Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
121. Sikap Dewasa Fajri


__ADS_3

Malam menjelang, Fajri masih terlelap dalam bayangan mimpi tidur indahnya. Wajah yang terlihat pucat namun masih berseri-seri, mungkin efek dari kedatangan Hanna tadi barang kali.


Fajira mengamati luka yang ada di kepala anaknya, terlihat cukup menyayat hati, karna di usia yang masih kecil Fajri harus mengalami hal yang seperti ini.


Rambut berharga anakku sudah tidak berbentuk lagi. Pasti jelek besok ya, kalau perbannya sudah di buka. Masa iya Fajri harus botak sih?. bathin Fajira meringis.


Ceklek...


Irfan masuk ke dalam kamar setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang, tepatnya di belakang Fajira yang tengah berbaring.


"Aji belum bangun, sayang?" tanya Irfan sambil mengusap perut Fajira lembut.


"belum, Mas. Apa sudah selesai kerjanya?"


"sudah, sayang. Princes ayah apa kabar hari ini, nak?"


"Dede baik, Ayah" ucap Fajira menirukan suara anak kecil an membuat senyum Irfan mengembang dengan sempurna.


Muach... muach... muach...


Kecupan demi kecupan di berikan oleh Irfan kepada istri cantiknya itu.


"I Love You, Sayang. I love You! muach... muach..."


Irfan menatap Fajira lembut dan tersenyum manis. Ia merasa sangat bersyukur memiliki perempuan cantik ini.


"Ada apa, Sayang?" ucap Fajira mengelus lembut rahang tegas Irfan yang sudah di tumbuhi oleh bulu-bulu halus dan terasa sangat menggelitik jika irfan menggesekkan di pipi mulusnya.


"gak ada! Aku kangen" ucap Irfan dengan suara serak.


"istirahat dulu ya! kamu baru selesai kerja. sebentar lagi pasti Fajri juga sudah bangun" tolak Fajira secara halus.


"iya, sayang." Irfan berbaring di belakang istrinya.


Tangan kekar itu perlahan melingkar sambil mengelus lembut perut yang sebentar lagi akan mengeluarkan isinya. Seorang putri kecil yang akan menjadi pelengkap hidup mereka nanti.


Perlahan Irfan terlelap sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Fajira. Dengkuran halus mulai terdengar sangat tenang dan membuat ibu hamil itu tersenyum.


Ia merasa belakangan ini Irfan begitu sibuk dengan pekerjaannya. Entahlah, ingin rasanya ia bertanya dan menjadi teman cerita untuk bapak suami itu, namun ia ingin Irfan yang lebih dahulu terbuka kepadanya.


Semoga gak ada hal buruk lagi yang akan terjadi di kemudian hari.


Fajira merasa ada saja hal yang terjadi semenjak mereka menikah. Ia merasakan sedikit tidak tenang ketika menyandang status Nyonya Irfan.


Bukan karna tidak senang, namun ia selalu merasa was-was menjaga seorang Irfan yang sangat di gilai oleh hampir sebagian perempuan di negeri ini.


Namun ia hanya bisa menaruh kepercayaan kepada sang suami dan berharap mereka akan saling menjaga satu sama lain.


Ia masih mengelus lembut dua pria tampan yang sedang memeluknya erat. Hingga ketukan pintu membuyarkan fikirannya.

__ADS_1


tok... tok... tok...


"nyonya, Di luar ada Nyonya besar!" ucap bibi.


"Suruh masuk aja bi. Aku gak bisa bergerak" ucap Fajira sedikit keras agar bisa di dengar oleh ART nya itu.


"baik 'Nya" Bibi berlalu, Fajira sedikit memperbaiki penampilan agar terlihat pantas di depan ibu mertuanya nanti.


Beruntung, ia sempat menaikkan selimut sehingga bisa menutupi gaun minim yang tengah ia pakai.


Tok.. tok... tok...


Ceklek...


Terlihat Mama Viola berjalan masuk menghampiri keluarga kecil itu. Ada semburat kekhawatiran yang tergambar jelas di wajahnya.


"Fajira" panggil Mama.


"iya Ma, aku gak bisa gerak. Mas Irfan baru aja tidur" ucap Fajira ketika melihat sang mertua hendak membangunkan Irfan.


"Apa gak pengap nak?"


"gak papa, Ma. Apa mama baru sampai? maaf ya ma, Aku gak bisa menyambut kedatangan mama tadi. Mama sama siapa kesini?"


"Gak papa, Nak! Mama datang Sendiri, Sayang. Papa tadi pagi berangkat ke luar kota. Bagaimana keadaan Fajri, nak?"


"Sudah lebih baik Ma, tadi sudah di rontgen juga, beruntung gak ada hal serius yang terjadi kepada Fajri" terang Fajira sambil mengusap punggung Fajri lembut


"iya, Ma. tiga jahitan tadi kata mas Irfan"


"apa lagi yang kena, nak?" tanya Mama semakin khawatir.


"Kaki kanan Fajri juga terkilir, Ma"


"Astaga. Hiks...." pecah sudah tangis Mama melihat cucu sulungnya tengah terbaring sakit seperti itu.


