
Selepas melakukan evaluasi mendadak, ia segera pergi ke ruangan direktur untuk beristirahat sejenak. Fajri menelisik seluruh bagian ruangan yang terlihat lebih mewah dibandingkan ruangannya yang ada diperusahaan inti.
"Uangku habis hanya untuk membuat ruangan mewah ini? sialan!" umpat Fajri kasar.
Ia meraih ponsel dan menghubungi seseorang yang kini tengah menunggunya maaf darinya. Angga, teman masa kuliah yang sudah membuat Fajri marah besar karna menyukai adik kecilnya dan juga berani membawa kabur Ivanna keluar kota tanpa alasan yang jelas.
Hampir saja Fajri membunuh laki-laki itu. walaupun Ivanna baik-baik saja, namun ia tidak akan rela siapapun berbuat kurang ajar kepada keluarganya apalagi kepada Ivanna. Kini Angga sedang menjalani masa tahanan yang si berikan oleh Fajri di suatu tempat, agar ia bisa mengintrospeksi dirinya.
Tuut,... tuut,... tuut,...
"ha-hallo?" ucap Angga gugup bercampur rasa tidak percaya.
"Bagaimana, apa lo sudah menyadari dimana letak kesalahan, lo?" tanya Fajri dingin.
"su-sudah, aku sudah menyadari kesalahanku dari dulu, Ji!" ucap Angga lirih.
"Masih mau melarikan adik gua, lo?"
"gak, gua gak berani lagi!" sergah Angga cepat.
"Bersiap-siaplah, satu jam lagi akan ada orang yang menjemput lo kesana! kita bertemu besok di Jerman!" ucap Fajri dan mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban apapun lagi.
Ia tersenyum smirk, hal gila apa yang tengah ia lakukan sekarang, mengangkat Angga dan Bagas untuk menggantikan posisi direktur di perusahaannya tanpa berkompromi. Tentu saja, mereka adalah orang yang memang menghargainya sebagai atasan dan mereka memang dapat di percaya.
...πΊπΊ...
Malam menjelang, Fajri masih berkutat dengan ponsel dan laptop untuk melihat kekacauan apa lagi yang ada di perusahaannya. Ia mendesaah berat karna memikirkan banyak hal, ingin rasanya ia kembali ke masa kecil yang hanya memikirkan produk baru yang harus ia ciptakan tanpa mengelolanya.
Namun sekarang ia sedikit menyesal karna setiap produk yang ia buat sudah memiliki cabangnya masing-masing. Apalagi perusahaan pesawat miliknya yang sudah tersebar di 10 negara maju di dunia dengan permintaan pasar yang sangat tinggi.
Belum lagi, endorsment yang semakin banyak masuk, pabrik dan showroom mobil mewah miliknya yang juga tersebar di berbagai negara. Setiap tahun, ia akan mendapatkan berbagai macam penghargaan sebagai pengusaha muda.
Ia terkadang merasa lelah dengan semua ini, ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi Fajri yang masih tinggal di gubuk tua, yang selalu merasa bahagia setiap kali ia berhasil membuat barang yang baru.
"Hah, Bunda bilang, aku harus bersyukur atas pencapaianku. Bukankah ini yang aku inginkan? membangun perusahaan dan bisa menghasilkan uang yang banyak. Tapi, ini terlalu banyak! Aku merasa ingin tidur dipangkuan Bunda saja setiap hari, atau menjahili Ivanna!" ucap Fajri tersenyum kecut.
teng nong,... teng nong,....
Fajri mengernyit ketika mendengarkan bel apartemennya berbunyi.
"siapa yang berani malam-malam seperti ini? apa hanya orang iseng saja?" ia hanya mengedikkan bahu, tidak peduli. Namun bel itu kembali berbunyi bahkan lebih sering.
Ia segera melihat siapa yang ada di luar melalui kamera pengawas. Fajri terbelalak ketika melihat perempuan cantik tengah berdiri di depan pintu Apartemennya.
__ADS_1
Fajri segera berlari untuk membuka pintu dan mempersilakan Zwetta masuk. Gadis itu terlihat kelelahan dengan baju yang sama seperti siang tadi.
"Duduk dulu, kak!" ucap Fajri.
Ia berjalan mengambilkan gadis itu segelas air hangat dan beberapa cemilan.
"Kakak dari mana?" tanya Fajri yang melihat keadaan Zwetta tidak baik-baik saja.
"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya saja ada sedikit masalah tadi di jalan. Mobilku tiba-tiba saja mogok di depan cafe yang ada di persimpangan jalan. Driverku juga sudah memanggil tukang bengkel, mereka mengatakan jika mobil itu harus di derek dan bisa di ambil besok. Beruntung tadi siang kamu memberitahu dimana tempat tinggalmu sekarang, jadi apa boleh aku singgah sebentar untuk beristirahat!l?" ucap Zwetta menghela nafasnya.
"Iya, boleh kak! tapi, kakak tidak apa-apa kan?" tanya Fajri khawatir.
Apa kamu mengkhawatirkanku?" ucap Zwetta tersenyum.
deg,...
