Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
219. Jawaban Safira


__ADS_3

Safira menginjakkan kakinya kembali di gedung mewah perusahaan milik Fajri. Senyumnya mengembang ketika ia disapa oleh karyawan yang berpapasan dengannya. Ia segera menaiki lift dan menuju ke ruangan Fajri yang berada di lantai 9.


"Mbak, Apa Kak Fajri ada?" tanya Safira ramah.


"Ada Nona, silahkan!" ucap Indah membantu Safira untuk membuka pintu ruangan Fajri.


"Terima kasih, mbak!"


"Sama-sama, Nona!"


Safira masuk ke dalam ruangan Fajri dan melihat pria tampan itu tengah fokus dengan pekerjaannya, sehingga tidak menyadari kehadiran orang lain di dalam ruangan itu.


Safira berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia menatap wajah tampan, Fajri yang terlihat sangat lelah. Perlahan ia berjalan mendekat dan duduk di hadapan pria tampannya. Hanya meja yang membatasi jarak di antara mereka.


"Kak?" panggil Safira lembut.


"Eh, sayang. Ka-kapan kamu datang?" tanya Fajri terkejut.


"Sudah dari tadi. Kakak saja yang terlalu fokus!" ucap Safira tersenyum.


"Ah, aku jadi merindukanmu!" ucap Fajri bangkit dari kursi kebesarannya dan mendekat kearah Safira.


Fajri yang hendak memeluk gadis cantik itu, malah mendapatkan penolakan.


"kak?" ucap Safira menahan tubuh Fajri.


"kenapa, sayang? apa aku tidak boleh memelukmu?" tanya Fajri cemberut.


"kakak, tau apa beda suka dengan cinta?"


"emang, apa bedanya, sayang?" tanya Fajri yang malas berfikir dengan ekspresi yang masih cemberut.


"Ibaratkan Bunga. Kalau, kakak suka sama bunganya, pasti kakak petik, terus rusak jadi gak bagus lagi. Kalau cinta, Ketika kakak melihat bunga, pasti kakak akan merawatnya dengan baik, menjaganya dan memastikan bunga itu tumbuh dengan mekar. Sehingga bisa di lihat lebih lama,di pandang sampai kapapun. Kakak paham?" ucap Safira tersenyum manis menatap Fajri.


"Paham, sayang! Jadi intinya, perempuan itu harus di jaga dan di rawat agar bisa awet sampai kapan-kapan," ucap Fajri tersenyum sambil membelai lembut kepala Safira.


"tapi, aku kangen!" Rengek Fajri dan kembali membentangkan tangannya.


"Kak!" ucap Safira melotot.


"Baiklah!" ucap Fajri pasrah.


Safira tersenyum melihat tingkah Fajri yang begitu manja kepadanya.


"Kak, kalau Abang itu sudah manja sama kakak berarti dia sudah nyaman dan sayang. Karna Abang itu mudah udah menyayangi orang lain, kalau dia sudah merasakan nyamanya. Gak tau deh, udah cinta apa belum!" ucap Ivanna baru-baru ini, ketika Safira bercerita tentang Fajri.


"Aku mau menyelesaikan pekerjaan sedikit lagi, habis itu kita makan ya!" ucap Fajri tersenyum.


"iya." Safira juga ikut tersenyum.


Ia menatap wajah tampan Fajri yang begitu menawan. Safira sedikit menyesal menolak pelukan pria tampan itu. Namun sebagai perempuan, ia juga harus bisa menjaga diri, agar tidak kebablasan nantinya.


Karena takut khilaf, Safira memilih untuk mencari buku yang bisa ia baca, agar fikirannya bisa terlindungi dengan baik.


"kemana, sayang?" tanya Fajri.


"aku mau cari buku, kak!" ucap Safira tersenyum, Fajri hanya mengangguk.


Hampir setengah jam, hingga Fajri menyelesaikan pekerjaannya. Sejenak ia meregangkan ototnya sambil melihat ke arah Safira yang terlihat begitu cantik ketika fokus.


