Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
59. Malam Pertama


__ADS_3

Perlahan Irfan membuka mata, ia menatap Fajira lembut dan dalam. Pria tampan itu menarik tubuh istrinya sehingga mengikis jarak di antara mereka. Perlahan namun pasti ia mendekatkan wajahnya ke arah Fajira.


Namun ketika Irfan hendak mencium perempuan cantik itu, mereka di kejutan dengan suara imut nan merdu milik Fajri yang terbangun dan tidurnya.


"bunda" lirihnya hampir menangis.


"mas, Aji bangun" ucap Fajira mengurai pelukan mereka.


"Bunda di sini sayang" sambungnya dan berjalan kembali ke dalam kamar.


"Bunda peluk" rengek Fajri dan kembali berbaring mengambil posisi agar Fajira bisa memeluknya.


"sini sayang" Fajira cukup kesulitan berbaring karna gaunnya yang lebar dan besar.


"tidur ya nak" Fajira mengusap lembut kepala Fajri berharap agar anaknya bisa terlelap kembali


"hmm. Bunda cantik banget" racau Fajri tersenyum dalam tidurnya.


"iya Aji juga tampan sayang"


Tak butuh waktu lama, pria kecil itu langsung terlelap dalam dekapan ternyaman milik Fajira.


"Aji sudah tidur sayang?" tanya irfan duduk di belakang fajira yang tengah berbaring dan mengusap kepala fajri lembut.


"sudah mas. Kamu mandi saja dulu, nanti gantian"


"gimana kalau kita mandi berdua sayang?"


"gak ada, apa mas lupa, kalau kamu masih dalam masa percobaan" delik Fajira.


"huh... Ya sudah. Mas mandi dulu sayang"


"iya mas"


Fajira berusaha untuk membuka pakaiannya, beruntung gaunnya kali ini tidak terlalu susah untuk dibuka, sehingga ia bisa membukanya sendiri. Setelah gaun itu terlepas, Fajira mengambil bath robe yang sudah di sediakan oleh pihak hotel. Ia berjalan menuju koper dan menyiapkan baju untuk Irfan dan dirinya, tak lupa juga milik Fajri.


Ceklek...


Irfan keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya. Badan atletis itu terpampang jelas, dan sukses membuat Fajira tidak mampu untuk mengalihkan pandangan yang penuh pesona itu dari tubuh Irfan.


Kenapa aku selalu tergoda untuk menyentuhnya. Bathin Fajira menjerit.


"sayang" panggil Irfan genit.


"i-iya mas, sudah siap? itu bajunya sudah aku siapkan" Fajira beranjak menuju kamar mandi dengan wajah yang memerah.


Irfan tersenyum nakal menatap punggung Fajira yang mulai menghilang di balik pintu. Ia melihat Fajri terlebih dahulu dan memastikan jika anaknya tidak terbangun nanti. Kemudian Irfan berjalan pelan dan mencoba untuk memutar gagang pintu kamar mandi.


ceklek...


Pintu terbuka, ternyata Fajira tidak menguncinya. Dengan tersenyum, Irfan sedikit mengintip melihat Fajira yang tengah membuka Bath robenya. Jantung Irfan berdetak lebih cepat melihat tubuh sintal fajira yang terpampang nyata di depan matanya, bersamaan dengan hasrat yang langsung membuncah, membuat Irfan melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar mandi lalu memeluk Fajira dari belakang.


"sayang" panggil Irfan dan sukses membuat Fajira terlonjak kaget.


"Mas" pekiknya dengan debaran jantung yang berdetak lebih kencang.


"sayang, Apa kamu gak mau berubah fikiran, mas sudah tidak tahan" serak Irfan lirih dan mengecup bahu polos Fajira.


"ma-mas, jangan dulu a-aku belum siap" mata Fajira membola ketika merasakan tonjolan besar berada di antara bopongnya.


glek...


Tenang Fajira ja-jangan mikirin yang aneh-aneh.


"ma-mas ka-kamu masih dalam masa hukuman, ja-jangan sampai traumaku kambuh lagi mas"


"tapi aku butuh kamu sayang" lirih Irfan kecewa.


"ta-tapi aku belum bisa mas. Aku sudah mewanti-wantinya dari tadi"

__ADS_1


"sayang. pakai tanganpun jadi"


"a-aku belum sanggup mas, sungguh" ucap Fajira mulai gemetaran.


"sa-sayang" panggil Irfan ketika menyadari keadaan Fajira


"keluarlah mas"


"ba-baiklah"


Irfan dengan raut wajah kecewa keluar dari kamar mandi ketika melihat trauma Fajira kembali datang. Bahkan ia seolah melupakan hasrat yang membuncah karna perasaan kecewanya. Ia segera memakai baju dan berbaring memeluk Fajri sambil menunggu Fajira keluar dari kamar mandi.


Sementara Fajira terduduk lemas di lantai karna kakinya tidak kuat untuk menahan beban berat karna trauma. Berulang kalinya menetralkan detak jantungnya dan berusaha untuk menghalau rasa takut itu. Setelah cukup stabil ia kembali melanjutkan ritual mandinya dengan segera.


Beruntung ia tidak lupa untuk membawa baju ganti dan segera memakainya. Fajira perlahan membuka pintu kamar mandi dengan debaran jantungnya tak kunjung stabil dan membuatnya gugup setengah mati.


"sayang" panggil Irfan.


"iya mas"


"apa masih takut?" tanya Irfan lirih, sementara Fajira hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Ya sudah, kita istirahat ya. Atau mas tidur di sofa saja?"