Isak tangis Mama berhasil membuat Fajri terbangun dan langsung menatap wanita paruh baya yang tengah menangis itu.


"Oma? Oma kenapa nangis?" tanya Fajri lembut dengan setengah sadar.


"Gimana keadaan Aji, sayang?" tanya Mama masih terisak dan membuat Fajri tersenyum.


"Aji, gak papa, Oma. Paling beberapa hari lagi juga sembuh," tangan Fajri terulur mengambil tangan Mama dan mengecupnya lembut.


"Oma jangan Khawatir ya. Aji baik-baik saja" Sambung Fajri tersenyum.


"kenapa bisa seperti ini, sayang? Oma sedih tau, waktu dengar Aji jatuh terus kepalanya berdarah," ucap Mama sambil menahan tangis.


Fajri bangkit dari tidurnya dan mengusap wajah yang mulai keriput itu dengan lembut. Perlahan rasa sakit di kepalanya mulai terasa, namun pria kecil itu berusaha untuk menahannya.

__ADS_1


"Oma jangan sedih ya. Aji baik-baik saja. Do'a 'kan Aji biar cepat sembuh" Fajripun juga ikut berkaca-kaca sambil memeluk tubuh renta yang ada di hadapannya.


"iya nak, Oma selalu mendo'a 'kan Aji, sayang!"


"Oma sama siapa kesini?" tanya Fajri kembali berbaring karna sakit kepalanya yang semakin mendera.


"Oma datang sendiri, sayang,"


"pasti Oma belum istirahat kan?, Apa Oma mau bobo disini sama Aji?" tawar Fajri.


"Nanti Oma istirahat di kamar Oma, saja Sayang. Hmm,,, Tadi di jalan Oma beli udang segar, Apa Aji mau Oma bikinan Udang krispy, sayang?" ucap Mama antusias sambil menyeka air matanya.


"Wah. Aji mau Oma. Aji mau! Tapi apa Oma gak capek?" mata polos itu berbinar senang.


"Gak, sayang! Oma gak capek kok. Aji istirahat lagi ya, nak! Nanti oma bangunkan kalau sudah siap"


"iya Oma, terima kasih banyak" ucap Fajri tersenyum.


Ia kembali terlelap karna merasakan usapan lembut Fajira yang perlahan bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya.


...🌺🌺...


"Papa Gak mau tau Irfan! pokoknya dia harus bertanggung jawab!" Teriak Papa di dalam ruang Irfan.


Laki-laki paruh baya itu segera memutar arah dan menuju ke kediaman Irfan ketika mendengar kabar Fajri. Ia bahkan membatalkan beberapa meeting dan bahkan juga akan memberikan dampak yang cukup serius untuk perusahaannya nanti.


"Pa, sudahlah! lagian ini juga bukan sepenuhnya salah penjaga sekolah itu" sergah Irfan cepat.


Sungguh ini sudah ia perdebatkan dengan Fajira tadi siang, ia sudah berjanji kepada istrinya untuk tidak memperpanjang masalah ini lagi.


Papa menatap Irfan tajam, ia merasa terkejut dengan sikap putrnya yang seolah sudah kehilangan taring.


"siapa kamu?" tanya Papa sambil menatap Irfan tajam


"Hah? maksud Papa?" Tanya laki-laki itu bingung


"Aku tidak memiliki anak yang lemah seperti kamu. Apa kamu diam saja ketika anakmu terluka seperti itu?" sarkas Papa menatap Irfan tajam.


"Pa, sudahlah. Aku dan Fajira sudah sepakat untuk tidak memperpanjang masalah ini. Kalau papa memang bersikeras juga, papa bisa mengatakannya kepada Fajira!" irfan berdiri dan segera beranjak dari ruangan itu.


Memang dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin menuntut penjaga sekolah itu atas insiden yang menimpa Fajri. namun perkataan Fajira seolah menamparnya berkali-kali, sehingga ia mengurungkan niat untuk memperbesar masalah ini.


"Jangan karna kamu memiliki kekuasaan, kamu bisa bertindak seenaknya saja, Mas!. Fikirkan juga orang lain, bagaimana kalau dia itu tulang punggung keluarga? bagaimana kalau anak-anaknya masih kecil? Gak enak Mas!, menghidupi anak dalam keadaan serba kekurangan! Disini Fajri juga salah karna dia yang memaksa dan Aji juga yang melompat dari atas meja. Tolong kamu fikirkan lagi!." Ucap Fajira tegas.


Begitulah ucapan Fajira yang selalu terngiang di telinganya. Ia juga membenarkan ucapan Papa tadi, ia sudah lemah jika Fajira sudah berbicara.


Ia memilih untuk kembali ke kamar dan menemui anak dan istrinya. Sementara Papa menatap Irfan tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.


Fajira sangat pandai merobah beruang kutub itu dengan sangat mudah! Papa mengapresiasi kehebatanmu, Nak! karna bisa menakhlukan Irfan yang keras kepala ini.

__ADS_1


🌺🌺🌺


TO BE CONTINUE


__ADS_2