Wajah Fajri memerah, ia terlihat salah tingkah ketika Zwetta mengatakan hal itu. Ia memang merasa khawatir karna Zwetta adalah perempuan yang sedang membutuhkan pertolongan. Hanya itu saja tidak lebih.
Zwetta menjadi gemas melihat wajah merona Fajri, ia merasa jika pria tampan yang ada di hadapannya ini susah mulai menaruh perhatian kepadanya. Namun Zwetta segera sadar karna sangat tidak mungkin ia bersanding dengan Fajri yang begitu sempurna.
"hmm apa kakak sudah makan malam?" tanya Fajri mengalihkan pembicaraan.
"Ah sudah, Aku sudah makan,..."
kruak,... kruak,...
"Aji, hanya punya itu, kak. Makanlah!" ucap Fajri.
"terima kasih, aku jadi malu!"
"jangan sungkan!"
Fajri kembali dan mengambil laptop untuk menyelesaikan sedikit pekerjaannya yang tertinggal.
πΊπΊ
Fajri bingung, ketika melihat Zwetta yang tertidur di atas sofa ruang tamu. Padahal Fajri berusaha meninggalkannya selama 10 menit saja.
"Aduh, Aji harus apa?" ucapnya bingung dan menggaruk kepalanya
Selain Ivanna dan Fajira ia belum pernah berada di dalam situasi seperti ini sebelumnya.
"Apa aku telefon Dede atau Bunda saja?, duh pasti mereka sudah tidur. Kalau kak Zwetta aku biarkan tidur disini, pasti punggungnya akan sakit besok waktu bangun tidur. Tapi,... Argh... kenapa aku jadi sulit berfikir seperti ini?" ucap Fajri frustrasi.
__ADS_1
Pada akhirnya, Fajri memutuskan untuk menggendong Zwetta menuju kamar tamu dengan hati-hati. Wajah cantik itu terlihat kelelahan karna bekerja, walaupun seharian berada di luar tetapi wangi khas dari tubuh Zwetta masih berusaha untuk membelai hidung Fajri dan membuat tubuhnya terasa panas.
Aku harus segera membawa. kaka Zwetta, sebelum hal lain terjadi!. Bathin Fajri bergegas.
Duk,...
Tanpa sengaja kepala Zwetta terbentur pintu, namun gadis itu hanya melenguh sebentar saja sambip mengusap kepalanya dan kembali terlelap. Fajri meringia dengan jantung yang semakin berdetak tidak karuan. Ia segera membaringkan Zwetta di atas kasur dan memilih untuk keluar.
"gila, gila, gila! Semoga Bunda gak tau apa yang terjadi hari ini! kalau sampai tau, habis aku!" ucap Fajri dengan wajah pias ketika membayangkan bagaimana marahnya Fajira nanti.
"Aku harus segera tidur!" ucap Fajri kembali ke kamarnya dan tertidur.
Namun matanya seolah enggan untuk terpejam. Suhu tubuhnya meningkat karna wajah cantik Zwetta kembali terbayang di kepalanya.
"Ingat kemarahan Bunda, Fajri! ingat, Bunda pasti akan kecewa! Ayah pasti akan marah dan akan sakit! Ayo jangan sampai melakukan hal yang buruk!" ucap Fajri berusaha menahan dirinya. Perlahan ia terlelap sambil memegang adiknya yang sedikit menegang.
Hingga pagi menjelang, hidung Fajri sudah tergoda dengan aroma wangi sarapan kesukaannya, yaitu sandwich. Ia tersenyum dalam tidurnya, dan menunggu Fajira untuk masuk ke dalam kamar dan membangunkannya.
Namun setelah beberapa lama, ia merasa tidak ada yang masuk ke dalam kamar, namun hanya terdengar ketukan pintu yang dan suara perempuan yang tengah memanggilnya.
"Fajri? apa kamu sudah bangun?" panggil Zwetta.
"sudah, kak!" ucap Fajri serak.
Ia segera bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk menyegarkan badannya terlebih dahulu. Ketika keluar dari kamar, ia melihat Zwetta masih berdiri di depan pintu kamarnya dengan memakai baju kaos yang terlihat besar hingga menutupi lututnya. Dengan wajah polosnya, Zwetta terlihat sangat mengemas di mata Fajri.
"kak?" panggil Fajri.
"Maaf, driverku baru mengantarkan baju untukku hari ini," ucap Zwetta menunduk.
"gak papa, kak!" ucap Fajri tersenyum.
"Ah iya. Aku belum menyiapkan sarapan," sambungnya dan segera melangkah.
"Ji!" panggil Zwetta dan memegang tangan Fajri
"ah maaf, Aku sudah menyiapkannya!" ucap Zwetta merona dan melepaskan pegangan tangannya.
"Ah, jadi aroma masakan yang begitu menggoda itu berasal dari masakan, kakak?" tanya Fajri berbinar.
"Jangan berlebihan!" Zwetta berjalan terlebih dahulu menuju ruang makan dan menghidangkan sarapan untuk Fajri dan dirinya.
πΊπΊπΊ
__ADS_1
TO BE CONTINUE
Kasihan banget Fajri, pria tampan nan polosku π©π©