
Fajri terlihat sudah lebih baik setelah makan dan meminum obat yang di berikan oleh dokter tadi. Ia duduk di atas pangkuan Fajira dan memeluk bidadari cantik itu dengan manja, sementara Irfan masih berkutat dengan komputer lipat miliknya dan menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
"Bunda?" panggil Fajri lirih.
"iya sayang"
"Maafin Aji ya udah bikin Bunda juga ikutan sakit juga,"
"gak papa sayang. Yang penting Aji cepat sembuh. Karna Bunda juga akan ikut sakit kalau Aji sakit nak," Fajira mengelus lembut kepala Fajri dan sesekali memijatnya.
"terima kasih, Bunda, karna sudah menjadi bidadari Aji. Aji bersyukur karna lahir dari rahim perempuan cantik dan baik seperti bunda," Fajri tersenyum menatap Fajri.
"sama-sama sayang, bunda juga bahagia mamiliki pangeran tampan yang sangat pintar, dan pastinya sayang banget sama bunda" Fajira kembali mendekap Fajri dalam pelukannya.
Ia bisa sedikit merasa lega karna suhu tubuh Fajri sudah mendekati angka normal. Ia menatap Irfan yang masih fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Ada satu rasa rindu yang membuncah di dalam hati Fajira. Sudah lebih satu minggu ia tidak mendapatkan belaian panas dari suaminya.
Mata Fajira menatap Irfan dengan penuh gairah, berharap yang di tatap bisa mengerti dan paham apa keinginannya. Namun di satu sisi ada rasa takut dalam dirinya mengingat kemungkinan yang terjadi ketika mereka berhubungan kembali.
Kenapa hal buruk selalu menimpa keluarga ku? apa ada kesalahan fatal yang kami lakukan atau hanya sekadar penguji dalam rumah tangga. Semoga kedepannya tidak ada lagi masalah yang akan muncul. bathin Fajira sedih ketika mengingat kejadian beberapa hari ini.
"Abang mau tidur sayang?"tanya Fajira lembut ketika melihat Fajri yang mulai menutup mata dan sesekali menguap.
"iya, bunda" Fajri beranjak dari pangkuan Fajira dan berbaring sambil memeluk tubuh indah milik bidadarinya.
"Bunda jangan kemana-mana ya. Aji mau di peluk terus" lirih Fajri sebelum terlelap.
"iya sayang. Tidur ya! biar cepat sembuh, nanti kita main gelembung lagi."
"iya bunda" senyum manis terukir di bibir kecil nan pucat milik Fajri.
Eh tapi Bunda gak janji ya, hehe. Tidur lah sayang, Bunda masih ada urusan dengan ayah sebentar. Gelak Fajira di dalan hati.
Tak berapa lama, Fajri terlelap dengan masih memeluk Fajira erat. Perlahan ia merenggangkan pelukan fajri agar tidak mengganggu tidur pria kecilnya.
Setelah terlepas, Fajira memberikan guling kepada Fajri agar ia tidak kehilangan sesuatu yang bisa membuatnya terjaga.
Perlahan ibu hamil itu turun dari ranjang dan berjalan mendekati Irfan yang masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.
"Mas" panggil Fajira sambil memeluk Irfan dari belakang, Suara perempuan cantik itu terdengar sangat seksi di telinga Irfan.
"iya sayang. Apa Fajri sudah tidur?" tanya Irfan sambil menarik Fajira agar bisa duduk di atas pangkuannya.
"udah, Mas. kamu sudah selesai kerjanya?" Tanya Fajira mengusap kepala irfan dengan lembut.
"Belum, dikit lagi sayang. Kamu butuh sesuatu"
"eum..." Fajira menggigit bibir bawahnya sambil mengusap bibir Irfan dengan lembut.
Pria tampan itu mengerti, namun bukannya memberikan kehangatan, ia malah mengerjai istri cantiknya itu.
"Apa ada sesuatu di bibirku, sayang?" tanya Irfan menyentuh bibirnya, bertanya dengan sorot mata polos seolah tidak paham apa yang di inginkan oleh Fajira.
__ADS_1
Ibu hamil itu melotot mendengar pertanyaan Irfan. Kenapa suaminya tiba-tiba telmi seperti ini.
"Gak ada apa-apa kok" ucap Fajira sedikit kesal.
"ya sudah" ucap Irfan santai dan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda sambil memeluk istrinya.
Sementara Fajira melotot melihat respons Irfan yang tidak kunjung mengerti maksud dari sikapnya. Irfan tergelak di dalam hati melihat ekspresi Fajira. Wajah cengo dan tidak percaya terpampang di depan matanya.
Plaak!!
Fajira memukul bahu Irfan keras sambil mengeram kesal karna tingkah suaminya.
"sakit, sayang!" Irfan mengaduh sambil mengusap bahu yang di pukul oleh Fajira tadi.
"bodo!" ia bangkit dari pangkuan Irfan, namun laki-laki itu lebih dulu menahan pinggangnya.
"Mau kemana, sayang?"
"mau istirahat!" ketus Fajira, namun masih duduk di atas pangkuan Irfan.
Laki-laki itu tersenyum gemas melihat tingkah Fajira yang sangat mengemaskan baginya.
"hahaha, hamphh...." Gelak Irfan menggelegar, namun Fajira lebih dulu membekap mulutnya menggunakan tangan sambil melotot.
"ihh, ketawa mu berisik, Mas!. Nanti Fajri bangun" Bisik Fajira di telinga Irfan
fiuuhh...