Fajri beranjak dari kirinya dan duduk di samping Safira. Gadis itu terkejut, tanpa sengaja mata mereka bertatapan dan terkunci. Tidak ada yang berniat untuk mengakhirinya.


Fajri yang nakal mencuri ciuman dari Safira, sehingga membuat gadis itu terkejut dan membeku. Fajri mengembangkan senyum dan kembali meraup manisnya bibir Safira.


""hhmmpph,..." suara Safira tertahan sambil mendorong tubuh Fajri.


Pria tampan itu tersenyum di sela ciumannya. Ia berhenti menyerang Safira ketika pasokan udara terasa semakin menipis.


Ia tersenyum jahil, ketika melihat wajah Safira merona dan terlihat garang. Tanpa aba-aba, gadis itu segera mencubit pinggang Fajri dan membuat empunya merasa memekik ke sakitkan.


"Aaaa, aduh sakit, sayang! sakit, yang!" ringis Fajri kesakitan.


"Baru tadi aku bilang, kenapa kakak main nyosor aja?" ucap Safira kesal dengan wajah yang merona.


"Ampun, sayang. Sakit lo!" ucap Fajri cemberut.


"Masih mau nyosor?"

__ADS_1


"gak, janji. Aaarrggh!"


"hmm?"


"iya, aku gak nyosor lagi!" ucap Fajri pasrah.


Safira melepaskan cubitannya dari pinggang Fajri.


"Tapi, boong! haha" ucap Fajri tergelak.


Plak!


Plak!


Bugh!


Tangan cantik itu mendarat dengan baik di tubuh Fajri. Mereka bergelut manja di atas sofa itu, Fajri yang selalu menghindar membuat Safira harus mengejarnya. Hingga tanpa sengaja, ia tersandung dan menindih tubuh kekar Fajri, mereka terhempas di atas sofa dengan pandangan yang kembali terkunci.


deg!


"Tuan, ini berkaaaas, eh maaf!" ucap Indah yang masuk ke dalam ruangan tanpa permisi. Ia segera keluar dengan wajah yang merona malu.


Sementara Safira segera bangkit dan duduk menjauh dari Fajri. Wajahnya sudah sabuat merah saat ini. Ia duduk membelakangi pria tampan itu agar tidak terjadi hal lainnya.


Sementara Fajri, ia masih terbaring di atas sofa dengan wajah yang merona dan tersenyum manis.


Ya tuhan, apa yang tengah aku lakukan? ah aku merasa sangat tidak sabar untuk mempersuntingnya!. Bathin Fajri tersenyum senang.


Ya, tuhan, apa ini? kenapa aku begitu mudah terbuai dengan matanya yang indah itu? semoga kedepannya aku gak khilaf lagi!. Batin Safira mengatur detak jantungnya.


"sayang?" panggil Fajri.


"jangan dekat-dekat! baru tadi aku bilang, kakak malah berbuat lebih!" ketus Safira garang.


"maaf, sayang!" ucap Fajri menggaruk tengkuknya.


"huh!"


"Jangan marah, ya!" bujuk Fajri mencolek-colek Safira.


"Nanti, kakak ulangi lagi!" delik Safira.


"sudahlah, aku kan meminta waktu 1 minggu!" ketus Safira.


"Jangan selama itu, sayang. Aku yakin, kalau kamu pasti sudah memiliki jawabannya!"


Krik,... krik,...


"ya sudah, kalau gitu kita makan yuk! aku sudah lapar, sayang!" Ajak Fajri sambil mengulurkan tangannya.


"hmm,..." Safira menyambut tangan kekar Fajri dan berjalan keluar dari perusahaan itu.


"jangan cemberut lagi! Nanti aku semakin gemas!" ucap Fajri tergelak.


🌺🌺


Pada akhirnya Fajri meminta Safira memasak makanan untuk makan siang. Saat ini mereka tengah berada di mobil menuju apartemen Fajri.


"kak, bukannya apartemen kamu di huni sama Zwetta?" tanya Safira mendelik.


"iya, dia sudah pulang, kemarin!" ucap Fajri tersenyum.


"kenapa, sayang?" tanyanya lagi.


"gak papa, kak!"


"Apa kamu cemburu?"


