
Fajira mengajak Ivanna pergi ke super market untuk membeli beberapa perpengkapan dapur. Gadis kecil itu terlihat sangat antusias karna ia sudah sembuh dan bisa menghabiskan waktu bersama dengan ibundanya.
Mobil bergerak meninggalkan rumah menuju super market yang berada tak jauh dari sana. Menggunakan pakaian senada, Ivanna terlihat begitu mirip dengan Fajira. Namun siapa saja akan terkejut ketika menatap mata indah nan tajam milik gadis manis itu.
"Buna, yakin mau beli garam saja? gak mau beli yang lain?" tanya Ivanna.
"hehe, Bunda belanja perlengkapan dan bahan masakan, sayang! Dede mau makan apa nanti?" tanya Fajira terkekeh.
"Dede suka apa aja yang Buna masak, soalnya masakan Buna enak banget!" ucap Ivanna tersenyum dan meletakkan kedua tangannya di pipi, sambil membayangkan makanan kesukaannya.
"Hehe, apa Dede mau Bunda buatkan ayam kecap? atau ayam goreng tepung?"
"kalau dua-duanya boleh, Buna?" wajah Ivanna berbinar.
"boleh, Ayam kecap untuk makan siang, nanti ayam goreng tepung untuk makan malam, gimana?"
"boleh Buna!" ucap Ivanna tersenyum manis.
"Nanti Bunda buatkan ya, sayang!" Fajira tersenyum dan memeluk Ivanna.
"terima kasih, Buna!" ucap ivanna membalas pelukan Fajira.
"kenapa dede manggilnya Buna bukan Bunda?" tanya Fajira.
"gak papa, Dede lebih senang panggil Buna lagi, bolehkan, Buna?"
"boleh, sayang!"
Perlahan mobil berhenti di parkiran super market. Fajira segera menggendong Ivanna untuk masuk ke dalam dan berbelanja beberapa kebutuhan pokok.
Ia mengambil satu troli dan memasukkan Ivanna di dalamnya. Gadis itu bingung, biasanya ketika pergi berbelanja bersama Irfan, ia tidak pernah duduk di dalam troli itu.
"kok Dede masuk ke sini, Buna?" ucap Ivanna mengernyit.
"Biar Bunda gak susah gendong Dede sambil dorong troli, sayang!" ucap Fajira tersenyum, Ivanna hanya mengangguk paham mendengarkan penjelasan ibundanya yang masuk di akal.
"kita beli kue Dede dulu, ya!" ucap Fajira.
Ia memasukkan beberapa cemilan kesukaan anak-anaknya, tak lupa beberapa botol susu, dan juga roti.
"apa lagi sayang?" tanya Fajira.
"coklat belum, Buna!"
"oke, coklat. Yang ini 'kan, sayang?"
"iya, Buna. untuk abang juga!" ucap Ivanna bertepuk tangan.
Sungguh kejadian Fajri yang mengerjainya beberapa waktu lalu, berhasil mengubah sifat dingin Ivanna sedikit demi sedikit.
Ivanna dengan sigap menyusun cemilan yang masuk ke dalam troli dengan rapi. Setelah selesai berbelanja cemilan, Fajira segera memilih bahan dapur untuk persediaan mereka selama sagu minggu kedepan.
"Buna gak jadi beli garam?" ucap Ivanna yang tidak melihat garam di dalam troli itu.
__ADS_1
"ah iya, Bunda lupa, sayang!"
Ia kembali mencari garam yang menjadi topik pembicaraan mereka mulai dari sebelum pergi. Setelah semua bahan-bahan itu lengkap, Fajira segera membayarnya dan pulang ke rumah.
Di dalam mobil, Fajira kembali bertanya kepada Ivanna yang membuatnya sedikit menyesali menanyakan pertanyaan itu.
"Dede kalau sudah besar mau jadi apa, sayang?" tanta Fajira.
"hmm? mau jadi apa ya? Dede mau pergi ke rumah si kuning yang petak itu, Buna! terus bertemu bintang laut yang bodoh. Ingin rasanya dede tabok kepalanya!" ucap Ivanna sedikit kesal.
"Hah? itu 'kan cuma kartun sayang, aslinya si kuning dan teman-temannya itu gak ada, nak! kalau lautnya ada!" ucap Fajira terkejut.
"haa? jadi mereka gak ada, Bunda?" tanya Ivanna cengo.
"gak ada, sayang!" Ucap Fajira menahan senyumnya.
"Ihh, Dede kira beneran ada. Dede kesal sama bintang lautnya yang bego banget itu, Buna!"
"Hehe, jangan marah-marah, sayang! bunda takut lihatnya!" ucap Fajira memeluk Ivanna dengan gemas.
"Maaf Buna, Dede gak marah kok! ini Dede senyum, hehehe," Ivanna menyengir menatap ibundanya.
