
Hari ini Fajri terpaksa harus pergi ke kantor dan meninggalkan sekolahnya, karna begitu banyak pekerjaan yang sedang menanti. Ray tengah kewalahan menghadapi para ivenstor maupun perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Fajri.
Benar apa yang di katakan oleh Irfan. jika perusahaan Fajri akan mendapatkan banyak keuntungan dan menarik perusahaan lain untuk bekerja sama. Trik inilah yang di lakukan oleh Irfan untuk membangun kembali perusahaannya yang hampir bangkrut.
Sedari pagi Fajri sudah mengadakan beberapa kali rapat dan pertemuan untuk melakukan beberapa kontrak kerja dengan sebagian investor dan relasi bisnis yang datang kepadanya, beruntung Irfan mengerahkan Pandu untuk membantu dirinya karna Ray juga sangat sibuk saat ini.
Pria kecil itu terlihat sangat kelelahan, hingga tanpa sadar, Fajri tertidur pulas di atas meja kerjanya. Hingga Ray datang dengan membawa setumpuk berkas yang telah ia periksa untuk di tanda-tangani oleh pria kecil itu.
Hatinya terenyuh melihat Fajri terlelap dengan posisi terduduk di atas kursi kebesarannya dan kepala yang terbaring di atas meja. Ia segera mengangkat Fajri dan memindahkannya ke atas sofa. Ia menatap wajah tampan yang mulus itu dengan lembut, Ia bisa merasakan betapa besar keinginan Fajri untuk mengumpulkan uang agar bisa membawa Fajira berkeliling dunia.
Mungkin jika semua tabungan pria kecil itu di kumpulkan, ia sudah bisa membawa Fajira pergi berkeliling, dan memborong banyak barang branded dari segala penjuru dunia. Ray membiarkan Fajri terlelap dan ia kembali memeriksa berkas-berkas yang tersisa. Hinga siang menjelang, Fajri masih terlelap di atas sofa dengan damai.
Ceklek...
Fajira masuk ke dalam ruangan Fajri, tanpa mengetuknya terlebih dahulu bahkan Jas putihnya masih melekat di tubuh indahnya. Sambil membawa beberapa kantong makanan, ia berjalan dengan cepat untuk melihat Fajri.
"Kak, Apa, Fajri baru saja tidur?" ucap Fajira.
"sudah ada sekitar 1 jam, Ji!" ucap Ray tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas itu.
Fajira tau jika anaknya sangat sibuk saat ini, ia begitu risau mengingat Fajri tidak membawa bekalnya, dan ia juga takut pria kecil itu melewatkan jam makan siangnya.
Ada perasaan belum rela di dalam diri Fajira untuk melepas Fajri yang masih kecil, berkutat dengan urusan perusahaan yang begitu beresiko. Bahkan Irfan saja lebih sering mengeluh lelah dan letih ketika bekerja, palagi Fajri yang bahkan usianya belum genap 10 tahun.
Fajira mengusap kepala Fajri dengan lembut dan mengecupnya sesekali. Ia sudah meminta Pak Sakti untuk menjemput Ivanna ke sekolah dan membawanya ke kantor Fajri agar mereka bisa makan siang bersama.
"Buna?" panggil Ivanna yang baru saja tiba.
"sayang?, sudah pulang?" ucap Fajira tersenyum.
"sudah, Buna!" Ivanna meraih tangan Fajira dan mengecupnya.
"Apa, Abang sakit, Buna?" tanya Ivanna khawatir melihat abangnya yang tergolek lemah di atas sofa.
"Abang?" panggil Ivanna.
"Abang lagi tidur, sayang!" ucap Fajira memangku Ivanna.
__ADS_1
"Apa Abang kelelahan karna bekerja, Buna?"
"iya, sayang!"
"huh! kenapa sih, Opa sama Ayah itu sudah membuatkan Abang perusahaan di usia yang masih kecil? kan dede ditinggal sendiri kalau abang kerja," ucap Ivanna kesal.
"Apa Dede boleh punya adik, Buna?" tanya Ivanna menatap Fajira dengan penuh harap.
"boleh, nanti Dede bilang sama Ayah ya, nak!" ucap Fajira tersenyum.
Akhirnya aku memiliki harapan untuk hamil kembali. Bathin Fajira senang.
Saat ini, bukan ia yang menggunakan KB, tetapi Irfan. Ia memilih cara lain agar istrinya tidak hamil dan membuat Fajira kembali merasakan kesakitan itu untuk ke sekian kalinya.
"Iya, Buna!" Ivanna tersenyum sambil membayangkan bagaimana jika ada adik di antara mereka.
Aku ingin punya adik laki-laki saja, biar Aku gak punya saingan, hehe. Bathin Ivanna senang.
