
Setelah drama tadi Pagi, Fajri sudah di bawa pulang oleh irfan ketika sudah mendapatkan izin dari guru. Pria kecil itu sedikit bersungut karna kesal kepada ayah dan bundanya yang memaksa ia untuk pulang.
kan Aji bilang sudah gak papa, kenapa ayah dan Bunda masih memaksa Aji untuk pulang sih?.
"Aji"
"iya ayah"
"kenapa masih cemberut sayang?"
"Aji kan masih ada jam pelajaran Ayah, kenapa harus di bawa pulang sih" ucapnya cemberut dan itu sukses membuat irfan sangat gemas.
"sayang, Aji tau kan kalau ayah selalu gemas melihat Aji"
"iya Aji tau Ayah"
"Nanti kalau Ayah cium Aji sampai ayah puas apa Aji mau?"
"gak mau ayah, nanti pipi Aji perih kena kumis ayah" ucap Aji menggeleng lemah sambil memegang pipinya.
"jangan cemberut lagi ya, nanti ayah semakin gemas sama Aji"
"ih ayah"
"hahaha Nanti Aji ikut Ayah meeting ya sayang. Terus ayah juga sudah memanggil kepala pabrik untuk meeting bareng kita nanti"
"kenapa ayah memanggil kepala pabrik?" Aji menatap irfan dengan dahi yang mengernyit.
"Aji kan mau membuat pabrik pesawat sayang"
"ayah ingat?" mata Fajri membola dan menatap Irfan lekat.
"ingat dong, apapun tentang anak ayah, pasti akan ayah ingat sayang"
"Ayah terima kasih. Aji sayang ayah" ucap Fajri berkaca-kaca.
"Ayah lebih sayang Aji nak. Gak boleh cemberut lagi ya sayang"
"iya ayah" pria kecil itu tersenyum manis.
Mobil terus melaju membawa mereka hingga ke perusahaan. Irfan segera memarkirkan mobilnya dan turun dengan menggendong Fajri yang masih terpana melihat ke megahan perusahaan Irfan.
"Ayah ini perusahaan ayah?"
"iya sayang. Ini milik Aji kok, Ayah hanya menjalankannya saja"
"ha? ayah serius?"
"serius sayang"
Irfan membawa Fajri menuju ruangan meeting yang ada di lantai 6, Semua karyawan menatap ayah dan anak itu dengan terkejut dan bahkan sampai tidak berkedip.
"anak siapa tu?"
"apa anak presdir?"
"ganteng banget, mirip tuan Irfan juga"
Begitulah pertanyaan mereka ketika melihat dua laki-laki tampan yang sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Sayang, apa Aji butuh sesuatu dulu sebelum masuk ke dalam? masih ada 10 menit lagi"
__ADS_1
"gak ada ayah"
Irfan membawa Fajri masuk ke dalam ruangan yang sudah di hadiri oleh beberapa utusan dari berbagai perusahaan. Mereka cukup terkejut ketika melihat Irfan masuk dengan menggendong seorang pria kecil.
"Ray tolong kursi satu lagi ya"
"baik tuan"
Ray segera mengambilkan Fajri kursi untuk ia duduki di samping Irfan nanti.
"terima kasih om" ucap Fajri tersenyum.
"sama-sama tuan muda"
deg...
Apa tadi? tuan Ray memanggilnya tuan muda? apa dia anak tuan Irfan?.
Siapa anak kecil ini? tidak mungkin dia anak tuan Irfan? tapi dia baru akan menikah di ujung minggu ini kan?.
Begitulah pertanyaan yang terlintas di dalam fikiran mereka dan masih banyak lagi.
Rapat di mulai dengan berbagai perdebatan yang cukup menegangkan, karna hari ini mereka akan menangani proyek yang sangat besar sehingga hal ini harus di rancang dengan sebaik mungkin.
"Ayah" cicit Fajri pelan sambil menarik pelan jas yang tengah di pakai oleh Irfan.
"Ayah" ulangnya ketika Irfan tidak menanggapinya.
"apa sayang?"
"Aji haus Ayah"
Irfan tersenyum ia segera mengambilkan Fajri air minum. Lalu mengusap kepalanya lembut. Setelah itu Irfan kembali melanjutkan rapatnya. Sementara Fajri hanya bermain ponsel melihat bagaimana cara pembuatan sebuah helikopter.
Fajri menarik baju Irfan, ia ingin di pangku sebab matanya sudah mengantuk karna terlalu lama menatap layar ponsel. Irfan yang menyadari itu langsung mendekap pria kecilnya sambil memimpin jalannya rapat.
