya.


"sayang" ucap Irfan manja sambil memeluk Fajira tanpa mencuci tangan dan kakinya.


"Mandi dulu mas, bersih-bersih. Aku lagi hamil lo," omel Fajira.


"sebentar sayang,"


"gak mau mas, nanti anakku terinfeksi virus yang kamu bawa"


" ya sudah" Irfan berjalan dengan langkah tegap menuju kamar mandi sambil melepas bajunya satu persatu.


Fajira menatap Irfan tanpa berkedip dan berusaha untuk menelan ludahnya yang seolah menyangkut di tenggorokan. Irfan tersenyum jahil ketika mendapati Fajira tengah terpesona melihat tubuhnya. Tanpa canggung Irfan membuka celana di depan Fajira dengan santai, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Ih bisa-bisanya aku terpesona tanpa bisa mengalihkan pandangan darinya. Tapi itu sangat menggoda. Huh tahan Fajira ingat lagi hamil, gak boleh sering-sering. Apa mas Irfan tau jika aku menatapnya dengan lapar? huaa semoga saja tidak. bathin Fajira menjerit.


Ibu muda itu membaringkan Fajri di atas kasur dan berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan baju tidur Irfan. Setelah itu ia kembali menuju ranjang dan ikut berbaring sambil memeluk Fajri. Tak butuh waktu lama, ia sudah terlelap di sana.


Irfan mengernyit melihat Fajira yang sudah terlelap dalam waktu yang cukup singkat. Ia segera memakai pakaiannya dan berjalan menuju ranjang untuk melihat bagaimana keadaan wanitanya itu.


"sayang" panggil Irfan sambil mengelus wajah Fajira lembut.


"apa sudah tidur" Irfan hanya membiarkan anak dan istrinya tertidur.


Pria tampan itu berjalan menuju meja belajar Fajira dan menyambung pekerjaannya yang sudah terbengkalai karna ngidam ini. Cukup lama irfan kerkutat dengan komputer lipat itu, ketika semua pekerjaan selesai,ia memilih untuk beristirahat sambil memeluk Fajira, tak lupa ia memindahkan Fajri ke ranjangnya yang ada di kamar itu.


"selamat tidur jagoan Ayah... muach" Urfan mengecup pelan pipi anaknya.


Ia segera berbaring di dapuuhng Fajira dan memeluk perempuan cantik itu dengan lembut. Tidak butuh waktu lama ia terlelap dengan nyaman, berharap mual itu tidak lagi menderanya.


🌺🌺


Pagi ini Fajri audah siap dengan baju sekolahnya, begitu juga dengan Fajira dan Irfan. Orang tua Fajri itu mengunakan baju yang senada agar terlihat kompak. Irfan sudah di baluti dengan hand body dan parfum milik Fajira, sehingga ia sedikit lebih baik, walaupun masih merasakan mual sesekali.


"ayo Bunda, Ayah, Nanti Aji terlambat" Ucap Fajri sudah berlari keluar rumah.


"Sudah, Mas?" tanya Fajir


"sudah sayang. Nanti jangan jauh-jauhya"


"iya, Mas"


Irfan menggandeng tangan Fajira dan melangkah menuju mobil yang sudah siap di halaman rumah.


"Ayo kita berangkat ayah" teriak Fajri senang.

__ADS_1


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju sekolah Fajri. Pria kecil itu kembali membaca buku matematika agar ilmu yang ia punya bisa di serap lebih baik.


Hingga mobil berhenti di parkiran sekolah. Anak-anak yang ikut lomba sudah berkumpul di halaman sekolah untuk menerima arahan dari Ibu Rully sebagai guru yang bertanggung jawab atas lomba ini.


Setelah memberikan arahan, mereka segera berangkat menuju ke tempat dimana lomba akan di laksanakan.


Semua orang tua menemani anaknya untuk ikut lomba kali ini. Namun Fajira bukan hanya menemani Fajri, tapi ia juga akan memastikan jika anaknya tidak mendapatkan kecurangan dari pihak penyelenggara atau pihak manapun.


"Aji sudah siap nak?" tanya Irfan


"sudah Ayah. Aji sudah sangat siap, semoga saja nanti Aji bisa menang" Ucapnya antusias.


"Bunda jadi ingat waktu Aji ikut lomba cipta karya tahun lalu, hehe" ucap Fajira terkikik.


"iya bunda, hampir saja Aji di diskualifikasi karna umur Aji yang masih kecil"


"di diskualifikasi bagaimana sayang? bukannya Aji juara 1 kan?" tanya Irfan


"iya Ayah, tapi waktu Aji tampil, ada salah satu juri yang gak setuju, tapi untung Bunda bisa meyakinkan juri agar Aji masih bisa tampil. Dan beruntung langsung dapat juara satu" ucap Fajri bangga.