...πΊπΊ...
"Jangan terlalu lelah, sayang. Nanti Abang sakit!" ucap Fajira mengelus kepala Fajri lembut.
"Jangan terlalu di forsir, nak! kalau Abang mau cari harta, dengan apa yang kita punya saat ini, kalau di belanjakan gak akan habis sampai 7 turunan!" ucap Fajira.
"Iya, Abang tau, Bunda. Bukankah Abang punya janji untuk membawa Bunda keliling dunia dengan hasil kerja keras, Abang," ucap Fajri lembut dan tersenyum.
Deg,...
Mata Fajira termagu, matanya berkaca-kaca mendengarkan ucapan Fajri. Pria kecil itu masih mengingat janji yang di ucapkannya 6 tahun yang lalu. Ucapan yang dulu hanya dianggap sebagai celotehan anak kecil oleh Fajira, ternyata memang di wujudkan oleh Fajri. Dengan memanfaatkan kepintarannya, dukungan dari Opa dan jalan dari Irfan, Ia bisa mewujudkan impiannya untuk mengumpulkan banyak uang, agar bisa mewujudkan janji mulia itu.
" Apa ini alasan abang, bersikeras untuk membuka perusahaan dalam usia yang masih kecil?" tanya Fajira menatap Fajri serius.
Beruntung Ivanna sudah terlelap, sehingga Fajira bisa leluasa untuk bertanya kepada putranya.
"Iya, Bunda. Saat ini Bunda, kita sudah bahagia karna ada Ayah. Aji ingin, ketika besar nanti, bisa membawa bunda kemanapun yang Bunda mau, membeli apapun yang Bunda inginkan tanpa melihat berapa harganya. Aji ingin Bunda bahagia di Mas tua Bunda nanti, tanpa memikirkan apa yang harus kita makan untuk besok!" ucap Fajri tersenyum namun matanya sudah berkaca-kaca.
Fajira tidak tau harus berkata apa, ia hanya bisa memeluk Fajri dengan erat. Tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa ia cegah. Mereka saling berpelukan dengan tangis haru.
__ADS_1
"Abang, Dengan apa yang Abang berikan kepada bunda, itu sudah sangat membuat Bunda bangga dan senang,"
"gak, Bunda. Itu semua harus Aji lakukan, tapi janji Aji yang satu ini adalah cita-cita Aji dari kecil, bunda. Aji harap Bunda merestui dan mengizinkan Aji untuk meraih cita-cita Aji!" ucap Fajri menatap Fajira lamat.
"Nak!"
"Aji mohon, Bunda!"
"baiklah, Tapi Bunda gak mau sampai Aji kelelahan atau bahkan sampai sakit!" ultimatum Fajira.
"Iya, Bunda. Tapi Abang gak janji!" ucap Fajri terkekeh.
"Kalau sudah sakit, itu kehendak dari tuhan. Tapi bukankah kita harus menjaganya?"
"Iya, bunda. Temani Aji dan Dede sampai besar ya, Bunda!" ucap Fajri kembali memeluk Fajira.
"Iya, sayang. Bunda akan mengekor kemanapun Aji dan dede pergi, menempel seperti prangko!" ucap Fajira tersenyum.
"Aji sayang, Bunda!"
"bunda lebih sayang Abang dan Dede!"
Untuk beberapa saat mereka berpelukan, hingga pekerjaan yang menumpuk, membuat Fajri harus menyelesaikannya pekerjaannya dan mengurai pelukan itu.
Fajri dengan serius melihat berkas-berkas pengajuan kerja sama dari berbagai perusahaan yang bergerak di bagian mesin bahkan anti virus pun ada.
Sepertinya ini tidak bisa di gabungkan, lebih baik Aji membuat cabangnya masing-masing. Semoga tidak mengganggu tabungan Aji nanti!. Bathin Fajri.
Ada beberapa perusahaan pesawat dar Jerman, Perusahaan Mobil dari Italy, dan mesin lainnya. Mereka rata-rata berasal dari negara di asia. Fajri cukup bingung untuk menerima perusahaan yang segitu banyaknya. Jika ia merasa cocok, maka goresan tinta itu akan terukir indah di sana.
Hingga semua berkas sudah di tanda tangani, Fajri membawa beberapa berkas yang ia tidak paham agar bisa di bahas nanti di rumah, bersama dengan Ayahnya. Mereka segera pulang dengan rasa lelah yang mendera, ketika kasur sudah memenuhi isi kepala mereka.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Satu part lagi, kita akan loncat ke masa Fajri sudah dewasa ya gais.
__ADS_1
Semoga ceritanya makin seru, dan lebih menarik lagi ππ