Hembusan nafas segar itu membuat Irfan meremang dengan wajah yang memerah. Fajira tersenyum senang melihat ekspresi suaminya yang sudah mulai terpancing. Ia mulai merasakan sesuatu yang mulai mengeras dibawhlah sana.
Menyesap dan menikmati manisnya bibir Fajira yang sangat membuatnya candu dan ketagihan.
"sayang, Aku pengen" ucap Irfan serak, Fajira hanya mengangguk manja dengan sorot mata yang menuntut.
Iarfan segera menggendong Fajira menuju sofa yang ada di sana. Irfan dengan sangat tidak sabar mulai menggerayangi tubuh sintal yang mulai berisi itu.
"Mas, Kamu yang sabar dong!" ucap Fajira sedikit hati-hati melihat Irfan sudah seperti orang yang kesetanan.
Beruntung Ibu hamil itu tengah mengenakan daster se lutut sehingga membuat Irfan dengan mudah mengangkatnya hingga ke atas.
"Mas, jangan di lepas bajunya!" ucap Fajira berusaha untuk menahan tangan nakal Irfan.
"kenapa?"
"Nanti Fajri kalau bangun. Aku susah make baju lagi sayang. Apa kamu bisa menjawab pertanyaan anakmu nanti?"
"ihh"
Irfan mulai menggerayangi Fajira perlahan dengan sangat panas. Ibu muda itu hanya menikmati Foreplay yang di berikan oleh Irfan. Lenguhan mulai menyeruak keluar dari mulut Fajira, namun ia berusaha untuk menahannya karna takut akan membangunkan Fajri.
"Kamu siap sayang?" tanya Irfan mengarahkan pisang laras panjang ke arah lembah kenikmatan itu dengan perlahan.
"sudah, Mas! Pelan ya!"
__ADS_1
Irfan mendorong masuk tubuhnya dengan perlahan. Ia melihat ekspresi Fajira yang sangat seksi dan membuat gairahnya semakin meningkat. Belum lagi Irfan bergerak, Fajri terbangun karna merasakan sesuatu yang ia peluk terasa sangat berbeda dengan tubuh perempuan yang sangat ia kenali.
"hiks... bunda" tangis fajri yang membuat dua orang itu terlonjak kaget.
"Mas, Fajri bangun" bisik Fajira di telinga Irfan dan mendorong tubuh kekar suaminya agar bisa melepaskan adik kecil yang baru saja masuk itu.
Irfan termagu sebentar menatap Fajira sambil menelan air liurnya, Dengan pasrah ia segera mencabut perkututnya dan berbaring di lantai dengan buah terong yang masih berdiri dengan tegak.
"hisk... Bunda kok tidur disana?" tangis Fajri pecah ketika Fajira muncul dari balik sofa.
"Gak papa sayang. Maafin Bunda ya! Yuk tidur lagi nak" Ucap Fajira berjalan ke arah ranjang dan memeluk Fajri yang masih menangis.
"hiks... Bunda gak sayang sama Aji lagi huaaa" tangisnya semakin kencang.
"eh siapa yang bilang sayang?" cup cup cup... anak Bunda sayang ini mah!" Ucap Fajira menenangkan Fajri.
"hisk... Bunda gak sayang lagi sama Aji, kenapa Bunda gak mau tidur disini sama Aji? apa karna Aji nakal? Maafin Aji bunda" isak Fajri semakin menjadi.
"eh gak papa sayang, Tadi Bunda ngobrol sama ayah. Makanya Bunda ngobrol di sofa, nanti ayah sama bunda malah mengganggu Aji tidur, Sayang"
"Gak papa Bunda, upkan bisa ngobrol disini. Aji gak keganggu kok" isak Fajri
"Apa Bunda masih marah sama Aji?" tanya pria kecil itu lagi.
"Bunda gak marah sayang. Masa iya Bunda marah sama pangeran tampan Bunda ini. Tidur lagi ya sayang, istirahat yang banyak biar cepat sembuh"
"jangan pergi lagi" Isak Fajri sambil menutup matanya dan memeluk Fajira.
"iya sayang"
Fajira hanya tersenyum miris sambil memeluk Fajri. Ia melirik ke arah Irfan yang terlihat masih belum bangun dari lantai.
Bagini lah nasib kalau sudah punya anak. Harus was-was kalau pengen begituan. Aduuh mana mas irfan belum bangun lagi.
Irfan bangkit sambil melihat situasi yang ada. Ia takut Fajri akan melihat pohon pisangnya yang masih berdiri tegak. Sejurus kemudianIa melihat Fajira sambil memelas.
"Maaf" lirih Fajira menatap Irfan sambil meringis.
"Aku gimana?"
"Main sama sabun dulu ya"
"sayang" rengek Irfan
"Maas. Nanti aja ya" Fajira tersenyum masam.
Laki-laki itu pasrah dan berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan naked. Sementara Fajira hanya tersenyum sambil menggigit bibir karna melihat pemandangan yang sangat menggoda di depannya.
πππ
TO BE CONTINUE
Maafkan aku yang masih belum bisa konsisten untuk up gais. Tapi akan aku usahakan up seperti biasa ya.
__ADS_1
Yuk dukung author terus dengan cara terbaik dari readers semua. dari pada vote dan poinnya menganggur, sedekah ke sini boleh gak ya? wkwkwk π
berkah selalu Terima kasih banyak π€π€