"gak papa mas, Kita tidur bersama saja. Tapi kamu jangan macam-macam ya"


"iya sayang"


Fajira perlahan membaringkan tubuhnya di samping Fajri yang sedang memeluk Irfan. Ia menatap suaminya dengan emosi yang tidak menentu, rasa kesal, ingin marah dan kasihan melebur menjadi satu.


Andai kamu mendapatkan ku dengan cara yang baik, mungkin aku tidak akan menolak keinginanmu barang sedetikpun. Maafkan Aku sayang.


"Istirahat ya" ucap Irfan membelai kepala Fajira.


"iya mas, kamu juga ya"


"iya sayang"


Keluarga kecil itu saling mendekap satu sama lain menyalurkan kehangatan hingga pagi menampakkan sinar nya, membus dinding kaca dan masuk ke dalam kamar keluarga kecil itu.


Mata Fajira mengerjab menyesuaikan dengan cahaya. Ia tersenyum ketika melihat pemandangan indah yang terpampang jelas di matanya. Tangan Fajira terulur menyentuh wajah ke dua pria tampannya.


"morning istriku" serak Irfan tersenyum sambil membuka matanya.


"morning mas"


Irfan menggenggam tangan Fajira dan mengecupnya mesra. Beruntung Fajri tengah memeluk Fajira dan ini menjadi kesempatan untuk irfan bisa mengukung Fajira.


"mas" ucap Fajira melotot.


"kenapa sayang, Aku butuh asupan pagi ini"


"ap-apa? ja-jangan macam-macam mas, ada Fajri"


"anak kita lagi tidur sayang"


"na-nanti dia terbangun mas"


Irfan hanya tersenyum dan mendekatkan kepalanya, ia meraup bibir manis dan kenyal itu dengan lembut dan terkesan menuntut. Irfan seolah lupa daratan jika sudah mengecap manisnya tubuh Fajira, walaupun hanya mengecup saja.


Mereka saling berpagutan dengan cukup panas, bahkan Fajira mulai membalas luma*tan irfan yang begitu memabukkan baginya. mereka terhanyut di pagi yang panas ini, bahkan tangan Fajira juga sudah menahan tengkuk irfan dan memperdalam ciuman mereka.


Namun sesaat kemudian Fajira mendorong tubuh Irfan karna bayangan trauma itu kembali terlintas di kepalanya. Dengan nafas yang menderu, ia menatap langit kamar dengan air mata yang perlahan menetes. Sementara Irfan terdiam melihat keadaan istrinya pagi ini.


"maafkan Aku sayang"


"bisa kamu memberi jarak sedikit mas? ku masih takut"


"iya sayang, Aku mandi dulu ya" Irfan melangkah turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.

__ADS_1


"maaf" lirih Fajira


"gak papa sayang, aku yang salah" Irfan menutup pintu kamar mandi dan segera menyelesaikan sesuatu yang sudah ia tahan sejak semalam.


Sementara Fajira kembali memeluk Fajri yang masih terlelap di dalam pelukannya. Satu hal yang menarik, tadi adalah durasi paling lama mereka berciuman. Perlahan Fajira yang mulai tenang menjadi merona membayangkan morning kiss yang cukup membuatnya basah saat ini.


Hingga Irfan menyelesaikan mandinya, Fajira masih berbaring sambil mengelus kepala pria kecilnya.


"sayang, bajuku?"


"belum aku sediakan mas, sebentar ya"


"gak apa biar mas saja yang mengambilnya sayang"


"iya mas. Maaf ya"


"iya sayang"


Irfan segera mengenakan pakaiannya dan kembali berbaring di samping Fajri, dan mengganggu tidur pria kecil itu.


"sayang Ayah, bangun lagi yuk nak" muach... muach... muach...


Sambil membangunkan Fajri, Irfan mencium pria kecil itu dengan gemas, sehingga membuat Fajri kesal.


"enghh... Ayah perih kena kumis nya, pipi Aji sakit" rengek Fajri menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Fajira.


"hei bangun lagi sayang" ucap Irfan menggelitik Fajri.


"hahahah ayah ampun ayah geli haha Bunda geli, ayah" tawa Fajri terdengar renyah pagi itu, hingga Irfan berhenti dan menatap putra sematawayangnya.


"Apa Aji bahagia sayang?"


"iya ayah, Aji bahagia karna Ayah sudah menikah dengan Bunda. Dan kita sudah bersama sampai kapapun"


"ia sayang, hmm apa Aji mau punya adek?"


deg... Fajira melotot ke arah Irfan.


"Adik? Hmm? Aji mau Ayah biar ada temannya" ucap Fajri antusias.


"beneran sayang? kalau begitu coba bilang sama Bunda dulu" ucap Irfan memancing.


"bunda" ucapnya dengan penuh harap.


"iya nanti kalau ada rezeki Aji akan punya Adek ya nak"


"betul Bunda?"


"betul sayang"


"yeeee Aji mau punya Adik.... yeeeee Aji mau punya Adik" sorak Fajri melompat di atas tempat tidur.


Pagi ini terasa sangat hangat dengan kebahagiaan yang selalu terpancar dari wajah keluarga kecil itu. Hingga siang menjelang mereka masih betah berada di dalam kamar dan menghabiskan waktu bersama.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE


Genks gimana sih rasanya kalo takdir baik tidak pernah mengikuti kita?


Sedih? Pasti. Kecewa? Iya.


Gintani, gadis cantik yg bertubi-tubi memiliki takdir yg menurutnya buruk setelah bertemu dgn pria arogan bernama Argha.


Dibalut dengan cerita romansa yang pasti bikin baper and gregetan. Akankah angkuhnya hati Argha bisa diluluhkan oleh ketulusan seorang Gintani?


Yuk mampir mana tau sukaa 😍😍


__ADS_1


__ADS_2