Benarkah? siapa juri itu? kenapa tidak ada yang melaporkan masalah ini. Irfan menatap Fajira tanpa berkedip.


"Kamu jangan berfikir untuk menghancurkan orang lain, Mas" ucap Fajira.


"Ayah kenapa?"tanya Fajri.


"Gak papa sayang. semoga nanti gak ada yang curang sama abang lagi ya nak" ucp Irfan dan menggoda Fajri.


Tak berapa lama, rombongan Fajri sudah tiba di Kantor balai kota, tempat di selenggarakannya lomba tersebut. Fajri melangkah dengan tangan yang gemetaran dan memilih untuk mengulurkan tangannya kepada Irfan agar ia bisa di gendong.


"Ayah gendong" ucap Fajri kepada Irfan.


sementara Fajira dan Irfan terkikik melihat Fajri yang di landa kegugupan. Pria kecil itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Irfan. Ia malu bercampur gugup karna takut sekolahnya akan gagal seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Fajri" panggil Hanna.


"eh kak Hanna. Ayah Aji mau turun" Irfan segera menurunkan Fajri dan menatap gadis cantik yang ada di belakangnya.


"Kakak datang sama siapa?" tanya Fajri.


"sama Mama ku, Aji sama ayah ya?"


"iya kak, sama Bunda juga," ucap Fajri menunjuk Fajira yang berada di samping Irfan.


"ayah ini kak Hanna, teman Aku di sekolah" ucap Fajri memperkenalkan Hanna kepada orang tuanya.


"selamat pagi om eeh pak" ucap Hanna gugup dan sopan sambil mengulurkan tangannya. Irfan menatap gadis manis itu dengan lamat, kemudian ia membalas uluran tangan Hanna dengan hangat.


"Hanna satu kelas dengan Fajri?" tanya Irfan.


"iya om,"


"panggil Ayah saja ya, Apa Fajri genit sama kamu?" tanya Irfan jahil.

__ADS_1


"ayah!" protes Fajri dengan wajah yang mulai merona.


"Mas, sudah ih jangan di godaan. hehe. Hanna satu tim sama Aji kan?"


"iya Bunda"


"semoga menang nanti ya nak"


"iya Bunda. terima kasih"


Mereka segera masuk ke dalam aula balai kota dan mengambil tempat masing-maaing yang sudah di sediakan.


Banyak pasang mata yang menatap Fajira dan Irfan, karna sangat jarang sosok dua orang itu berada di kerumunan yang cukup padat seperti saat ini.


MC sudah mulai membuka acara dengan sangat baik dan meriah.


"untuk sesi pertama, Grub A perwakilan dari sekolah XX, akan melawan perwakilan sekolah XYZ. kepada perwakilan sekolah dipersilahkan untuk mengambil tempat.


Fajri, Hanna dan Ziyyad mengambil tempat pada posisi grup A. Mereka saling menguatkan satu sama lain, namun Fajri lah yang sangat mereka harapkan bisa membawa nama sekolah dan memenangkan lomba ini.


"lomba cerdas cermat hari ini di mulai"


"soal pertama, siapa presiden pertama Indonesia"


Teet ... Fajri lebih dahulu memencet tombol.


"insinyur soekarno" jawab Fajri sedikit kesal. Ia cukup kesusahan menjangkau mic yang berada di atas meja, karna porsi tubuhnya yang masih kecil membuat Fajri menarik mic itu dan memegangnya.


"betul, 10 poin untuk tim A. Soal selanjutnya. Siapa bapak koperasi Indonesia"


Teet... Fajri memencet kembali tombol itu.


"bapak Mohammad Hatta"


"betul"


Fajri tersenyum manis ke arah Fajira dan ayahnya. Ia merasa sudah sangat bisa membuat orang tuanya bangga.


Mereka masih saling memperebutkan jawaban. Hingga ketika Fajri menajawab soal matematika, ia kembali merasa di curangi disana


"Skor saat ini imbang, 150-150. perhatikan baik-baik soal terakhir. Bona pergi ke toko alat tulis untuk membeli tinta bolpoin. Harga 1 buah tinta bolpoin Rp 1.820. Jika Bona membeli 1 lusin tinta bolpoin dan Ia membayar 5 lembar uang lima ribuan. Berapa uang kembalian yang Bona terima?"


Teet... Fajri dengan cepat memencet tombol itu dan membuat semua orang kaget dan kagum dengan kepintaran Fajri.


"3.160 rupiah" ucapnya


"salah, silahkan tim B" ucap MC segera


"...."


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2