
"Ray, kau dipecat!" ucap Irfan tegas.
"tapi Tuan, apa salah saya? anda tidak bisa memecat saya tanpa alasan seperti ini!" ucap Ray tidak terima.
"saya tidak ingin mendengarkan alasan apapun lagi, silahkan!" ucap Irfan tanpa menoleh ke arah Ray.
Pria tampan itu berlalu dari hadapan Irfan dengan rasa kesal yang sangat membuncah. Ingin rasanya ia memukul atasannya yang memecatnya dengan santai tanpa alasan yang tepat.
...πΊπΊ...
Empat tahun kemudian....
Saat ini Fajri sudah berumur 8 tahun, ia sudah berada pada tingkat akhir Sekolah Menengah Pertama karna ia mengambil kelas akselerasi lagi.
Ivanna, gadis manis itu juga sudah berumur 4 tahun, dengan mata bulat, kulit putih dan paras cantik, membuat setiap orang terkagum melihatnya. Namun ada satu hal yang membuat mereka menahan hati ketika mendekati gadis manis itu.
"dek, Abang mau kuenya dong!" ucap Fajri menggoda gadis kecil itu.
Ivanna hanya menatap Fajri sebentar tanpa berekspresi, lalu ia mengalihkan pandangannya kembali. Fajri meringis, lagi-lagi ia sangat sulit untuk mengajak adiknya berbicara.
"Ya udah kalau gak mau ngasih. Biar abang minta sama Bunda membuatkan cemilan yang banyak, untuk abang sendiri!" ucap Fajri beranjak dari sana.
Bughh...
Fajri terkejut ketika merasakan sakit pada kakinya karna Ivanna melemparkan sendok yang tengah ia pegang.
"aduuuh... Kaki abang sakit! Aduh tolong! tolong! kaki abang sakit. Akkhhh... abang ngerasa mau mati!" ucap Fajri pura-pura mengaduh kesakitan dan tergolek di atas karpet bulu itu.
Tidak sakit memang, hanya saja Ivanna memiliki sifat yang dingin dan pendiam. Sehingga Fajri selalu berusaha untuk menarik perhatian gadis kecil itu. Ivanna termagu, ia terkejut melihat Fajri yang sudah tidak bergerak lagi.
"abang?" panggil Ivanna, namun Fajri tidak memberikan respons sedikitpun.
"abang?" Ia berlari menghampiri Fajri yang tengah memejamkan matanya.
"Abang bangun! jangan belcanda!" ucap Ivanna panik.
"Abang, hiks... jangan mati! maafin Dede! hiks..." Ivanna menangis melihat Fajri yang tidak bergerak sedikitpun.
"abang bangun! hiks... Buna?" teriak Ivanna.
Ia terus menggoyangkan badan Fajri agar bisa terbangun, Ia menangis sesegukan sambil memeluk tubuh jangkung Fajri. Fajira datang tergesa-gesa dari arah dapur ketika mendengarkan teriakan Putri kecilnya.
"Astaga. Dek, abang kenapa, nak?" tanya Fajira panik.
"hiks... maaf Buna, Dede gak sengaja!" ucap Ivanna memeluk Fajira.
"Abang kenapa, sayang?" tanya Fajira mengoyang-goyangkan tubuh Fajri.
Namun sesaat kemudian ia menjadi kesal, ketika melihat Fajri mengedipkan matanya sambil tersenyum jahil.
Aih, kenapa Fajri bisa sangat jahil seperti ini!. Bathin Fajira menggeleng.
"Dede tadi ngapain, sayang?" tanya Fajira.
__ADS_1
"Tadi, abang gangguin Dede Buna, telus Dede lempal pake sendok. Telus abang na mati, huaa... hiks... bangunin abang, Buna!" ucap Ivanna menangis tersedu di dalam pelukan Fajira.
"Kok dede gitu nak? terus gimana, abangnya udah mati!" ucap Fajira mendrama.
"Huaa!" tangis Ivanna semakin terdengar.
"ssttt... udah sayang, tenang dulu. menangis gak bisa membuat abang hidup lagi lo!"
"telus gimana, Buna? hiks..." rengek Ivanna.
"Dede mau abang hidup lagi?"
"mau, Buna!" mata bulat itu menatap Fajira dengan penuh harap.
"coba cium abang dulu. terus minta maaf. Bilang Dede janji gak diemin abang lagi, gitu!" ucap Fajira tersenyum.
Sungguh ia ingin tergelak saat ini, melihat tingkah anak-anaknya yang sangat mengemaskan dan juga aneh.
"Apa abang bisa bangun lagi, Buna?" tanya Ivanna berbinar.
"coba aja dulu, mana tau bisa bangun lagi kan!" ucap Fajira.
Ivanna menatap Fajira dan Fajri secara bergantian. Otak cerdasnya mendadak lemot ketika melihat adegan yang seperti ini. Ia merangkak mendekat ke arah Fajri dan menatap wajah tampan itu dengan intens.
"Abang, dede minta maaf ya kalna sudah buat abang mati. Tapi Dede sayang kok sama abang, bangun ya, jangan mati lagi!. hiks..." Ivanna yang terisak mencium pipi Fajri cukup lama dan memeluk pria tampan itu, berharap abangnya akan segera bangun.