Hingga waktu makan siang, Rapat selesai dengan hasil yang cukup memuaskan. Irfan segera menggendong Fajri yang sudah sangat mengantuk menuju ke ruangannya. Tepat ketika mereka sampai di ruangan Fajira menelfon Irfan melalui panggilan video untuk menanyakan kabar dua pria tampannya.
"halo mas" terdengat suara lembut nan merdu milik Fajira di balik telefon dan membuat Irfan menjadi lebih relaks karnanya.
"halo sayang, Udah istirahat?" tanya irfan lembut sambil tersenyum.
"sudah mas, apa mas sudah siap rapat? apa aku mengganggu?"
"gak sayang, sejak kapan istriku ini menjadi pengganggu?"
"idiiih. Mas udah makan? bekalnya Aku letak di dalam mobil sudah di ambil?"
"sudah sayang. Ini mau mas buka"
"Pria kecilku mana mas?"
"baru tertidur sayang"
"nanti jangan lupa kasih Anakku makan mas, jangan sampai perutnya kosong ya"
"iya sayang. temani aku makan ya"
"iya"
Irfan dan Fajira makan bersama di tempat yang berbeda. Irfan selalu saja menggoda Fajira dengan genit. Namun seperti biasa, Fajira hanya mendelik kearah pria tampan itu, namun tidak di pungkiri jika hatinya juga berbunga-bunga.
__ADS_1
"sayang, nanti kamu mau honey moon kemana?"
"kamu lupa kalau kamu dalam masa percobaan mas"
"Ayo lah sayang, atau kita liburan saja deh, sambil mengajak anak kita pergi jalan-jalan bagaimana?"
"coba tanya dulu sama Fajri mas, dia mau atau gak. Nanti kalau kita berdua yang memutuskan takutnya pria kecilku gak mau"
"ya sudah sayang, nanti mas tanya sama pangeran kuu" seperti biasa Fajira hanya mendelik ketika Irfan menyebut kata itu, ia seolah masih belum terima jika Fajri berbagi hati dengan Ayahnya.
"Hmm kamu cantik hari ini sayang" celetuk Irfan tersenyum genit.
"eleh, manis ya mulut kamu mas"
"tentu dong kalau gak manis kamu gak akan ke tagihan sama ciumanku sayang"
"ih dasar! sekali mesum tetap aja mesum"
"mesum sama istri sendiri gak masalah kan cintaa"
"ishh...."
Mereka menghabiskan makanan masing-masing hingga tandas. Namun mata irfan membola ketika mendengarkan suara laki-laki yang tengah memanggil wanitanya. Dan ini sukses membuat wajah laki-laki itu memerah.
"sayang cepat pergi dari sana. Aku gak suka kamu di ganggu seperti itu sama laki-laki. Ayo sayang jangan ladeni diaa" ucap Irfan panas.
"ih gak boleh gitu mas, dia hanya mengajak aku ngobrol"
"gak mau, aku gak mengizinkan kamu. Atau mau aku jemput ke sana"
"ih kok kamu seperti emak-emak rempong sih mas" ucapnya kesal.
"sayang" panggil Irfan mulai geram
"maas" wanita cantik itu juga ikut geram dengan tingkah possesif calon suaminya.
"Fajira"
"Irfan"
"kamu"
"apa? apa?"
"aku kesana sekarang"
Tut...
Irfan segera menggendong Fajri dan meminta Ray untuk mengantarkannya ke kampus Fajira yang beruntung berada cukup dekat dengan perusahaannya saat ini. Ray yang melihat Irfan yang terburu-buru menjadi mengernyit melihat Hot Daddy itu.
Ada apa dengan tuan Irfan, Wajah memerah seperti menahan emosi dan tergesa-gesa. Ada apa sebenarnya? Tuan muda juga sedang tidur, apa ini tentang Fajira?.
Begitulah isi fikiran Ray yang bergentayangan manja menjawab apa yang terjadi hari ini kepada tuannya. Ia segera melajukan mobil mewah itu dengan hati-hati agar tidak membahayakan atasannya. Hingga mobil berhenti di parkiran kampus, tepat Fajira baru saja keluar dari kantong bersama dengan Vino.
Irfan semakin meradang melihat kedekatan mereka dan teringat dengan perkataan Fajira tempo hari.
"sayang" panggil Irfan geram dan membuat fajira terlonjak kaget.
"...."
πππ
__ADS_1
TO BE CONTINUE