"gak, kok. Aku hanya mikir aja, kalau kakak bawa aku bertemu dengan dia, aku gak mau!"


"kenapa? apa kamu takut?" tanya Fajri mengernyit.


"Aku hanya takut tidak bisa menahan emosi, kak!"


"ya sudah. Kita ke tempat yang lain saja!"


Safira mengernyit, kemana lagi ia akan di bawa oleh Tuan berkuasa ini. Ia hanya pasrah mengikuti kemana dirinya dibawa.

__ADS_1


"Ayo turun!" ucap Fajri setelah memarkirkan mobilnya di parkiran. gedung mewah di pusat kota.


"kita kemana kak?"


"ke apartemen pribadiku!" ucap Fajri tersenyum.


Ia menggandeng tangan Safira dan menenteng bahan masakan. Safira hanya menurut, ia yakin jika laki-laki yang ada di hadapannya saat ini tidak akan berbuat macam-macam.


Ting!


Pintu lift terbuka, Mereka sudah sampai di lantai paling atas gedung itu. Fajri memang menghabiskan uangnya untuk membeli beberapa properti mewah. Termasuk membeli apartemen di berbagai kota dan negara.


"Ini apartemen pribadiku, yang di tempati oleh Zwetta itu memang biasa aku jadikan tempat berkumpul dengan teman-temanku! Ini hanya kamu yang mengetahuinya" terang Fajri.


"benarkah?" tanya Safira tidak percaya, Fajri hanya tersenyum melihat wajah cengo gadis itu.


Safira segera memasak makanan untuk makan siang. Fajri yang usil, selalu berusaha untuk mengganggunya dengan berbagai hal.


🌺🌺


"masakan, kamu enak banget! ah, aku jadi kekenyangan dan mengantuk!" ucap Fajri merebahkan kepalanya di pangkuan Safira.


"istirahatlah, nanti aku bangunkan!" ucap Safira membelai kepala Fajri.


"kapan kamu akan menjawab pertanyaanku, sayang?" tanya Fajri lirih.


"emang, kakak sudah yakin denganku? masih banyak kekurangan,..."


"Jangan ngomong seperti itu, aku bahkan lebih banyak kekurangannya, sayang!" sergah Fajri.


"kak,..."


"Aku sudah yakin dengan pilihanku! Aku takut semakin tidak bisa untuk menahan diri lagi!" ucap Fajri lirih.


"baiklah!"


"apa yang baiklah?"


"baiklah!"


"apa, sayang? apa yang baiklah?" tanya Fajri memastikan pikirannya.


"aku menerima lamaran, kakak!" ucap Safira lirih dengan wajah yang merona.


"kamu serius?" tanya Fajri tidak percaya.


Ia bangkit dari tidurnya dan menatap Safira lekat. Perlahan, mata Fajri berembun dan langsung memeluk Safira erat.


"Terima kasih. Terima kasih, sayang! Aku mencintaimu!" ucap Fajri berkaca-kaca.


Deg!.


Apa benar yang dikatakan oleh, Kak Fajri? di-dia mencintaiku? apa aku salah dengar?. Batin Safira.


Matanya juga ikut berkaca-kaca, ia adalah wanita yang begitu beruntung dan menjadi pemenang untuk mendapatkan pangeran mahkota ini. Yang jelas, cintanya sudah berbalas, memiliki laki-laki yang akan berdiri di garis terdepan untuk membelanya nanti.


Fajri mengurai pelukannya dan menatap Safira lembut.


"Besok malam, aku akan datang ke panti dan melamarmu kepada ibu!" ucap Fajri serius.


"apa ini tidak terlalu cepat kak?"


"tidak, bahkan jika kamu mau, hari ini kita bisa menikah!"


"kak!" rengek Safira.


"hahah, Aku bahagia! aku bahagia, sayang!" ucap Fajri kembali memeluk Safira.


Mereka menghabiskan waktu untuk membahas apa saja yg akan mereka lakukan setelah ini.


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


Semoga bab kali ini gak selama yang kemarin reviewnya 😩


Tinggalkan like dong gais 😒😒

__ADS_1


terima kasih.


__ADS_2