Anak Sultan Milik CEO

Anak Sultan Milik CEO
92. Tidak Tahu diri


__ADS_3

"hekmm... selamat sore, anda mencari siapa?" ucap Fajira dan sukses membuat perempuan itu kaget dan bangun dari duduknya.


Sherly menelisik Fajira dari atas sampai kebawah. Ia menelan ludahnya kasar karna menyadari kesempurnaan perempuan yang ada di hadapannya. Tapi ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan Irfan, laki-laki yang mencuri perhatiannya sejak awal mereka bertemu.


"Saya Sherly, rekan bisnisnya Mas Irfan" ucap Sherly angkuh.


"Tunggu! Apa tadi? Mas Irfan? anda memanggil suami saya dengan sebutan Mas?. Bukan kah itu terlalu lancang untuk sebuah hubungan bisnis?" tanya Fajira mengernyit dan tersenyum remeh, walaupun harus menahan cemburu di dalam hatinya.


"Karna kami memang se dekat itu. Memangnya anda siapa? Apa wanita bayaran Mas irfan? Saya tidak yakin jika anda adalah istri dari laki-laki hebat seperti Mas Irfan!" tanya Sherly malas dan meremehkan Fajira.


Kurang ajar sekali mulut manusia ini? Tahan Fajira, jangan sampai emosi dan merendahkan harga dirimu!. Fajira berusaha untuk tidak terusulut emosi.


"Tanpa bertanya pun, anda sudah bisa melihat siapa saya!" ucap Fajira jengah sambil melirik foto pernikahannya dan foto keluarga Dirgantara yang hampir memenuhi dinding ruangan besar itu.


"palingan juga istri pajangan" ucapnya nyeleneh.


Sial dia tidak terpancing dengan kata-kataku. Batin Sherly kesal.


Ini perempuan anak pemilik perusahaan besar, tapi kenapa berperilaku rendahan seperti ini. Huh dasar pelakor! gak ada akhlak banget! Membuang waktuku saja. Fajira menatap perempuan yang lebih bisa disebut dengan wanita murahan ini dari atas sampai kebawah.


"Dari mana anda bisa tau rumah saya?. Setahu saya lingkungan di sini sudah sangat privasi, tidak mungkin ada orang asing dan aneh bisa sembarangan masuk ke dalam kompleks perumahan mewah dan elit ini" Fajira duduk dengan anggun di sofa.


"Saya mendapat undangan dari Mas Irfan untuk makan malam disini" ucap perempuan itu santai.


"undangan makan malam?" tanya Fajira mengernyit.


"Bohong, sayang!" ucap Irfan memasang wajah dinginnya. Walaupun di dalan hati dia sangat takut jika Fajira marah kepadanya nanti.


"Mas Irfan" Ucap Sherly senang.


"kenapa Nona bisa ada disini?. Saya tidak pernah mengundang siapapun untuk datang ke rumah saya" tanya Irfan dingin sambil memeluk Fajira dari samping.


"hmm, itu Mas..."


"Berhenti memanggil saya dengan sebutan Mas, Nona. Kita baru saja bertemu kemarin dan anda sangat lancang untuk memanggil saya seperti itu" sarkas Irfan cepat.


"Apa salahnya saya memanggil Mas Irfan. Bukankah itu bisa menjalin kedekatan di antara kita" Ucapannya genit sambil menyilangkan kaki sehingga menampakkan paha mulus nan putih itu.


"Apa dia perempuan penggoda yang kamu ceritakan kemarin, Mas?" Tanya Fajira menatap Irfan lembut. Dan membuat Sherly tersulut emosi.

__ADS_1


"Iya sayang"


"apa kata anda? Perempuan penggoda? Asalkan Anda tau, Anda lah yang seharusnya saya panggil dengan sebutan wanita penggoda. Lihat cara anda berpakaian. Ciih... penggoda teriak penggoda!" Sarkas Sherly sambil berdiri dan menunjuk Fajira. Bahkan ia tidak menyadari keadaannya saat ini.


"DIAM!" bentak Irfan dan membuat Fajira terkejut.


"Mas, Aku kaget, dedenya juga kaget" ucap Fajira mengusap perutnya sambil cemberut manja.


"Maafin aku sayang. Maafin Ayah juga ya nak. Muach... muach..." Irfan mengecup perut dan bibir Fajira bergantian. Lalu ia menatap tajam Wajah Sherly yang sudah menghina istrinya.


"Kau! Keluar dari rumah saya sekarang!" ucap Irfan tegas mengeluarkan aura psikopat yang ada dalam dirinya dan itu sukses membuat Sherly bergidik. Namun ia masih tidak menyerah untuk merdekati Irfan.


"Mas..."


"Mas, Mas! Mas matamu!" Ketus Fajira kesal mendengar mulut terkutuk itu memanggil suaminya seperti itu.


"Penjaga" teriak Irfan melalui sambungan telefonnya.


"Kenapa kamu memanggil Penjaga, Mas? Apa kamu mau mengusirku?" ucap Sherly melotot.


