
Ivanna menatap Fajri yang tengah mengotak atik komputer di dalam perpustakaan. Ia sangat penasaran dengan apa yang tengah dikerjakan oleh abang tampannya itu.
Perlahan Ivanna mendekat kearah Fajri dan memperhatikan pergerakan yang di lakukan olehnya. Otak cerdas Ivanna merekam apapun yang ia lihat.
"abang ngapain?" tanya Ivanna yang sangat penasaran.
"abang lagi cek data perusahaan, sayang! Tugas Dede sudah siap?"
"sudah, bang! Boleh Dede lihat abang kerja?" mata polos Ivanna menatap dengan penuh harap.
"boleh, sayang!" Ucap Fajri segera menggendong gadis manis itu di atas pangkuannya.
"Dede lihat aja ya, sayang!" sambungnya.
"iya, bang!"
Gadis kecil ini hanya melihat dan memperhatikan apa yang tengah di kerjakan oleh abangnya, tanpa bertanya ataupun bersuara. Hampir tiga puluh menit mereka berada di depan layar komputer itu. Hingga Fajri selesai melihat keamanan data perusahaannya dan perusahaan Irfan.
"Apa Abang sudah siap?" tanya Ivanna.
"sudah, sayang! Yuk, kita keluar!" ucap Fajri menggendong adik kecilnya.
"yuk, bang!" Ivanna kembali menatap komputer itu dengan penasaran.
Ia juga ingin mencoba seperti yang di kerjakan oleh Fajri tadi. Ia berniat untuk kembali lagi setelah makan malam nanti, ketika semua orang sudah beristirahat.
Semoga aja nanti aku gak kena marah. Batinnya penuh harap.
πΊπΊ
"Tuan, ada yang sedang mencoba untuk meretas data perusahaan!" ucap Ray menelfonnya selepas makan malam.
Irfan menjadi panik seketika, setelah mendapatkan berita jika ada yang tengah berusaha untuk meretas data perusahaan. Padahal keamanan yang di pakai oleh Irfan dan Fajri sangat canggih dan sangat tidak mudah untuk di retas oleh siapapun.
Namun sekarang apa yang telah terjadi, sangat di luar jangkauannya. Ia segera berlari menuju kamar Fajri dan memanggil pria tampan itu untuk segera keluar.
"Bang, Bantu Ayah cepat, nak!" ucap Irfan membuka paksa pintu kamar Fajri.
"Ada apa, Yah?" tanya Fajri mengernyit.
Namun ia segera mengikuti ayahnya yang tengah melangkah menuju perpustakaan. Ia mendapati Ivanna tengah berada di salah satu komputer yang ada di ruangan itu.
"Ada yang sedang mencoba untuk meretas data Perusahaan, bang! bukankah Sistem keamanan kita sudah kamu tingkatkan baru-baru ini?" tanya Irfan
Fajri mengernyit dan segera menghidupkan komputer canggihnya dan segera mendeteksi apa yang sebenarnya tengah terjadi.
"Kok Abang gak yakin ada yang bisa meretas sistem keamanan kita, Yah! Bukannya kita sudah memperbaharuinya bersama dengan om Ray bulan lalu?" ucap Fajri.
"makanya, coba abang lihat dulu!" ucap Irfan.
Fajri segera mengotak-atik komputernya dengan cepat dan mendeteksi siapa yang tengah mencari gara-gara dengan sultan Asia. Fajri mengernyit ketika berhasil menemukan siapa yang tengah meretas itu.
"Ayah, kok Aji kenal ya dengan id ini?" tanya Fajri berusaha mengingat kode id yang sudah ia dapatkan.
__ADS_1
deg...
Matanya menatap Ivanna ketika berhasil mengingat id itu. Ia segera melihat apa yang tengah di lakukan gadis kecil itu dengan mata yang terbelalak.
"Astaga dek! jadi kamu yang sudah meretas data perusahaan, Ayah?" pekik Fajri.