Fajira gemas melihat gadis kecilnya, ia melayangkan kecupan bertubi-tubi di wajah Ivanna. Mereka kembali mengobrol sambil tertawa bahagia.
Perlahan mobil memasuki kompleks perumahan mewah, dimana rumah Irfan berada. Fajira mengernyit ketika melihat beberapa orang tengah berdiri di depan pagar rumahnya sambil berteriak.
"ada apa pak?" tanya Fajira.
"Yang kemarin? apa ibu-ibu dan suaminya itu?"
"iya, Nya!"
Duh bagaimana ya? pasti aku akan pusing sendiri menghadapi mereka segitu banyaknya!. Apa aku telefon Mas Irfan saja?. Bathin Fajira
"menepi dulu, pak!" ucap Fajira.
Mobil berhenti di tepi jalan dan berjarak cukup jauh dari gerbang rumah. Fajira segera meraih ponselnya dan menelfon Irfan untuk menanyakan masalah ini. Bukan takut, tapi ia hanya memikirkan keselamatan Ivanna nantinya.
tuut... tuut...
"halo, Mas?" ucap Fajira ketika panggilan terhubung.
"Iya, sayang. Ada apa?" ucap Irfan di balik telefon.
"Mereka datang lagi, Mas!"
"Masuk saja, sayang! jangan hiraukan mereka! aku akan suruh beberapa orang untuk mengusir orang-orang yang kurang ajar itu!"
"Tapi masalahnya, aku sedang berada di dekat rumah, sayang!"
"maju saja, sebentar lagi mereka sampai!"
"Baiklah!" ucap Fajira mematikan panggilannya.
__ADS_1
Tak lama ia melihat beberapa mobil berjalan melewatinya, ada Sepuluh orang yang turun dari mobil itu dan menghalau orang-oranh yang memenuhi halaman rumahnya.
tok... tok... tok...
"silahkan jalan, Nyonya!" ucap Joe.
"terima kasih, Joe!" ucap Fajira.
Mobil perlahan berjalan melewati orang-orang tersebut. Ia merasa tidak enak hati dan tidak tega melihat para suami ibu-ibu itu yang terkena imbas atas perbuatan mereka.
Fajira mendengar jika mereka memanggil namanya sambil memohon. Ivanna menatap ibundanya dengan penasaran dan berbagai pertanyaan di dalam otak cerdasnya.
"Mereka siapa, Buna?"
"Bunda gak tau, sayang! Dede langsung masuk ya, nak! Bunda mau menemui mereka sebentar," ucap Fajira.
"Apa Buna baik-baik saja kalau Dede tinggal?"
"bunda, baik-baik aja, sayang! sudah sana masuk!" ucap Fajira tersenyum.
Setelah memastikan Ivanna masuk ke dalam rumah, Fajira mendekat ke arah gerbang. Ia ingin berbicara dengan mereka, setidaknya ia memiliki gambaran bagaimana raut wajah mereka setelah kejadian ini.
"Ada yang bisa saya bantu?" ucap Fajira dingin.
"Kami datang kesini untuk meminta maaf kepada anda, Bu Fajira!" ucap salah satu suami dari mereka.
"tolong kami. Bu! Karna tidak ada perusahaan yang mau menerima kami lagi, saya mewakili istri saya memohon maaf karna prilaku lancang mereka! saya akan pastikan ini yang terakhir kalinya kesalahan sepeti ini terjadi. Saya mohon, Bu! saya memiliki anak yang masih sekola dengan biaya yang cukup besar! tolong kami, bu!" Sambungnya.
Fajira yang memiliki hati lembut, menjadi tidak tega ketika mendengarkan ucapan mereka jika menyangkut tentang anak.
Apa yang harus aku lakukan? apa aku suruh mereka di kantor Mas Irfan saja?. bathin Fajira.
Ia kembali menelfon Irfan dan mengatakan jika ia akan menyuruh mereka pergi ke kantor, dan Irfan menyetujuinya.
"Silahkan bapak dan ibu pergi ke kantor di Dirgantara CORP. Temui suami saya di sana! saya pegang kata-kata anda, Pak! jangan sampai membuat kesalahan seperti itu lagi!" ucap Fajira tegas.
"Joe, tolong antar mereka dan tetap berdiri di samping Mas Irfan. Jangan lupa geledah dulu bawaan mereka!" sambung Fajira.
"siap laksanakan, Nyonya!" ucap laki-laki yang memiliki badan berotot dan wajah sangar itu dengan tegas.
Fajira kembali masuk ke dalam rumah, dan mendapati Ivanna tengah menunggunya di depan pintu masuk dengan raut wajah cemas.
"Buna gak papa?" ucap Ivanna mengulurkan tangannya.
"Bunda gak papa, sayang!" Fajira menggendong gadis manis itu dan berjalan menuju ke dapur.
"temani Bunda masak ya, dek?"
"siap, Ibunda ratu" ucap Ivanna berbinar senang.
🌺🌺🌺
TO BE CONTINUE
__ADS_1