Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
122. Kunjungan Guru Fajri


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu semenjak kecelakaan yang menimpa Fajri. Pria kecil itu bersungut kesal karna Fajira masih tidak memperbolehkannya untuk pergi ke sekolah. Apalagi Hanna selalu mengirimnya pesan tentang apa saja kejadian yang ia lewatkan saat di sekolah dan itu sukses membuatnya semakin ingin pergi ke sana.


Fajri tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi dan di temani oleh Mama Viola. Wajah cemberutnya masih terpampang jelas dan membuat Mama menjadi gemas melihat pria kecil nan tampan itu.


"Sayangnya Oma kenapa lagi, Nak?" ucap Mama mengusap kepala Fajri.


"Aji mau sekolah Oma, Ini sudah tiga hari Aji izin. Mana pelajaran matematika lagi. Aji kan susah untuk memahaminya!" ucap Fajri kesal.


"hei, cucu Oma yang tampan ini gak boleh cemberut. Bukannya Aji pintar? Kenapa susah belajar matematika, sayang?" tanya Mama heran.


"Aji gak suka, Oma. makanya susah untuk Aji pahami"


"astaga!" Mama Viola hanya bisa menepuk jidatnya melihat kelakuan Fajri yang sungguh sangat luar biasa.


Bibi datang dari arah luar dan menghentikan percakapan nenek dan cucu itu.


"Permisi, Nyonya Besar! Di luar ada beberapa orang guru, wali murid dan beberapa teman-teman tuan muda," ucap bibi memberitahu kedatangan warga sekolah untuk menjenguk Fajri.


"Irfan mana, Bi?" tanya Mama.


"tuan Irfan masih di dalam ruang kerjanya dan Nyonya Fajira kembali terlelap setelah sarapan tadi, Nyonya"


"tolong Panggil irfan dulu bi"


"baik nyonya, permisi" Bibi berlalu untuk memanggil Irfan.


Laki-laki itu tidak ingin meninggalkan Fajri sampai pria kecil itu sembuh. Ia hanya memantau pekerjaannya dari rumah dan memberikan kepercayaan penuh kepada Ray, untuk mengurus segala keperluan perusahaan.


"Apa teman-teman Aji datang, Oma?" tanya Fajri berbinar senang.


"iya sayang. Aji tunggu disini ya. Oma mau lihat keluar dulu" ucap Mama beranjak dari sana dan melihat monitor cctv dan menghubungi penjaga rumah.


Namun sebuah langkah kaki kecil mengalihkan perhatian mereka.


"Aji!" sapa Hanna tersenyum.


"Kakak" pekik Fajri senang.


"Kok Aku di bolehin masuk ya sama penjaganya?" tanya Hanna bingung.


"eh, selamat Pagi. nenek" ucap Hanna canggung namun masih bersikap sopan ketika menyadari kehadiran wanita paruh baya itu di dekatnya. Ia mengulurkan tangan agar bisa bersalaman dengan Mama Viola.


"Namanya siapa nak? Kok bisa masuk?" tanya Mama mengernyit.


"Namaku Hanna, Nek. Temannya Fajri"

__ADS_1


"Kemarin Kak Hanna juga udah kesini, Oma. Jadi Aji bilang sama pak sakti, kalau kak Hanna mau kesini di suruh masuk saja" ucap Fajri menjelaskan.


"ah iya. Panggil Oma saja ya, nak!" ucap mama tersenyum.


"iya. Oma" Hanna duduk di dekat Fajri sambil menanyakan kabar pria kecil itu.


"ada apa, Ma?" yang Irfan yang baru saja turun dari lantai atas.


"itu ada gurunya Fajri datang menjenguk. Cuma belum masuk, mereka masih menunggu di luar" terang mama.


"Guru Fajri? eh ada Hanna" ucap Irfan mendapati Hanna sudah duduk bersama putranya


"eh, Ayah. Selamat pagi" gadis manis itu berhasil mencuri perhatian keluarga Dirgantara karna kesopanannya.


"Pagi, nak. Apa di luar banyak yang datang?"


"iya, Ayah. Lumayan deh"


"ya sudah, Hanna temani Fajri dulu ya"


"iya, Ayah"


Untung Papa sudah berangkat kemarin. kalau gak, ya siap-siap saja nanti menghadang amukan singa betina. bathin Irfan bergidik ngeri membayangkan bagaimana ekspresi Fajira ketika marah.


Ia segera menghubungi penjaga yang berada di gerbang agar mengizinkan mereka masuk satu persatu dengan menjalankan protokol keamanan yang harus di patuhi oleh setiap tamu yang masuk ke dalam pekarangan rumah mewah itu.