Irfan melotot kaget mendengarkan perkataan Fajri. Sungguh ia merasa sangat tidak percaya dengan apa yang tengah di lakukan oleh anak gadisnya. Gila! hanya itu yang bisa ia ucapkan.
"Dede dari mana belajar tentang ini sayang?" tanya Fajri lembut.
"kan tadi Dede lihat abang mainin komputer itu. Karna yang itu harus pakai Sandi, jadi Dede pake yang ini saja!" ucap Ivanna polos sambil mengedip-ngedipkan matanya.
"Tadi abang hanya memeriksa data dek, bukan meretas! bagaimana Dede bisa melakukan ini, sayang?" tanya Fajri.
"Dede hanya penasaran bang, Terus Dede tekan-tekan saja seperti abang tadi!" ucap Ivanna.
deg...
Tulang Fajri terasa lemas ketika mengetahui jika Ivanna berhasil menembus sistem keamanan yang sudah ia rancang bertahun-tahun. Bahkan tahun depan ia akan merencanakan peluncuran anti virus dan keamanan tingkat tinggi ini yang bisa di bandrol dengan harga fantastis.
Begitu juga dengan Irfan, ia menatap putrinya dengan jantung yang perlahan terasa sesak. Ia terduduk sambil memegang dada sebelah kirinya. Nafas yang mulai tersenggal membuat perhatian Ivanna teralihkan.
"Ayah kenapa?" pekik Ivanna dan berhasil membuat Fajri terlonjak kaget.
Ia segera memanggil Fajira yang ada di kamar dengan tergesa-gesa, bahkan beberapa kali ia terjatuh namun ia berusaha untuk kembali bangkit.
Sementara, Ivanna sudah menangis melihat Irfan yang terlihat susah untuk bernafas.
"Ayah, kenapa? hiks... jangan sakit ayah! Dede gak mau ayah sakit!. Ayah jangan mati, Dede minta maaf! Ayah!" Ivanna menangis tersedu melihat kondisi Irfan yang semakin sulit untuk bernafas.
Namun yang terpenting sekarang adalah nyawa Irfan. Ia segera memberikan pertolongan pertama pada suaminya. Inilah alasan kenapa Fajira memilih untuk mengambil spesialis jantung, mengingat irfan memiliki riwayat jantung yang lemah, sehingga ia harus mewanti-wanti jika hal buruk terjadi di kemudian hari.
Ia segera mendudukkan Irfan dan bersandar di dinding, memberikan sugesti untuk tetap tenang. Sambil berusaha agar irfan bisa kembali bernafas dengan lancar.
"Sayang, lihat Aku! Apa kita perlu ke rumah sakit?" tanya Fajira ketika melihat Irfan sudah lebih tenang.
Irfan menggeleng sambil mengatur pernapasannya. Ia mengangkat tangan berusaha untuk meraih anak-anaknya yang sudah menangis terisak sambil berpelukan.
"Sini, nak!" ucap Irfan setelah nafasnya sudah mulai membaik.
Fajri dan Ivanna segera mendekat ke arah Irfan dan memeluk tubuh lemah itu dengan erat. Sungguh mereka tidak ingin kehilangan Ayah di usia yang masih sangat kecil.
"Maafin Dede, Ayah!" ucap Ivanna meraung.
"Gak papa, sayang! Ayah gak papa! sudah jangan nangis lagi ya!" Irfan merasa lebih baik ketika mendapatkan pelukan hangat dari anak-anaknya.
Fajira bernafas lega dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sangat susah untuk menahan hati jika sudah menangani anak dan suaminya ketika mereka sakit. Menahan rasa takut akan kehilangan dan merasa tidak mampu untuk mengobati mereka.
"kenapa bisa seperti ini?" tanya Fajira lirih dengan jantung yang masih berdetak kencang.
"Nanti kita bahas, Sayang. sekarang abang perbaiki sistemnya lagi nak! Ayah udah gak papa!" ucap Irfan.