"Penjaga" Teriak Irfan kembali karna penjaga rumahnya tidak kunjung datang.


"Kenapa perempuan ini bisa masuk? sekarang usir dia sekarang juga!" teriak Irfan menggema ke seluruh rumah.


Melihat wajah garang Irfan dengan aura yang mencekam, sukses membuat semua orang yang ada di sana menjadi takut termasuk Fajira. Namun ia memilih diam dan akan memarahi suaminya setelah ini.


"ma-maafkan kami tuan!. Nona Ini mengatakan jika dia mendapatkan undangan makan malam dari tuan, makanya kami membolehkannya masuk, Tuan"


"sejak kapan saya mengundang orang lain untuk menumpang makan gratis di rumah ku? sejak kapan ha? jawab?" bentak Irfan semakin menunjukkan sisi arogannya.


"ma-maaf Tuan! I-ini terakhir kalinya kami memasukkan orang asing tanpa persetujuan dari tuan maupun Nyonya" Kedua penjaga itu membungkuk hormat.


"Ma-Mas, me-mereka gak salah apapun. Aku yang memaksa masuk tadi" Ucap Sherly masih berani membantah Irfan sambil mencari muka.


"DIAM! Kehadiran kau tidak di terima di sini!" bentak Irfan dan membuat wanita itu menjadi pucat padi, karna takut ketika matanya bertemu dengan sorot mata tajam milik Irfan.


"cepat seret dia dari sini. Dan jangan pernah Kalian memasukkan siapapun tanpa seizinku!" ucap Irfan tegas kepada para penjaganya.


Tanpa berbicara lagi, kedua penjaga itu segera mengangkat tubuh Sherly dan menggotongnya keluar.

__ADS_1


"lepaskan aku, dasar manusia rendahan! Lepaskan aku!" teriak Sherly ketika tidak bisa memberontak sedikitpun karna kekuatan dua penjaga yang memiliki otot yang sangat besar itu.


"Kamu lihat nanti, Mas! Aku akan mendapatkan mu" teriaknya tidak tahu diri sebelum menghilang di balik pintu.


Tinggal lah sepasang suami istri yang masih di landa emosi itu. Sifat arogan Irfan perlahan memudar mengingat ekspresi menakutkan yang akan i tampilkan Fajira nanti.


"Mas Irfan" panggil Fajira yang terdengar horor di telinga Irfan.


"Mas Irfan? Aku pikir hanya aku yang memanggil kamu seperti itu, ternyata masih ada lagi" Lirih Fajira dan melangkah dari sana.


"Sa-sayang. Dengarkan Aku dulu" ucap Irfan sambil menahan tangan Fajira yang sudah melangkah.


"Sudah sana, aku masih kesal sama kamu. Bisa-bisanya ada orang yang tau dimana lokasi rumahku"


"sa-sayang, jangan gitu ya. Maafin aku, Sungguh aku gak tau kenapa dia bisa mengetahui dimana rumah kita sayang. Apa perlu kita pindah rumah agar tidak ada orang yang tau, sayang?" Tanya Irfan takut sambil mengajukan penawaran.


"pikir Aja sendiri. Lepas, Mas! aku mau ke kamar" Fajira yang masih merasa kesal menghempaskan tangan Irfan dan segera menaiki anak tangga satu persatu.


Namun Irfan tidak akan tinggal diam, ia segera mengejar Fajira dan menggendong istrinya menuju kamar mereka. Ia membaringkan Fajira di atas ranjang single milik Fajri dan menatap lekat mata istri cantiknya itu.


"Sayang," Panggil Irfan lembut seolah mampu menghipnotis Fajira.


"Maafin aku, Aku gak ada hubungan apa-apa dengan wanita tadi selain bisnis. Aku akan urus pembatalan kerja sama itu besok." pandangan Irfan menjadi lemah. Ia berharap Fajira bisa memaafkan kelalaiannya.


"Aku hanya kesal, Mas. Dia sudah menghina dan mengatakan hal yang macam-macam. Perutku sedikit nyeri" Fajira perlahan luluh dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan Aku, sayang! Aku akan memastikan jika ini yang terakhir kalinya dia mengganggu rumah tangga kita" ucap Irfan


"aku percaya mas. Apa bisa kamu memanggil dokter kandungan kesini? Aku takut anak kita kenapa-napa, Mas" ucap Fajira lirih dan berhasil membuat Irfan melotot.


"Kamu serius sayang?" pekiknya dan langsung memegang perut Fajira lembut.


Ia segera meraih ponselnya dan menghubungi beberapa dokter kandungan terbaik yang ia kenal. Tak tanggung-tanggung Irfan menelfon mereka dengan nada yang sangat panik sehingga membuat dokter itu menjadi kalang kabut juga. Mereka mengatakan akan datang kesana secepat mungkin.


Fajira hanya mengerjabkan matanya melihat respons Irfan terhadap keluhannya. Perlahan bibir seksi itu melengkung karna merasakan bahagia yang teramat ketika melihat Irfan yang sangat menyayangi keluarganya.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2