Mereka juga harus melewati mesin detektor satu persatu agar di pastikan jika tidak ada barang atau senjata tajam lainnya yang mereka bawa masuk.


Guru-guru tersebut bersungut kesal karna aturan yang ada di rumah Irfan. Mereka merasa ini terlalu berlebihan, bahkan ponselpun juga tidak di perkenankan untuk membawanya.


"Hei pak, Kenapa Hanna bisa masuk tanpa di periksa?" ucap salah satu guru yang protes.


"ini sudah kebijakan dari tuan Irfan, buk. Jika anda tidak bisa mematuhi protokol untuk masuk ke rumah ini, silahkan pergi!" tegas penjaga yang memiliki badan besar dan kekar itu.


"sudah lah bu, namanya juga kita masuk ke dalam rumah orang kaya, tentu aturannya sangat banyak" lerai guru yang lain.


Ibu Rully hanya terdiam sambil mengikuti instruksi yang ada. Ia juga mengamati ekspresi dari penjaga sekolah yang memang ingin datang agar ia bisa meminta maaf secara langsung.


Setelah selesai mereka di persilakan masuk ke dalam rumah mewah itu dengan beraturan.


Ceklek...


"silahkan masuk, Bapak, Ibu" ucap Bibi membuka pintu.


Mereka masuk dengan wajah yang yang terkejut melihat kemewahan rumah yang di tempati oleh Fajri. Apa lagi ibu Rully yang mengetahui bagaimana kondisi Fajira sebelum bertemu dengan Irfan kembali.

__ADS_1


"silahkan duduk dulu, pak, bu! Nyonya Fajira dan tuan Irfan masih di atas. Tuan muda Fajri juga sedang berada di ruang keluarga" ucap Bibi.


Ia mengarahkan ART yang lain untuk meletakkan minuman dan cemilan untuk semua tamu.


Mata mereka menelisik keadaan rumah mewah itu, berbagai macam furniture dengan harga selangit terpampang indah di sana. Hal yang membuat mereka terpana adalah, foto Irfan, Fajira dan Fajri tengah melakukan sesi baby bump, mereka terlihat berwibawa dengan wajah dingin yang selaku bertengger di sana.


Diikuti dengan foto pernikahan yang terlihat sangat menawan. Body Fajira yang masih terlihat bagus terpanjang indah di sana, walaupun ia sudah pernah hamil dan melahirkan.


Mereka berdebar ketika melihat foto yang sedikit panas berada di sudut ruangan itu. Fikiran mereka berkelana, betapa ganasnya CEO dingin itu di atas ranjang.


Pandangan mereka teralihkan ketika melihat Irfan memapah Fajira menuruni anak tangga satu persatu. Ibu muda itu masih terlihat cantik walaupun dengan muka bantalnya.


"siang, ibu, bapak" sapa Fajira dengan senyum manisnya.


"eh siang, Bunda Fajri. Tuan Irfan," sapa mereka.


"Maaf ya, menunggu lama. Fajrinya lagi di ruang keluarga, Pak, bu. Sebentar ya!. Sayang tolongin Fajri ya" ciap Fajira sambil tersenyum


"iya, sayang" Balas Irfan yang juga ikut tersenyum.


Ia segera menjemput Fajri dan Hanna yang masih menonton di ruang keluarga itu.


"Sayang, Yuk ikut ayah ke depan! Hanna juga ya, nak!" Ajak Irfan menggendong Fajri dan menggandeng Hanna.


Mereka berjalan menuju ruang tamu untuk bertemu dengan para guru dan beberapa orang tua murid. Irfan mendudukan Fajri di atas pahanya, sementara Hanna duduk di samping Fajira.


"bagaimana keadaan Aku, Nak?" ucap bu Rully tersenyum.


"Aji sudah lebih baik, bu. Karna Aji punya dokter pribadi yang cantik" ucap Fajti tersenyum sambil menatap Fajira.


"Syukurlah. Apa sudah ada cek up, nak?"


"Sudah bu, kata dokter lusa depan perban kaki Aji sudah bisa di buka"


"ah. Syukurlah!"


Hening, mereka terdiam karna tidak tau mau berkata seperti apa. Mereka canggung dan cenderung segan berhadapan dengan laki-laki yang ada di hadapan mereka.


Irfan seolah tidak peduli dengan keadaan sekitar. ka hanya mempedulikan Fajri yang sedang meminum air mineral kemasan.


Hingga salah seorang di antara mereka berbicara dan mampu membuat Irfan beraksi tak biasa.


"sebelumnya, saya mohon maaf kepada tuan, dan nyonya Irfan...


🌺🌺🌺

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2