Fajri segera membereskan kekacauan yang di sebabkan oleh adik kecilnya. Ia sangat tidak menyangka jika Ivanna bisa berbuat hal yang lebih gila di bandingkan dirinya.
__ADS_1
Aku gak bisa membayangkan jika Dede memiliki kemampuan yang lebih gila dari pada kemampuaku. Apa lagi yang Dede bisa, sayang? semoga itu tidak membuat ayah kembali merasakan sesak nafas. bathin Fajri meringis.
Sementara Ivanna masih terisak di dalam pelukan Irfan. Fajira menatap putrinya dengan fikiran yang sudah berkelana.
Apa Ivanna memiliki beban mental? kenapa Dede selalu merasa bersalah jika Bunda, abang atau ayah sakit?. Apa ada hubungannya dengan bercandaan Fajri tempo lalu? Sepertinya aku harus bertanya tentang masalah ini kepada psikolog. bathin Fajira.
"sudah, Ayah!" ucap Fajri.
"sudah, nak? Yuk, kita ke keluar!" Ajak Irfan sambil menggendong Ivanna yang sudah terlelap.
Mereka berjalan menuju ruang keluarga untuk membahas apa yang sudah terjadi. Fajira begitu sangat penasaran dengan penyebab kambuhnya penyakit Irfan.
"tolong jelaskan dengan segera, apa yang tengah terjadi, Ayah? abang?" tanya Fajira yang sudah tidak sabar.
"tadi, Ray menelfon Ayah, Bunda! katanya ada orang yang berusaha untuk meretas data perusahaan. Makanya ayah segera memanggil abang untuk mencari siapa yang tengah bermain dengan perusahaan kita. Eh gak taunya, princes cantik ini yang berulah! makanya, ayah kaget dan sampai sekarang masih merasa tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Dede, Bunda" ucap Irfan menerangkan apa yang telah terjadi.
deg....
Apa lagi ini tuhan?. Bathin Fajira terkejut.
Ia bersandar pada kursi sambil memegang keningnya yang terasa berdenyut. Irfan hanya tersenyum menatap istrinya yang terlihat frustrasi dengan kepandaian anak-anaknya.
"sudah, sayang! terima takdir kita memiliki anak yang super genius!" ucap Irfan terkekeh.
"lebih baik kita istirahat, aku takut ini hanya mimpi, Mas!" ucap Fajira masih tidak percaya.
Irfan dan Fajri hanya bisa terkekeh melihat ekspresi Fajira yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Fajira berjalan menuju kamarnya dan di ikuti oleh Fajri dan Irfan yang tengah menggendong Ivanna.
"Abang tidur di kamar Bunda, ya! sama Dede juga," ucap Fajri menggandeng tangan Fajira.
"iya, sayang. Dede sepertinya belum bisa lepas dari ayah. Abang gak bentak dede tadi 'kan, sayang?"
"gak, Bunda. Abang gak bentak dede, cuma kaget aja tadi!" Fajri kembali terkekeh.
"Om Ray, gak akan percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Pasti om Ray juga akan terkejut sama seperti kita, Iya 'kan, Ayah?" ucap Fajri.
"iya, sayang. Sepertinya, besok ayah harus izin kerja dulu, badan Ayah lemas!" ucap Irfan.
"benarkah? sini abang aja yang gendong Dede, Yah!"
"gak papa, sayang!"
Mereka segera beristirahat setelah berada di dalam kamar. Dengan berdempetan, mereka tidur dalam satu ranjang dan saling memeluk satu sama lain. Tak lupa Fajira menghubungi Ray terlebih dahulu agar laki-laji itu tidak semakin panik.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Aku akan bahas dulu kepandaian Ivanna, gais. Habis itu kita langsung berada di masa Fajri dan Ivanna besar nanti π€π€.
Semoga ceritanya tidak membosankan karna kepanjangan π π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ππ
terima kasih π€