"engh..." lenguh Fajri membuka matanya.
Ivanna berbinar senang, melihat abang kesayangan bisa hidup lagi.
"Abang sedih tau, kalau Dede diam-diam seperti itu sama abang. Jadinya abang gak punya teman main!" ucap Fajri sendu.
"Dede janji gak diam-diam lagi! tapi abang jangan mati ya!" ucap Ivanna menatap Fajri serius.
"janji?" tanya Fajri mengangkat kelingkingnya.
"iya, Dede sayang abang!" mereka berpelukan satu sama lain.
Sementara Fajira hanya menggeleng melihat kelakuan anak-anaknya. Namun satu sisi, ia sangat merasa bahagia melihat mereka yang akur dan saling menyanyangi.
"Sudah ya, Bunda mau kembaki ke dapur. Abang jagain Dede, jangan di buat nangis lagi ya!. Dede juga, jangan lempar-lempar abang ya, nak!" ucap Fajira.
"iya, Bunda!" ucap mereka berdua.
Ivanna menatap Fajri dengan mata sembabnya. Ia merasa sangat takut jika terjadi apa-apa dengan abang kesayangannya ini. Begitu juga dengan Fajri, ia menatap Ivanna dengan rasa bersalah.
Apa aku keterlaluan?. Bathin Fajri.
"Sudah, sayang!, jangan nangis lagi ya, Abang gak papa kok!" ucap Fajri mengusap air mata Ivanna yang masih mengalir.
"jangan sakit lagi ya! Dede gak mau!" Ivanna kembali memeluk Fajri dengan erat.
Pria kecil itu tersenyum penuh kemenangan, ia akan memanfaatkan momentum ini agar bisa membuat Ivanna tidak lagi dingin kepadanya.
__ADS_1
"Tapi Dede gak boleh diemin abang lagi ya! Kalau dirumah harus senyum, terus tertawa dan main sama abang. Kalau di luar boleh Dede diam aja, terus dingin!" ucap Fajri menghiba.
"Apa Abang gak suka kalau Dede diam-diam sepelti ini?"
"Abang suka apapun yang ada di dalam diri dede, bagaimana sifat dede. Cuma, kalau dede diam-diam seperti ini abang mainnya sama siapa dong?"
"Tapi Dede gak janji ya!" ucap Ivanna tertawa.
"kok gitu sih? Ya sudah abang mati aja lagi!" ucap Fajri kembali merebahkan badannya.
"Jangan!" teriak Ivanna kembali menangis.
"Eeh, jangan nangis lagi sayang. Abang gak jadi mati kok!"
"hisk... abang jahat! abang mau ninggalin Dede?" tangan mungil itu bergerak aktif memukul dada Fajri
"abang udah dong! jangan dibikin nangis terus Dedenya!" omel Fajira yang datang dari dapur dengan membawa dua toples cemilan yang baru saja ia buat.
"Sini nak!" ucap Fajira meraih Ivanna.
"Gak mau Buna! nanti abang mati lagi!" Ucap Ivanna memeluk Fajri erat.
Fajira hanya bisa menatap putra tampannya dengan horor. Sementara yang di tatap hanya bisa menyengir sambil menggaruk tengkuknya.
Sore itu, Fajri berhasil merubah sedikit sifat dingin Ivanna. Sudah lama ia mencari cara agar adiknya bisa sedikit lebih hangat.
Mata polos Fajri dan Ivanna menatap toples yang berisikan kue sus kering hasil buatan tangan bidadari cantiknya.
"Bunda bikin cemilan, untuk abang dan untuk Dede juga, makanlah! Tapi jangan di habiskan ya!" ucap Fajira tersenyum dan mengusap kepala anak-anaknya.
"terima kasih, buna!" ucap Ivanna tersenyum manis menatap bidadari cantik itu.
"sama-sama, sayang! habis makan nanti gosok gigi ya!"
"siap, buna!"
"apa satu toples boleh untuk abang, Bunda?" tanya Fajri berbinar.
"satu toples untuk berdua, ya!"
"Ya sudah, deh. Sini dek biar abang pangku ya!" ucap Fajri.
Ia memposisikan Ivanna agar bersandar di dadanya. Mereka menonton televisi yang menayangkan film kartun kerajaan sambil memakan cemilan tadi.
Fajira kembali berkutat dengan laptopnya dan menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
πΊπΊπΊ
TO BE CONTINUE
Hai gais, aku sudah membaca komentar teman-teman semua. ada yang menyarankan untuk membuat ekstra part, ada yang meminta untuk lanjut season 2 dengan cerita begini, begitu. Ada juga yang meminta untuk di buatkan novel baru dan lain-lainnya.
Aku mengambil keputusan, untuk membuat season 2 di sini saja, dengan menceritakan bagaimana Fajri dan Ivanna tumbuh besar. Walaupun nanti waktunya lebih banyak di percepat hingga Fajri dan Ivanna tumbuh besar.
__ADS_1
Semoga bisa sesuai dengan harapan para readers semua. Jangan lupa tinggalkan jejak π€π€